on a lousy weekend

"if there's any particular element in a movie that can gives you the chill, the kind of delightful shiver, i presume that it mainly comes from the soundtrack.

here's the recap: 

i spent my last two-three days watching these Japanese animes which i previously known because of their amazing soundtracks. and believe me… they served me ears damn good time. or i might say, when it comes to good music, any other element consists in the movie itself is rather irrelevant -it still has good storyline and great character development nevertheless.


Cowboy Bebop 1998
Samurai champloo 2004
regrettably, i know some people may consider watching japanese animes is rather immature, or even foolish. especially when you reach certain kind of age -mine's 24th. but then again, this absolutely is a good piece to enjoy. and you're never too old to enjoy any cartoons, true? true… 

(come to think of it, why most cartoons have a good selection of soundtrack? particularly japanese animes. yeah. japanese people never dissapoint me with their musical taste.)

after all, here you go, several links to both animes which i mention above.
again: when it comes to good music, nobody has the right to ban you from enjoying it.

- cowboy bebop playlist on youtube
- samurai champloo playlist on youtube

secarik kertas luntur



it was soaked up while i was riding my bike through one rainy day, with the rest of what-my-wallet-contains inside and all was perfectly wet. however it surely is a time-capsule treasure is it not?

so then i began to recall that moment as a third person view. watching myself drowned deeply into books and several notes. waiting for a clumsy yet reckless woman who usually appears at her sexiest visage while sit and work behind the desk, randomly asking for random distractions whatsoever.

couple hours later and there you were. showing your biggest and most sincere apologetic smile even though we both knew that was unnecessary. frankly i was hoping your train get stuck longer so i can finish that article. but that's not favorable either… 

this is the first memorabilia (others said memorabilia but i prefer to add "i" in the middle somehow),
and counting---

ps: 
dear lady behind the desk,
you're welcome.

hitung mundur

15''

apa kabar?

ia tersenyum. singkat.

terima surat-suratku?

ia mengangguk.

sebagai gantinya, aku mengernyit

lantas?

tidak tahu cara membalasnya. aku terlalu bahagia, untuk pertama kalinya.

aku terkesiap. tidak siap.

ternyata dinding-dinding di sekitarku tidak hanya menyimpan serotonin. mereka menjelma seumpama barikade yang mendompleng utopia-utopia kolektif dari luar sana. menjelma voltaire, menjelma goebbels yang satirnya baru dapat kumengerti setelah berulang kali dibuai ilusi melalui derik-derik besi. mereka, dinding-dinding ini, ternyata konfigurator ulung. dan aku benar-benar beruntung.

aku bergeming. aku, atau dia yang kalimatnya terdengar sinting?

ah, singkat cerita, aku bebas.

emosiku meruncing. mataku memicing. pedas.

jangan salah paham. aku tidak akan kembali.



7''

jelas sudah bahwa dia yang resmi mulai sinting. ini salahku karena terlalu mengandalkan surat menyurat. seharusnya dari dulu kuhampiri dia langsung, seperti sekarang.

tapi coba untuk benar-benar paham: apa yang membedakan kita berdua selain dinding-dinding ini? aku manusia bebas. kamu? tidak.

aku mengernyit. lagi.
lalu?

kamu akan memperolehnya dengan cara lain. suatu waktu, akan tiba saatnya kebebasan datang padamu. mengulurkan tangannya yang mungkin berupa dinding, mungkin juga tidak. mungkin menyakitkan, mungkin menenangkan. sebab ia merangkum distingsi setipis komedi dan tragedi. sayangnya, tidak semua orang punya cukup nyali untuk tertawa. kebanyakan lebih memilih untuk berkompromi. memilih untuk mengerti ketimbang merasa.



3''

aku bergeming. khayalanku, atau benar senyumnya semakin tersungging?

sampai bertemu. ingatlah selalu bahwa kebebasan menunggu, mengintai, sambil menertawakan raut wajahmu yang ragu-ragu.

K R I I I I N G !!!

pintu besi di belakangku terbuka. memuntahkan tiga sipir yang menyeret rantai mata kaki. menggeretnya keluar ruangan…


…menuju bilik eksekusi mati.

overdosis parasetamol



jika merayapi garis waktu ke belakang -entah bagaimana-

sebab kita menghitung mundur, juga laju selesat waktu, sadar maupun tidak.
kita tergesa tak kuasa tergoda menghitung pacunya, desaknya, tuntutnya.

dan waktu menjadi montase linear yang mulur, dan serta merta kita nobatkan sebagai hakim tinggi maha jujur. dengan hak prerogatif manakala waktu seringkali menjadi tepat justru ketika seorang tidak tepat waktu. 

lalu, jika saya, anda, kita merayapi garis waktu ke belakang, sambil meratapi garis waktu ke belakang,
entah bagaimana cara berkompromi dengan waktu


entah bagaimana...

