pada sebuah percakapan yang tidak pernah terjadi (3)

"aku mimpiin kamu semalem"

"ohya? terus?"

"ya begitu"

"gitu gimana? mimpinya gimana?"

"nggak gimana-gimana. biasa aja"

"haha... kok bisa?"

"nggak tau. mungkin kangen"

"k


lalu saya bangun.

hirup

mungkin ganjil, tapi saya merasa harus berterima kasih kepada polusi. polusi menjadi salah satu alasan saya untuk melarikan diri. pergi. jauh. dari bingar kota, dari padat suara, dari sentralisme buta, dari pengrajin fatamorgana, dari utopia demokrasi, dari kesenjangan dan segregasi. polusi menggeret saya, sukarela, menuju lokasi marjinal yang bebas dari rasa mual.

segala yang dibalut polusi begitu pengap. sekali dua kali mungkin tidak mengapa, tiga empat kali dan seterusnya akan terbiasa, namun untaian repetitif tak ubahnya gerombolan pencuri yang menyergap di pagi buta. sewaktu-waktu anda akan muak. tidak sanggup.

bila polusi tidak pernah ada, barangkali saya tidak perlu repot-repot pergi, tidak lagi berusaha melarikan diri -katakanlah- untuk sekedar menemui bintang di malam hari. saya butuh polusi justru untuk mencari dan menemukan ketiadaannya. bilamana polusi menjadi inspirasi untuk seseorang, saya pasti mengerti alasannya.

bila masih terdengar ganjil, anggap saja begini: saya merasa harus berterima kasih kepada polusi. karenanya, saya tahu seperti apa nikmat udara bersih. satu alasan yang -buat saya- sudah lebih cukup untuk berterima kasih.

lensa

sekali lagi saya menganggap foto sebagai satu penemuan manusia yang paling istimewa. foto merekam gestur, menangkap rupa, menghentikan waktu. sebuah afirmasi ketika akhirnya manusia bisa berdamai dengan laju waktu itu sendiri, karena mereka sama-sama beku dalam selembar potret. diam dalam satu masa yang tidak bergerak. tidak bergerak. dan persis di sanalah letak istimewanya. manusia dan waktu berbagi nyawa. bila bukan memangsa nyawa yang sama.

ketakbergerakan peristiwa lampau, buat saya, selalu berhasil menjadi stimulus yang terkonklusi entah dalam sebuah anomali, atau sebuah cemooh singkat terhadap proses yang jauh dari kata selesai. pada selembar potret yang merekam keluarga besar saya, saya bertanya-tanya "jika saya pernah sanggup menyempatkan diri untuk berbagi waktu dengan mereka? mengapa sekarang tidak lagi?". pada selembar potret yang merekam saya dengan pacar (sekarang sih udah bubar), saya menyeringai "oh ya, saya sempat menjadi pengemis cinta.". dan seterusnya, dan seterusnya… 

saya bukan fotografer handal. kamera dslr saya sudah terlalu lama menganggur dan berjamur. terlantar karena cita-cita menjadi seorang juru potret adalah keniscayaan seorang pandji putranda yang terlalu prematur. namun ketakjuban yang tidak pernah berhenti ketika saya menatap, mengenang, pun menafsir sebuah foto, selalu membuat saya yakin: bahwa kamera adalah trik sulap termashyur yang diprakarsai manusia. dalam selembar foto, manusia menginvestasikan sihirnya.