Doraemon: Stand By Me - Berbekal Handuk Tidaklah Cukup

Tepat seminggu sejak saya menonton Doraemon: Stand By Me (selanjutnya STB) di bioskop. Beberapa kali saya mengumpulkan niat untuk menulis catatan kecil soal reaksi saya terhadap film ini. Yah... sekadar berbagi. Maksud hati ingin menulis sesuatu yang objektif, yang bersifat umum dan tidak terlampau personal, apa daya senantiasa gagal. Harus diakui: saya sudah sedemikian terikat oleh cerita dan karakter-karakter dalam film ini. Masih jelas dalam ingatan saya --ketika film berakhir, ruang bioskop kembali terang benderang, saya coba cek kiri-kanan, kemudian heran...

kenapa cuma muka saya yang sembab...?

STB sukses membuat air mata saya pasang surut. Duo sutradara Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi tampaknya tahu persis bagaimana cara membuat penonton menangis. Dari mulai poster, trailer, soundtrack, scoring, sampai ke cuilan-cuilan cerita serial dan layar lebar yang dipilih, semua dirancang, dikemas demi satu misi: Nangis lo! Nangis! Nah sip!

Maka dari itu, untuk reaksi tentang STB yang sekiranya lebih objektif, saya sarankan kalian membaca tulisan Nona Fallissa Putri di tautan ini.


Poster (ngajak nangis) Doraemon: Stand By Me
Padahal kalau dipikir-pikir, selain transisi format dari 2D menuju 3D, STB tidak menawarkan cerita baru. Seperti yang tadi saya tulis, struktur ceritanya hanya diambil dari cuilan-cuilan cerita serial (peralatan ajaib) dan layar lebar (Doraemon Returned - 1998 dan Doraemon: The Night Before Wedding - 1999). Bagi penonton yang memang rutin membaca maupun menyaksikan cerita-cerita Doraemon, tentu akan mudah mengidentifikasi adegan mana saja yang dicuil. Sementara STB cukup mentransformasikannya ke dalam bentuk 3D. Atau, meminjam istilah Bung Viriya Paramita, "migrasi tata visual dari 2D ke 3D." 
Oh, sebelum lupa, silahkan kalian simak juga artikel retrospektif tentang Doraemon dari Bung Viriya di tautan ini. Saya jamin menarik.

Adapun STB berbeda dengan film-film layar lebar Doraemon dalam format 2D yang kerap menyuguhkan unsur kebaruan (newness) bercerita. Salah satu yang paling saya ingat misalnya, Doraemon: The Legend of Sun King (2000) atau yang diterjemahkan menjadi Doraemon: Nobita dan Legenda Raja Matahari --saya ingat betul karena film ini adalah satu-satunya film layar lebar Doraemon yang berhasil masuk ke jaringan bioskop komersil Indonesia. Mereka menawarkan cerita baru, menghadirkan petualangan baru dengan tokoh-tokoh yang juga baru, dan terutama menyisakan pertanyaan baru bagi penonton: seperti apa ya petualangan selanjutnya?

Saya pikir unsur kebaruan dalam sebuah cerita menjadi penting. Menghilangkan unsur kebaruan sama halnya dengan menyudahi probabilitas keberlanjutan cerita itu sendiri --satu hal yang menjadi muasal ketakutan sekaligus kekecewaan terbesar saya, lantaran unsur ini absen sepanjang film STB.


Doraemon: The Night Before Wedding (1999)

Doraemon Returned (1998)
Hmm... kalau toh saya sedemikian kecewa, mengapa pasca menonton STB masih mewek juga? Terus terang, terlepas dari absennya unsur kebaruan dalam bercerita, penggarapan film ini sungguh luar biasa juara. Tearjerker jawara saya dedikasikan terutama bagi para komposer Jepang yang bertanggung jawab penuh menggubah scoring dan soundtrack STB. Saya tidak habis pikir. Makan apa sih mereka? Kok ya bisa mengobrak-abrik emosi penonton sedemikian rupa? Ingat adegan ketika Nobita belingsatan naik baling-baling bambu di atas sungai karena ia tahu pasti akan menikah dengan Shizuka, sementara Doraemon dikasih reminder kalau tugasnya membuat Nobita bahagia sudah paripurna? Scoring dan soundtrack di adegan itu ngehek keterlaluan. Saya sampai harus pelan-pelan mengucek mata dengan handuk kecil. Contoh lain, ingat adegan ketika Nobita baku hantam dengan Giant? Sama ngeheknya. Saya tengok kiri-kanan. Ah sudahlah. Persetan dengan handuk kecil.

Di samping scoring dan soundtrack pun, cuilan-cuilan yang dimuat dalam STB memang pada dasarnya juga tearjerker. Dua contoh film layar lebar yang sempat disinggung di atas menjadi saksi bisu misteri habisnya tissue di ruang makan rumah saya. Serius. Ini bukti bahwa cerita-cerita Doraemon tidak memerlukan transformasi format untuk menguras air mata. Baik 2D maupun 3D sama saja efeknya. Saya bahkan membayangkan mendiang Pram bersabda: Tearjerker sejak dalam pikiran, apalagi penyajian. Dan cerita-cerita Doraemon sahih adanya.

Namun kembali lagi, STB tetap menyisakan rasa kecewa. Bukan bagaimana... saya hanya khawatir, tanpa kebaruan sama sekali, film ini bisa-bisa jadi last resort Doraemon. Karena trik mengkompilasi cuilan serial dan layar lebar seperti ini tidak akan semenarik, dan nafasnya juga tidak akan sepanjang seri petualangannya. Andai ide transformasi format ini diiringi oleh cerita baru, barangkali hasilnya bisa jauh berbeda. Barangkali saya tidak perlu merasa kecewa. Saya hanya berharap, semoga masih ada karya-karya selanjutnya.

Film Animasi || 95 menit || Jepang || 2014