lelucon di makam teman lama



bro, menurut lo kapan kita boleh bercanda dengan kematian? sementara hidup sudah kehilangan sisi jenakanya. coba lihat sendiri, mereka yang lebih memilih mati… apa mereka memikirkan hal serupa? atau mereka malah termakan propaganda tentang surga? entahlah… nampaknya kematian kian akrab ketika hidup senantiasa menjerat asa dengan begitu erat. bikin patah semangat. musnah harap.

bro, kalau hidup itu pilihan, mengapa lain halnya dengan kematian? mengapa cuma hidup yang boleh menyimpan segala kemungkinan, sedangkan mati cuma punya satu sosok bernama kepastian? lo tahu sendiri kalau satu-satunya hal yang pasti dari ketidakpastian adalah kematian. dan surga juga neraka itu nggak lebih dari sekedar akal-akalan iman. sama halnya dengan media yang butuh iklan. orator-orator tuhan juga butuh duit buat makan.

bro, tahu nggak? kalau manusia itu sebenarnya immortal. oh tidak usah disangkal. karena alih-alih mati, kita cuma bertransformasi. badan menjadi ingatan, fisik menjadi memori. hidup itu pena penuh tinta dan mati itu kumpulan ceritanya. seumpama kumpulan potret yang merembet dan jalin menjalin membentuk rupa tentang satu wajah senja. walaupun senja hanya berlangsung sementara. kendati tidak abadi, akan selalu terulang kembali esok hari.

ada juga beberapa yang bilang kalau sebenarnya kita tidak mati. cuma pergi jauh. jauuuh banget. meski pada kenyataannya kita nggak ke mana-mana. atau tepatnya, nggak 'bisa' ke mana-mana. karena kita terlanjur menempati peti berukuran satu setengah meter persegi di bawah tanah. tapi… yah, itu bukan masalah. toh tidak ada benar atau salah. mati itu lumrah. percuma ditangisi, lebih baik tersenyum sambil mengantarnya pergi.

tidak lama lagi, keadaan akan berbalik.

lahan subur tidak digarap, bangunan-bangunan renta digusur, desa menyempit, dan kota pelan-pelan tersungkur. kita akan butuh lebih banyak kayu jati dan nisan kubur dengan beberapa kaleng pelitur.

tidak lama lagi, hidup akan mulai jenaka karena kematian boleh kembali diajak bercanda. dan jika saat itu tiba, mungkin kita baru sadar bahwa cerita-cerita kehidupan tentang manusia ternyata merupakan sesuatu yang langka. terlalu langka. karena kematian jauh lebih jenaka.

pelajaran membunuh dan pembunuhan pelajar

prestasi baru dunia pendidikan dapat dilihat pada praktek pembiaran masyarakat terhadap gerombolan pelajar yang saling pukul, saling sambit, saling lecut, saling sikut, saling tendang, juga saling tikam dengan senjata tajam. benar. ini merupakan suatu prestasi besar. terlebih ketika ada beberapa di antara pelajar yang menganggap aktivitas ini sama halnya dengan pertempuran, serupa dengan perang. jelas ini prestasi. karena ada determinasi yang jelas antara siapa yang kalah dan siapa pemenangnya di sini.

anehnya, selain soal perkara menang kalah, seingat saya bicara soal pertempuran adalah bicara tentang pengorbanan. bicara tentang harga diri yang diperebutkan, atau digadaikan. tetapi pelajar-pelajar ini di usianya yang masih lebih muda dari jagung, apa mereka tahu soal pertempuran? tahu soal harga diri dan kehormatan, sementara apa yang menyebabkan mereka bergumul hingga menelan korban saja tidak pernah terjelaskan? ya, mereka tidak peduli teori kausalitas. yang terlintas di pikirkan mereka hanyalah sebatas kegiatan selingan untuk mengisi waktu luang (atau sekedar meregangkan badan mereka yang kurang aktivitas?). maka, setelah ini saya tidak lagi merujuk pada term pertempuran. saya lebih suka menggunakan istilah lain. tawuran. sebuah aktivitas kampungan yang seringkali memakan korban. dan sekali lagi saya tekankan : tanpa disadari maupun didasari suatu kejelasan, karena toh tidak ada dari mereka yang sanggup menjelaskan. dalam tawuran, ada budaya permisif yang perlahan membiak dan berkelindan.

saya sendiri menganggap pengalaman sekolah menengah sebagai salah satu momentum yang sangat berpengaruh. sejatinya sebuah titik balik, ada banyak value yang -secara sadar maupun tidak- berhasil tertanam dalam diri saya. mulai dari rasa solidaritas dengan sesama rekan pelajar, kepedulian sosial, budaya apresiatif dan sportif, serta kesadaran akan tanggung jawab di bidang ilmu pengetahuan dan lingkungan masyarakat. dan siapa sangka tiga tahun ini nyatanya mampu menggodok keapatisan saya. dari sana saya belajar membuka mata, belajar untuk lebih peduli. lebih peka. kendati saya yakin bahwa sejauh ini saya belum sanggup mempraktekannya dengan sempurna, saya masih terus berusaha.

