Mengenal Animasi-animasi Satoshi Kon

Dalam buku Frames of Anime: culture and image building (2010), Tze-Yue G. Hu memaparkan dimensi berlapis (multifaceted) yang terkandung dalam proses pengerjaan film-film animasi di Jepang. Film animasi dua dimensi, menurutnya, bukan sekadar kumpulan gambar buatan tangan yang kemudian dikomputerisasi, disusun, dan dipadu dengan mesin proyektor untuk menghasilkan efek gerak. Lebih esensial dari itu, film animasi merupakan moda bertutur akan aspek-aspek sosio-kultural lewat penggarapan estetika visual. Ada unsur human interest dalam tiap gambar animasi yang sama bernilai dengan unsur sosio-kultural yang melingkupi para animatornya.

Saya menemukan sejumlah auteur yang tidak asing, seperti Hayao Miyazaki dan Isao Takahata (Studio Ghibli), ada pula Katsuhiro Otomo dan Makoto Shinkai yang populer akan kualitas estetika visual mereka, juga Satoshi Kon dengan narasi-narasi lintas realis-surealis-nya. Masing-masing nama memiliki sentuhan khas dalam menggarap film animasi.

Beberapa waktu lalu, saat saya sedang menunggu commuter line jurusan Jatinegara-Depok, saya iseng buka kanal YouTube di hape dan menonton cuplikan daftar film animasi terbaik versi WatchMojo. Ada satu judul yang terlihat menarik, Perfect Blue (1997) karya Satoshi Kon. Film bergenre psychological-thriller ini mengisahkan penyanyi idol group yang banting setir menjadi aktris layar kaca. Keputusan ini lantas membuat salah seorang fans kecewa dan memutuskan untuk meneror sang idola. Film ini memperkenalkan saya pada sosok Satoshi Kon. Komikus cum animator asal Hokkaido yang gemar bermain-main dengan ilusi alam sadar dengan bawah-sadar manusia.

Sepanjang karirnya di bidang animasi, Kon sudah menelurkan satu animasi pendek, satu serial animasi, dan empat setengah feature-length animasi. Mengapa empat setengah? Sebab karya terakhirnya, Yume miru-kikai (Dream Machine) baru rampung setengah jalan ketika kanker pankreas memaksanya tutup usia di umur 46 tahun. Walau demikian, saya kira Kon berhasil mewariskan karya-karya animasi yang tak lekang oleh zaman.

Tulisan ini boleh dianggap sebagai pengantar pendek (baca: spoiler) terhadap karya-karya animasi feature-length Kon. Silakan tutup laman seandainya iman anda tidak sanggup menerima spoiler. Selain itu, tidak afdol rasanya untuk tidak memberi kredit atas sumbangan Kon bagi cakrawala animasi Jepang. Berikutnya, silakan cari film-film ini dan saksikan sendiri bagaimana seorang maestro bekerja. Ada empat judul yang mau saya coba bahas secara kronologis sesuai tahun peluncuran tayang. 


Memories (1995) – short omnibus

Kanojo no Omoide (Magnetic Rose)




Film animasi pendek besutan Kon kala ia bekerjasama dengan Katsuhiro Otomo. Ada tiga film yang tergabung dalam omnibus Memories, yaitu Magnetic Rose, Stink Bomb, dan Cannon Fodder. Kon berperan sebagai penulis naskah, penyusun layout, sekaligus sutradara dalam Magnetic Rose. Mengambil setting di ruang angkasa, Magnetic Rose mengisahkan empat awak kapal antariksa Corona dalam misi mencari barang-barang berharga yang tersebar di hamparan puing-puing galaksi. Kapal ini menangkap sinyal S.O.S. dari suatu tempat, lalu memutuskan untuk melakukan inspeksi. Baru setelahnya mereka ketahui bahwa sinyal tersebut berasal dari kapal antariksa yang karam milik seorang penyanyi opera dari Eropa, bernama Eva Friedahl.