65

"how do you define vengeance?

i've heard some people define smile as the best revenge. while on the contrary, some other also say that revenge is a meal best served cold.

by considering those words as an undone verdict,
then it's never about the definition, nor the way to express it. but how does vengeance -that lies beyond your deepest feeling- have the significant potential towards one's action.

regardless of the possible outcomes, vengeance does motivate you to do something. it drives you unto a certain-yet-unkown destination. and before you know it, you set yourself on a so-called distinctive journey. again, with or without expectations.

so i guess it's okay to be a vengeful person.

gate


arrival gate has the magic to wholly took your sight. it asks for your patience. it says that you don't have to panic. stay calm, the person you've been waiting for is just about to appear before your very eyes. they're just around the corner. all you have to do is be more patient. and perhaps this is what we usually refer as the art of waiting.

until the magic begins.
one after another, people start passing through the gate. but the person you've been waiting for is none among them. clock ticks, footsteps passing nearby, yet they're not coming into view.


and you start to panic.

so that's a little story about a magic gate that do exist in every airport hall. a gate that utterly took your sight and asks for your patience. a gate that makes you wait from time to time, even though there's no one to be expected. a gate that allusively makes you believe,


that every person, is worth waiting for.
nevertheless.

v o y a g e


to be cremated is still my most preferable option. but lately i've been thinking another method.

have you ever thought to die in the outer space? to float along with perpetual quietness while running out of breath, swallowed by the astounding gaze of the universe, trapped inside your thick space-suit in which interconnected with a music player, as the earth is watching you drifting upside down further, serenely, slowly?

you might think "it sounds rough to die in such a harmful way like that".

in that case, the key to prevent such agony is by adding some anesthetic inside the oxygen-tank. ergo you'll feel nothing but a liitle drowsy or tired, and before you even realize it, you'll die in your most peaceful rest.

we all know that earth is getting crowded by the total number of human population. every hour every minute people die and babies born simultaneously, besides there's not much space left for building another cemetery. that's why i humbly ask you to consider this as an alternative way to die.

i shall ask once more

"would you like to die in the outer space?

international sanatarium and asylum centre

and what about that old man?

oh, he's one amongst our special cases. almost incurable and nothing we could do till this moment.

like a mad serial killer? manic butcher or something like that?

well… sort of.

sort of?

he never killed anyone. yet he keep mumbling how he heard voices that ordered him to kill his son.

so the son is still alive?

no. he never had any.

poor gramps. i think he doesn't have much time left.

seems so.

what's his name?

we have no idea. but to simplify it, he's been diagnosed with alzheimer, bipolar-disorder, rampant-behavior, anxiousness, hyperactive, alter-transcending-minded, and malicious-bearing.

gee… that's a lot.

and even more simple, just call him a-b-r-a-h-a-m.

funny.

why?

this facility is called isaac.

perempuan di meja kerja



saya mengenalnya lewat gelas-gelas kopi dan tumpukan makalah penelitian, di antara diskusi abstrak pun rahasia remeh yang irrelevan, berselimut saputan mendung lereng-lereng gunung serta serakan puntung kretek.
perempuan impulsif yang menjinjing bilik kontemplasi sekalipun parasnya melengkungkan senyum. perempuan yang menulis gurindam di kebun dan menggubah lagu di halte bus. perempuan yang menampung segenap cerita, juga bercerita sambil mendistorsi batasan fiksi dan fakta, meracik realita idealnya melalui paduan bahasa.

perempuan ini, perempuan yang sudah lama saya kenal lewat gelas-gelas alkohol dan tumpukan kitab perjalanan. setelah menahun kalimat-kalimat yang tandas juga perjamuan yang lekas, baru saya mengerti, perempuan ini, menggenapi…

#pinggir

Diana,

hari ini, enam tahun yang lalu, saya meninggalkan anda. meninggalkan seorang yang ternyata ialah tiang pancang- fondasi dari kanvas utama yang mengarahkan haluan pesiar saya. dan enam tahun berikutnya mengundang fase kelabu. saya terombang ambing: antara berusaha untuk kembali dan mencari; atau mengganti dengan kanvas baru. kapal saya hampir karam. 
enam tahun membuat saya imun, 
enam tahun yang dipenuhi lamun, 
enam tahun digilir ombak. 
enam tahun yang lalu, saya meninggalkan anda. menyerahkan kemudi di tangan samudera.

enam tahun yang lalu.


hari ini, kali ini, saya akan meninggalkan anda sekali lagi. kelabu telah berganti dan pesiar saya sudah mesti berhenti, untuk seterusnya.
enam tahun dibutakan harta berdukat-dukat yang dilarut kemelut, baru sadar bahwa saya mabuk laut. dan pesiar ini bukan untuk saya. bukan juga untuk kita.
enam tahun saya gagal, dan sudah saatnya untuk pamit.

setelah ini, nakhoda di dalam saya akan pensiun.
cerita ini telah selesai. tanpa pernah sekalipun benar-benar dimulai.


selamat tinggal.

