bahan bakar mbahmu


harga bahan bakar minyak bersubsidi naik, dan publik gempar. masing-masing kubu (pro dan kontra) muncul dengan argumen-argumen baru: sebagian logis, sebagian taktis, sisanya cenderung terkesan egois.

sampai sejauh ini saya enggan berkomentar. saya bukan murni pro, bukan pula sepenuhnya kontra. ada sebagian dari dalam diri saya yang menyetujui kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, ada pula yang menolak. saya setuju bila dengan begitu kita bisa lebih tertib. lebih menghargai bahan bakar (tentunya dari segi penggunaan yang efektif pun efisien). saya setuju bila kebijakan tersebut mampu mereduksi volume jumlah kendaraan pribadi. saya setuju bila kebijakan tersebut mampu mengikis jumlah balapan liar. saya setuju akan banyak hal. sebaliknya saya tidak setuju bila dana yang dianggarkan untuk kepentingan sosial terkonsentrasi pada satu titik saja (bahan bakar). masih ada banyak sektor dan divisi yang butuh perhatian dan butuh modal untuk terus dikembangkan secara simultan: edukasi, pemeliharaan lingkungan, riset ilmu pengetahuan dan teknologi, sebut saja sisanya.

dan kedua kubu sama berartinya bagi saya.

lalu mengapa sejauh ini saya enggan berkomentar? singkatnya: saya masih menunggu. dari sekian varian informasi yang memadati kolom-kolom berita nasional, saya masih menunggu satu jenis berita. berita dari industri otomotif.

silahkan dikoreksi opini saya berikut. saya sadar bahwa saya buta perihal kondisi serta status pengadaan migas:
jauh jauh hari yang lalu saya memperhatikan bahwa sudah ada wacana mengenai konversi bahan bakar migas untuk diaplikasikan kepada moda transportasi (baik massal maupun individual). kita semua tahu bahwa cadangan minyak alam semakin menipis. kilang-kilang mengering, negara-negara importir semakin berkurang, sementara permintaan dan penggunaan akan minyak semakin besar, maka dari itu suplai minyak dipastikan tidak berimbang. kita juga tahu dasar hukum ekonomi permintaan dan penawaran: ketika permintaan meningkat, sementara stok barang tetap, harga yang ditawarkan otomatis ikut meningkat. dengan memahami teori ini dan menyadari bahwa minyak merupakan salah satu dari sekian banyak unrenewable resources, barangkali tidak ada gunanya lagi kita memperdebatkan harga bahan bakar minyak yang terus menerus meningkat.

kembali ke soal konversi, di sisi lain, cadangan gas alam masih cenderung lebih besar ketimbang minyak. angka eksploitasi terhadap unsur kimia ini masih relatif lebih kecil daripada minyak. saya sadar solusi ini tidak jauh berbeda dengan peribahasa "gali lubang tutup lubang", tetapi barangkali, setidaknya, kita mampu menunda masalah. kita diberi kesempatan, juga mendapat waktu tambahan. lantas, berkaitan dengan berita dari industri otomotif, saya menunggu moda transportasi berbahan bakar gas untuk diproduksi secara masif. setahu saya memang sudah ada (seperti beberapa unit bus transjakarta), namun itu belumlah cukup. kedepannya, industri otomotif mungkin akan lebih baik untuk mulai fokus memproduksi unit-unit kendaraan berbahan bakar gas. dengan begitu, kontroversi bahan bakar minyak bisa reda untuk sementara.

sekali lagi, apa yang saya tulis bukanlah solusi. bahkan mungkin tidak ada satu kalimatpun yang bernuansa solutif dan cukup kompatibel untuk diimplementasikan terhadap iklim perekonomian domestik saat ini. saya hanya lelah melihat media, melihat laku pemerintah, melihat pengabaian aparatur negara, melihat reaksi rekan-rekan semua. though i humbly acknowledge that this is always will be an endless dispute despite any possible solutions available.

lalu, setelah gas mengalami nasib yang sama dengan minyak, bagaimana?
hmm… listrik?

