perempuan di meja kerja



saya mengenalnya lewat gelas-gelas kopi dan tumpukan makalah penelitian, di antara diskusi abstrak pun rahasia remeh yang irrelevan, berselimut saputan mendung lereng-lereng gunung serta serakan puntung kretek.
perempuan impulsif yang menjinjing bilik kontemplasi sekalipun parasnya melengkungkan senyum. perempuan yang menulis gurindam di kebun dan menggubah lagu di halte bus. perempuan yang menampung segenap cerita, juga bercerita sambil mendistorsi batasan fiksi dan fakta, meracik realita idealnya melalui paduan bahasa.

perempuan ini, perempuan yang sudah lama saya kenal lewat gelas-gelas alkohol dan tumpukan kitab perjalanan. setelah menahun kalimat-kalimat yang tandas juga perjamuan yang lekas, baru saya mengerti, perempuan ini, menggenapi…

#pinggir

Diana,

hari ini, enam tahun yang lalu, saya meninggalkan anda. meninggalkan seorang yang ternyata ialah tiang pancang- fondasi dari kanvas utama yang mengarahkan haluan pesiar saya. dan enam tahun berikutnya mengundang fase kelabu. saya terombang ambing: antara berusaha untuk kembali dan mencari; atau mengganti dengan kanvas baru. kapal saya hampir karam. 
enam tahun membuat saya imun, 
enam tahun yang dipenuhi lamun, 
enam tahun digilir ombak. 
enam tahun yang lalu, saya meninggalkan anda. menyerahkan kemudi di tangan samudera.

enam tahun yang lalu.


hari ini, kali ini, saya akan meninggalkan anda sekali lagi. kelabu telah berganti dan pesiar saya sudah mesti berhenti, untuk seterusnya.
enam tahun dibutakan harta berdukat-dukat yang dilarut kemelut, baru sadar bahwa saya mabuk laut. dan pesiar ini bukan untuk saya. bukan juga untuk kita.
enam tahun saya gagal, dan sudah saatnya untuk pamit.

setelah ini, nakhoda di dalam saya akan pensiun.
cerita ini telah selesai. tanpa pernah sekalipun benar-benar dimulai.


selamat tinggal.

G30S/HIK


how will you say goodbye, how to say a proper farewell to a certain place with countless memories, how can you pronounce that word?

.Mas Joko dan beberapa pengunjung terakhirnya.
subuh ini saya melihat gerobak kayu angkringan Soember Oerip dirapihkan. piring, gelas, tungku, dan perkakas lainnya dibersihkan, disimpan. tugasnya melayani tamu sudah selesai di tempat ini. ia dipaksa mundur seiring lahannya digusur. dan apa-apa yang tersaji malam ini menjadi lebih hening: macchiato terakhir, kopi joss terakhir, sego kucing terakhir, sate usus terakhr,
...obrolan terakhir.


lalu terpal digulung, disusul tiang-tiang pancang yang diangkat, tidak sampai setengah jam, tempat ini rata dengan tanah. saya mencuri pandang wajah Mas Joko sang pemilik. matanya lebih hening dari sajian malam ini.

ini namanya proses pendewasaan. berarti angkringanku dituntut untuk bersikap dewasa. cerita di sini sudah selesai, tapi ada banyak cerita menunggu di tempat yang baru.

belum…
buat saya, setidaknya, belum ada cerita yang selesai di tempat ini. Paroeh Waktoe lahir di sini, tulisan-tulisan saya beranak cucu di sini, perputaran ide di antara kepulan asap kopi bersenggama di sini, perhentian -jika bukan dikatakan sebagai pelarian- saya juga seringkali berlabuh di sini.



tapi Kilun juga bilang,
ada dua kategori tempat nostalgik:
1. tempat yang masih bisa kita singgahi di kemudian hari. tidak ada bentuknya yang berubah, paling-paling hanya perbaikan kecil di beberapa tempat. di tempat-tempat seperti ini, memori lampau dapat dengan mudah ditemui. mereka tidak akan lama bersembunyi.
2. tempat yang tidak lagi dapat kita singgahi di kemudian hari. karena hancur, karena berganti fungsi, karena hilang tak berbekas sama sekali. digusur misalnya…


.gerobak dirapihkan, dibongkar, lalu diangkut pulang. tugasnya sudah selesai.

