The Strange Little Cat: Komposisi Sumbang Keluarga Harmonis

Das Merkwürdige Kätzchen (image taken from moviepilot.de)
Das Merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat, 2013) dibuka dengan shot remaja laki-laki (Luk Pfaff) yang tertidur pulas dalam posisi telungkup. Semburat tipis matahari yang menembus tirai jendela menandakan pagi. Di luar kamar, seekor kucing gemuk tengah menggaruk-garuk pintu, seolah minta untuk dibukakan. Tak lama, terdengar suara melengking yang ganjil dari kejauhan, shot berpindah ke dapur, memperlihatkan sesosok wanita yang nantinya akan kita ketahui sebagai nyonya rumah (Jenny Schily). Sementara itu, suara lengkingan yang sempat diduga berasal dari mesin pencuci otomatis, ternyata berasal dari si bungsu perempuan bernama Clara (Mia Kasalo) yang tengah duduk di meja makan.

Seiring durasi bergulir, satu per satu anggota keluarga lain bergantian masuk ke dalam frame. Dan dalam satu take yang sedikit panjang itu, sudut pandang kamera tidak mengalami perubahan, sehingga selain Clara, anggota keluarga lain yang hilir mudik di sekitar dapur tidak disorot secara layak (kurang mendapat head room, bahkan ada kalanya setengah kepala terpotong frame). Sudut pandang ganjil ini menjadi unik, lantaran secara konsisten digunakan sepanjang film diputar. Pembuat film rasanya ingin membatasi ruang gerak kamera dengan menempatkannya berulang kali di posisi-posisi yang kaku dan asing; seperti pihak anomali yang tidak akrab dengan objek-objeknya.

Alasannya? Tentu sebagai metafor akan kerikuhan relasi interpersonal anggota keluarga. Beberapa dialog yang melingkupi mereka diawali dan diakhiri tanpa alasan yang jelas. Semisal ketika si ibu menceritakan pengalamannya nonton di bioskop bersama nenek dan orang asing yang membuatnya kikuk; atau ketika anak perempuan tertua (Anjorka Stretchel) menceritakan soal serpihan kulit jeruk yang ia buang sembari berjalan kaki melintasi taman. Boleh dikatakan, hampir tidak ada percakapan yang terbangun secara utuh. Jika tidak terpotong oleh kehadiran anggota keluarga lain yang tiba-tiba masuk ke dalam frame, pembicaraan akan selesai begitu saja seumpama monolog yang menggantung.

Hal berikutnya yang menarik, semakin banyak anggota keluarga lain yang datang, semakin banal pula harmoni kekeluargaan yang nampak. Teguran dan sapaan lebih terlihat sebagai prosedur penyambutan tamu biasa ketimbang faktor afeksi antar anggota keluarga yang jarang bertemu, sedangkan acara makan malam bersama keluarga besar menjadi sekedar rutinitas berkala yang wajib dilakukan ketimbang stimulus untuk bertemu dan melepas rindu.

Secara sublim pula, sekuens banalitas tersebut tampil di layar bersamaan dengan masuknya scoring. Penempatan scoring dalam film ini sedikitnya memiliki dua preteks: pertama, sebagai penanda pergantian segmen adegan; kedua, sebagai eksposisi banalitas yang berkelindan antar anggota keluarga beserta sekumpulan objek di sekitar mereka. Sekuens scoring pertama memperlihatkan objek-objek di semesta dapur: gelas teh celup, botol yang berputar-putar di dalam kuali, serpihan kulit jeruk, segelas susu, ngengat, dan seorang anak kecil yang sedang bermain bola kain persis di bawah jendela dapur. Sementara pada sekuens scoring berikutnya, sudut pandang kamera yang ditempatkan di sebuah ruangan dalam posisi diagonal memperlihatkan kesemua anggota keluarga yang acuh dan sibuk dengan keperluannya masing-masing.


Dekonstruksi dalam Institusi Keluarga

Menonton The Strange Little Cat sedikit banyak mengingatkan saya akan A Very Slow Breakfast (2002) milik Edwin. Keduanya bermain dalam tempo yang relatif sama lambat. Namun jika A Very Slow Breakfast dikemas dalam format pendek berdurasi enam menit, The Strange Little Cat hadir dalam format yang lebih panjang (72 menit). Sekilas, timbul dugaan bahwa film ini merupakan pengembangan kerangka narasi yang terpapar di A Very Slow Breakfast, oleh karena keduanya sama-sama menempatkan institusi keluarga sebagai fokus cerita. Totum Pro Parte, keluarga yang sekalipun nampak harmonis, tak pelak terdiri dari disharmoni individual masing-masing anggotanya.

