book, bridge, bond, bon voyage



...and suddenly you meet the person who is reading the same book as you are and you realize that the person is aware of that too and you smile and that person nods and smiles back and you are completely drowned by awkwardness and decide to get back on reading but you know you just can't ignore this peculiar feeling and you start to steal a glimpse of that person's face and you do it so carefully you don't want to get caught blushing and you start spinning your head as slow as it supposed to be and you see nothing...

...since your train is leaving.

Kisi-kisi yang Janggal dan Teka-teki Lainnya

Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012)
Menyaksikan Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (selanjutnya Vakansi) sama halnya dengan menyaksikan film janggal yang memaksa penonton mengernyitkan dahi berkali-kali sepanjang film diputar. Dan yang tersisa setelahnya ialah teka-teki, atau bolehlah dianggap sebagai kegelisahan pasca menonton. Maka dari itu, alih-alih menuliskan resensi -yang ditakutkan janggal, barangkali ada baiknya menganggap teks ini sebagai kisi-kisi terhadap kejanggalan-kejanggalan sepanjang Vakansi. Kali ini, mari kita bermain-main dengan yang-janggal dan rangkaian petunjuk di baliknya.

Dimulai dari pengenalan tokoh:

Ning (Christy Mahanani)
Wanita kelahiran Jogjakarta yang memutuskan untuk mencari pekerjaan lain di toko mebel lantaran tidak kuat menghadapi debu di toko busana tempatnya pernah bekerja. Ning diceritakan beragama katolik. Menikah secara katolik dan hidup dalam kesederhanaan bersama suaminya, Jarot. Pekerjaannya sebagai pegawai toko busana mengakibatkan gangguan pernafasan yang cukup serius sehingga asmanya kambuh. Hal inilah yang menjadi alasan pengunduran dirinya sekalipun hubungan Ning dengan sang pemilik toko tidak bermasalah. Justru rencana Ning untuk mencari rezeki di tempat lain malah didukungnya.

Mur (Muhammad Abe Baasyin)
Pegawai merangkap kurir toko mebel tempat Ning baru bekerja. Ia sempat melatih Ning kiat-kiat jitu membujuk calon pembeli. Dalam perjalanan mengantar sofa, Mur mulai banyak berbicara mengenai dirinya kepada Ning. Tentang pekerjaannya di toko mebel milik Koh Jimmy selama 10 tahun selepas lulus dari STM Penerbangan; tentang pekerjaan sampingannya dengan menjadi supir di rental mobil-mobil mewah untuk pengantin baru; hingga tentang penyakit cacar air yang pernah dideritanya semasa kecil. Status Mur tidak diceritakan lebih lanjut. Apakah ia masih melajang, sudah beristri, atau malah menduda, penonton bebas menyimpulkan sendiri.

Jarot (Joned Suryatmoko)
Suami Ning dengan ekspresi wajah datar dan irit berbicara. Tidak ada sepatahpun kalimat percakapan yang utuh antar Jarot dengan Ning sepanjang film. Kalaupun ada, Ning lah yang memulai percakapan, lantas tidak dihiraukan begitu saja oleh Jarot. Belakangan baru diketahui Jarot berdagang bensin eceran di pinggir jalan, sementara di awal film ia terlihat mengenakan kaos seragam toko material. Lebih lanjut, pembuat film seolah menggambarkan Jarot sebagai sosok acuh tak acuh terhadap istri. Kontribusi satu-satunya untuk Ning hanyalah kegiatan antar jemput kerja (plus ajakan bercinta).


Vakansi Paralel

Dalam artian yang paling sederhana, vakansi adalah liburan atau rekreasi. Setelah film rampung dan kita kembali menengok judulnya, barulah kita sadar akan kejanggalan sekaligus teka-teki yang paling utama: apanya yang liburan?

