#pinggir48

alkisah sebuah bejana, berisikan sebongkah malam yang mungkin belum terlalu larut ketika saya kehabisan rokok dan memutuskan untuk pergi ke toserba di deretan ruko depan. belum terlalu larut, tapi cukup sepi untuk jalan kaki. hanya beberapa anjing tetangga yang masih terjaga, menyalak satu kali dua. juga sepoi yang melengkung pelan, membawa sehelai sampah plastik makanan ringan bertuliskan richeese nabati. lalu langkah saya terhenti. 

makanan ringan kesukaan anda di bangku sma. mengungkit satu alasan mengapa enam tahun lalu saya tidak memilih coklat untuk tanggal 14 februari. sekaligus satu-satunya makanan ringan yang mampu membawa pikiran saya pergi. jauh. menyisakan kernyit di dahi. lantas kembali sadar dengan sebatang rokok sudah diapit di sudut gigi.

sedikit tentangmu yang dulu membeku,
masih tetap saja mengganggu,
distraksi tiada menentu… 

dan di malam yang sama, cerita di dasar bejana menjelma tinta untuk melukis nebula. ada nama anda terukir di antaranya.


lama setelah malam itu, sang bejana menulis cerita baru. berisikan degup jantung seorang musisi amatiran yang gugup di suatu sore yang kuyup, ia mendapati dirinya terusik di balik alat musik. agak memalukan sesungguhnya. padahal demam panggung itu perkara biasa. lakukan seperti apa yang sudah dilatih dan ditempa dan semuanya akan baik-baik saja kata mereka. selanjutnya tidak menjadi mudah. alih-alih saya menelan ludah.

anda datang. menjadi satu alasan mengapa tangan saya malah semakin gemetar. mekanika getaran yang tidak asing lagi. selalu terjadi, sebagai efek samping kala tatapan kita bertemu pada satu titik frekuensi. nyata, bukan lagi dimensi mimpi.

dan sebelum lagu ini tersia,
tolong suruh aku berhenti,
menanti dirimu kembali

alkisah sebuah bejana, berisikan sebongkah cerita yang tidak tuntas. namun bukan cerita tentang seorang yang menyesal pun rasa yang tidak berbalas. melainkan tentang seorang yang kerap bertanya: kapan segala fragmen terkonstruksi dengan jelas...

...sehingga ia boleh berkata "ikhlas"?