ruang


mereka selalu datang setiap hari rabu pukul sembilan malam. menguras nafsu bernama cinta dalam hitungan jam, kemudian berkemas dan check out bahkan sebelum lampu lobi utama diharuskan untuk padam. mereka terburu-buru. sebab waktu memburu seperti hantu. tetapi kamar 213 tidak pernah dinyatakan berhantu. dan mereka tidak tahu hal itu. mereka terburu-buru… selalu… 

aku mencintaimu

sayang, ini kali keempat kamu bilang cinta dalam sebatang rokok yang masih khusyuk menyala.

akan muncul kata cinta kelima. sebab bara ini menyimpan sabda. masih banyak pasokan cinta yang tersisa. tunggu saja.

mereka diam. dipeluk peluh. dibasuh sepoi kipas angin kecil yang berkeretak jenuh.
bukan hotel mewah. malah lebih mirip rumah singgah. beberapa perabot yang lekang dideru waktu justru menua lebih cepat daripada dua penghuninya.

jam empat kurang…

ia menghisap rokoknya kuat-kuat.

masih ada sekitar setengah jam. mengapa dirimu begitu muram?

sampai kapan kita mesti terus menerus sembunyi begini? menipu panca indera yang seharusnya tidak lagi kita miliki…? aku nyaris lupa manis bibirmu. lupa nyaman rengkuhmu. lupa tajam tatapmu.


mereka diam. dipeluk peluh. dibasuh sepoi kipas angin kecil yang berkeretak jenuh.
bukan pertanyaan mudah. malah lebih mirip ungkapan jengah. beberapa pucuk air di sisi kornea mata mulai bermuara memadu resah.

sampai cinta tidak lagi dikooptasi kapabilitas raga. sampai cinta tidak lagi memerlukan kata jumpa.

rokoknya mati. baranya telah berhasil merayap hingga ke pangkal filter hisap. selanjutnya hanya ada senyap.

cinta kelima. berakhir di asbak yang sesak oleh puing-puing puntung tidak bergerak. apa kita juga berakhir demikian? menjauh pelan-pelan, hingga lesak kembali dalam kesendirian angkuh sebongkah nisan, yang ternyata masih menyisakan bara kerinduan?

matanya merah. basah. gundah.

asap ini sama halnya denganmu. rokokku boleh habis. namun asapnya sempat menyelinap ke paru-paru. membuatnya terkontaminasi. membuatnya bereaksi. membuatnya perlahan beradaptasi. hingga tiba saatnya ia berhenti berfungsi. seperti sekarang ini. sama halnya dengamu. walau kini kita tidak lebih dari sepasang hantu.

senyumnya merekah. cerah. lelah.

di kamar ini, di ranjang ini, asap kita akan terus bergulir dan bersenyawa. tanpa perlu hadir. tanpa perlu raga. cukup selayang nyawa.

suara adzan berkumandang…
pukul empat lewat seperempat dini hari… 
sepenggal mata dan sepotong senyum lirih masih enggan beranjak pergi…
dan dua raga bergerak pelan tertatih… 



mereka selalu datang setiap hari rabu pukul sembilan malam. menguras nafsu bernama cinta dalam hitungan jam, kemudian berkemas dan check out bahkan sebelum lampu lobi utama diharuskan untuk padam. mereka terburu-buru. sebab waktu memburu seperti hantu. tetapi kamar 213 tidak pernah dinyatakan berhantu. dan mereka tidak tahu hal itu. mereka terburu-buru. selalu.

begitu kata petugas resepsionis. satu-satunya karyawan yang mengetahui sebuah rahasia tragis. rahasia tentang sepasang manusia yang tewas setelah berhari-hari mengurung diri di kamar sempit tanpa ventilasi. sepasang manusia dengan paru-paru mengabu karena dioksida pekat keburu membeku.

dan tentang mereka, tentang pasangan yang baru saja meninggalkan hotel dengan terburu buru, mereka tetap tidak tahu. mungkin selamanya tidak akan pernah tahu. alasan mengapa mereka tidak pernah ingat rincian kejadian setiap rabu pukul sembilan malam hingga kamis pukul empat dini hari. atau alasan mengapa mereka begitu terburu-buru pergi sebelum didahului pagi. yang mereka tahu, ada beberapa hal yang tidak perlu diketahui. apalagi dimengerti. terutama hal-hal yang membikin tubuh merinding ngeri. seperti cerita hantu yang kerap punah di peradaban modern dewasa ini.

I am my own God

For those who believe in God, most of the big questions are answered. But for those of us who can’t readily accept the God formula, the big answers don’t remain stone-written. We adjust to new conditions and discoveries. We are pliable. Love need not be a command or faith a dictum. I am my own God.

We are here to unlearn the teachings of the church, state and our educational system.

We are here to drink beer.

We are here to kill war.

We are here to laugh at the odds and live our lives so well that Death will tremble to take us.

We are here to read these words from all these wise men and women who will tell us that we are here for different reasons and the same reason.