Setelah Ning sukses membujuk calon pembeli, ia segera mengirimkan sofa yang dipesan bersama Mur menuju sebuah desa terpencil lewat jalan pegunungan berkelok. Pertanyaannya: mengapa si calon pembeli harus jauh-jauh ke luar kota hanya untuk sekadar membeli sofa? Sekalipun tidak ada toko mebel di sekitar tempat tinggal mereka, agaknya terlalu ambisius pergi begitu jauh demi sebuah sofa. Kemungkinan lain adalah toko mebel Koh Jimmy begitu tersohor, sehingga banyak mendatangkan pelanggan dari berbagai kota, tak terkecuali dari luar pulau Jawa. Jika benar demikian, penggambaran toko mebel Koh Jimmy amat bertolak belakang. Pegawainya tidak banyak, bahkan inventaris berupa moda transportasi hanya satu unit.

Di tengah jalan, Ning sempat menanyakan waktu tempuh perjalanan. “Kalau jalanannya lancar, kira-kira dua jam sampai,” timpal Mur dalam bahasa Jawa. Sekuens ini seketika mengafirmasi bahwa mereka pasti akan sampai dalam waktu dua jam melalui dua premis: pertama, kondisi jalan terlihat lancar dengan volume kendaraan yang tidak terlalu banyak; kedua, Mur tidak nampak seperti supir buta arah yang mengandalkan peta, artinya ia tahu persis ke mana dan jalan apa saja yang harus ditempuh. Bahkan dia tahu persis letak warung kecil di tengah areal berpasir yang memesan seperangkat kursi plastik.

Sekiranya mereka ngaret, penyebabnya tentu berasal dari kendala teknis seperti kerusakan mobil, atau karena mereka berhenti terlampau lama untuk beristirahat. Pertanyaannya kemudian: mengapa ngaret sampai berhari-hari lamanya? Kendaraan yang mereka tumpangi berada dalam kondisi prima meskipun mereka sempat rehat beberapa kali selama perjalanan. Logika atas durasi keterlambatan lantas janggal akibat tidak adanya alasan yang cukup kuat hingga Ning dan Mur memutuskan untuk bermalam di penginapan. Dan semakin absurd ketika mereka tidur dalam ruangan yang sama. Penonton dibuat menduga-duga sembari menerka butir puzzle yang absen menjembataninya dengan logika.

Di paralel satunya, Jarot tengah kasak-kusuk menonton acara televisi (Take Me Out – Indosiar). Sambil diselingi senyum dan raut muka penuh harap, ada kesan tertentu bahwa Jarot ingin berpartisipasi dalam acara televisi yang ia tonton. Paling tidak, terlihat berharap agar menjadi sosok laki-laki yang sedang dilotere di acara bersangkutan. Sekuens ini cukup banyak mengambil shot close-up Jarot. Penonton tidak mungkin luput menandai kaos seragam toko material yang dikenakannya. Lantas sehabis menonton, ia beranjak pergi ke warung terdekat, membeli mie instan, lalu memakannya dengan santai, tidak ada keterburuan yang diperlihatkan. Bahkan setelahnya ia masih menyempatkan diri ke gerai handphone. Mengingat jam kerja mayoritas toko material hanya sampai menjelang petang, pertanyaannya adalah: mengapa Jarot belum juga berangkat kerja? Barangkali ia sedang libur, atau mengambil cuti, atau bahkan sama sekali tidak bekerja di toko material. Asumsi yang bermunculan memang lebih sederhana sekalipun sedikit lebih banyak.