G30S/HIK


how will you say goodbye, how to say a proper farewell to a certain place with countless memories, how can you pronounce that word?

.Mas Joko dan beberapa pengunjung terakhirnya.
subuh ini saya melihat gerobak kayu angkringan Soember Oerip dirapihkan. piring, gelas, tungku, dan perkakas lainnya dibersihkan, disimpan. tugasnya melayani tamu sudah selesai di tempat ini. ia dipaksa mundur seiring lahannya digusur. dan apa-apa yang tersaji malam ini menjadi lebih hening: macchiato terakhir, kopi joss terakhir, sego kucing terakhir, sate usus terakhr,
...obrolan terakhir.


lalu terpal digulung, disusul tiang-tiang pancang yang diangkat, tidak sampai setengah jam, tempat ini rata dengan tanah. saya mencuri pandang wajah Mas Joko sang pemilik. matanya lebih hening dari sajian malam ini.

ini namanya proses pendewasaan. berarti angkringanku dituntut untuk bersikap dewasa. cerita di sini sudah selesai, tapi ada banyak cerita menunggu di tempat yang baru.

belum…
buat saya, setidaknya, belum ada cerita yang selesai di tempat ini. Paroeh Waktoe lahir di sini, tulisan-tulisan saya beranak cucu di sini, perputaran ide di antara kepulan asap kopi bersenggama di sini, perhentian -jika bukan dikatakan sebagai pelarian- saya juga seringkali berlabuh di sini.



tapi Kilun juga bilang,
ada dua kategori tempat nostalgik:
1. tempat yang masih bisa kita singgahi di kemudian hari. tidak ada bentuknya yang berubah, paling-paling hanya perbaikan kecil di beberapa tempat. di tempat-tempat seperti ini, memori lampau dapat dengan mudah ditemui. mereka tidak akan lama bersembunyi.
2. tempat yang tidak lagi dapat kita singgahi di kemudian hari. karena hancur, karena berganti fungsi, karena hilang tak berbekas sama sekali. digusur misalnya…


.gerobak dirapihkan, dibongkar, lalu diangkut pulang. tugasnya sudah selesai.

Kilun benar. memori tempat ini akan rata dengan tanah gusuran. berganti senada dengan tempat baru dengan fungsinya yang juga baru, yang berbeda, yang lain sama sekali.

dan memori kami tidak akan bersemayam di sini. mereka akan hilang sembari mencari lokasi perjamuan yang baru. dan kami akan saling menemukan, untuk melanjutkan cerita yang belum selesai.

maka dari itu, terima kasih banyak. sampai bertemu pada ritus di lapak baru. kita lanjutkan kisahnya di situ.


.tunggu kemunculan G30S/HIK :D.

dan bibirmu rasa kopi

suatu waktu, kamu menulis tentang kekalahan pada teka-teki rasa yang sukar untuk ditelantarkan. kamu mengaku kalah -seumpama ada yang dilombakan; dikompetisikan-

namun kompetisi macam apa yang acapkali gagal melahirkan seorang pemenang; yang membuat kekalahan selalu menjadi jalur alternatif yang justru dirasa nyaman?

jangan bilang maaf
kamu tidak salah
jangan bilang maaf
kamu tidak kalah, memang aturan mainnya tidak pernah mudah

maaf,
menahun aku lari dari rumah, mengais-ngemis ketukan pada satu pintu yang beku
tanpa tahu kalau kamu jalan pulangku yang lama bersembunyi di balik pembatas buku

please sit back while enjoying Sitback's new EP album


Selasa malam, 27 Agustus '13 lalu, agaknya menjadi sepenggal momentum bersejarah untuk sitback. pasalnya, band rock beranggotakan lima perjaka patah hati-tuna asmara (halahkontol) ini resmi merilis album expansion pack bertajuk dimensi ruang waktu. oleh karena itu mari kita ucapkan selamat terlebih dahulu sebelum saya lanjut nulis. *berdiri* akhirnyaa… selamat \m/
 
.sitback at living world.