- Charles Bukowski -

hell-ium


meletus balon hijau, dor! 
hatiku sangat kacau, 
balonku tinggal empat, 
kupegang erat-erat

tetapi mereka meronta
empat balon yang tersisa
mereka murka
keempatnya

dalam genggamanku, mereka melantang garang, mereka mulai menyerang
"kau apakan si hijau, bajingan" pekik biru berang
kuning melecut jemariku, kemudian hilang terbang
kelabu mengempis otomatis, 
melarikan diri dari sela-sela jemariku yang tipis,
menghampiri serpih hijau sambil mengais-ngais tangis
dan merah muda bersabda,
"terjadilah padamu sebagaimana kamu memperlakukan sahabatku…"

meletus balon hijau, dor!
hatiku sangat kacau,
balonku tinggal empat,
kupegang erat-erat
meski kini aku tamat… 

meledak

lumat

malaikat tidak tahu

ada puluhan bangku taman kota dan aku sengaja duduk di sudut ini. bangku paling pinggir. aku tidak ingin diganggu.

aku ingin sendiri. seperti malam-malam sebelumnya. seperti malam kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya kemarin lagi… menikmati malam seorang diri.

tetapi muncul pemabuk ini. hinggap di kursi dengan sisa tenaganya yang tidak cukup kuat untuk menjejakkan kaki. bergumam pedih bersama malam. bernyanyi parau mengutuk kelam. barangkali dia seorang jahanam yang kurang beruntung sehingga memilih alkohol sebagai sumbu pelarian.

aku sering melihat pemandangan seperti ini. biasanya makhluk-makhluk ini akan tertidur pulas dalam beberapa jam ke depan setelah puas berteriak meluap semalaman. selanjutnya, hanya ada peruntungan. terbangun karena menggigil kedinginan, atau mati beku dikibas hawa malam sekalian. yah… mereka hanya pemabuk tanpa nama. sesuatu yang insignifikan di tengah distrik metropolis ibukota. penemuan mayat di bangku taman hanya akan membikin gaduh sesaat lalu lenyap tanpa arti apa-apa.

"barusan kamu bilang sesuatu, manis?"

dia menatap ke arahku.

dia

menatap mataku



anda bisa melihat saya?

12120210024


well, i don't know much about love letters or stuffs alike. but i like it most among the rest.

whoever you are dear wordsmith. i figure that you have something through your writings that might amplify the plain meaning of "word" to transmute unto as sharp and vicious as "sword".

i solemnly grateful.
truly i'm pleased receiving this.

bulan

ambilkan bulan bu… ambilkan bulan bu… yang s'lalu bersinar di langit…


malam ini demam mampir terlalu tinggi. trotoar sepi. beberapa lampu jalan mati. lalu lintas perlahan hening. tinggal ibu yang memelukku tanpa bergeming. deru angin memicing. dan sabetan dingin terasa begitu runcing.

yang hangat hanya air mata. terlebih air mata ibu… tetesannya yang mengayun menelusuri pipi, dagu, lalu jatuh ke wajahku, satu demi satu…

di langit bulan benderang. cahyanya sampai ke bintang…

keliru…
aku tahu bintang memiliki cahayanya sendiri. tidak seperti bulan yang mencuri pijar matahari. astaga bu, apa jangan-jangan bulan adalah seorang pencuri? pencuri yang diadili, dieksekusi, lalu berhasil meloloskan diri justru setelah dijerat reinkarnasi?! kejam betul lagu ini. pengarangnya seolah berkomplot dengan bulan. dia seenaknya mengalihkan perhatian dari setampuk tuduhan pencurian! meski cuma lagu dongengan, ini sudah keterlaluan!

tapi itu tidak penting sekarang. yang aku tahu, ibu masih erat memelukku sambil terus berdoa agar malam cepat berlalu. walau seringkali pandangnya berbayang karena pelupuk yang menahan linang sendu, disertai teriakan minta tolong yang agaknya sia-sia dan tidak perlu. bu, apa ini yang orang bilang 'gamang'? pedih benar melihatmu berseteru dengan waktu.

ambilkan bulan bu… untuk menerangi…

bu! lihat, bu! ternyata benar dugaanku! aku baru saja memergoki bulan mencuri! kali ini dia merampas dan membawa lari seorang bayi! aku mau kejar dia. ibu jangan ke mana-mana. tunggu saja di sini. aku akan kembali bahkan sebelum ibu sempat bermimpi…

tidurku yang lelap… di malam glap…

malam ini demam mampir terlalu tinggi. trotoar sepi. beberapa lampu jalan mati. lalu lintas perlahan hening. deru angin memicing. sabetan dingin terasa begitu runcing. seorang ibu memeluk anaknya tanpa bergeming.

namun takdir tetap bersikukuh untuk tidak berpaling.
meski bayi di pelukan sang ibu, selamanya tidak akan lagi mampu menangis nyaring.