Istrinya belum pulang hingga malam larut, sementara Jarot nampak tak peduli. Tidak terlihat usaha menghubungi Ning lewat telepon genggam. Alih-alih khawatir, Jarot malah tertidur pulas. Getar telepon genggam tidak cukup ampuh membangunkannya. Di belahan wilayah lain, adalah Ning yang berusaha menghubungi Jarot lewat jasa warung telekomunikasi. Terlihat kekecewaan sepintas setelah teleponnya tidak digubris. Berikutnya giliran Mur yang masuk ke bilik warung telekomunikasi. Ia langsung menghubungi stasiun radio dan meminta agar diputarkan lagu untuk Ning. Ada dua kemungkinan yang dapat dipetik: pertama, Mur tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara yang membuatnya merasa wajib untuk diberi kabar; kedua, seperti Jarot, Mur boleh jadi tidak peduli dengan keluarganya lantaran jarak mereka terpisah jauh. Kemungkinan ini sekaligus menjadi refleksi sublim yang mempertanyakan keterkaitan jarak dengan keintiman relasi antar individu.

Tak lama, pertanyaan soal profesi Jarot terjawab. Ternyata ia adalah pedagang bensin eceran di pinggir jalan. Kaos seragam toko material yang dikenakannya sejak awal tidak lagi penting. Maka selanjutnya, segala dugaan yang berkenaan dengan kaos itu resmi dicoret dari daftar teka-teki kita. Namun bersamaan dengannya, timbul dua kejutan baru: pertama, Jarot menyewa jasa psk; kedua, Ning dan Mur tidur seranjang. Pada titik ini pembuat film dengan sengaja meruntuhkan fondasi terhadap azas loyalitas, atau dengan kata lain kredo komitmen berumah tangga. Bahwa absennya siklus komunikasi dua arah antar suami istri yang terpisah jauh dalam kurun waktu tertentu akan menjerumuskan keduanya untuk selingkuh. Sikapnya jelas: keberjarakan akan membuahkan pengkhianatan.


Kisi-kisi Janggal

Menilik narasi Vakansi, rentetan kejanggalan dalam film ini untungnya ditampilkan secara runut. Peralihan sekuens antara vakansi ala Jarot dengan vakansi ala Ning dan Mur terjaga amat rapih. Kita dapat melihat perbandingan visual yang nyata dari adegan ke adegan. Didukung oleh plot yang berjalan linear –meskipun ada satu dua adegan kilas balik, namun penempatannya tidak mengganggu. Alih-alih dianggap sebagai gangguan, boleh jadi sisipan adegan kilas balik dimaksudkan sebagai kisi-kisi kejanggalan yang tersebar dalam Vakansi. Maka dari itu, kisi-kisi yang saya maksud ialah kisi-kisi dalam wujud visual. Meski perlu disertai dengan metode pembedahan yang aplikatif. Dan tanpa bermaksud untuk mensimplifikasi, saya akan menggunakan metode komparasi paling harfiah. Yaitu mencoba mengalihkan bahasa visual menjadi bahasa verbal.



#1 Kucing yang Meregang Nyawa dan Ketakutan di Kamar Hotel

X :

Adegan kucing meregang nyawa di tengah jalan setelah tertabrak motor yang dikendarai oleh Jarot dan Ning.


Y :

Adegan Mur ketakutan di kamar hotel, Kemudian Ning mencoba membuatnya tenang sambil memberikan segelas teh.


Z :

Dua adegan di atas menghadirkan rupa emosi yang mirip. Yaitu kemunculan rasa takut seusai melakukan sebuah tindakan yang dirasa keliru. Sekiranya boleh mengandaikan suatu tindak pembunuhan, namun begitu, apa/siapakah yang dibunuh selain kucing? Apabila Jarot membunuh seekor kucing, apa yang dibunuh oleh Mur (dan Ning)? Konyol rasanya kalau saya menuduh Mur dan Ning membunuh janin di dalam perut Ning. Baru semalam mereka tidur seranjang, mustahil untuk mengetahui status kehamilan Ning dan melakukan aborsi selesat kilat. Sebaliknya, bagaimana bila seandainya Mur dan Ning tidak membunuh? Alih-alih membunuh, ketakutan yang mereka rasakan barangkali disebabkan oleh adanya kemungkinan akan kelahiran. Singkat kata, ketakutan Mur justru timbul karena ia bukannya baru membunuh seseorang, melainkan karena ia baru saja menanamkan kemungkinan akan kelahiran seseorang, persisnya di dalam rahim Ning. Meskipun dugaan yang kedua ini sama mustahilnya.