first look

secara pribadi, saya merasa cukup mengenal personil-personil sitback (iya ini sksd aja sih). selain karena mereka adalah kamerad-kamerad mahasiswa yang kuliah di ruko yang sama, saya juga sempat beberapa kali nimbrung proses latihan mereka. first impression saya tentang sitback: njing mereka ngebut banget. gimana nggak? dalam waktu kurang dari setahun, mereka berhasil merampungkan enam materi. rampung dalam arti melewati tahap recording, tahap mixing mastering, hingga ke tahap produksi cd berskala masif. iya. sengebut itu. padahal, perlu diingat bahwa status mereka masih mahasiswa aktif -yang notabene tidak luput dari tugas dan beban perkuliahan. maka perlu mendapat applause tambahan manakala kegiatan bermusik mereka sama sekali tidak mengganggu kuliah. bahkan vokalisnya calon cum laude. salut luar biasa.

dimulai dari bapak Antonio Sompotan di belakang mic (bukan. posisinya bukan juru setrum. bukan). saya mengenal antonio yang juga akrab disapa biman ini sedari tahun 2004 di bangku sma homogen brawijaya (ah… masa lalu…). di tahun-tahun itu, seingat saya nggak pernah sekalipun biman kelihatan aktif dalam sebuah grup musik. ternyata di balik tattoo kembar-bulu-logo-noah-nya, biman menyimpan karakter vokal serak serak becek yang cukup khas. ditambah aksi panggung yang seringkali mencengangkan -penuh totalitas dalam menghayati luka batin yang teramat akut. jika deskripsi saya barusan belum cukup jelas, silakan kalian tonton langsung.

lalu duo Fabian Christian dan Louis Maramis di gitar elektrik. keduanya dapat dianalogikan sebagai kopi dan susu, atau soda dan susu, atau teh dan susu, bebas (yang penting susu). sentuhan fabian terasa lebih nge-blues dengan selipan-selipan pentatonik, sedangkan louis terdengar lebih megah dengan pilihan chord yang lebar. menurut kesotoyan saya, kombinasi harmonik dari tone color masing-masing cukup sukses memperkaya komposisi, sehingga menciptakan sebuah formula magis tersendiri yang acapkali membuat bulu kuduk berdiri setiap kali mendengarkan petikan gitar mereka.

kemudian ksatria tiongkok Andronikus Glen di bass elektrik. bapak ini sesungguhnya multitalented. drum jago, bass jago, trumpet pun disikat (harusnya ditiup kan? aneh…). glen di mata personil-personil sitback yang lain adalah mood booster. sempet ada yang curhat: glen adalah mastermind di balik proses aransemen materi-materi sitback. he is the genuine egghead for composing purposes. and he proved it. permainan bassnya terdengar hidup (bukan bassnya yang hidup. bukan), pilihan nada arpegionya kaya. sehingga karakter bass pada lagu-lagu sitback bukanlah sebatas suplemen. karena glen menjadikan bassnya bernyanyi, bahkan menghentak-hentak nakal.

terakhir, Rahadian Pandega yang bersembunyi di belakang drum. pria berdagu choco chip yang-sepintas-keliatan-pemalu ini tak ubahnya diesel. semakin lama semakin sakit permainannya (kadang sampe thypus). ritmiknya kaya, singkop-singkopnya penuh kejutan, dega menyuguhkan porsi permainan yang proporsional: tidak berisik, namun juga tidak datar. ditambah pola permainan yang variatif, dega berhasil menambah kemegahan dalam warna materi-materi sitback.



.ep: dimensi ruang waktu.

EP

dimensi ruang waktu menyuarakan syair-syair realistis. menggunakan bahasa indonesia dan inggris yang cukup umum dan sederhana, tidak terlalu implisit, jauh dari permainan diksi apalagi teka-teki berbumbu metafora. meski begitu, harus saya katakan bahwa saya sedikit kecewa. di tengah kepungan lirik-lirik melankolik bertema cinta dan kehidupan yang nggak ada matinya di pasar, bahasa sitback masih terjebak dalam klise-klise romantisme. belum terlihat terobosan-terobosan baru dalam penggunaan bahasa yang mendobrak keluar dari siklus sedih sedihan galau.

sayang sebenarnya, dari segi musikalitas sudah begitu apik. hanya saja liriknya masih terkesan menye-menye (sorry to say this, lads). sekali lagi, bukannya mempersoalkan tema yang mereka ambil, saya hanya menyayangkan perbendaharaan lirik yang mereka gunakan.

bahwasanya tema cinta dan kehidupan begitu luas. banyak celah untuk meramu susunan syair agar terdengar lebih mahal, lebih implisit, dengan begitu, konteks musik mereka dapat lebih fleksibel. mungkin lebih satir, mungkin lebih provokatif, mungkin menadakan propaganda terselubung, macam-macam. namun saya percaya bahwa mereka memiliki potensi untuk menghadirkan kata-kata yang lebih maut dalam materi-materi berikutnya. kasarnya: galak dikit laah, jangan lenjeh… gitu.