24th



untuk gerombolan alarm tengah malam yang membawa sebotol dry lychee martini dan sekardus donat berapi
duapuluhempat ini hanya klise repetitif yang pasif. sesaat menggebu, setelahnya berlalu. terulang kembali dalam satuan kurun waktu yang telah disepakati bersama-sama oleh kalender masehi. namun mustahil saya sangkal, bahwa saat ini adalah salah satu momentum yang terbilang lumrah untuk mabuk, membingar, juga terjaga sampai pagi. lagi, melalui kesepakatan yang-tak-termaktubkan bernama tradisi.
duapuluhempat ini kembali menertawakan duapuluhtiga, duapuluhdua, dan duapuluhkebawah lainnya. yaitu saat-saat seorang manusia tengah beradaptasi: gemar bersosialisasi (dalam keadaan nirsosial sekalipun berkat teknologi), rajin mengeksplorasi dan mengasah naluri. karena saya selalu percaya bahwa manusia tidak pernah berubah. mereka, kita, hanya beradaptasi. menjadi seseorang yang matang, terlepas dari indikasi baik maupun buruk. dan saya merasa belum layak untuk masuk ke dalam salah satunya. proses ini belum selesai. mungkin tidak akan pernah, mungkin terlanjur gosong dan masuk tong sampah. bagaimana nanti dengan duapuluhlima? entah.
duapuluhempat dalam jam menandakan pergantian hari. jika dikaitkan dengan metafor ini, semoga duapuluhempat saya juga menstimuli proses adaptasi saya tadi menjadi lebih berarti. tidak perlu lebih baik, tidak juga lebih buruk. selama saya masih memiliki arti, saya percaya hidup ini layak dihidupi.

#pinggir51


genap enam tahun saya masih mengetuk pintu.

kadang saya bersyukur pintu itu anda biarkan tertutup, sehingga saya terbiasa.
karena toh seandainya anda buka, barangkali saya tidak sanggup melangkah masuk.

terima kasih untuk jarak. menemuimu, entah sengaja atau tidak, selalu menyisakan efek samping yang membuat otak ini tidak lagi berfungsi, dan hati yang retak.
terima kasih untuk sepi. sepatah kata denganmu, entah verbal pun nonverbal, selalu melampaui mimpi yang tidak seharusnya diimpikan lagi.
terima kasih untuk ketiadaan. proyeksimu, entah figmen imajiner maupun visualisasi temporer, selalu mempertanyakan kembali hal ihwal yang sesungguhnya telah menemui jawaban.

jika anda mendengar suara ketukan, ketahuilah bahwa saya masih mengetuk pintu.
jangan dibuka, saya ada di baliknya.
membayang dan melamun, apa yang saya cari di dalam sana.

neuro checkmate

"kamu tahu mengapa catur cuma hitam dan putih?"

"?"

"sehingga mereka memiliki batasan yang jelas, memiliki konsep diferensiasi yang kontras, untuk mengakui wilayah teritorial masing-masing."

"..."

"bayangkan catur yang penuh warna. bagaimana cara memainkannya...?"

"...? ya nggak bisa dimainin dong?"

"yoi. keindahan catur justru berada di keterbatasan unsur warna. dua sisi yang mutlak. dua warna yang berjarak. see?"

"... jadi?"

"jadi, kita nggak perlu mewarnai lebih jauh lagi. cukup hitam dan putih. kayak catur. fair?"

"fair."

skak

neuro checkmate

rebah di atas sofa, kami berpelukan. wajahnya di leherku, nafasku pada rambutnya.

this is wrong. you're actually the very last person i want to kiss.

are we… no. am i ruining anything?

mungkin, kehancuran sebuah relasi hanyalah sebatas konsepsi. ketika di suatu masa, sepasang bibir yang bertemu, terlanjur menyatu, justru meretakkan fondasi yang selama ini telah kami jaga. untuk selanjutnya muncul terlalu banyak kalimat tanya dalam kepala.

dan rebah di atas sofa, kami berpelukan, sepanjang sore.

entah dihantui sesal, atau sebatas anggapan perkara sepele, 



kami berpelukan sepanjang sore.