Dua kru Corona yang diutus, Heintz dan Miguel, ternyata harus menghadapi kejadian-kejadian aneh saat menyisir interior kapal. Awalnya Heintz menganggap bahwa keanehan-keanehan yang muncul disebabkan oleh ilusi optik dari mesin hologram yang masih berfungsi. Namun ilusi optik yang bermunculan satu per satu semakin terasa nyata, bahkan mampu merasuk ke alam bawah sadarnya. Sementara itu, dua kru lain yang tinggal di kapal juga mendeteksi fenomena tidak lazim. Ada medan magnetik yang entah dari mana datangnya, seketika muncul dan menarik kapal mereka menuju ke arah kapal karam Eva. Magnetic Rose adalah metafor akan pasir hisap, atau black hole di latar ruang angkasa, yang memangsa siapapun tanpa menyisakan apa-apa.




Seperti yang sempat disinggung di atas, saya mengenal mendiang Kon lewat film ini. Perfect Blue, yang diangkat dari novel karangan Yoshikazu Takeuchi dengan judul yang sama, adalah cerita tentang Mima Kirigoe yang memutuskan hengkang sebagai personil idol group Cham untuk kemudian beralih menjadi aktris layar kaca. Usai mengumumkan pengunduran dirinya, Mima menerima fax tanpa identitas pengirim bertuliskan “pengkhianat”. Teror tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya, satu per satu orang terdekat Mima mulai kena imbas. Salah satu agennya menerima paket berisi bom, penulis naskah drama yang tengah dibintanginya dibunuh, juru potret yang sempat mengambil gambar-gambar sensual Mima juga tewas ditusuk. Semuanya dilakukan secara misterius sehingga lambat laun membuat publik berspekulasi bahwa Mima juga ikut terlibat dalam kasus-kasus tersebut.

Seiring dengan itu, Mima mulai dilanda gejala paranoid. Ia tidak lagi sanggup mengidentifikasi mana yang nyata dan ilusi. Kondisinya juga diperparah dengan kemunculan sesosok figur khayal, yang tidak lain adalah replika dirinya sendiri dalam kostum idol group. Perfect Blue dengan cerdiknya mengemas pertautan biner alam sadar dan bawah sadar, menggunakan shot berulang-ulang dengan scoring polyphonic bernuansa seram, yang pada akhirnya juga mengecoh penonton dalam memilah mana yang nyata dan ilusi.





Berhenti di puncak karir bukanlah keputusan mudah. Chiyoko Fujiwara, aktris top beberapa dekade silam yang aktif membintangi sejumlah film-film layar lebar, tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari peredaran. Adalah Genya Tachibana, seorang sutradara yang berniat membuat film dokumenter tentang Fujiwara. Setelah bertahun-tahun mencari keberadaan Fujiwara, Tachibana berhasil menemukan dan mengunjungi kediamannya untuk melakukan wawancara. Millenium Actress bertutur lewat metode play-to-play, di mana alur cerita dirancang nonlinear, tumpang tindih antara wawancara Fujiwara dengan memori masa lalunya di dunia akting.

Kon merancang lompatan waktu antara masa kini dan masa lalu dengan begitu rapih, seolah keduanya tidak memiliki sekat pemisah dan bisa dengan bebasnya diakses dan ditelusuri kembali. Fujiwara tidak sekadar menceritakan ulang perjalanan karirnya dari waktu ke waktu, ia mentransformasikan ulang momentum-momentum tersebut dengan membawa serta Tachibana dan kameramennya ke dalam tiap-tiap semesta cerita layar lebarnya. Penggambaran ini menyiratkan bahwa Fujiwara adalah seorang pencerita yang tidak hanya mendikte para pendengarnya, melainkan turut mengajak pendengarnya masuk ke dalam kisah yang ia reka. Sama halnya seperti Kon yang mengajak para penonton untuk terlibat dan berperan langsung, alih-alih duduk diam menyimak sebagai spectator pasif semata.




Tuna wisma kerap dipandang sebelah mata. kehadirannya membuat risih, merusak pemandangan, mengotori lingkungan, belum lagi prasangka buruk yang acapkali membuat derajat mereka tidak lebih baik daripada seorang kriminal. Mereka inilah yang menjadi protagonis dalam Tokyo Godfathers. Sebab siapa bilang atribusi godfather hanya layak disematkan di dada seorang mafia? Ada tiga tokoh, Miyuki, gadis belia yang menggelandang setelah kabur dari rumah; Gin, pemabuk paruh baya yang punya kisah traumatik dengan keluarganya; dan Hana, transgender ekspresif yang bersumbu pendek setiap kali orang menganggapnya laki-laki tua. Lewat Tokyo Godfathers, Kon menepis segala stereotip negatif terhadap kaum marjinal, sekaligus menampilkan Tokyo yang jauh dari gemerlap cahaya, yang intimidatif, serta rawan kekerasan baik verbal maupun fisik.

