after the carnival, on an empty carousel



"carnival came by my town today~

guess what? it never came.

--thereby, most of my childhood's haze are shattered as time flies by, tarnishing the carnival lights bit by bit, vanishing its delightful magic part by part, while patiently growing me older moment by moment.. in the end, i never had the chance to experience the traveling-carnival like the one in The Cardigans' song.

major bullshit winner of all time





"think about it:

religion has actually convinced people
that there's an invisible man...
living in the sky…
who watches everything you do, every minute of every day,
and the invisible man has a special list of ten things he does not want you to do.
and if you do any of these ten things, he has a special place, full of fire and smoke and burning and torture and anguish,
where he will send you to live and suffer and burn and choke and scream and cry forever and ever 'til the end of time!

…but he loves you


- George Carlin -

batasan dan keterbatasan

bayangkan anda seorang penulis novel. kemudian ada seseorang bertongkat menghampiri anda dan berkata, "selamat malam, saya sudah baca buku karangan anda. bagus sekali."

setelah nyengir, sesaat kemudian baru anda sadar...
...orang itu buta.

pertanyaannya : bagaimana respon anda?

adegan barusan pernah dialami oleh putu oka sukanta, salah seorang sastrawan lekra pada periode 60an. seingat saya, pak putu cukup beruntung karena ia tidak perlu merespon.

"ada teman saya yang membacakannya." lanjut si tuna netra.


sebagian dari kita akan tertegun dan berpendapat bahwa si tuna netra memiliki teman yang luar biasa baik nan sabar, sebagian lain akan menganggap bahwa buku tersebut tentu begitu luar biasa sampai-sampai ada seseorang rela membacakan bagi temannya yang tidak mampu melihat, sementara sisanya akan mengernyit sambil berpikir: "melisankan karya tulis?"

meski sepintas terlihat seperti ide sederhana, ternyata "melisankan karya tulis" tidak sesederhana itu. tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa pengalihan format karya serupa ini dapat memancing kontroversi, baik di kalangan penikmat maupun para kreator. tesisnya ialah bahwa setiap medium format memiliki metode formulasi tersendiri. karya yang dapat dikatakan baik secara substansi belum tentu akan baik pula jika dieksekusi menggunakan medium format yang kurang tepat. singkatnya, "seberapa penting peran medium dalam mengemas atau sebagai kemasan sebuah karya?" justru malah menelurkan retorika "ketika perdebatan ini semakin meruncing ke arah format dan medium ketimbang esensi dan estetika dari karya terkait, apa masih penting untuk diperdebatkan?". perdebatan ini nampaknya masih belum tuntas… 

sejauh yang saya tahu, ada sejumlah pendapat bahwa pengalihan format karya tidaklah efektif. dan bicara efektivitas berarti menyangkut soal keterpaduan (kompatibilitas). maka ada distingsi yang nyata antara fungsi interpretatif dari indera penglihatan dan indera pendengaran. kedua indera ini memiliki pengaruh yang berlainan (meskipun sama kuat) terhadap interpretasi seseorang. lantas bagaimana dengan nilai (value) yang termuat dalam sebuah karya? apakah pengalihan format memiliki dampak signifikan terhadap interpretasi?

silahkan anda coba membaca sebuah cerpen di dalam hati, setelahnya mintalah teman anda membacakan untuk anda. gimana rasanya? poin lanjutan dari pendapat di atas ialah adanya kecemasan terhadap interpretasi pun penafsiran yang bias. bias karena interpretasi si pendengar lebih kurang akan dipengaruhi oleh si pembaca, sehingga interpretasinya tidak lagi dapat dibilang murni. tulisan yang dilisankan akan membawa variabel-variabel baru: pembawaan si pembaca, intonasi, lafal, dialek, dan lain sebagainya yang merupakan eksponen indera pendengar. singkat kata: karakter-karakter dari suara yang diproduksi. sehingga dapat disimpulkan bahwa kekhawatiran terbesar ialah kesalahan interpretasi.

ingat guyonan klasik soal intonasi yang dapat diterapkan pada "buah jambu monyet"? iya. sesederhana itu, semengkhawatirkan itu…

lalu bagaimana dengan novel dan film? kedua medium format ini cukup sering berkolaborasi, terlihat dari jumlah novel yang difilmkan ataupun sebaliknya (meski jumlah film yang diangkat dari novel barangkali lebih banyak). novel dan film barangkali lebih akrab menyoal transisi medium format yang berbuntut pada evolusi maupun devolusi nilai. melalui percakapan dengan berbagai teman, dapat saya simpulkan secara subjektif bahwa kebanyakan memilih untuk membaca novel, bahkan jika novel tersebut telah difilmkan. dan alasannya hampir selalu sama: "kalau di novel, imajinasi tentang adegan yang sedang dibaca bisa lebih bebas. nggak terpaku dengan visualisasi yang ada pada layar film." kira-kira begitu. alasan lain, novel mengandung lebih banyak elemen cerita sehingga mampu memaparkan secara mendetail, merinci, ketimbang film (alasan ini tentu mustahil untuk dielakkan, mengingat film memiliki keterbatasan durasi). nah, kembali ke carut marut perkara format dan medium di atas: "seberapa penting peran mediumnya?"

tetapi kali ini kita dihadapkan dengan responden yang memiliki keterbatasan fisik. tidak seperti kita, mereka tidak diberi banyak pilihan, bahkan untuk sekedar menikmati sebuah karya. barangkali dengan absennya indera penglihatan, indera pendengaran mereka justru jauh lebih peka sebagai interpretator tunggal? siapa yang tahu?

maka, dalam hal ini saya memosisikan diri di kubu yang mafhum terhadap kontroversi terkait transisi medium format. terlepas dari kemungkinan akan efektivitas, blablabla lainnya sampai kemungkinan interpretasi yang bias, saya pikir toh mereka juga berhak menikmati setiap karya seni meski kondisi fisik mereka terbatas.