Doraemon: Stand By Me - Berbekal Handuk Tidaklah Cukup

Tepat seminggu sejak saya menonton Doraemon: Stand By Me (selanjutnya STB) di bioskop. Beberapa kali saya mengumpulkan niat untuk menulis catatan kecil soal reaksi saya terhadap film ini. Yah... sekadar berbagi. Maksud hati ingin menulis sesuatu yang objektif, yang bersifat umum dan tidak terlampau personal, apa daya senantiasa gagal. Harus diakui: saya sudah sedemikian terikat oleh cerita dan karakter-karakter dalam film ini. Masih jelas dalam ingatan saya --ketika film berakhir, ruang bioskop kembali terang benderang, saya coba cek kiri-kanan, kemudian heran...

kenapa cuma muka saya yang sembab...?

STB sukses membuat air mata saya pasang surut. Duo sutradara Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi tampaknya tahu persis bagaimana cara membuat penonton menangis. Dari mulai poster, trailer, soundtrack, scoring, sampai ke cuilan-cuilan cerita serial dan layar lebar yang dipilih, semua dirancang, dikemas demi satu misi: Nangis lo! Nangis! Nah sip!

Maka dari itu, untuk reaksi tentang STB yang sekiranya lebih objektif, saya sarankan kalian membaca tulisan Nona Fallissa Putri di tautan ini.


Poster (ngajak nangis) Doraemon: Stand By Me
Padahal kalau dipikir-pikir, selain transisi format dari 2D menuju 3D, STB tidak menawarkan cerita baru. Seperti yang tadi saya tulis, struktur ceritanya hanya diambil dari cuilan-cuilan cerita serial (peralatan ajaib) dan layar lebar (Doraemon Returned - 1998 dan Doraemon: The Night Before Wedding - 1999). Bagi penonton yang memang rutin membaca maupun menyaksikan cerita-cerita Doraemon, tentu akan mudah mengidentifikasi adegan mana saja yang dicuil. Sementara STB cukup mentransformasikannya ke dalam bentuk 3D. Atau, meminjam istilah Bung Viriya Paramita, "migrasi tata visual dari 2D ke 3D." 
Oh, sebelum lupa, silahkan kalian simak juga artikel retrospektif tentang Doraemon dari Bung Viriya di tautan ini. Saya jamin menarik.

Adapun STB berbeda dengan film-film layar lebar Doraemon dalam format 2D yang kerap menyuguhkan unsur kebaruan (newness) bercerita. Salah satu yang paling saya ingat misalnya, Doraemon: The Legend of Sun King (2000) atau yang diterjemahkan menjadi Doraemon: Nobita dan Legenda Raja Matahari --saya ingat betul karena film ini adalah satu-satunya film layar lebar Doraemon yang berhasil masuk ke jaringan bioskop komersil Indonesia. Mereka menawarkan cerita baru, menghadirkan petualangan baru dengan tokoh-tokoh yang juga baru, dan terutama menyisakan pertanyaan baru bagi penonton: seperti apa ya petualangan selanjutnya?

Saya pikir unsur kebaruan dalam sebuah cerita menjadi penting. Menghilangkan unsur kebaruan sama halnya dengan menyudahi probabilitas keberlanjutan cerita itu sendiri --satu hal yang menjadi muasal ketakutan sekaligus kekecewaan terbesar saya, lantaran unsur ini absen sepanjang film STB.


Doraemon: The Night Before Wedding (1999)

Doraemon Returned (1998)
Hmm... kalau toh saya sedemikian kecewa, mengapa pasca menonton STB masih mewek juga? Terus terang, terlepas dari absennya unsur kebaruan dalam bercerita, penggarapan film ini sungguh luar biasa juara. Tearjerker jawara saya dedikasikan terutama bagi para komposer Jepang yang bertanggung jawab penuh menggubah scoring dan soundtrack STB. Saya tidak habis pikir. Makan apa sih mereka? Kok ya bisa mengobrak-abrik emosi penonton sedemikian rupa? Ingat adegan ketika Nobita belingsatan naik baling-baling bambu di atas sungai karena ia tahu pasti akan menikah dengan Shizuka, sementara Doraemon dikasih reminder kalau tugasnya membuat Nobita bahagia sudah paripurna? Scoring dan soundtrack di adegan itu ngehek keterlaluan. Saya sampai harus pelan-pelan mengucek mata dengan handuk kecil. Contoh lain, ingat adegan ketika Nobita baku hantam dengan Giant? Sama ngeheknya. Saya tengok kiri-kanan. Ah sudahlah. Persetan dengan handuk kecil.

Di samping scoring dan soundtrack pun, cuilan-cuilan yang dimuat dalam STB memang pada dasarnya juga tearjerker. Dua contoh film layar lebar yang sempat disinggung di atas menjadi saksi bisu misteri habisnya tissue di ruang makan rumah saya. Serius. Ini bukti bahwa cerita-cerita Doraemon tidak memerlukan transformasi format untuk menguras air mata. Baik 2D maupun 3D sama saja efeknya. Saya bahkan membayangkan mendiang Pram bersabda: Tearjerker sejak dalam pikiran, apalagi penyajian. Dan cerita-cerita Doraemon sahih adanya.

Namun kembali lagi, STB tetap menyisakan rasa kecewa. Bukan bagaimana... saya hanya khawatir, tanpa kebaruan sama sekali, film ini bisa-bisa jadi last resort Doraemon. Karena trik mengkompilasi cuilan serial dan layar lebar seperti ini tidak akan semenarik, dan nafasnya juga tidak akan sepanjang seri petualangannya. Andai ide transformasi format ini diiringi oleh cerita baru, barangkali hasilnya bisa jauh berbeda. Barangkali saya tidak perlu merasa kecewa. Saya hanya berharap, semoga masih ada karya-karya selanjutnya.

Film Animasi || 95 menit || Jepang || 2014

Supernova: KPBJ - Keberhasilan Kedua Sutradara Rizal Mantovani

Bagi pembaca novel Supernova: Ksatria, Puteri, & Bintang Jatuh (selanjutnya KPBJ) yang juga menonton filmnya, keluar dari gedung bioskop sambil bersumpah serapah adalah sebuah niscaya. Saya malah sempat berpikir untuk membeli pillox di toko material terdekat, gemas menimpa kata "super" dengan kata "blunder" di posternya. Tapi seketika saya sadar itu vandal. Saya urungkan niat mulia tersebut sambil mengamini kalau saya masih anak baik-baik.