Kilun benar. memori tempat ini akan rata dengan tanah gusuran. berganti senada dengan tempat baru dengan fungsinya yang juga baru, yang berbeda, yang lain sama sekali.

dan memori kami tidak akan bersemayam di sini. mereka akan hilang sembari mencari lokasi perjamuan yang baru. dan kami akan saling menemukan, untuk melanjutkan cerita yang belum selesai.

maka dari itu, terima kasih banyak. sampai bertemu pada ritus di lapak baru. kita lanjutkan kisahnya di situ.


.tunggu kemunculan G30S/HIK :D.

dan bibirmu rasa kopi

suatu waktu, kamu menulis tentang kekalahan pada teka-teki rasa yang sukar untuk ditelantarkan. kamu mengaku kalah -seumpama ada yang dilombakan; dikompetisikan-

namun kompetisi macam apa yang acapkali gagal melahirkan seorang pemenang; yang membuat kekalahan selalu menjadi jalur alternatif yang justru dirasa nyaman?

jangan bilang maaf
kamu tidak salah
jangan bilang maaf
kamu tidak kalah, memang aturan mainnya tidak pernah mudah

maaf,
menahun aku lari dari rumah, mengais-ngemis ketukan pada satu pintu yang beku
tanpa tahu kalau kamu jalan pulangku yang lama bersembunyi di balik pembatas buku

please sit back while enjoying Sitback's new EP album


Selasa malam, 27 Agustus '13 lalu, agaknya menjadi sepenggal momentum bersejarah untuk sitback. pasalnya, band rock beranggotakan lima perjaka patah hati-tuna asmara (halahkontol) ini resmi merilis album expansion pack bertajuk dimensi ruang waktu. oleh karena itu mari kita ucapkan selamat terlebih dahulu sebelum saya lanjut nulis. *berdiri* akhirnyaa… selamat \m/
 
.sitback at living world.

first look

secara pribadi, saya merasa cukup mengenal personil-personil sitback (iya ini sksd aja sih). selain karena mereka adalah kamerad-kamerad mahasiswa yang kuliah di ruko yang sama, saya juga sempat beberapa kali nimbrung proses latihan mereka. first impression saya tentang sitback: njing mereka ngebut banget. gimana nggak? dalam waktu kurang dari setahun, mereka berhasil merampungkan enam materi. rampung dalam arti melewati tahap recording, tahap mixing mastering, hingga ke tahap produksi cd berskala masif. iya. sengebut itu. padahal, perlu diingat bahwa status mereka masih mahasiswa aktif -yang notabene tidak luput dari tugas dan beban perkuliahan. maka perlu mendapat applause tambahan manakala kegiatan bermusik mereka sama sekali tidak mengganggu kuliah. bahkan vokalisnya calon cum laude. salut luar biasa.

dimulai dari bapak Antonio Sompotan di belakang mic (bukan. posisinya bukan juru setrum. bukan). saya mengenal antonio yang juga akrab disapa biman ini sedari tahun 2004 di bangku sma homogen brawijaya (ah… masa lalu…). di tahun-tahun itu, seingat saya nggak pernah sekalipun biman kelihatan aktif dalam sebuah grup musik. ternyata di balik tattoo kembar-bulu-logo-noah-nya, biman menyimpan karakter vokal serak serak becek yang cukup khas. ditambah aksi panggung yang seringkali mencengangkan -penuh totalitas dalam menghayati luka batin yang teramat akut. jika deskripsi saya barusan belum cukup jelas, silakan kalian tonton langsung.