contains:





track 1: Titik Kehidupan
pilihan tepat sebagai entrance ep dimensi ruang waktu. mengapa? oke mungkin ini terdengar menyinggung buat sebagian orang, tapi nggak ada maksud ke situ sama sekali. saya menganggap track ini tepat sebagai opening karena mengingatkan saya akan soundtrack soundtrack film tokusatsu jepang. you know… kamen rider, masked rider, dan sejawatnya. persisnya ketika tokoh pahlawan berpose setelah mengalahkan monster-monster jahat. mind you, that is not a bad thing. saya penggemar kotaro minami sedari kecil. bagi saya, efek nostalgia yang membawa saya kembali jauh kepada ingatan lampau justru adalah hal yang bagus untuk metabolisme di usia belia (pret). cocok pula dengan liriknya yang seolah mengajak pendengar untuk bangkit dan berjuang. lantas berpose sambil membelakangi efek ledakan berapi. maka dari itu, track ini keren. 

track 2: Scream in My Silence
syahdu. meski bukan yang tersyahdu di ep ini. mungkin ini satu-satunya track yang sedikit saja membahasakan metafor pada judul. saya suka pilihan nada biman ketika reff, ditambah harmonisasi backing vocal yang memperlebar ambience, unisound yang manis sebagai interlude, ditutup dengan ropple drum yang cantik. lagi, track ini syahdu. keren. 

track 3: Dimensi Ruang Waktu
track yang diangkat menjadi judul ep ini. masih dengan tema perjuangan. ya. perjuangan untuk move on (ehsianjing lo kira move on gampang?!) (iya ini curhat). dan louis unjuk gigi di sini! tone color vokal yang jauh berbeda dari sang vokalis, ditambah range vokalnya yang terbilang tinggi buat ukuran cowok, membuat saya lebih takjub sama vokal louis ketimbang biman. sori, man. tapi louis lebih khatam vokal di lagu ini. but then again, overall track ini keren.


.antonio sompotan at ruang musik.
track 4: Tears
the mellowest track in this ep. kalau tadi saya agak ngritik lirik yang lenjeh, mungkin track ini yang membuat saya mikir begitu. meski begitu, saya paling suka pemilihan nada vokal di track ini. lagipula dibandingkan dengan beberapa track lainnya, menurut saya biman paling total mengeksplorasi nada di sini. aransemen secara keseluruhan saya acungi jempol. harmonisasi vocal dan backing vocal terasa lebih matang. setelah menit ketiga, ambience klimaksnya lebar, megah. jika saja liriknya tidak begitu (sori lagi) lenjeh, track ini sangat menggoda untuk diacak-acak lebih lanjut. you know exactly what i mean… 

track 5: Life Won't Wait
this! is! the! syahduest! track! meski banyak yang bilang kalau track ini bau baunya alter bridge banget, saya enggan ambil pusing. saya sudah jatuh cinta dengan sitback sejak pertama kali mendengar lagu ini dibawakan di salah satu gig kampus. lebar, megah, konten lirik yang paling macho di antara lirik lainnya, berpotensi besar membawa mood crowd untuk sing along, this song has everything. almost perfect (akan perfect seandainya nama band mereka andr…… ah sudahlah). plus point karena aksi panggung biman selalu paling jing… tot… ler… ketika lagu ini mereka bawakan secara live. kesimpulannya, track ini nggak keren. track ini jahat! 

track 6: Fin
last entry. also a good choice to end this ep. menurut kuping saya, inilah track sitback yang musiknya paling keras. lagi-lagi harus saya sayangkan karena liriknya masih berputar di gejala gagal move on (baca: ngarep), ditambah interlude yang disisipi narasi bernuansa nelangsa oleh sang vokalis. memang sih lagu ini menceritakan kisah yang begitu depresif. namun depresi -seakut apapun itu- tidak semestinya menjerumuskan seseorang sehingga terdengar seperti total loser. bukan begitu? kuat dikit lah… (padahal ini nulisnya sambir ngucek ngucek mata) 


there you go, lads. sitback's new ep: dimensi ruang waktu. moga moga review gue ga menyinggung kalian (kalau tersinggung hamboknya samperin aja. ajak bakalahi)

selamat sekali lagi untuk kamerad-kamerad sitback atas launching ep nya. sukses terus, berkarya terus, observasi terus, eksplor terus kemampuan kalian. someday you'll be big. because time won't stop, and life won't wait. cheers \m/






twitter: @sitback_id
facebook: sitback music
booking: +62 81381074548/+62 85711958139

cair

kita menyebutnya mimpi karena ia bukan sesuatu yang nyata.

lalu mengapa ia dianggap berhasil? 
mengapa kita mengatakan "akhirnya mimpiku berhasil menjadi kenyataan"?

nak,
mimpi yang berujung nyata adalah mimpi yang gagal.


tapi bu, 
ranselku sudah terlanjur meledak

beku

teng… teng… teng… 

bunyi bel di halaman gereja. aku mempercepat langkah.

pyuk… sret… sret… sret… 

bunyi tanganku mencelup wadah air suci. aku menoreh lambang salib di dahi.

kyrie eleison… kyrie eleison… dona nobis pacem… 

bunyi paduan suara melantunkan gema sangkakala. aku berlutut, berdoa.

bong… bong… bong… 

bunyi gong di altar sesembahan mengawali ritus konsekrasi. aku menguap, ngantuk.