Reuben (Arifin Putra) & Dimas (Hamish Daud)


Tapi mari sedikit objektif dengan menilai film ini hanya sebagai film semata. Ada baiknya kita (yang membaca novelnya) simpan dulu kenyataan bahwa film ini diadaptasi dari novel avant-garde keluaran 2001 dengan judul yang sama. Tayangan ini adalah fiksi belaka, segala kemiripan yang muncul antara film ini dengan novel KPBJ adalah kecelakaan yang (tidak) disengaja, dan maka dari itu, haram membanding-bandingkannya.

Dua jam penuh dijejali shot demi shot bombastis, saya sampai harus meyakinkan diri berulang kali bahwa apa yang saya lihat ini adalah film, bukan sirkus kedahsyatan visual atau trailer pongah dengan durasi terlama sepanjang sejarah. Film KPBJ adalah bukti kesuksesan kedua sutradara Rizal Mantovani mentransliterasikan bahasa teks-novel ke dalam wujud bahasa audiovisual, setelah keberhasilannya pada 2012 silam memperlihatkan gadis sintal mampu mendaki puncak Mahameru tanpa kehilangan nafas, lengkap dengan rambut licin berkilau dan jaket putih masih melekat rapih dalam film 5 cm. Seandainya ada rumah sakit khusus naskah-adaptasi sinema Indonesia, saya yakin dua karya ini masuk daftar prioritas Instalasi Gawat Darurat.

KPBJ hadir sebagai lelucon tanpa tautan logika. Tidak cuma obesitas oleh gambar-gambar cantik dan shot-shot manis, film ini juga sesak dengan kalimat dialog bergaya monolog, adegan-adegan repetitif dengan penekanan simbolik tidak penting, musik latar yang lebih meruntuhkan ketimbang membangun nuansa sinematik, serta scoring bawel tak berkesudahan dari Nidji.

Pertama-tama, kita dipaksa menyimak dialog Reuben (Arifin Putra) - Dimas (Hamish Daud) yang terlampau canggung untuk sepasang kekasih, dan dialog Ferre (Herjunot Ali) - Rana (Raline Shah) yang terlampau absurd untuk sepasang affair. Penata skrip barangkali perlu lebih berhati-hati memilah penggunaan kata dan bahasa. Sekalipun maksud hati ingin bersetia pada kalimat-kalimat orisinil yang dirujuk dari novel, namun dengan konsekuensi dapat mengebiri keluwesan berdialog para pemainnya, mungkin ada baiknya memilih untuk berkhianat saja. Sebab kalimat-kalimat puitis dua arah yang tidak jelas juntrungannya hanya akan membuat dahi penonton mengernyit, membisikkan "dih???" sunyi dalam hati. Sayangnya, dari keseluruhan cast, boleh jadi hanya Arwin (Fedi Nuril) yang masih bisa terselamatkan.


Sejajar dengan hal tersebut, absurditas struktur dialog dalam film ini kemudian diperparah dengan serangan gerilya kalimat teks, yang dengan briliannya kembali dilisankan oleh para pemain. Seriously, apa anda pernah membahasakan kalimat sendiri ketika sedang khusyuk chatting? Lame.

Namun harus saya akui, hal ini cukup membantu saya memahami beberapa adegan. Tadinya saya pikir kuping saya bermasalah, sebab tanpa adanya subteks/subtitle, mustahil saya bisa mengerti apa yang diucapkan Diva (Paula Verhoeven). Nah, khusus untuk kasus Diva seorang, kehadiran kalimat teks dan subteks/subtitle setiap kali Ia berbicara sama bernasnya dengan kehadiran sesosok juru selamat. Makanya saya bisa paham sepaham pahamnya ekspresi Ferre yang penuh tanda tanya menjelang akhir film, saat Ia menggerebek Diva di balik kursi admin Supernova. Jangankan penonton, Ferre saja mangap mendengar Diva.


Diva 1 : Kuping penonton 0

Lalu, seperti halnya ekspresi tertekuk Ferre, beberapa kali wajah saya mengkerut mendapati pengulangan adegan. "Bentar bentar… Ini kayaknya udah ada deh tadi." batin saya. "Adegan Ferre-Rana dansa dansi di samping piano sepertinya sudah pernah saya lihat." De Ja Vu? Saya nyaris tengok kanan kiri berharap ini bukan kekeliruan fungsi program virtual layaknya semesta The Matrix. Belum puas sampai di situ, film menambah dosis keblingerannya lewat kemunculan-kemunculan simbol yang berakhir menggantung tanpa penjelasan apa-apa. Bukannya saya manja lantas meminta pembuat film melugaskan pesannya seharfiah mungkin tanpa membawa-bawa simbol. Memunculkan simbol dalam film tentu sah adanya. Tapi memunculkan simbol sebagai simbol per se tanpa disertai korelasi yang jelas dengan bangunan cerita, resikonya adalah mengecoh pemahaman penonton. Di titik ini saya harus menahan ngakak ketika mengingat adegan limbo Ferre yang lebih mirip basi'an bad trip. Gagak? Baphomet/Minotaur? Cermin melayang? Are you on mushroom or something?

Oh, maaf. Saya keliru perihal mushroom barusan. Mendengar scoring dan soundtrack KPBJ agaknya lebih mirip dengan efek samping LSD. Pasalnya, simfoni orkestra yang bingar dan riuh tidak pernah absen mengiringi shot-shot cantik di sela transisi adegan. Meskipun sebagai komposisi musik yang berdiri sendiri, scoring KPBJ amat megah nan dahsyat, akan tetapi sebagai komposisi yang melatari sebuah film, lain lagi ceritanya. Ada disharmoni antara gambar dan suara yang mengakibatkan saya hilang fokus. Gambar, suara, dan adegan, masing-masing seperti berusaha mencuri spotlight. Walhasil saya bingung mana yang harus dijadikan pusat perhatian. Gambar-gambar indah, musik megah, atau justru cerita filmnya sendiri? Makin runyam keadaannya ketika soundtrack Nidji ikut ambil bagian dalam olimpiade spotlight ini. Muatan cerita KPBJ sesungguhnya sudah tumpang tindih dengan subplot, Ia sudah bercerita banyak secara visual. Bila ditambah tembang-tembang Nidji, praktis KPBJ berisik. Film ini terlalu bawel, padahal poin yang hendak ditekankan oleh visual dan audionya ujug-ujug podo wae.