Di sisi lain, ada semacam kepercayaan –khususnya dalam kultur masyarakat Jawa- yang menganjurkan seseorang untuk segera mengubur kucing yang tidak sengaja "dibunuhnya". Kepercayaan seperti ini tak pelak menghadirkan gagasan-gagasan yang mengacu pada kemungkinan Ning melakukan aborsi. Menariknya, Jarot dan Ning tidak mengubur kucing naas itu. Mereka menelantarkannya bersimbah darah begitu saja di tengah jalan.




#2 Yang-Dilotere dan Yang-Melobi

X :

Adegan Ning tengah berlatih meyakinkan calon pelanggan.



Y :

Adegan Jarot menonton acara Take Me Out di televisi.



Z :

Dua adegan ini hadir berurutan. Ning bukan orang yang pandai membujuk calon pelanggan, namun tidak berarti tanpa bakat. Oleh karena itu Mur melatihnya sembari mencontohkan kalimat-kalimat persuasif yang niscaya ampuh membuai calon pelanggan. Tak lama, terbukti Ning berhasil menjual satu perabot sofa merah. Sementara itu, Jarot senyam-senyum sendiri menonton sosok laki-laki yang juga sedang membujuk barisan wanita muda untuk dikencani dalam acara televisi. Seumpama undi lotere, wanita-wanita yang tertarik nantinya akan menekan tombol sebagai tanda terima ajakan kencan si laki-laki.  Menariknya, andai dua adegan ini disatukan, citra yang kemudian kita tangkap ialah Jarot sedang menonton cara-cara Ning melobi calon pelanggan. Antara Ning yang-melobi dan laki-laki yang-dilotere, pola keduanya nyaris sama persis. Mungkinkah diam-diam Jarot iri dengan kemampuan persuasi Ning? Siapa tahu.




#3 Asma yang Kumat dan Debu yang Melekat

X :

Adegan Ning memutuskan untuk berhenti bekerja di toko busana lantaran tidak kuat debu, sampai-sampai penyakit asmanya kumat.



Y :

Adegan Jarot mengepruk-ngepruk kasur yang penuh debu dengan pukulan rotan.



Z :

Ini komparasi adegan yang paling membingungkan sekaligus mencurigakan. Maka mohon maaf sebesar-besarnya apabila argumen yang terbangun terkesan pretensius. Konstruksi argumen saya kira-kira seperti berikut:

        

Ning diceritakan pindah dari toko busana lantaran tidak kuat menghadapi debu. Setelah ditanya Mur perihal alasannya berhenti, Ning menjawab bahwa debu-debu di sana membikin asmanya kambuh. Karena itulah ia memutuskan untuk pindah ke toko mebel. Faktanya jelas, Ning mengidap asma. Kemudian penonton dipertemukan dengan adegan Jarot mengepruk-ngepruk debu di kasur yang biasa ditiduri Jarot bersama Ning. Debu yang dikepruk terlihat cukup banyak. Ini tentu menimbulkan kerutan dari para penonton. Dari sinilah argumen yang mempertanyakan fakta atas penyakit asma Ning dimulai.



Kali pertama saya menonton Vakansi, saya dengan enteng menganggap Ning berbohong soal penyakitnya. Boleh jadi alasan “asma kambuh” sengaja dibuat karena memang ia ingin berhenti bekerja. Sesederhana itu. Namun ketika menonton untuk kedua kalinya, argumen sederhana barusan berkembang, menjurus pada debu sebagai metafora kelanggengan rumah tangga Ning dengan Jarot, yang kemudian terakumulasi sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang cukup kuat bagi Ning untuk “berhenti bekerja”. Atau dalam bahasa lain, berpisah dengan Jarot. Tentu sembari mempersonifikasikan toko busana dengan Jarot dan toko mebel pada Mur.