BLARRRR!!!

bunyi ranselku yang sengaja kutinggal di sakristi.

akhirnya aku berhasil masuk headline koran pagi.

si buyung

"waktu hujan turun, rintik perlahan
bintang pun menyepi, awan menebal

kutimang si buyung, belaian sayang
anakku seorang, tidurlah tidur…

ibu mendoa, ayah menjaga, agar kau kelak jujur melangkah

jangan engkau lupa tanah pusaka
tanah tumpah darah
indonesia

- belaian sayang


adalah lies sidik, biduan yang menyanyikan bait pengantar tidur karya bing slamet ini pada jauh 1958. dekade ketika sejarah -yang terdistorsi sekalipun- berhasil mencatat bahwa indonesia tengah terguncang; menjalani babak bersitegang.

tadi sore, tepat ketika euforia lebaran begitu pikuk bersama rentetan deru petasan, saya melamun…

tentang hujan yang gelap. segelap isak senapan yang menyalang dalam jarak dekat
tentang seorang ibu yang berdoa dalam gemetar, namun khusyuk melafal
tentang seorang ayah yang menjaga dalam kesiagaan total. gagang sabit di tangan kirinya ikut mengintai; waspada setengah gontai
tentang tanah pusaka; indonesia. yang sungguhpun memang haus oleh tumpahan darah rakyatnya

juga tentang seorang kanak-kanak yang tidak mengerti mengapa ibunya berdoa dan sang ayah menjaga. setidak mengerti jutaan manusia lain yang dalam waktu dekat akan binasa hanya karena dilabeli kontrarevolusioner di jidatnya; diteriaki komunis; dikategorikan anjing

dan ia tidak akan pernah mengerti. setidak mengerti jutaan generasi demi generasi berikut. garis-garis generasi yang terlanjur dibuahi kalut. sebab benih stigma dapat tumbuh subur sejak masih di dalam perut. lahir, dan besar bersama takut, tumbuh sebagai anasir pengecut.


barangkali itu sebabnya suara petasan tetangga sebelah membangunkan saya.
barangkali saya belum diijinkan tidur.

angst



apa yang lebih bising dari bingarnya kegelisahan di ceruk kepalamu?
pada sebuah kontemplasi yang-belum-utuh menjelang subuh?
dan matamu basah...
...entah tangis,

entah peluh.

ah, seandainya kita tahu bila kegelisahan ialah molekul penahan kantuk teramat ampuh.

beranda sendja




teramat banyak dari kita mencintai senja.
teramat banyak pula melupa bahwa keindahan tidak lantas perlu memiliki nama.
dan oleh karenanya, ia tidak sempurna.

host

.The Spirit Medium Soldier a.k.a. The Sorrow - MGS Snake Eater.
"this world is one of sadness
battle brings death
death brings sorrow
the living may not hear them
their voices may fall upon deaf ears
but make no mistake...
...the dead are not silent


death is tragic
but life is miserable.

diawali dengan "eh nulis cerita bareng yuk!" ribuan tahun silam

lantas mereka berkumpul: paguyuban pujangga, ahli bahasa, mistikus, penyunting, dramawan, tukang kayu, bahkan nelayan; ribuan tahun silam, berkolaborasi menyusun cerita dalam rangka mengobservasi ke-maha-luas-an inspirasi dan kedigdayaan manusia.

hasilnya? antologi teks dramatik-tragik. laku keras luar biasa di pasaran. ratusan kali dicetak ulang dan diterjemahkan.

kini mereka naik pangkat. mereka dijuluki nabi. bukan lagi manusia biasa.

oh, dan kamu tentu punya kopiannya. itu, yang duduk berdebu di rak meja, buku tebal yang disarankan untuk selalu kamu baca oleh institusi bernama agama.