Hemat saya, KPBJ lebih layak dianggap sebagai pengejawantahan abstrak dalam bahasa audiovisual atas novel Dewi Lestari ketimbang sebuah film yang utuh. Film ini menyulap Supernova menjadi sekadar figur bijak misterius yang gemar playing god, tanpa penjelasan tambahan apa-apa. Sungguh saya tidak berani membayangkan seandainya Soraya Intercine Films berniat mengadaptasi novel-novel Supernova selanjutnya. Diva sudah hancur berkeping-keping. Bodhi? Elektra? Zarah? Alfa? Entah seperti apa nasib mereka nanti.


ps:

YES!
NOP!

Tolong setolong tolongnya cover buku Supernova KPBJ nggak diganti dengan poster filmnya. tolong. kezaliman visual itu namanya. 


Film Cerita || 136 Menit || Indonesia || 2014

The Strange Little Cat: Komposisi Sumbang Keluarga Harmonis

Das Merkwürdige Kätzchen (image taken from moviepilot.de)
Das Merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat, 2013) dibuka dengan shot remaja laki-laki (Luk Pfaff) yang tertidur pulas dalam posisi telungkup. Semburat tipis matahari yang menembus tirai jendela menandakan pagi. Di luar kamar, seekor kucing gemuk tengah menggaruk-garuk pintu, seolah minta untuk dibukakan. Tak lama, terdengar suara melengking yang ganjil dari kejauhan, shot berpindah ke dapur, memperlihatkan sesosok wanita yang nantinya akan kita ketahui sebagai nyonya rumah (Jenny Schily). Sementara itu, suara lengkingan yang sempat diduga berasal dari mesin pencuci otomatis, ternyata berasal dari si bungsu perempuan bernama Clara (Mia Kasalo) yang tengah duduk di meja makan.

Seiring durasi bergulir, satu per satu anggota keluarga lain bergantian masuk ke dalam frame. Dan dalam satu take yang sedikit panjang itu, sudut pandang kamera tidak mengalami perubahan, sehingga selain Clara, anggota keluarga lain yang hilir mudik di sekitar dapur tidak disorot secara layak (kurang mendapat head room, bahkan ada kalanya setengah kepala terpotong frame). Sudut pandang ganjil ini menjadi unik, lantaran secara konsisten digunakan sepanjang film diputar. Pembuat film rasanya ingin membatasi ruang gerak kamera dengan menempatkannya berulang kali di posisi-posisi yang kaku dan asing; seperti pihak anomali yang tidak akrab dengan objek-objeknya.

Alasannya? Tentu sebagai metafor akan kerikuhan relasi interpersonal anggota keluarga. Beberapa dialog yang melingkupi mereka diawali dan diakhiri tanpa alasan yang jelas. Semisal ketika si ibu menceritakan pengalamannya nonton di bioskop bersama nenek dan orang asing yang membuatnya kikuk; atau ketika anak perempuan tertua (Anjorka Stretchel) menceritakan soal serpihan kulit jeruk yang ia buang sembari berjalan kaki melintasi taman. Boleh dikatakan, hampir tidak ada percakapan yang terbangun secara utuh. Jika tidak terpotong oleh kehadiran anggota keluarga lain yang tiba-tiba masuk ke dalam frame, pembicaraan akan selesai begitu saja seumpama monolog yang menggantung.

Hal berikutnya yang menarik, semakin banyak anggota keluarga lain yang datang, semakin banal pula harmoni kekeluargaan yang nampak. Teguran dan sapaan lebih terlihat sebagai prosedur penyambutan tamu biasa ketimbang faktor afeksi antar anggota keluarga yang jarang bertemu, sedangkan acara makan malam bersama keluarga besar menjadi sekedar rutinitas berkala yang wajib dilakukan ketimbang stimulus untuk bertemu dan melepas rindu.

Secara sublim pula, sekuens banalitas tersebut tampil di layar bersamaan dengan masuknya scoring. Penempatan scoring dalam film ini sedikitnya memiliki dua preteks: pertama, sebagai penanda pergantian segmen adegan; kedua, sebagai eksposisi banalitas yang berkelindan antar anggota keluarga beserta sekumpulan objek di sekitar mereka. Sekuens scoring pertama memperlihatkan objek-objek di semesta dapur: gelas teh celup, botol yang berputar-putar di dalam kuali, serpihan kulit jeruk, segelas susu, ngengat, dan seorang anak kecil yang sedang bermain bola kain persis di bawah jendela dapur. Sementara pada sekuens scoring berikutnya, sudut pandang kamera yang ditempatkan di sebuah ruangan dalam posisi diagonal memperlihatkan kesemua anggota keluarga yang acuh dan sibuk dengan keperluannya masing-masing.


Dekonstruksi dalam Institusi Keluarga

Menonton The Strange Little Cat sedikit banyak mengingatkan saya akan A Very Slow Breakfast (2002) milik Edwin. Keduanya bermain dalam tempo yang relatif sama lambat. Namun jika A Very Slow Breakfast dikemas dalam format pendek berdurasi enam menit, The Strange Little Cat hadir dalam format yang lebih panjang (72 menit). Sekilas, timbul dugaan bahwa film ini merupakan pengembangan kerangka narasi yang terpapar di A Very Slow Breakfast, oleh karena keduanya sama-sama menempatkan institusi keluarga sebagai fokus cerita. Totum Pro Parte, keluarga yang sekalipun nampak harmonis, tak pelak terdiri dari disharmoni individual masing-masing anggotanya.