Ning tidak lagi nyaman dengan suaminya, kemudian memilih “bervakansi” bersama pria lain. Pertanyaan berikut: apa ekspektasinya? Mencari suasana baru? Sekedar jenuh? Dan setersnya dan seterusnya. Pun begitu, pertanyaan-pertanyaan yang didasari argumen pretensius sejatinya berujung pada jawaban yang pretensius pula. Maka sekali lagi, paparan di atas tak kurang (dan tak lebih) hanyalah interpretasi personal semata.




#4 Gerai Handphone dan Pasar Ternak

X :

Jarot tengah melihat-lihat handphone di sepanjang gerai pusat perbelanjaan.



Y :

Mur mencari-cari Ning di tengah hiruk-pikuk pasar ternak.



Z :

Sekiranya masih ada niat dalam diri Jarot untuk mencoba menghubungi Ning, maka hal itu terjelaskan dalam adegan di mana ia sedang melihat-lihat handphone. Handphone sebagai perangkat komunikasi menjadi metafor subtil akan keinginan Jarot untuk menghubungi istrinya yang sedang “pergi”. Atau dalam dugaan lain, Jarot ingin kembali memulai interaksi yang “hilang” dengan Ning.



Lantas bagaimana jika dikomparasi dengan adegan Mur mencari-cari Ning di tengah kumpulan hewan ternak? Argumen saya masih sepretensius sebelumnya: di mata Mur, Ning tidak lebih dari kumpulan “hewan ternak”. Boleh jadi demikianlah tabiat asli Mur sebagai pria yang kerap dicirikan smooth talker sepanjang film. Bagi Mur, identitas Ning menjadi tidak relevan sebab Ning tidak berarti “Ning”. Ning hanyalah satu variabel dari sekian banyak wanita yang secara kebetulan mendapinginya dalam tugas mengantar mebel. Ning hanyalah “ternak yang lain”. Dengan ataupun tanpa tanda kutip.


Penyakit Lain(?)

Ada satu adegan yang sepintas nampak tidak ada hubungannya dengan film, tidak pula dapat dikomparasi dengan adegan-adegan lain. Yaitu adegan Mur dan Ning bertukar cerita soal penyakit cacar air saat rehat di tengah perjalanan. Dalam adegan yang berlangsung kurang dari lima menit itu, Mur mengatakan ia pernah terkena cacar air ketika kecil, sedangkan Ning belum pernah. Lalu keduanya sama-sama sependapat bahwa penyakit cacar air hanya dapat diderita sekali seumur hidup. Selesai. Pembahasan mengenai cacar tidak lagi ditemukan sampai film habis diputar.

Lagi-lagi, baru setelah menonton Vakansi untuk kedua kalinya, saya menangkap hal baru dalam konteks percakapan mereka seputar penyakit cacar. Kuncinya ada pada kalimat “penyakit cacar air hanya dapat diderita sekali seumur hidup”. Kalimat ini sejatinya berasosiasi dengan janji perkawinan (khususnya perkawinan secara katolik), di mana pernikahan hanya berlangsung sekali seumur hidup. Atau jika boleh saya mengutip salah satu frasa liturgi sakramen perkawinan umat katolik, “apa yang dipersatukan tuhan, tidak dapat diceraikan manusia”. Dan sebagaimana halnya dengan penyakit cacar, perkawinan hanya dapat “diderita” sekali seumur hidup.


