Supernova: KPBJ - Keberhasilan Kedua Sutradara Rizal Mantovani

Bagi pembaca novel Supernova: Ksatria, Puteri, & Bintang Jatuh (selanjutnya KPBJ) yang juga menonton filmnya, keluar dari gedung bioskop sambil bersumpah serapah adalah sebuah niscaya. Saya malah sempat berpikir untuk membeli pillox di toko material terdekat, gemas menimpa kata "super" dengan kata "blunder" di posternya. Tapi seketika saya sadar itu vandal. Saya urungkan niat mulia tersebut sambil mengamini kalau saya masih anak baik-baik.

Reuben (Arifin Putra) & Dimas (Hamish Daud)


Tapi mari sedikit objektif dengan menilai film ini hanya sebagai film semata. Ada baiknya kita (yang membaca novelnya) simpan dulu kenyataan bahwa film ini diadaptasi dari novel avant-garde keluaran 2001 dengan judul yang sama. Tayangan ini adalah fiksi belaka, segala kemiripan yang muncul antara film ini dengan novel KPBJ adalah kecelakaan yang (tidak) disengaja, dan maka dari itu, haram membanding-bandingkannya.

Dua jam penuh dijejali shot demi shot bombastis, saya sampai harus meyakinkan diri berulang kali bahwa apa yang saya lihat ini adalah film, bukan sirkus kedahsyatan visual atau trailer pongah dengan durasi terlama sepanjang sejarah. Film KPBJ adalah bukti kesuksesan kedua sutradara Rizal Mantovani mentransliterasikan bahasa teks-novel ke dalam wujud bahasa audiovisual, setelah keberhasilannya pada 2012 silam memperlihatkan gadis sintal mampu mendaki puncak Mahameru tanpa kehilangan nafas, lengkap dengan rambut licin berkilau dan jaket putih masih melekat rapih dalam film 5 cm. Seandainya ada rumah sakit khusus naskah-adaptasi sinema Indonesia, saya yakin dua karya ini masuk daftar prioritas Instalasi Gawat Darurat.

KPBJ hadir sebagai lelucon tanpa tautan logika. Tidak cuma obesitas oleh gambar-gambar cantik dan shot-shot manis, film ini juga sesak dengan kalimat dialog bergaya monolog, adegan-adegan repetitif dengan penekanan simbolik tidak penting, musik latar yang lebih meruntuhkan ketimbang membangun nuansa sinematik, serta scoring bawel tak berkesudahan dari Nidji.

Pertama-tama, kita dipaksa menyimak dialog Reuben (Arifin Putra) - Dimas (Hamish Daud) yang terlampau canggung untuk sepasang kekasih, dan dialog Ferre (Herjunot Ali) - Rana (Raline Shah) yang terlampau absurd untuk sepasang affair. Penata skrip barangkali perlu lebih berhati-hati memilah penggunaan kata dan bahasa. Sekalipun maksud hati ingin bersetia pada kalimat-kalimat orisinil yang dirujuk dari novel, namun dengan konsekuensi dapat mengebiri keluwesan berdialog para pemainnya, mungkin ada baiknya memilih untuk berkhianat saja. Sebab kalimat-kalimat puitis dua arah yang tidak jelas juntrungannya hanya akan membuat dahi penonton mengernyit, membisikkan "dih???" sunyi dalam hati. Sayangnya, dari keseluruhan cast, boleh jadi hanya Arwin (Fedi Nuril) yang masih bisa terselamatkan.


Sejajar dengan hal tersebut, absurditas struktur dialog dalam film ini kemudian diperparah dengan serangan gerilya kalimat teks, yang dengan briliannya kembali dilisankan oleh para pemain. Seriously, apa anda pernah membahasakan kalimat sendiri ketika sedang khusyuk chatting? Lame.