Kita melihat dalam A Very Slow Breakfast, bagaimana fungsi institusi keluarga sebagai salah satu agen pranata sosial ideal direduksi menjadi sekadar platform transaksional. Seluruh gerak-gerik pemain bermuara pada motif ekonomis yang dikendalikan oleh peran ayah (Yadi Timo) lewat cara membagi-bagikan uang kepada istri dan kedua anaknya. Sebaliknya, menjadi lebih menantang untuk mengartikulasikan The Strange Little Cat, sebab film ini tidak hanya menampilkan simbol-simbol material yang notabene mewujud secara fisik (kulit jeruk, perkakas dapur, peralatan makan, kotak tembakau), namun juga simbol-simbol immaterial yang terselip di sekujur dialog dan mimik para pemain; dari raut kosong si ibu dan anak perempuan tertua ketika selesai menceritakan pengalaman kilas baliknya yang ajaib, sampai kebisuan Clara setelah ditampar karena merusak pakaian sepupunya.

Satu kemiripan yang juga dapat ditemui pada A Very Slow Breakfast dan The Strange Little Cat ialah cara sutradara Ramon Zürcher memperlakukan elemen suara sebagai salah satu eksponen primer cerita. Suara-suara latar (ambience) diberi porsi yang sedikit berlebih, sehingga hampir-hampir memberi kesan hiperbolis. Bila suara-suara seperti ketombe jatuh, gepokan uang yang dihitung, acara senam di televisi diberi porsi volume yang jauh di atas normal dalam A Very Slow Breakfast, maka The Strange Little Cat memperlakukan suara mesin cuci otomatis di dapur, suara perkakas di kamar mandi, suara pintu dibuka dan ditutup, suara lampu pecah, dan lain sebagainya, dengan cara yang kurang lebih serupa.

Tujuannya cukup jelas: pembuat film ingin agar suara-suara remeh tersebut mendominasi komposisi audio, sekaligus mengukuhkan premis awal bahwa (dalam volume tertentu) banalitas dapat merusak harmoni yang sejatinya hadir di tengah interaksi keluarga. Alegorikan ini sebagai pagelaran orkestra yang terdiri dari sejumlah instrumen (biola, cello, piano, brass, dan sesi perkusi). Harmoni akan dicapai apabila tiap instrumen dimainkan sesuai dengan peran dan bagiannya masing-masing. Sebaliknya, kejanggalan sekecil apapun yang diakibatkan oleh satu instrumen, walau ada kalanya luput terdeteksi, akan menyebabkan disharmoni secara keseluruhan.

Betapapun, sebagai film panjang perdana, sutradara Zürcher cukup berhasil bermain-main dan bereksperimen dengan metode dekonstruksi, terutama dalam menyoroti rutinitas sebuah keluarga. Konteks keluarga besar secara konsisten diurai ke dalam subkonteks-subkonteks dengan fokus yang bervariasi sesuai dengan isu pribadi masing-masing anggotanya. Dan sebagai konklusi, Zürcher dengan apik menghadirkan medium shot ekspresi si ibu yang letih dan kosong. Sebersit retorika perihal kebanalan, bahwa rutinitas mampu mengubah apa yang sempat luar biasa menjadi sebuah kewajiban yang tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Lewat film ini, saya melihat paradoks keluarga sebagai konstelasi antar individu yang terikat secara silsilah dan darah, namun renggang dan penuh kecanggungan secara intimasi pun interaksi antar pribadi.


Film Cerita || 72 Menit || Jerman || 2013

there are times when the kindest person you know can be the scariest asshole

...because we are a self-destructible bipedal primate with limited amount of patience. and we have that detonation switch inside us. a switch that will eventually be pushed by certain people who are given permission to. the question is: do we know who's worth enough to hold the switch? and as scary as it be, are we worth enough to hold anyone's?

i remember an old wisdom saying that "it's not the people who change, it's the mask that falls off." and suppose a mask suites that idiom perfectly,
do you still want to look what's inside the mask?
do you still care to see?





Demons

demons run when a good man goes to war
night will fall and drown in sun
when a good man goes to war
friendship dies and true love lies
night will fall and the dark will rise
when a good man goes to war
demons run but count the cost
the battles won but the child is lost


- Steven Moffat -



how do you elaborate a completely hypothetical kind of relationship --knowing someone merely on a regular basis without any opportunity to have further conversation, without any condition to feel attracted one another, without a slightest thought on any potential intimacy whatsoever... 
even so, you couldn't help yourself wondering: why do i have these expectations? where do those expectations come from?

unaware of it, the two of you speak within signs. signs that are actually dying to be deciphered. signs that are impossible to be understood unless the both of you keep a certain distance. at first you are intrigued by the signs, as they gave you some purpose to keep wondering. later they became a familiar face, the curiosity began to vanish as well. afterwards, you have nothing left but to keep changing signs and live with those signs for the rest of your relationship. strangely... you both seem to love it that way. you love your expectations, now and then...

as for the result: you know almost nothing about that person. and vice versa.

ps:
i always knew that Shiina Ringo is equally known for her unusual choice of lyrics. not many japanese musicians would've combined both kanji and latin words in one song, and she's one amongst the few. a rare one.

somewhere 2665 meter(s) above sea level

q:
do you have anything to do this weekend? any important things? appointments?

p:
not sure. well... nothing in particular i guess. why?

q:
i wanna take you somewhere.

p:
where?

q:
*smirk* these lips are sealed.

p:
surprise me then.


  























q:
i'm taking you home...
perhaps, the most hurtful curse is living as a writer among illiterate people

kisah




anda menonton video musik; menikmati nada-nada, meresapi lirik, mencermati visual, lantas mendapati diri anda gemetar takjub oleh kesempurnaan komposisi tiap-tiap unsurnya

nada
lirik 
visual, 

kendati masing-masing menghadirkan kisah yang berlainan, namun ketika ketiganya hadir dalam satu kesatuan berbentuk video musik, kisahnya barangkali akan jauh lebih pelik

dan sadar atau tidak, anda terusik.