pan's


Ofelia sekarat...
sisi kanan perutnya koyak menyambut peluru yang dimuntahkan dari pistol parabellum buatan Belanda pada awal abad ke-20 yang ditembakkan oleh ayah tirinya yang seorang kapten Spanyol pemburu gerilyawan pemberontak di era fasisme rezim Francoist yang memperistri ibu kandung Ofelia setelah ayah kandungnya yang cuma seorang penjahit kecil harus tewas di tengah kecamuk perang saudara yang pada nantinya menyeret Ofelia dan ibunya ke posko militer sang ayah tiri yang terletak di tengah hutan tak jauh dari labirin dan portal menuju dunia peri dan penjaga sangsaka bumi yang usianya lebih tua dari kata purba itu sendiri yang ternyata menganggap bahwa Ofelia adalah seorang putri dari sebuah konstelasi monarki di bawah tanah yang lupa akan identitasnya oleh karena dirinya melarikan diri menuju permukaan bumi dan mati lalu tereinkarnasi kembali dalam bentuk seorang anak penjahit miskin yang meninggal di tengah peperangan sehingga ibunya terpaksa mengungsikannya ke tempat di mana suami barunya yang seorang kapten Spanyol di bawah kekuasaan rezim Francoist si fasis tinggal di tengah hutan untuk membasmi para gerilyawan pemberontak ternyata menembak sisi perut kanannya dengan pistol parabellum buatan Belanda di awal abad ke-20 hingga koyak.
Ofelia sekarat...
mati, atau bergabung kembali dengan para peri,
waktunya tak banyak, nafasnya melambat.

bahan bakar mbahmu


harga bahan bakar minyak bersubsidi naik, dan publik gempar. masing-masing kubu (pro dan kontra) muncul dengan argumen-argumen baru: sebagian logis, sebagian taktis, sisanya cenderung terkesan egois.

sampai sejauh ini saya enggan berkomentar. saya bukan murni pro, bukan pula sepenuhnya kontra. ada sebagian dari dalam diri saya yang menyetujui kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, ada pula yang menolak. saya setuju bila dengan begitu kita bisa lebih tertib. lebih menghargai bahan bakar (tentunya dari segi penggunaan yang efektif pun efisien). saya setuju bila kebijakan tersebut mampu mereduksi volume jumlah kendaraan pribadi. saya setuju bila kebijakan tersebut mampu mengikis jumlah balapan liar. saya setuju akan banyak hal. sebaliknya saya tidak setuju bila dana yang dianggarkan untuk kepentingan sosial terkonsentrasi pada satu titik saja (bahan bakar). masih ada banyak sektor dan divisi yang butuh perhatian dan butuh modal untuk terus dikembangkan secara simultan: edukasi, pemeliharaan lingkungan, riset ilmu pengetahuan dan teknologi, sebut saja sisanya.

dan kedua kubu sama berartinya bagi saya.

lalu mengapa sejauh ini saya enggan berkomentar? singkatnya: saya masih menunggu. dari sekian varian informasi yang memadati kolom-kolom berita nasional, saya masih menunggu satu jenis berita. berita dari industri otomotif.

silahkan dikoreksi opini saya berikut. saya sadar bahwa saya buta perihal kondisi serta status pengadaan migas:
jauh jauh hari yang lalu saya memperhatikan bahwa sudah ada wacana mengenai konversi bahan bakar migas untuk diaplikasikan kepada moda transportasi (baik massal maupun individual). kita semua tahu bahwa cadangan minyak alam semakin menipis. kilang-kilang mengering, negara-negara importir semakin berkurang, sementara permintaan dan penggunaan akan minyak semakin besar, maka dari itu suplai minyak dipastikan tidak berimbang. kita juga tahu dasar hukum ekonomi permintaan dan penawaran: ketika permintaan meningkat, sementara stok barang tetap, harga yang ditawarkan otomatis ikut meningkat. dengan memahami teori ini dan menyadari bahwa minyak merupakan salah satu dari sekian banyak unrenewable resources, barangkali tidak ada gunanya lagi kita memperdebatkan harga bahan bakar minyak yang terus menerus meningkat.

kembali ke soal konversi, di sisi lain, cadangan gas alam masih cenderung lebih besar ketimbang minyak. angka eksploitasi terhadap unsur kimia ini masih relatif lebih kecil daripada minyak. saya sadar solusi ini tidak jauh berbeda dengan peribahasa "gali lubang tutup lubang", tetapi barangkali, setidaknya, kita mampu menunda masalah. kita diberi kesempatan, juga mendapat waktu tambahan. lantas, berkaitan dengan berita dari industri otomotif, saya menunggu moda transportasi berbahan bakar gas untuk diproduksi secara masif. setahu saya memang sudah ada (seperti beberapa unit bus transjakarta), namun itu belumlah cukup. kedepannya, industri otomotif mungkin akan lebih baik untuk mulai fokus memproduksi unit-unit kendaraan berbahan bakar gas. dengan begitu, kontroversi bahan bakar minyak bisa reda untuk sementara.

sekali lagi, apa yang saya tulis bukanlah solusi. bahkan mungkin tidak ada satu kalimatpun yang bernuansa solutif dan cukup kompatibel untuk diimplementasikan terhadap iklim perekonomian domestik saat ini. saya hanya lelah melihat media, melihat laku pemerintah, melihat pengabaian aparatur negara, melihat reaksi rekan-rekan semua. though i humbly acknowledge that this is always will be an endless dispute despite any possible solutions available.

lalu, setelah gas mengalami nasib yang sama dengan minyak, bagaimana?
hmm… listrik?