KB

buat mama dan papa,

aku sayang mama papa.
aku bahagia walaupun mereka bukan orang kaya.
karena mereka pernah bilang, harta tak ternilai yang sesungguhnya adalah keluarga itu sendiri. kebahagiaan sejati. kekayaan hakiki. itu sebabnya aku berusaha menjadi seorang anak yang berbakti.

aku sayang mama papa.
aku tahu setiap malam sepulang kerja, gumam lelah selalu terucap dari mulut keduanya.
aku juga tahu mereka kewalahan melunasi biaya pendidikanku, makanya aku belajar segiat dan sekeras yang aku mampu.

aku sayang mama papa.
suatu sore, ayah pulang lebih cepat. wajahnya pucat. dia dipecat… aku melihatnya menangis di pelukan mama dengan nafas tersendat-sendat. suaranya tersumbat.
mama juga menangis. suaminya, ayahku, sesosok lelaki yang kami cintai sepenuh hati, ternyata harus tersisih dari pekerjaannya hanya karena ada kandidat baru yang tidak lain adalah anak kandung si pemilik perusahaan sendiri.
mama melihatku sekilas. tatapannya nanar membias. tidak kunjung usai air mata itu dia peras.
lalu aku mencuri dengar mama memelas, "maafin aku, mas. aku punya jalan keluar. tapi maafin aku ya, mas."
seketika aku tahu, bahwa kami bertiga akan tetap baik-baik saja.
kami bertiga akan tetap bahagia seperti biasanya.
papa bisa mencari pekerjaan baru. tentu saja. keadaan akan membaik seperti semula.

aku sayang mama papa.
aku benar-benar sayang mereka berdua.
hingga detik ini, aku masih berharap agar mereka bahagia.
hingga detik ini, dan seterusnya, dan selamanya…
ma, pa, semoga kalian baik-baik saja. di manapun kalian berada.
karena bagi seorang anak, apalah yang lebih berarti dan berharga selain melihat kedua orang tuanya bahagia?
tidak perlu menyesali masa lalu ketika kalian memutuskan untuk menjualku
maaf kalau ternyata hargaku tidak seberapa.
aku sayang mama papa. selalu begitu.
seterusnya.

#pinggir46



saya tidak tahu harus memulai dari mana. ada terlalu banyak hal yang ingin saya katakan. entah itu penting atau tidak. hal yang berawal dari lima tahun dua belas hari enam jam yang lalu. berpinak biak di sela otak dipupuk waktu.


ternyata tiba harinya ketika saya diingatkan untuk lebih menggunakan logika ketimbang hati. kata mereka, untuk mampu mencintai, keduanya harus sama-sama berfungsi, keduanya harus saling memberi ruang dan proporsi. dan harus saya akui, saya kehilangan salah satunya, atau mungkin keduanya, atau mungkin hanya lupa menyimpannya di mana, atau mungkin memang sejak awal saya tidak punya… but still, enough with your heart. use your brain instead. don't be such an endless dickhead they said…

mereka bilang, menunggu anda kembali sampai kapanpun hanya membuang-buang waktu. karena seseorang tidak harus selalu menunggu. harus ada kompromi antara otak dengan hati yang sanggup memaksa saya untuk kembali melangkah maju. menunggu hanya membuang waktu. hanya membuang waktu…

padahal sudah berulang kali saya bilang kalau manusia tidak mungkin mampu membuang-buang waktu. karena sejatinya waktulah yang membuang manusia, termasuk kita, anda, saya, satu demi satu. saya juga berkali-kali bilang bahwa ini bukan soal waktu. cuma soal mau atau menolak menulis lembar baru, ingin atau enggan meracik kopi lain, melawan atau selamanya pasrah dicekik kafein. saya membatin… dan lagi-lagi, saya tidak yakin.

#pinggir, ketahuilah bahwa ada kalanya seseorang memutuskan untuk menjadi pecandu. termasuk rasa pahit, juga rasa sakit. pada satu fase tertentu, darah seorang pecandu kopi akan resmi terdistorsi setelah cairan hitam menginterupsi aliran konstan menuju ulu hati. ada kenikmatan tersendiri yang singgah. mungkin sementara. mungkin selamanya. ia menderita namun bahagia, ia stagnan namun tidak bosan, ia babak belur namun lega karena memilih untuk jujur. ia mencandu… karena ia tahu, manifestasi dari sebuah adiksi tidak pernah berbuntut keliru.

tapi,

saya tidak tahu… apakah anda benar metafor atas seberkas candu, atau sekedar salah satu varian kopi yang tertera di rincian daftar menu. saya tidak tahu.

#pinggir, mungkin ini tulisan saya yang terakhir. mungkin juga tidak. namun… saya ingin kembali mencoba melepas sauh. saya ingin kembali meniti titik samudra terjauh. bila saya tidak kembali, ketahuilah bahwa tidak ada satu halpun yang saya sesali. memori tentang pelabuhan ini akan berpendar menjadi sekedar cerita, namun tidak berarti mati. kopi dan perkusi yang sekali waktu pernah diam-diam menyimpan rencana akan tersimpan rapih di sudut lemari, tidak tersentuh, terkunci rapat, namun mustahil dibuka kembali.

tetapi bila suatu hari nanti pesiar saya kembali berlabuh, menghempas saya kembali ke dermaga ini, dermaga paling #pinggir di bumi, barangkali… saya benar-benar resmi terjangkit disorientasi. karena memang saya sama sekali tidak tahu harus berlayar ke mana lagi.