25th


hey june, don't make it bad
play your upright and make repertoires
if you fail to play it with all your heart
then you can sing and die for nothing

hey june, don't be frightened
you used to be strong and full of laughter
the moment you let those fingers dancing
then you must think to live for something


3rd of june just passed, i suddenly turned 25 years old, it all happened in a flash without warning, and i had to deal with it. just earlier this noon my aunt said "what have you achieved this far?" in which i instantly replied with "now that's a good question…" rather than the usual response "hahaha… *long pause* not much."

first of all, i decided to quit my job as an account executive at the advertising agency. holy christ… it was the worst mistake i've made of my 24. back then i had no idea being an account executive really cost me so much: i didn't have time to read a book, to write,  to watch movies and theatre performance, to play my upright piano, to hold a gig for my band, even to dress casually at work (i'm big on this). in the short run, i began a whole new career as a movie journalist while also freelancing as a contributor for movie, music, and theatre reviews. maybe the salary is not as high as before. but i prefer this way.

well, at least i finished my duty as a college student. it took me approximately six years to get a certain effing title put after my name, six effing years roaming cluelessly at every possible direction i had my interest into, six years having perpetual changes of peer group (though it taught me a lot about real friendship), six years coping with the mishaps here and there (death includes), and six years trying to perceive something called "self-reliance" (right… go figure).

another fun fact besides obtaining an academic degree is (perhaps) finding the right person. yeah folks… i finally met her. she's been my closest friend for more than five years. and the fool who currently writes this article had no idea whatsoever that she's been there all along, listening to his miserable move-on-venture yap and pathetic convos about his complicated ex everytime, everywhere. she is the woman he can trust. and hopefully, just hopefully, able to cure his timeless heart-broken wound. guess that makes him the lucky fool eh?


anyhow, here i am now. and i can say i have no regrets. turning 25 for me is the end of the first phase, afterwards there are only two more phases to go: 50 and 75. and it ends after that. in simple word: death. albeit looking at my physical state at the moment, i'm pretty sure i doubt myself to be able to live that long. in fact i will surprise myself for reaching 65.

emanon and rion

Then i saw one beast come out of the ocean.
It had 10 horns and 7 heads, 
each horn having a crown, 
and each head having a name in contempt of god...

To have the power to give to the beast, the dragon was worshipped by all people.
The people worshipped the beast as well,
and said,
"Who can become like this beast?
Who can oppose the beast, and fight him?"


(Johannes' Apocalypse, ch. 13, 1-4) 


A Nameless Monster
by Emil Scherbe
(From Monster comic series by Urasawa Naoki)

i found the following eight pages comic are simply enchanting, somehow they remind me of Poe's and Grimm's, but with more subtlety, more sophistic ways of picturing the worst nightmare for one could ever experience. these are written and drawn by one of the greatest Japanese mangaka, Urasawa Naoki. leaving you with nothing but bad... bad... aftertaste. 

mind the chills, people :)









book, bridge, bond, bon voyage



...and suddenly you meet the person who is reading the same book as you are and you realize that the person is aware of that too and you smile and that person nods and smiles back and you are completely drowned by awkwardness and decide to get back on reading but you know you just can't ignore this peculiar feeling and you start to steal a glimpse of that person's face and you do it so carefully you don't want to get caught blushing and you start spinning your head as slow as it supposed to be and you see nothing...

...since your train is leaving.

Kisi-kisi yang Janggal dan Teka-teki Lainnya

Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012)
Menyaksikan Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (selanjutnya Vakansi) sama halnya dengan menyaksikan film janggal yang memaksa penonton mengernyitkan dahi berkali-kali sepanjang film diputar. Dan yang tersisa setelahnya ialah teka-teki, atau bolehlah dianggap sebagai kegelisahan pasca menonton. Maka dari itu, alih-alih menuliskan resensi -yang ditakutkan janggal, barangkali ada baiknya menganggap teks ini sebagai kisi-kisi terhadap kejanggalan-kejanggalan sepanjang Vakansi. Kali ini, mari kita bermain-main dengan yang-janggal dan rangkaian petunjuk di baliknya.

Dimulai dari pengenalan tokoh:

Ning (Christy Mahanani)
Wanita kelahiran Jogjakarta yang memutuskan untuk mencari pekerjaan lain di toko mebel lantaran tidak kuat menghadapi debu di toko busana tempatnya pernah bekerja. Ning diceritakan beragama katolik. Menikah secara katolik dan hidup dalam kesederhanaan bersama suaminya, Jarot. Pekerjaannya sebagai pegawai toko busana mengakibatkan gangguan pernafasan yang cukup serius sehingga asmanya kambuh. Hal inilah yang menjadi alasan pengunduran dirinya sekalipun hubungan Ning dengan sang pemilik toko tidak bermasalah. Justru rencana Ning untuk mencari rezeki di tempat lain malah didukungnya.

Mur (Muhammad Abe Baasyin)
Pegawai merangkap kurir toko mebel tempat Ning baru bekerja. Ia sempat melatih Ning kiat-kiat jitu membujuk calon pembeli. Dalam perjalanan mengantar sofa, Mur mulai banyak berbicara mengenai dirinya kepada Ning. Tentang pekerjaannya di toko mebel milik Koh Jimmy selama 10 tahun selepas lulus dari STM Penerbangan; tentang pekerjaan sampingannya dengan menjadi supir di rental mobil-mobil mewah untuk pengantin baru; hingga tentang penyakit cacar air yang pernah dideritanya semasa kecil. Status Mur tidak diceritakan lebih lanjut. Apakah ia masih melajang, sudah beristri, atau malah menduda, penonton bebas menyimpulkan sendiri.

Jarot (Joned Suryatmoko)
Suami Ning dengan ekspresi wajah datar dan irit berbicara. Tidak ada sepatahpun kalimat percakapan yang utuh antar Jarot dengan Ning sepanjang film. Kalaupun ada, Ning lah yang memulai percakapan, lantas tidak dihiraukan begitu saja oleh Jarot. Belakangan baru diketahui Jarot berdagang bensin eceran di pinggir jalan, sementara di awal film ia terlihat mengenakan kaos seragam toko material. Lebih lanjut, pembuat film seolah menggambarkan Jarot sebagai sosok acuh tak acuh terhadap istri. Kontribusi satu-satunya untuk Ning hanyalah kegiatan antar jemput kerja (plus ajakan bercinta).