24th



untuk gerombolan alarm tengah malam yang membawa sebotol dry lychee martini dan sekardus donat berapi
duapuluhempat ini hanya klise repetitif yang pasif. sesaat menggebu, setelahnya berlalu. terulang kembali dalam satuan kurun waktu yang telah disepakati bersama-sama oleh kalender masehi. namun mustahil saya sangkal, bahwa saat ini adalah salah satu momentum yang terbilang lumrah untuk mabuk, membingar, juga terjaga sampai pagi. lagi, melalui kesepakatan yang-tak-termaktubkan bernama tradisi.
duapuluhempat ini kembali menertawakan duapuluhtiga, duapuluhdua, dan duapuluhkebawah lainnya. yaitu saat-saat seorang manusia tengah beradaptasi: gemar bersosialisasi (dalam keadaan nirsosial sekalipun berkat teknologi), rajin mengeksplorasi dan mengasah naluri. karena saya selalu percaya bahwa manusia tidak pernah berubah. mereka, kita, hanya beradaptasi. menjadi seseorang yang matang, terlepas dari indikasi baik maupun buruk. dan saya merasa belum layak untuk masuk ke dalam salah satunya. proses ini belum selesai. mungkin tidak akan pernah, mungkin terlanjur gosong dan masuk tong sampah. bagaimana nanti dengan duapuluhlima? entah.
duapuluhempat dalam jam menandakan pergantian hari. jika dikaitkan dengan metafor ini, semoga duapuluhempat saya juga menstimuli proses adaptasi saya tadi menjadi lebih berarti. tidak perlu lebih baik, tidak juga lebih buruk. selama saya masih memiliki arti, saya percaya hidup ini layak dihidupi.

#pinggir51


genap enam tahun saya masih mengetuk pintu.

kadang saya bersyukur pintu itu anda biarkan tertutup, sehingga saya terbiasa.
karena toh seandainya anda buka, barangkali saya tidak sanggup melangkah masuk.

terima kasih untuk jarak. menemuimu, entah sengaja atau tidak, selalu menyisakan efek samping yang membuat otak ini tidak lagi berfungsi, dan hati yang retak.
terima kasih untuk sepi. sepatah kata denganmu, entah verbal pun nonverbal, selalu melampaui mimpi yang tidak seharusnya diimpikan lagi.
terima kasih untuk ketiadaan. proyeksimu, entah figmen imajiner maupun visualisasi temporer, selalu mempertanyakan kembali hal ihwal yang sesungguhnya telah menemui jawaban.

jika anda mendengar suara ketukan, ketahuilah bahwa saya masih mengetuk pintu.
jangan dibuka, saya ada di baliknya.
membayang dan melamun, apa yang saya cari di dalam sana.

neuro checkmate

"kamu tahu mengapa catur cuma hitam dan putih?"

"?"

"sehingga mereka memiliki batasan yang jelas, memiliki konsep diferensiasi yang kontras, untuk mengakui wilayah teritorial masing-masing."

"..."

"bayangkan catur yang penuh warna. bagaimana cara memainkannya...?"

"...? ya nggak bisa dimainin dong?"

"yoi. keindahan catur justru berada di keterbatasan unsur warna. dua sisi yang mutlak. dua warna yang berjarak. see?"

"... jadi?"

"jadi, kita nggak perlu mewarnai lebih jauh lagi. cukup hitam dan putih. kayak catur. fair?"

"fair."

skak

neuro checkmate

rebah di atas sofa, kami berpelukan. wajahnya di leherku, nafasku pada rambutnya.

this is wrong. you're actually the very last person i want to kiss.

are we… no. am i ruining anything?

mungkin, kehancuran sebuah relasi hanyalah sebatas konsepsi. ketika di suatu masa, sepasang bibir yang bertemu, terlanjur menyatu, justru meretakkan fondasi yang selama ini telah kami jaga. untuk selanjutnya muncul terlalu banyak kalimat tanya dalam kepala.

dan rebah di atas sofa, kami berpelukan, sepanjang sore.

entah dihantui sesal, atau sebatas anggapan perkara sepele, 



kami berpelukan sepanjang sore.

pada sebuah percakapan yang tidak pernah terjadi (3)

"aku mimpiin kamu semalem"

"ohya? terus?"

"ya begitu"

"gitu gimana? mimpinya gimana?"

"nggak gimana-gimana. biasa aja"

"haha... kok bisa?"

"nggak tau. mungkin kangen"

"k


lalu saya bangun.