Adegan lain yang juga terkesan berdiri sendiri, sepintas sepele, namun mengandung muatan satir yang cukup jelas adalah adegan di mana Mur memperingatkan Ning untuk muntah di luar mobil. “Koh Jimmy ndak suka mobilnya kotor,” pungkasnya. Adegan ini seumpama pertanda atas wilayah teritorial, bahwa ada semacam konstelasi-tak-tertulis yang tidak boleh dilanggar pihak lain, semacam zona eksklusif individual. Namun jika bahasanya sedikit dimodifikasi, “jangan muntah di sini” akan terdengar serupa “jangan cari gara-gara di sini”, dan “Koh Jimmy ndak suka mobilnya kotor” akan terdengar serupa “[subjek] ndak suka diganggu”. Hemat kata, kalimat ini senada dengan peringatan, atau teguran agar tidak mengganggu urusan orang lain, yang dalam konteks film ini, tentu saja pernikahan orang lain. Adegan ini menjadi lucu tatkala kalimat ini berasal dari Mur. Dan Mur sendirilah yang pada akhirnya mengganggu pernikahan Jarot dan Ning, meskipun Mur tidak sepenuhnya salah.


***


Sebagai film bergenre road movie, Vakansi memiliki keunikan tersendiri melalui gaya penuturannya yang statis, hampir-hampir monoton. Sesuai judulnya pula, kejanggalan-kejanggalan ditemukan hampir sepanjang film berlangsung. Taruhannya cukup besar. Di satu sisi, gaya penuturan yang demikian statis dengan tempo pergeseran plot lambat dikhawatirkan akan membuat penonton mudah bosan, sehingga besar kemungkinan fokus penonton terhadap film akan segera teralih. Sementara di sisi lain, penonton mau tidak mau harus tetap fokus dan jeli mencermati tiap-tiap adegan agar dapat menangkap kejanggalan-kejanggalan yang dimaksud. Atau jangan-jangan, memang perlu lebih dari sekali menonton Vakansi agar dapat menangkap dan mengartikulasikan filmnya?

Selain itu, dialog-dialog Vakansi penuh dengan logat bahasa Jawa. Dengan kalimat tuturan sehari-hari yang seolah terbangun tanpa skenario. Entah ini perasaan saya saja, tetapi beberapa subtitle bahasa Inggris terasa kurang pas untuk mentransliterasi keutuhan makna bahasa Jawa yang digunakan. Belum lagi pengaruhnya terhadap konteks geografis film Vakansi. Saya tidak begitu tahu bagaimana respon penonton yang kurang familiar dengan kultur maupun bahasa Jawa, apalagi dengan penonton mancanegara, mengingat film ini sudah terlebih dahulu malang melintang di sejumlah festival di berbagai negara sebelum diputar di Indonesia sendiri.

Akan tetapi, keunikan Vakansi justru terletak pada kejanggalan-kejanggalan yang ada. Film ini lebih terlihat sebagai teka-teki yang belum tersusun ketimbang sebagai cerita yang rampung. Lantas membuat kita bervakansi sembari menyusun kepingan-kepingan petunjuk setelah usai menontonnya.

The Raid 2: Berandal - Kerinduan akan Kekerasan

Satu pertanyaan yang muncul sejak pertama kali saya melihat trailer film ini: akankah lebih brutal dari film sebelumnya? Ternyata benar. Hampir sepanjang film penonton dibuat babak belur tak berkutik menahan kedip dan nafas, meringis menyaksikan adegan laga sarat luka sayat menganga dan bebunyian tulang patah. Sekali lagi, sutradara Gareth Evans berpesta dengan muncratan darah. Pertanyaan berikutnya: akankah yang berikutnya lebih brutal?

Dan selanjutnya dan selanjutnya. Repetitif.


Dari total durasi film yang memakan waktu hampir dua setengah jam, penonton seolah tidak diberi jeda rehat. Struktur film disusun semenegangkan mungkin. Agaknya dosa besar jika penonton memalingkan perhatiannya barang sesaat, persis seperti apa yang Eka (Oka Antara) katakan kepada Rama (Iko Uwais), “pasang mata, pasang kuping. Orang-orang ini nggak ketebak.” Serangan bisa datang sewaktu-waktu, maka penonton haram untuk lengah. Sebaliknya, interval berupa sekuens-sekuens percakapan hanya berlangsung selama beberapa menit. Dan sayangnya masih mengulang cacat terdahulu, yakni ketidakjelasan artikulasi. Akibatnya penonton terpaksa menebak-nebak beberapa dialog samar antar pemain.