Vakansi Paralel

Dalam artian yang paling sederhana, vakansi adalah liburan atau rekreasi. Setelah film rampung dan kita kembali menengok judulnya, barulah kita sadar akan kejanggalan sekaligus teka-teki yang paling utama: apanya yang liburan?

Setelah Ning sukses membujuk calon pembeli, ia segera mengirimkan sofa yang dipesan bersama Mur menuju sebuah desa terpencil lewat jalan pegunungan berkelok. Pertanyaannya: mengapa si calon pembeli harus jauh-jauh ke luar kota hanya untuk sekadar membeli sofa? Sekalipun tidak ada toko mebel di sekitar tempat tinggal mereka, agaknya terlalu ambisius pergi begitu jauh demi sebuah sofa. Kemungkinan lain adalah toko mebel Koh Jimmy begitu tersohor, sehingga banyak mendatangkan pelanggan dari berbagai kota, tak terkecuali dari luar pulau Jawa. Jika benar demikian, penggambaran toko mebel Koh Jimmy amat bertolak belakang. Pegawainya tidak banyak, bahkan inventaris berupa moda transportasi hanya satu unit.

Di tengah jalan, Ning sempat menanyakan waktu tempuh perjalanan. “Kalau jalanannya lancar, kira-kira dua jam sampai,” timpal Mur dalam bahasa Jawa. Sekuens ini seketika mengafirmasi bahwa mereka pasti akan sampai dalam waktu dua jam melalui dua premis: pertama, kondisi jalan terlihat lancar dengan volume kendaraan yang tidak terlalu banyak; kedua, Mur tidak nampak seperti supir buta arah yang mengandalkan peta, artinya ia tahu persis ke mana dan jalan apa saja yang harus ditempuh. Bahkan dia tahu persis letak warung kecil di tengah areal berpasir yang memesan seperangkat kursi plastik.

Sekiranya mereka ngaret, penyebabnya tentu berasal dari kendala teknis seperti kerusakan mobil, atau karena mereka berhenti terlampau lama untuk beristirahat. Pertanyaannya kemudian: mengapa ngaret sampai berhari-hari lamanya? Kendaraan yang mereka tumpangi berada dalam kondisi prima meskipun mereka sempat rehat beberapa kali selama perjalanan. Logika atas durasi keterlambatan lantas janggal akibat tidak adanya alasan yang cukup kuat hingga Ning dan Mur memutuskan untuk bermalam di penginapan. Dan semakin absurd ketika mereka tidur dalam ruangan yang sama. Penonton dibuat menduga-duga sembari menerka butir puzzle yang absen menjembataninya dengan logika.

Di paralel satunya, Jarot tengah kasak-kusuk menonton acara televisi (Take Me Out – Indosiar). Sambil diselingi senyum dan raut muka penuh harap, ada kesan tertentu bahwa Jarot ingin berpartisipasi dalam acara televisi yang ia tonton. Paling tidak, terlihat berharap agar menjadi sosok laki-laki yang sedang dilotere di acara bersangkutan. Sekuens ini cukup banyak mengambil shot close-up Jarot. Penonton tidak mungkin luput menandai kaos seragam toko material yang dikenakannya. Lantas sehabis menonton, ia beranjak pergi ke warung terdekat, membeli mie instan, lalu memakannya dengan santai, tidak ada keterburuan yang diperlihatkan. Bahkan setelahnya ia masih menyempatkan diri ke gerai handphone. Mengingat jam kerja mayoritas toko material hanya sampai menjelang petang, pertanyaannya adalah: mengapa Jarot belum juga berangkat kerja? Barangkali ia sedang libur, atau mengambil cuti, atau bahkan sama sekali tidak bekerja di toko material. Asumsi yang bermunculan memang lebih sederhana sekalipun sedikit lebih banyak.

Istrinya belum pulang hingga malam larut, sementara Jarot nampak tak peduli. Tidak terlihat usaha menghubungi Ning lewat telepon genggam. Alih-alih khawatir, Jarot malah tertidur pulas. Getar telepon genggam tidak cukup ampuh membangunkannya. Di belahan wilayah lain, adalah Ning yang berusaha menghubungi Jarot lewat jasa warung telekomunikasi. Terlihat kekecewaan sepintas setelah teleponnya tidak digubris. Berikutnya giliran Mur yang masuk ke bilik warung telekomunikasi. Ia langsung menghubungi stasiun radio dan meminta agar diputarkan lagu untuk Ning. Ada dua kemungkinan yang dapat dipetik: pertama, Mur tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara yang membuatnya merasa wajib untuk diberi kabar; kedua, seperti Jarot, Mur boleh jadi tidak peduli dengan keluarganya lantaran jarak mereka terpisah jauh. Kemungkinan ini sekaligus menjadi refleksi sublim yang mempertanyakan keterkaitan jarak dengan keintiman relasi antar individu.

Tak lama, pertanyaan soal profesi Jarot terjawab. Ternyata ia adalah pedagang bensin eceran di pinggir jalan. Kaos seragam toko material yang dikenakannya sejak awal tidak lagi penting. Maka selanjutnya, segala dugaan yang berkenaan dengan kaos itu resmi dicoret dari daftar teka-teki kita. Namun bersamaan dengannya, timbul dua kejutan baru: pertama, Jarot menyewa jasa psk; kedua, Ning dan Mur tidur seranjang. Pada titik ini pembuat film dengan sengaja meruntuhkan fondasi terhadap azas loyalitas, atau dengan kata lain kredo komitmen berumah tangga. Bahwa absennya siklus komunikasi dua arah antar suami istri yang terpisah jauh dalam kurun waktu tertentu akan menjerumuskan keduanya untuk selingkuh. Sikapnya jelas: keberjarakan akan membuahkan pengkhianatan.