Saat ketiganya tengah mengais-ngais sampah, berusaha mencari makanan di malam tahun baru yang beku, Hana menemukan bayi yang ditinggal orang tuanya di antara tumpukan kantung plastik. Naluri femininnya terketuk, alih-alih menyerahkan bayi tersebut ke pihak berwajib, Hana memutuskan untuk merawat si bayi sekalipun ditentang oleh kedua koleganya. Tokyo Godfathers adalah ode pilu akan imajinasi keluarga bahagia yang kian langka. Ia secara sublim meramu pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang relasi antarmanusia lewat komedi slapstick dan satir. Sambil mencibir penghakiman normatif terhadap kaum-kaum yang senantiasa terpinggirkan. Saya membayangkan Kon tersenyum-senyum sendiri melihat reaksi penonton. Bahwasanya sebuah kisah, setragis apapun, tetap berhasil memancing gelak tawa.






Selamat datang di dunia maya, di mana segala sesuatunya terlihat dan terasa lebih nyata. Paprika diadaptasi dari novel karangan Yasutaka Tsutsui yang rilis tahun 1997 dengan judul yang sama. Premisnya cukup menarik: tentang ilmuwan yang berhasil menciptakan sebuah perangkat untuk masuk ke mimpi orang lain. Alat ini, yang diberi nama DC-Mini, diniatkan sebagai instrumen untuk membantu proses terapi seorang psikolog terhadap pasien-pasiennya. Namun, seiring dengan tahap penyempurnaan kerja alat tersebut, ada yang malah menggunakannya untuk menanamkan ingatan artifisial dan mengacau-balaukan batas sadar dan bawah-sadar semua orang. Dalam situasi terburuk, seseorang bisa saja mengacaukan kesadaran orang lain dengan memodifikasi alam mimpinya sedemikian rupa, sehingga nalarnya porak poranda.

Merasa bertanggung jawab atas segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi, Dr. Atsuko Chiba memutuskan untuk menginvestigasi bersama Dr. Kosaku Tokita. Chiba kemudian masuk ke alam mimpi dengan alter-ego bernama Paprika. Usahanya mencari dalang kekacauan ternyata tidak mudah. Sebaliknya, Chiba/Paprika mulai kehilangan kesadaran secara perlahan. Ia tidak hanya tersesat di mimpi orang lain, namun juga di mimpinya sendiri. Menarik melihat cara Kon mengemas adegan demi adegan di dalam Paprika. Dari perpindahan adegan yang mengejutkan namun halus (lihat bagaimana Paprika masuk ke dalam kaus orang asing atau Chiba keluar dari moncong lensa kamera video), penokohan yang matang pada tiap-tiap karakter, sampai detil-detil yang hampir luput dari pandangan, seluruhnya didesain untuk ikut mengacaukan persepsi penonton. Membuat kita seru menebak-nebak: ini mimpi siapa? Oh, perlu diingat, meskipun struktur cerita Paprika sedikit banyak mirip dengan Inception (2010) karya Christopher Nolan, film animasi ini sudah rilis empat tahun sebelumnya.




Entah kebetulan atau disengaja, empat film animasi feature-length di atas selalu ditutup dengan adegan yang mengambil latar rumah sakit. Perfect Blue diakhiri dengan adegan Rumi sebagai pasien rumah sakit jiwa, Millenium Actress diakhiri dengan meninggalnya Fujiwara di ranjang rumah sakit, Tokyo Godfathers diakhiri dengan trio tuna wisma yang cedera setelah menyelamatkan bayi Kiyoko, lalu Paprika diakhiri dengan Tokita yang harus mendapat perawatan intensif setelah kesadarannya diacak-acak. Lagi-lagi saya membayangkan mendiang Satoshi Kon, yang sampai akhir hayatnya tetap giat membuat film-film animasi, sekalipun ia terkapar di sebuah bangsal rumah sakit.



Selamat menonton!