64

hari ini langit tidak peduli saya basah. sementara saya tidak peduli apakah semesta hujan ataupun cerah. karena waktu subuh, sebaris cerita mampir dari jauh. cerita yang (lagi-lagi) menyadarkan saya bahwa realitas hanyalah akumulasi atas ilusi subjektivitas yang maha-terbatas, dan karenanya tidak pernah utuh. tersusun dari kumpulan yang serba-separuh.

apalah yang lebih menyiksa ketimbang subjektivitas yang-liar-tak-terkendali terhadap hal-hal yang-anda-yakini? awalnya anda yakin jika putih adalah suci. putih melawan hitam sebagai stempel kejahatan abadi. lalu apa yang terjadi bila bidak putih anda berbalik melawan? apa yang anda lakukan bila ia justru bersekutu dengan si hitam untuk menggulingkan anda dan mengambil alih permainan?

sebelum memusingkan eksistensi subjek lain, ingatlah sekali lagi bahwa mereka hanyalah barisan fragmen imajiner, figmen temporer, pun imaji arbitrer. dan sebelum berhenti mempercayai subjek lain, ingatlah sekali lagi untuk berhenti mempercayai subjektivitas anda sendiri.

ingatlah bahwa anda hanya noktah ilusi, yang pada akhirnya meringkuk kaku di dalam peti seorang diri, atau habis terbakar menjadi serpih dibawa angin dihanyut laut melewati selaput waktu tanpa pori.

merah




- red light district -

etalase bising, derai tawa mabuk dari orang-orang sekeliling, dan jerit samar yang jauh dari lengking. seorang lelaki tua tergesa sembari memperhatikan deretan kedai penuh wanita minim busana.

langkahnya terhenti di salah satu kedai. dia masuk tanpa permisi. 

segera penjaga kedai menyodorkan seberkas katalog penuh foto wanita dengan sedikit keterangan di bawahnya. dan di halaman ketiga, jari lelaki tua ini bergerak, memilih salah satunya.

attendez,

tak lama, si penjaga kembali ke mejanya, memencet beberapa angka di telepon, dan berbicara dalam kapasitas volume yang terlalu rendah untuk dicuri dengar.

s'il vous plaƮt. 008.

lelaki tua mengangguk. lalu masuk menuju salah satu bilik yang ditunjuk. cahaya di ruangan itu sedikit lebih senyap. dekorasinya cukup apik : sofa satin ukuran sedang dan kain beludru merah yang malang melintang di sekeliling ruang. ada lampu tungsten sayu yang sedikit menyorot ke tiang di tengah ruang. tugasnya sudah pasti menyorot gerak gerik si penari telanjang.

wanita yang dipilihnya masuk, berjingkat ala model, sambil mengeluarkan cambuk.

saya tidak memesan cambuk.

dan cambuknya jatuh. seperti ucapannya kemudian yang mirip bunyi bebatuan runtuh… 

…… papa?

63

beberapa hari yang lalu ketika kita tengah merayakan hari pahlawan, saya mikir: apalah arti sebuah tanggal? apalah intensi sebuah perayaan yang langsung kehilangan arti setelah hari berganti?

banyak yang bilang kalau momentum itu penting. maka sebuah tanggal menjadi simbol yang merangkum sebuah momentum sehingga dapat kita rayakan, dapat kita kenang. namun apa yang sesungguhnya dirayakan atau dikenang ketika kita tahu bahwa sebuah momentum akan semakin kehilangan maknanya justru ketika terus menerus mengalami proses pengulangan? ini mirip dengan upaya mereduksi esensi secara simultan. kira-kira begitu.

seperti hari pahlawan misalnya: apa yang mau dirayakan di sini? jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur memperebutkan kemerdekaan? lantas dengan cara apa kita harus merayakannya? melanjutkan perang? atau cukup dengan mengenang? apa yang seharusnya dikenang? keberhasilan para pejuang?

tidak ada salahnya mengenang sebuah momen. terlebih momen yang memiliki nilai historis untuk khalayak luas. atau momen yang memuat peristiwa berkesan. tidak ada salahnya sama sekali. suatu kali saya sempat menulis: waktu tidak pernah mati, justru itu memori begitu berarti.