Kisi-kisi Janggal

Menilik narasi Vakansi, rentetan kejanggalan dalam film ini untungnya ditampilkan secara runut. Peralihan sekuens antara vakansi ala Jarot dengan vakansi ala Ning dan Mur terjaga amat rapih. Kita dapat melihat perbandingan visual yang nyata dari adegan ke adegan. Didukung oleh plot yang berjalan linear –meskipun ada satu dua adegan kilas balik, namun penempatannya tidak mengganggu. Alih-alih dianggap sebagai gangguan, boleh jadi sisipan adegan kilas balik dimaksudkan sebagai kisi-kisi kejanggalan yang tersebar dalam Vakansi. Maka dari itu, kisi-kisi yang saya maksud ialah kisi-kisi dalam wujud visual. Meski perlu disertai dengan metode pembedahan yang aplikatif. Dan tanpa bermaksud untuk mensimplifikasi, saya akan menggunakan metode komparasi paling harfiah. Yaitu mencoba mengalihkan bahasa visual menjadi bahasa verbal.



#1 Kucing yang Meregang Nyawa dan Ketakutan di Kamar Hotel

X :

Adegan kucing meregang nyawa di tengah jalan setelah tertabrak motor yang dikendarai oleh Jarot dan Ning.


Y :

Adegan Mur ketakutan di kamar hotel, Kemudian Ning mencoba membuatnya tenang sambil memberikan segelas teh.


Z :

Dua adegan di atas menghadirkan rupa emosi yang mirip. Yaitu kemunculan rasa takut seusai melakukan sebuah tindakan yang dirasa keliru. Sekiranya boleh mengandaikan suatu tindak pembunuhan, namun begitu, apa/siapakah yang dibunuh selain kucing? Apabila Jarot membunuh seekor kucing, apa yang dibunuh oleh Mur (dan Ning)? Konyol rasanya kalau saya menuduh Mur dan Ning membunuh janin di dalam perut Ning. Baru semalam mereka tidur seranjang, mustahil untuk mengetahui status kehamilan Ning dan melakukan aborsi selesat kilat. Sebaliknya, bagaimana bila seandainya Mur dan Ning tidak membunuh? Alih-alih membunuh, ketakutan yang mereka rasakan barangkali disebabkan oleh adanya kemungkinan akan kelahiran. Singkat kata, ketakutan Mur justru timbul karena ia bukannya baru membunuh seseorang, melainkan karena ia baru saja menanamkan kemungkinan akan kelahiran seseorang, persisnya di dalam rahim Ning. Meskipun dugaan yang kedua ini sama mustahilnya.


Di sisi lain, ada semacam kepercayaan –khususnya dalam kultur masyarakat Jawa- yang menganjurkan seseorang untuk segera mengubur kucing yang tidak sengaja "dibunuhnya". Kepercayaan seperti ini tak pelak menghadirkan gagasan-gagasan yang mengacu pada kemungkinan Ning melakukan aborsi. Menariknya, Jarot dan Ning tidak mengubur kucing naas itu. Mereka menelantarkannya bersimbah darah begitu saja di tengah jalan.




#2 Yang-Dilotere dan Yang-Melobi

X :

Adegan Ning tengah berlatih meyakinkan calon pelanggan.



Y :

Adegan Jarot menonton acara Take Me Out di televisi.



Z :

Dua adegan ini hadir berurutan. Ning bukan orang yang pandai membujuk calon pelanggan, namun tidak berarti tanpa bakat. Oleh karena itu Mur melatihnya sembari mencontohkan kalimat-kalimat persuasif yang niscaya ampuh membuai calon pelanggan. Tak lama, terbukti Ning berhasil menjual satu perabot sofa merah. Sementara itu, Jarot senyam-senyum sendiri menonton sosok laki-laki yang juga sedang membujuk barisan wanita muda untuk dikencani dalam acara televisi. Seumpama undi lotere, wanita-wanita yang tertarik nantinya akan menekan tombol sebagai tanda terima ajakan kencan si laki-laki.  Menariknya, andai dua adegan ini disatukan, citra yang kemudian kita tangkap ialah Jarot sedang menonton cara-cara Ning melobi calon pelanggan. Antara Ning yang-melobi dan laki-laki yang-dilotere, pola keduanya nyaris sama persis. Mungkinkah diam-diam Jarot iri dengan kemampuan persuasi Ning? Siapa tahu.




#3 Asma yang Kumat dan Debu yang Melekat

X :

Adegan Ning memutuskan untuk berhenti bekerja di toko busana lantaran tidak kuat debu, sampai-sampai penyakit asmanya kumat.



Y :

Adegan Jarot mengepruk-ngepruk kasur yang penuh debu dengan pukulan rotan.



Z :

Ini komparasi adegan yang paling membingungkan sekaligus mencurigakan. Maka mohon maaf sebesar-besarnya apabila argumen yang terbangun terkesan pretensius. Konstruksi argumen saya kira-kira seperti berikut:

        

Ning diceritakan pindah dari toko busana lantaran tidak kuat menghadapi debu. Setelah ditanya Mur perihal alasannya berhenti, Ning menjawab bahwa debu-debu di sana membikin asmanya kambuh. Karena itulah ia memutuskan untuk pindah ke toko mebel. Faktanya jelas, Ning mengidap asma. Kemudian penonton dipertemukan dengan adegan Jarot mengepruk-ngepruk debu di kasur yang biasa ditiduri Jarot bersama Ning. Debu yang dikepruk terlihat cukup banyak. Ini tentu menimbulkan kerutan dari para penonton. Dari sinilah argumen yang mempertanyakan fakta atas penyakit asma Ning dimulai.



Kali pertama saya menonton Vakansi, saya dengan enteng menganggap Ning berbohong soal penyakitnya. Boleh jadi alasan “asma kambuh” sengaja dibuat karena memang ia ingin berhenti bekerja. Sesederhana itu. Namun ketika menonton untuk kedua kalinya, argumen sederhana barusan berkembang, menjurus pada debu sebagai metafora kelanggengan rumah tangga Ning dengan Jarot, yang kemudian terakumulasi sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang cukup kuat bagi Ning untuk “berhenti bekerja”. Atau dalam bahasa lain, berpisah dengan Jarot. Tentu sembari mempersonifikasikan toko busana dengan Jarot dan toko mebel pada Mur.



Ning tidak lagi nyaman dengan suaminya, kemudian memilih “bervakansi” bersama pria lain. Pertanyaan berikut: apa ekspektasinya? Mencari suasana baru? Sekedar jenuh? Dan setersnya dan seterusnya. Pun begitu, pertanyaan-pertanyaan yang didasari argumen pretensius sejatinya berujung pada jawaban yang pretensius pula. Maka sekali lagi, paparan di atas tak kurang (dan tak lebih) hanyalah interpretasi personal semata.