kembali ke soal tawuran, ada hal lain yang juga saya pelajari di sekolah menengah. mungkin karena sekolah saya isinya laki-laki semua -hanya ada empat perempuan : dua guru dan dua ibu kantin-, saya bersama rekan-rekan pelajar dapat berbaur lebih cepat satu sama lain. oh sebelumnya, saya nggak bermaksud sexist. niat saya menulis ini jauh dari tendensi apa-apa yang berkenaan dengan wacana gender. meskipun harus saya akui, homogenitas jenis kelamin memiliki andil yang luar biasa besar di sekolah ini. terutama pada tata cara (metode) kami dalam menghadapi konflik antar pelajar.

kami tidak diperkenalkan dengan sistem tawuran. alasannya sederhana saja, 

"tawuran itu keroyokan. itu mainan anak kampung miskin pendidikan. yang namanya laki-laki itu harusnya malu berantem keroyokan. apalagi sambil sok nenteng senjata tajam. cara berkelahi laki-laki… kalau benar kalian laki-laki, dan kalau benar kalian menolak dibilang banci, yaitu duel satu lawan satu. tangan kosong. dan sisanya cukup menyaksikan, tidak boleh membantu. selesaikan perkara tanpa ada yang mati." paling tidak, itu kata salah seorang guru. 

bisa saya pastikan, seluruh angkatan saya yang mendengar kata-katanya tertegun. beberapa senior yang juga mendengarkan ikut menganggukkan kepala. tentu saja. mereka sudah lebih dulu dididik melalui cara yang sama. metode perkelahian yang sama. tangan kosong bebas senjata. setelah itu habis perkara… tidak akan lagi mengundang konflik babak dua dan seterusnya. metode ini dinamakan 'partai'.

kalau mau diakumulasi, tidak kurang dari belasan partai yang saya alami, atau yang saya saksikan sendiri selama tiga tahun dan beberapa tahun setelahnya. oh, yang juga menarik adalah partai memiliki peraturan tertentu yang bebas ditentukan oleh kedua belah pihak. misalnya : dilarang menyerang bagian vital, dilarang menyerang bagian wajah saja, dilarang memanfaatkan aksesori yang melekat di tubuh (seperti tindikan di telinga), dan macam-macam lainnya. selain itu, karena peraturan dibuat dan diberlakukan atas dasar kesepakatan masing-masing pihak, tidak akan ada yang dicurangi di sini. kedua pihak berdiri di posisi sejajar. seimbang. karena seperti kata guru saya : ini menyangkut mental kami sebagai laki-laki. dan di sinilah hal itu diuji.

hasil akhir dari partai juga bermacam-macam. dimulai dari yang paling sering : lebam, terkilir, hidung patah, tulang patah, pingsan, dan selebihnya. puncaknya, persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah justru seringkali terlupakan begitu saja. karena di balik itu semua, ada yang jauh lebih penting untuk diterima : konflik sudah teratasi. masalah antar kedua pihak sudah terlewati. kedua tangan itu tidak lagi mengepal. mereka saling menjabat satu sama lain. kedua mulut itu tidak lagi menyumpah marah. mereka terlalu sibuk tersenyum tanda berakhirnya suatu masalah.

pada akhirnya, saya hanya ingin berbagi cerita singkat ini kepada rekan-rekan pelajar. terutama kepada mereka yang masih terhasut budaya tawuran. saya tahu persis bagaimana rasanya euforia remaja yang meletup-letup, terlampau dinamis hingga lebih mengarah ke watak temperamental, juga terlalu memuja hal-hal irasional yang justru seringkali diakhiri rasa sesal. saya tahu persis. yang perlu disadari adalah : konflik akan selalu ada. kapanpun dan dimanapun. namun, anggaplah kali ini saya mencoba menawarkan solusi yang sedikit lebih dapat dipertanggungjawabkan. kalian haus akan perkelahian? silahkan. tapi setidaknya bukan dengan tawuran. karena memang tidak ada seorangpun yang layak menjadi korban.

walhasil, konklusi pertarungan yang sesungguhnya ada di tangan kalian: akan pulang bersama-sama saling berangkulan, atau meratap berjamaah karena rekan kalian pulang dalam balutan kafan. sekali lagi, konklusi akhir ada di tangan kalian.

datang, duduk, diam, drama, dosa, duka, diulang


mengapa kalian datang ke tempat ibadah, tempat yang kalian simbolisasikan sebagai rumah tuhan? apa yang kalian cari di sini? apa yang kalian harap? apa makna dari doa yang terucap? mengapa kalian bersyukur melantunkan pujian? buat apa memuliakan namanya barang satu-dua jam jika upaya pertobatan setelahnya masih saja dihalangi benci dan dendam yang terakumulasi di dalam hati kalian? ya. kalian yang katanya beragama serta beriman, apa yang kalian cari di sini?