namun di satu sisi, saya melihat makna yang pudar. digerus waktu menjadi samar. ada yang hilang ketika hari perayaan dikonversi menjadi hanya sepenggal kenangan. 17 agustus misalnya: hari di mana rakyat indonesia merayakan kemerdekaannya dari cengkeraman penjajah kolonial. apa yang selama ini kita lakukan? mengenang kemerdekaan? kemerdekaan macam apa yang kita kenang bilamana ke-tidak-merdeka-an justru jelas terlihat di sekitar kita?

untuk beberapa hal, beberapa momentum, seperti hari raya yang mereka fenomena bersejarah, saya pikir mengenang saja tidak cukup. lalu?

entah. saya sendiri masih bingung. hemat saya, tidak perlu menunggu tanggal 10 november untuk mengenang jasa para pahlawan. tidak hanya di tanggal 17 agustus kita menyerukan kemerdekaan. ada hal lain yang barangkali lebih penting dari sekedar mengenang: melanjutkan.

saya punya cara sendiri memperingati hari pahlawan. cara yang -saya kira- lebih bermanfaat secara personal pun sosial. cara yang melibatkan fase-fase reflektif, intuitif, maupun impulsif. dengan demikian, kenangan saya tidak berhenti sampai di situ. kenangan saya justru menstimuli hal-hal baru. hal-hal yang bagi saya lebih nyata untuk dilakukan -dirayakan- pada perayaan-perayaan semacam ini.

dan memang tanggal menjadi insignifikan ketika saya mencoba berpikir demikian. tanggal mematikan waktu, memberinya sekat, memberinya ruas untuk diinterupsi definisi. 

akan tetapi saya lupa bahwa manusia selalu butuh hiburan. kita butuh sebentuk perayaan. apapun itu. mungkin mengenang hari raya dengan cara mabuk-mabukan juga tidak apa dilakukan. yah, siapa pula yang tidak merayakan hari raya dengan sebotol dua botol minuman?

surat

18 september, di meja makan...

piringan hitam etta james berputar menyanyikan at last di atas gramophone bekas.
lampu kumatikan. sengaja. sebagai gantinya, 20 buah lilin kunyalakan.
sebab malam ini ulang tahun pernikahan kami yang ke-20. perayaan sederhana untuk dua manusia yang seharusnya saling cinta. saling bertukar bahagia.

masakanku. sambal goreng hati dengan irisan bawang. kesukaannya sejak kuliah. makanan pertama yang mempertemukan obrolan kami berdua.
minumannya. sebotol rum impor dari abad pertengahan. kesukaanku sejak kuliah. satu-satunya minuman beralkohol yang tidak pernah mampu kutolak.

aku siap...

maaf,

aku menyodorkan seberkas surat ke arahnya. 
ada wanita lain. ada cinta lain. ada kebahagiaan lain. cinta dan bahagia yang seolah menjadikan sambal goreng hati dengan irisan bawang, sebotol rum impor dari abad pertengahan, serta 20 tahun pesiar penuh perjuangan terlihat tidak berarti sama sekali.
surat cerai.

dirinya terkesiap sebelum menjawab...

tidak apa.

dia juga menyodorkan seberkas surat. ada cap dokter.
surat keterangan yang memvonis dirinya dihinggapi kanker.

18 september, di meja makan...

antara cinta dan bahagia yang tidak lagi ada, serta nyawa yang siap pergi kapan saja, kami menangis. entah karena cinta yang punah, atau nyawa yang pasrah.

paris je t'aime

entahlah

"mau sampe kapan lo nungguin gue?"

sampai anda menyuruh saya berhenti
sampai saya tidak anda butuhkan lagi
"kita lihat saja nanti…"

reka ulang


bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup?

ya. saya bersedia…

bersediakah saudara menjadi bapak yang baik untuk anak-anak yang dipercayakan tuhan kepada saudara?

ya. saya bersedia…

kemudian imam berpaling… 

bersediakah saudara mengasihi dan menghormati suami saudara sepanjang hidup?

… ya. saya bersedia…

bersediakah saudara menjadi ibu yang baik untuk anak-anak yang dipercayakan tuhan kepada saudara?

…… ya. saya



kata-katanya berhenti. sunyi…

sesunyi peristiwa yang baru saja terjadi persis di jalan samping gereja.
hanya ada garis polisi, aspal mendidih, marka kapur, truk tanah, pohon cemara yang patah, mobil pengantin yang terbalik, dan janji pernikahan yang terlanjur dipeluk darah.

sunyi

kadang kita terlalu sibuk beranjak dewasa. lupa bahwa kedua orang tua kita juga bertambah tua...