#4 Gerai Handphone dan Pasar Ternak

X :

Jarot tengah melihat-lihat handphone di sepanjang gerai pusat perbelanjaan.



Y :

Mur mencari-cari Ning di tengah hiruk-pikuk pasar ternak.



Z :

Sekiranya masih ada niat dalam diri Jarot untuk mencoba menghubungi Ning, maka hal itu terjelaskan dalam adegan di mana ia sedang melihat-lihat handphone. Handphone sebagai perangkat komunikasi menjadi metafor subtil akan keinginan Jarot untuk menghubungi istrinya yang sedang “pergi”. Atau dalam dugaan lain, Jarot ingin kembali memulai interaksi yang “hilang” dengan Ning.



Lantas bagaimana jika dikomparasi dengan adegan Mur mencari-cari Ning di tengah kumpulan hewan ternak? Argumen saya masih sepretensius sebelumnya: di mata Mur, Ning tidak lebih dari kumpulan “hewan ternak”. Boleh jadi demikianlah tabiat asli Mur sebagai pria yang kerap dicirikan smooth talker sepanjang film. Bagi Mur, identitas Ning menjadi tidak relevan sebab Ning tidak berarti “Ning”. Ning hanyalah satu variabel dari sekian banyak wanita yang secara kebetulan mendapinginya dalam tugas mengantar mebel. Ning hanyalah “ternak yang lain”. Dengan ataupun tanpa tanda kutip.


Penyakit Lain(?)

Ada satu adegan yang sepintas nampak tidak ada hubungannya dengan film, tidak pula dapat dikomparasi dengan adegan-adegan lain. Yaitu adegan Mur dan Ning bertukar cerita soal penyakit cacar air saat rehat di tengah perjalanan. Dalam adegan yang berlangsung kurang dari lima menit itu, Mur mengatakan ia pernah terkena cacar air ketika kecil, sedangkan Ning belum pernah. Lalu keduanya sama-sama sependapat bahwa penyakit cacar air hanya dapat diderita sekali seumur hidup. Selesai. Pembahasan mengenai cacar tidak lagi ditemukan sampai film habis diputar.

Lagi-lagi, baru setelah menonton Vakansi untuk kedua kalinya, saya menangkap hal baru dalam konteks percakapan mereka seputar penyakit cacar. Kuncinya ada pada kalimat “penyakit cacar air hanya dapat diderita sekali seumur hidup”. Kalimat ini sejatinya berasosiasi dengan janji perkawinan (khususnya perkawinan secara katolik), di mana pernikahan hanya berlangsung sekali seumur hidup. Atau jika boleh saya mengutip salah satu frasa liturgi sakramen perkawinan umat katolik, “apa yang dipersatukan tuhan, tidak dapat diceraikan manusia”. Dan sebagaimana halnya dengan penyakit cacar, perkawinan hanya dapat “diderita” sekali seumur hidup.


Adegan lain yang juga terkesan berdiri sendiri, sepintas sepele, namun mengandung muatan satir yang cukup jelas adalah adegan di mana Mur memperingatkan Ning untuk muntah di luar mobil. “Koh Jimmy ndak suka mobilnya kotor,” pungkasnya. Adegan ini seumpama pertanda atas wilayah teritorial, bahwa ada semacam konstelasi-tak-tertulis yang tidak boleh dilanggar pihak lain, semacam zona eksklusif individual. Namun jika bahasanya sedikit dimodifikasi, “jangan muntah di sini” akan terdengar serupa “jangan cari gara-gara di sini”, dan “Koh Jimmy ndak suka mobilnya kotor” akan terdengar serupa “[subjek] ndak suka diganggu”. Hemat kata, kalimat ini senada dengan peringatan, atau teguran agar tidak mengganggu urusan orang lain, yang dalam konteks film ini, tentu saja pernikahan orang lain. Adegan ini menjadi lucu tatkala kalimat ini berasal dari Mur. Dan Mur sendirilah yang pada akhirnya mengganggu pernikahan Jarot dan Ning, meskipun Mur tidak sepenuhnya salah.


***


Sebagai film bergenre road movie, Vakansi memiliki keunikan tersendiri melalui gaya penuturannya yang statis, hampir-hampir monoton. Sesuai judulnya pula, kejanggalan-kejanggalan ditemukan hampir sepanjang film berlangsung. Taruhannya cukup besar. Di satu sisi, gaya penuturan yang demikian statis dengan tempo pergeseran plot lambat dikhawatirkan akan membuat penonton mudah bosan, sehingga besar kemungkinan fokus penonton terhadap film akan segera teralih. Sementara di sisi lain, penonton mau tidak mau harus tetap fokus dan jeli mencermati tiap-tiap adegan agar dapat menangkap kejanggalan-kejanggalan yang dimaksud. Atau jangan-jangan, memang perlu lebih dari sekali menonton Vakansi agar dapat menangkap dan mengartikulasikan filmnya?

Selain itu, dialog-dialog Vakansi penuh dengan logat bahasa Jawa. Dengan kalimat tuturan sehari-hari yang seolah terbangun tanpa skenario. Entah ini perasaan saya saja, tetapi beberapa subtitle bahasa Inggris terasa kurang pas untuk mentransliterasi keutuhan makna bahasa Jawa yang digunakan. Belum lagi pengaruhnya terhadap konteks geografis film Vakansi. Saya tidak begitu tahu bagaimana respon penonton yang kurang familiar dengan kultur maupun bahasa Jawa, apalagi dengan penonton mancanegara, mengingat film ini sudah terlebih dahulu malang melintang di sejumlah festival di berbagai negara sebelum diputar di Indonesia sendiri.

Akan tetapi, keunikan Vakansi justru terletak pada kejanggalan-kejanggalan yang ada. Film ini lebih terlihat sebagai teka-teki yang belum tersusun ketimbang sebagai cerita yang rampung. Lantas membuat kita bervakansi sembari menyusun kepingan-kepingan petunjuk setelah usai menontonnya.