Kita melihat dalam A Very Slow Breakfast, bagaimana fungsi institusi keluarga sebagai salah satu agen pranata sosial ideal direduksi menjadi sekadar platform transaksional. Seluruh gerak-gerik pemain bermuara pada motif ekonomis yang dikendalikan oleh peran ayah (Yadi Timo) lewat cara membagi-bagikan uang kepada istri dan kedua anaknya. Sebaliknya, menjadi lebih menantang untuk mengartikulasikan The Strange Little Cat, sebab film ini tidak hanya menampilkan simbol-simbol material yang notabene mewujud secara fisik (kulit jeruk, perkakas dapur, peralatan makan, kotak tembakau), namun juga simbol-simbol immaterial yang terselip di sekujur dialog dan mimik para pemain; dari raut kosong si ibu dan anak perempuan tertua ketika selesai menceritakan pengalaman kilas baliknya yang ajaib, sampai kebisuan Clara setelah ditampar karena merusak pakaian sepupunya.

Satu kemiripan yang juga dapat ditemui pada A Very Slow Breakfast dan The Strange Little Cat ialah cara sutradara Ramon Zürcher memperlakukan elemen suara sebagai salah satu eksponen primer cerita. Suara-suara latar (ambience) diberi porsi yang sedikit berlebih, sehingga hampir-hampir memberi kesan hiperbolis. Bila suara-suara seperti ketombe jatuh, gepokan uang yang dihitung, acara senam di televisi diberi porsi volume yang jauh di atas normal dalam A Very Slow Breakfast, maka The Strange Little Cat memperlakukan suara mesin cuci otomatis di dapur, suara perkakas di kamar mandi, suara pintu dibuka dan ditutup, suara lampu pecah, dan lain sebagainya, dengan cara yang kurang lebih serupa.

Tujuannya cukup jelas: pembuat film ingin agar suara-suara remeh tersebut mendominasi komposisi audio, sekaligus mengukuhkan premis awal bahwa (dalam volume tertentu) banalitas dapat merusak harmoni yang sejatinya hadir di tengah interaksi keluarga. Alegorikan ini sebagai pagelaran orkestra yang terdiri dari sejumlah instrumen (biola, cello, piano, brass, dan sesi perkusi). Harmoni akan dicapai apabila tiap instrumen dimainkan sesuai dengan peran dan bagiannya masing-masing. Sebaliknya, kejanggalan sekecil apapun yang diakibatkan oleh satu instrumen, walau ada kalanya luput terdeteksi, akan menyebabkan disharmoni secara keseluruhan.

Betapapun, sebagai film panjang perdana, sutradara Zürcher cukup berhasil bermain-main dan bereksperimen dengan metode dekonstruksi, terutama dalam menyoroti rutinitas sebuah keluarga. Konteks keluarga besar secara konsisten diurai ke dalam subkonteks-subkonteks dengan fokus yang bervariasi sesuai dengan isu pribadi masing-masing anggotanya. Dan sebagai konklusi, Zürcher dengan apik menghadirkan medium shot ekspresi si ibu yang letih dan kosong. Sebersit retorika perihal kebanalan, bahwa rutinitas mampu mengubah apa yang sempat luar biasa menjadi sebuah kewajiban yang tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Lewat film ini, saya melihat paradoks keluarga sebagai konstelasi antar individu yang terikat secara silsilah dan darah, namun renggang dan penuh kecanggungan secara intimasi pun interaksi antar pribadi.


Film Cerita || 72 Menit || Jerman || 2013

there are times when the kindest person you know can be the scariest asshole

...because we are a self-destructible bipedal primate with limited amount of patience. and we have that detonation switch inside us. a switch that will eventually be pushed by certain people who are given permission to. the question is: do we know who's worth enough to hold the switch? and as scary as it be, are we worth enough to hold anyone's?

i remember an old wisdom saying that "it's not the people who change, it's the mask that falls off." and suppose a mask suites that idiom perfectly,
do you still want to look what's inside the mask?
do you still care to see?





Demons

demons run when a good man goes to war
night will fall and drown in sun
when a good man goes to war
friendship dies and true love lies
night will fall and the dark will rise
when a good man goes to war
demons run but count the cost
the battles won but the child is lost


- Steven Moffat -