the first music that made him cry...

...is michael jackson's live concert which was recorded in bucharest, romania 1992. three years after the concert, the five-year-old pandji watched it via laser disc. back then, little pandji had absolutely no idea what was the show about; what was he watching. all he knew was that a mixture between singing and dancing can be remarkably entertaining. after all, there was a curly-haired guy on the screen doing exactly what pandji thought about perfection. that curly-haired guy had seized his attention bit by bit; until he lost it --captivated. for that curly-haired guy's performance, voice, choreography, and charm were obviously seductive. it was his first lesson concerning the magic within the stage. and he cried.



pandji remembered those moments. he realized he was crying along the way that curly-haired guy sang a song entitled "will you be there". he was shy, didn't want grandpa and ma to find out that he's been crying like that. yet "who's that, grandma?" came out from his nasal voice. from that time on, little pandji officially became a michael jackson worshiper.



#


2014-- teenage pandji turns 24, with countless songs that successfully made him cry along the way. sometimes a slight sob, sometimes a normal weep, sometimes (he admit it himself) an intense cry. however his shyness is lastly gone. instead, he will proudly suggest the music to the others. he's eager to share the greatness he found beyond the song. even after "this is genius! you must listen to this!" came out from his throaty voice, he'll show a huge-satisfied-smile on his face. 

he believes that there's nothing more genius and genuine than a musical composition that is able to lure the audience's emotion. that's probably the reason why pandji decided to take piano courses during elementary school (he was 8 by the time his mom bought him a richard meyer's classic upright piano), also the reason why he's always having a slight sob every time he listens to "karolina", and the reason why he tends to cry every time he plays "georgia on my mind".

Timeless Loop

there's a certain kind of movie that force you to watch it over and over simultaneously. until you eventually memorize all the scenarios, the screenplay, the storyline, the character's shirt color, the character's decision, the precise time of every mesmerizing scene, and so on. name them yourself. thereafter you find yourself hoping silently to the main character: please do different things

yeah. a kind of movie that makes you wish it doesn't have an ending. as for me, one among them is midnight in paris.


Midnight in Paris (2011)
the fact that i'm secretly wanting for gil to stay in his surrealistic realm of paris. like "hey there's still a plenty conversation you can have with hemingway, with the fitzgeralds, with stein, with dali, with adriana. don't leave your precious imaginarium just yet!"

i will assure him to outshine hemingway, to discuss about hyperrealistic paint with dali, to tell adriana that he needs her more than anyone else, including his former fiancé. just do something new --while looping timelessly with various surprises out of the blue, and remember to drift me away further without any expectation nor clue.

karya seni: perkara komposisi dan misi

"semua seni punya misi, dan sah-sah aja kalau dalam hal musik misinya mengedukasi pendengar, baik melalui harmoni, ritme maupun lirik. terlepas dia musisi atau dia akademisi. lalu, apa pra-kondisi agar misi untuk mengedukasi itu bisa tercapai? kalau dibandingkan dengan sekolah, maka harus ada siswa yang terikat untuk belajar. terikat itu bisa karena wajib bisa karena mau. kalau dibandingkan dengan musisi, harus ada audiens yang terikat untuk mendengar. bedanya, dalam hal musik, tidak ada ikatan karena 'wajib' -yang ada hanya karena 'mau'. terikat karena 'mau' itu hubungannya dengan selera musik."

*

demikian paragraf pertama surat elektronik kiriman partner saya beberapa pekan lalu. sebelumnya kami sempat berdiskusi soal lirik. agaknya ia cukup pusing menentukan lirik yang tepat. tepat dalam arti sesuai takaran, mampu berkelindan dengan iringan instrumen, seimbang dari segi komposisi, sehingga menghasilkan satu gubahan yang padu dan proporsional. ia menyebutnya "lirik yang efektif": yang menghadirkan emosi, memiliki kausalitas (idealnya, baris 1-2 saling terkait, 3-4 saling terkait, dst), serta mudah dicerna (berpotensi mengajak pendengar bernyanyi bersama). menurutnya, "lirik yang efektif" adalah lirik yang turut mendukung iringan musik, bahkan menjembatani proses penyampaian pesan ke telinga pendengar.