lalu duo Fabian Christian dan Louis Maramis di gitar elektrik. keduanya dapat dianalogikan sebagai kopi dan susu, atau soda dan susu, atau teh dan susu, bebas (yang penting susu). sentuhan fabian terasa lebih nge-blues dengan selipan-selipan pentatonik, sedangkan louis terdengar lebih megah dengan pilihan chord yang lebar. menurut kesotoyan saya, kombinasi harmonik dari tone color masing-masing cukup sukses memperkaya komposisi, sehingga menciptakan sebuah formula magis tersendiri yang acapkali membuat bulu kuduk berdiri setiap kali mendengarkan petikan gitar mereka.

kemudian ksatria tiongkok Andronikus Glen di bass elektrik. bapak ini sesungguhnya multitalented. drum jago, bass jago, trumpet pun disikat (harusnya ditiup kan? aneh…). glen di mata personil-personil sitback yang lain adalah mood booster. sempet ada yang curhat: glen adalah mastermind di balik proses aransemen materi-materi sitback. he is the genuine egghead for composing purposes. and he proved it. permainan bassnya terdengar hidup (bukan bassnya yang hidup. bukan), pilihan nada arpegionya kaya. sehingga karakter bass pada lagu-lagu sitback bukanlah sebatas suplemen. karena glen menjadikan bassnya bernyanyi, bahkan menghentak-hentak nakal.

terakhir, Rahadian Pandega yang bersembunyi di belakang drum. pria berdagu choco chip yang-sepintas-keliatan-pemalu ini tak ubahnya diesel. semakin lama semakin sakit permainannya (kadang sampe thypus). ritmiknya kaya, singkop-singkopnya penuh kejutan, dega menyuguhkan porsi permainan yang proporsional: tidak berisik, namun juga tidak datar. ditambah pola permainan yang variatif, dega berhasil menambah kemegahan dalam warna materi-materi sitback.



.ep: dimensi ruang waktu.

EP

dimensi ruang waktu menyuarakan syair-syair realistis. menggunakan bahasa indonesia dan inggris yang cukup umum dan sederhana, tidak terlalu implisit, jauh dari permainan diksi apalagi teka-teki berbumbu metafora. meski begitu, harus saya katakan bahwa saya sedikit kecewa. di tengah kepungan lirik-lirik melankolik bertema cinta dan kehidupan yang nggak ada matinya di pasar, bahasa sitback masih terjebak dalam klise-klise romantisme. belum terlihat terobosan-terobosan baru dalam penggunaan bahasa yang mendobrak keluar dari siklus sedih sedihan galau.

sayang sebenarnya, dari segi musikalitas sudah begitu apik. hanya saja liriknya masih terkesan menye-menye (sorry to say this, lads). sekali lagi, bukannya mempersoalkan tema yang mereka ambil, saya hanya menyayangkan perbendaharaan lirik yang mereka gunakan.

bahwasanya tema cinta dan kehidupan begitu luas. banyak celah untuk meramu susunan syair agar terdengar lebih mahal, lebih implisit, dengan begitu, konteks musik mereka dapat lebih fleksibel. mungkin lebih satir, mungkin lebih provokatif, mungkin menadakan propaganda terselubung, macam-macam. namun saya percaya bahwa mereka memiliki potensi untuk menghadirkan kata-kata yang lebih maut dalam materi-materi berikutnya. kasarnya: galak dikit laah, jangan lenjeh… gitu.


contains:





track 1: Titik Kehidupan
pilihan tepat sebagai entrance ep dimensi ruang waktu. mengapa? oke mungkin ini terdengar menyinggung buat sebagian orang, tapi nggak ada maksud ke situ sama sekali. saya menganggap track ini tepat sebagai opening karena mengingatkan saya akan soundtrack soundtrack film tokusatsu jepang. you know… kamen rider, masked rider, dan sejawatnya. persisnya ketika tokoh pahlawan berpose setelah mengalahkan monster-monster jahat. mind you, that is not a bad thing. saya penggemar kotaro minami sedari kecil. bagi saya, efek nostalgia yang membawa saya kembali jauh kepada ingatan lampau justru adalah hal yang bagus untuk metabolisme di usia belia (pret). cocok pula dengan liriknya yang seolah mengajak pendengar untuk bangkit dan berjuang. lantas berpose sambil membelakangi efek ledakan berapi. maka dari itu, track ini keren. 