Namun harus saya akui, hal ini cukup membantu saya memahami beberapa adegan. Tadinya saya pikir kuping saya bermasalah, sebab tanpa adanya subteks/subtitle, mustahil saya bisa mengerti apa yang diucapkan Diva (Paula Verhoeven). Nah, khusus untuk kasus Diva seorang, kehadiran kalimat teks dan subteks/subtitle setiap kali Ia berbicara sama bernasnya dengan kehadiran sesosok juru selamat. Makanya saya bisa paham sepaham pahamnya ekspresi Ferre yang penuh tanda tanya menjelang akhir film, saat Ia menggerebek Diva di balik kursi admin Supernova. Jangankan penonton, Ferre saja mangap mendengar Diva.


Diva 1 : Kuping penonton 0

Lalu, seperti halnya ekspresi tertekuk Ferre, beberapa kali wajah saya mengkerut mendapati pengulangan adegan. "Bentar bentar… Ini kayaknya udah ada deh tadi." batin saya. "Adegan Ferre-Rana dansa dansi di samping piano sepertinya sudah pernah saya lihat." De Ja Vu? Saya nyaris tengok kanan kiri berharap ini bukan kekeliruan fungsi program virtual layaknya semesta The Matrix. Belum puas sampai di situ, film menambah dosis keblingerannya lewat kemunculan-kemunculan simbol yang berakhir menggantung tanpa penjelasan apa-apa. Bukannya saya manja lantas meminta pembuat film melugaskan pesannya seharfiah mungkin tanpa membawa-bawa simbol. Memunculkan simbol dalam film tentu sah adanya. Tapi memunculkan simbol sebagai simbol per se tanpa disertai korelasi yang jelas dengan bangunan cerita, resikonya adalah mengecoh pemahaman penonton. Di titik ini saya harus menahan ngakak ketika mengingat adegan limbo Ferre yang lebih mirip basi'an bad trip. Gagak? Baphomet/Minotaur? Cermin melayang? Are you on mushroom or something?

Oh, maaf. Saya keliru perihal mushroom barusan. Mendengar scoring dan soundtrack KPBJ agaknya lebih mirip dengan efek samping LSD. Pasalnya, simfoni orkestra yang bingar dan riuh tidak pernah absen mengiringi shot-shot cantik di sela transisi adegan. Meskipun sebagai komposisi musik yang berdiri sendiri, scoring KPBJ amat megah nan dahsyat, akan tetapi sebagai komposisi yang melatari sebuah film, lain lagi ceritanya. Ada disharmoni antara gambar dan suara yang mengakibatkan saya hilang fokus. Gambar, suara, dan adegan, masing-masing seperti berusaha mencuri spotlight. Walhasil saya bingung mana yang harus dijadikan pusat perhatian. Gambar-gambar indah, musik megah, atau justru cerita filmnya sendiri? Makin runyam keadaannya ketika soundtrack Nidji ikut ambil bagian dalam olimpiade spotlight ini. Muatan cerita KPBJ sesungguhnya sudah tumpang tindih dengan subplot, Ia sudah bercerita banyak secara visual. Bila ditambah tembang-tembang Nidji, praktis KPBJ berisik. Film ini terlalu bawel, padahal poin yang hendak ditekankan oleh visual dan audionya ujug-ujug podo wae.

Hemat saya, KPBJ lebih layak dianggap sebagai pengejawantahan abstrak dalam bahasa audiovisual atas novel Dewi Lestari ketimbang sebuah film yang utuh. Film ini menyulap Supernova menjadi sekadar figur bijak misterius yang gemar playing god, tanpa penjelasan tambahan apa-apa. Sungguh saya tidak berani membayangkan seandainya Soraya Intercine Films berniat mengadaptasi novel-novel Supernova selanjutnya. Diva sudah hancur berkeping-keping. Bodhi? Elektra? Zarah? Alfa? Entah seperti apa nasib mereka nanti.


ps:

YES!
NOP!

Tolong setolong tolongnya cover buku Supernova KPBJ nggak diganti dengan poster filmnya. tolong. kezaliman visual itu namanya. 


Film Cerita || 136 Menit || Indonesia || 2014