Menyoal retorika kekerasan dalam bahasa sinema, film action setipe The Raid tentunya memilih bentuk penyajian secara gamblang: darah muncrat, senjata tajam menyayat, daging terkoyak, bebunyian tulang luluh lantak, sampai luka terbuka setelah ditembus peluru shotgun menjadi formulasi tersendiri demi menampilkan kemewahan akan kekerasan. Lantas, bentuk kekerasan inilah yang belakangan dipertanyakan dalam konteks budaya perfilman Indonesia. Tidak sedikit pihak (terlebih di Indonesia sendiri) yang mengecam bahwa bentuk kekerasan secara gamblang dalam film berpengaruh buruk bagi penonton, sekaligus mencemari reputasi Indonesia yang dikenal berbudaya ramah dan harmonis. Nyatanya hal ini bukan merupakan wacana baru. Kita mengenal Rumah Dara, The Raid: Redemption, dan yang beberapa bulan lalu baru rilis The Killers, sebagai film action dengan rumusan serupa. Namun begitu, ketimbang mempermasalahkan kekerasan sebagai bahasa sinema kontemporer bagi film-film bergenre action, agaknya The Raid 2 berhasil melampaui klise retorika kemewahan yang dimaksud.

Sebab The Raid 2 tidak hanya mewah dari retorika kekerasan yang paling pragmatis. Kemewahan akan kekerasan yang ditampilkan olehnya juga hadir melalui penggarapan teknis serta capaian sinematografi maupun estetika yang patut diapresiasi. Tampilan sekuens adegan laga terjaga cukup fokus, hanya sedikit gambar yang blur. Entah disebabkan oleh manipulasi kecepatan di meja editing atau kendala teknis lainnya. Tokoh-tokoh protagonis dan antagonis juga lebih bervariasi dengan spesialisasi pada jenis senjata tertentu. Sebut saja pembunuh dengan celurit kembar, gadis tuna rungu dengan palu kembar, hingga lelaki berjaket hoody dengan stik baseballnya.

Lalu bagaimana dengan cerita? Alur cerita The Raid 2 boleh dikatakan lebih kompleks meskipun masih dengan benang merah yang sama. Jika The Raid menekankan pada serbuan mendadak nan agresif terhadap musuh, The Raid 2 mengambil langkah yang lebih elegan. Yaitu dengan metode infiltrasi ke dalam jaringan musuh. Rama tidak lagi menjala ikan, Ia kini harus ikut menyelam.

Dugaan kecil yang muncul di tengah-tengah film: Mad Dog masih hidup? Mungkinkah dia selamat setelah lehernya digorok dengan pecahan lampu, lantas menderita amnesia parsial? Agaknya tidak. Yayan Ruhian memerankan karakter yang sepenuhnya lain bernama Prakoso. Sama sekali tidak ada adegan ataupun cerita yang mengindikasikan bahwa Ia adalah Mad Dog dalam seri The Raid terdahulu.

Dan jika sebelumnya saya mengeluhkan ketidakjelasan artikulasi, mau tidak mau saya harus maklum di akhir film. Bahwasanya cerita tidak lagi menjadi prioritas. Khususnya pada film action semacam The Raid 2, ataupun film-film action lain yang mengutamakan aksi ketimbang isi. Harus diakui bahwa penonton tidak datang untuk cerita, mereka datang untuk laga. Di tengah-tengah euforia film lokal yang masih berkutat dengan komedi gula-gula, horor erotik, dan roman picisan remaja, The Raid 2 menyeruak di antaranya sebagai selebrasi bagi penonton yang rindu akan kekerasan.