track 2: Scream in My Silence
syahdu. meski bukan yang tersyahdu di ep ini. mungkin ini satu-satunya track yang sedikit saja membahasakan metafor pada judul. saya suka pilihan nada biman ketika reff, ditambah harmonisasi backing vocal yang memperlebar ambience, unisound yang manis sebagai interlude, ditutup dengan ropple drum yang cantik. lagi, track ini syahdu. keren. 

track 3: Dimensi Ruang Waktu
track yang diangkat menjadi judul ep ini. masih dengan tema perjuangan. ya. perjuangan untuk move on (ehsianjing lo kira move on gampang?!) (iya ini curhat). dan louis unjuk gigi di sini! tone color vokal yang jauh berbeda dari sang vokalis, ditambah range vokalnya yang terbilang tinggi buat ukuran cowok, membuat saya lebih takjub sama vokal louis ketimbang biman. sori, man. tapi louis lebih khatam vokal di lagu ini. but then again, overall track ini keren.


.antonio sompotan at ruang musik.
track 4: Tears
the mellowest track in this ep. kalau tadi saya agak ngritik lirik yang lenjeh, mungkin track ini yang membuat saya mikir begitu. meski begitu, saya paling suka pemilihan nada vokal di track ini. lagipula dibandingkan dengan beberapa track lainnya, menurut saya biman paling total mengeksplorasi nada di sini. aransemen secara keseluruhan saya acungi jempol. harmonisasi vocal dan backing vocal terasa lebih matang. setelah menit ketiga, ambience klimaksnya lebar, megah. jika saja liriknya tidak begitu (sori lagi) lenjeh, track ini sangat menggoda untuk diacak-acak lebih lanjut. you know exactly what i mean… 

track 5: Life Won't Wait
this! is! the! syahduest! track! meski banyak yang bilang kalau track ini bau baunya alter bridge banget, saya enggan ambil pusing. saya sudah jatuh cinta dengan sitback sejak pertama kali mendengar lagu ini dibawakan di salah satu gig kampus. lebar, megah, konten lirik yang paling macho di antara lirik lainnya, berpotensi besar membawa mood crowd untuk sing along, this song has everything. almost perfect (akan perfect seandainya nama band mereka andr…… ah sudahlah). plus point karena aksi panggung biman selalu paling jing… tot… ler… ketika lagu ini mereka bawakan secara live. kesimpulannya, track ini nggak keren. track ini jahat! 

track 6: Fin
last entry. also a good choice to end this ep. menurut kuping saya, inilah track sitback yang musiknya paling keras. lagi-lagi harus saya sayangkan karena liriknya masih berputar di gejala gagal move on (baca: ngarep), ditambah interlude yang disisipi narasi bernuansa nelangsa oleh sang vokalis. memang sih lagu ini menceritakan kisah yang begitu depresif. namun depresi -seakut apapun itu- tidak semestinya menjerumuskan seseorang sehingga terdengar seperti total loser. bukan begitu? kuat dikit lah… (padahal ini nulisnya sambir ngucek ngucek mata) 


there you go, lads. sitback's new ep: dimensi ruang waktu. moga moga review gue ga menyinggung kalian (kalau tersinggung hamboknya samperin aja. ajak bakalahi)

selamat sekali lagi untuk kamerad-kamerad sitback atas launching ep nya. sukses terus, berkarya terus, observasi terus, eksplor terus kemampuan kalian. someday you'll be big. because time won't stop, and life won't wait. cheers \m/






twitter: @sitback_id
facebook: sitback music
booking: +62 81381074548/+62 85711958139

cair

kita menyebutnya mimpi karena ia bukan sesuatu yang nyata.

lalu mengapa ia dianggap berhasil? 
mengapa kita mengatakan "akhirnya mimpiku berhasil menjadi kenyataan"?

nak,
mimpi yang berujung nyata adalah mimpi yang gagal.


tapi bu, 
ranselku sudah terlanjur meledak