sebagai sesama musisi amatir, saya pikir argumennya valid. saya setuju dengan caranya mendeskripsikan "lirik yang efektif". akan tetapi masih ada perasaan ganjil, entah mengapa afirmasi barusan juga mengalami benturan di poin yang sama. persisnya pada penggunaan term "efektif". cukup lama kami bertukar pikiran mengenai lirik, sekiranya lalai menyimak parameter diskusi yang lebih luas, yakni karya musik. sebab "lirik yang efektif" niscaya sia-sia jika tidak disandingkan dengan pemilihan melodi, iringan instrumen, serta elemen-elemen musik lain yang seyogianya juga "efektif". partner saya memang tidak menyatakan "lirik yang efektif" sebagai indikator absolut yang menjustifikasi baik buruknya musik. dan sekali lagi, saya setuju dengannya. andaikata saya boleh menambahkan: barangkali manifesto aristoteles perihal prosodi dapat menyimpulkan diskusi kami dengan lebih cermat.

"aristotle's poetics on prosody" boleh diumpamakan sebagai sintesis. satu maklumatnya yang berbunyi "every great work of art displays the same quality: unity" seolah menonjok wajah kami dengan bunyi lain, "yaelahcyn rempong bener lo pade". bagi aristoteles, segala alasan dan tujuan (penciptaan) sebuah karya seni -dalam hal ini musik- perlu saling melebur ke dalam satu keutuhan sempurna; pun memiliki relasi antar unsur yang serasi, yang kompatibel, apapun wujudnya: melodi dan lirik, chord dan pesan, rima dan emosi, dan seterusnya. aristoteles melengkapi diskusi kami dengan prinsip fundamental dalam sebuah karya seni. ia mengartikulasikan "efektivitas" pada tataran pokok dengan kesederhanaan yang kompleks.

menyoal perkara misi, baik edukasi atau apapun itu, saya mengaku masih goyah dalam menempatkan diri. di satu sisi, ada keyakinan terpendam bahwa setiap karya seni akan lepas dari kreatornya, suka tidak suka. keyakinan ini mengakar sebagai ideologi, selaku pedoman pada setiap karya saya. lantas tidak ada kewajiban maupun hak secuilpun bagi saya terhadap respon audiens. adapun sisi ini bercokol sebatas skup individual, karena secara sadar saya menafikan peran audiens sembari meletakkannya sebagai pihak eksternal yang juga tidak berkewajiban dan berhak memberi tanggapan apa-apa. namun di sisi lain, ada hasrat (yang juga) terpendam akan kemajuan, akan progres secara simultan. hasrat ini kemudian mendorong terjadinya proses dialektika, suka tidak suka, karena kritik konstruktif serta masukan amat saya butuhkan demi mengevaluasi karya. karenanya audiens sebagai pihak eksternal justru diperlukan hadir dalam rangka simbiosis mutualisme, dengan harapan akan sinergi positif.

dan sebagai amatiran, saya menolak memetaforakannya sebagai dua sisi mata uang. adapun mata uang memiliki standar nilai yang berlaku universal. mata uang memiliki satuan nilai tetap di balik hakekatnya sebagai entitas bersisi ganda, sehingga jelas berbeda dengan dua sisi prinsip penciptaan karya. sebab pada prakteknya dualisme ini dapat disimplifikasi ke dalam dua logika paradoks: nonkomersil atau komersil. begitu sederhana. seumpama enggan untuk menengok kembali pergolakan batin sang kreator dan resolusi akhir tanpa-patokan-nilai yang jauh dari seimbang.

A Tedious Simplicity

Lost in Translation (2003)
faraway from your hometown, from all familiarities and intimacies, will you ever wonder… 


…how a boring conversation with a random stranger who share the exact same unusualness like you can suddenly change your whole world?