pengampunan?

apa yang perlu diampuni jika melakukan dosa saja masih seringkali tidak kalian sadari? atau apa lagi? apa lagi yang kalian cari jika setiap kali datang, kalian hanya menuntut pengampunan ilahi? saya yakin tuhan juga bosan harus mengampuni kalian. kalian datang dengan tuntutan, bukan? lalu apa yang membedakan kalian dengan senoktah beban? lantas apa makna simbol dan ritual itu? meluangkan waktu beberapa jam saja setiap akhir minggu dan kalian pikir itu cukup? hanya mengorbankan waktu saja yang kalian sanggup? lantas sesudahnya mengumbar maki hanya karena berebut keluar di lahan parkiran dengan sesama umat? beradu mulut di koridor tempat ibadat hanya karena masalah personal dari emosi yang nampak dibuat-buat? apa kalian tidak malu? apa definisi ibadah bagi kalian hanya sekedar alokasi waktu tiap minggu? resmi berawal dan selesai dalam hitungan jam yang baru saja berlalu?

tidak ada tendensi saya untuk menggeneralisasi. namun telah saya saksikan sendiri, bagaimana kelakuan kalian yang katanya makhluk beragama dan beriman satu persatu ternyata masih saja sembunyi di balik alasan 'manusiawi'. sementara setiap minggu kalian mohon pengampunan, berupaya mencuci dosa dengan tujuan mendekati kesucian tuhan? dan menganggap tuhan tidak bosan hanya karena predikat penyabar, pengampun, dan penuh kemurah hatian? ternyata benar kalian bajingan.

memang benar apa yang nietzsche katakan berpuluh tahun silam. manusia-manusia macam kalianlah yang sadar tidak sadar telah memenjarakan tuhan. oh maaf... membunuh tuhan. kalian menikamnya lagi. setiap kali kalian berdosa dan tidak kalian akui. karena bagi manusia-manusia macam kalian, bertandang barang satu-dua jam ke rumah ibadah sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kalian makhluk beriman. lalu dosa kalian berhasil terhapuskan. sehingga terbuka lagi peluang untuk mengundang dosa baru. seperti repetisi kelabu. kalian anggap mencuci dosa sama halnya dengan mencuci di binatu.

kita hanya penumpang. tidak lebih tidak kurang. bahtera akan terus mengarung tanpa menunggu. dan bila kalian masih bersikukuh menamai diri kalian makhluk beriman sementara gagal menjawab apa yang saya tanyakan di awal tulisan, kalian benar-benar lelucon yang sama sekali tidak menggelikan.

manusia hanya butuh kemanusiaan. bukan agama. bukan pula dogma, apalagi sejumput iman. dan semoga kalian tidak menuntut pengampunan sebelum kalian merasa layak diampuni. sekarang, maupun nanti.

#pinggir45



11 Sept 2012 / 19.13-20.50

terima kasih karena mau meluangkan waktu barang satu jam untuk bertemu.
saya tidak peduli soal menu makanan tadi. sosok anda jauh lebih menarik untuk diamati.
influenza dan sakit kepala saya hilang. mungkin mereka mengerti, bahwa saya tidak ingin rasa sakit menyerang dan membuat kenangan dalam satu jam ini terbuang hilang.
saya tidak peduli kita batal nonton. toh anda bilang masih bisa beli dvd bajakan. paling tidak, masih memungkinkan di lain kesempatan.

satu jam melihat anda tersenyum seperti dulu…
satu jam melihat anda bersemangat menceritakan hal-hal baru…
satu jam melihat anda…

sudah lebih dari cukup untuk membuat malam seorang pria macam saya menjadi sempurna.
terima kasih.

cermin di kamar mandi

ruang tamu, beberapa bangku reot berebut mencari pantat yang sekiranya sudi untuk merapat.
kamar tengah, televisi tua, radio miskin frekuensi sedari rezim orba, foto keluarga, ayah, ibu, seorang perempuan.
dapur, wajan berminyak, lemari porselen yang pincang bertahan agar seimbang, selang kompor gas yang sesekali mampet.
dan kamar mandi, yang ternyata bukan lagi sekadar tempat mandi atau basuh-basuh diri

siang ini, anak kepala sekolah gantung diri di kamar mandi perempuan. ada yang bilang dia dihamili pacarnya. yang lain bilang dia stress karena tidak kuat menghadapi ujian nasional. tetapi ada juga yang bilang kalau dia tidak tahan dengan bapaknya yang suka main perempuan. korbannya? siapa lagi kalau bukan teman-teman mainnya si anak perempuan.

baru kali itu aku melihat kepala sekolah berteriak kesetanan. dia memukul-mukuli tembok sampai cincin batu akiknya pecah. kepalan tangannya luluh-lantah. tetapi agaknya dia tidak terlalu peduli. wajah anak perempuannya yang tergantung lemah pastilah lebih menyakitkan mata pun hati ketimbang jemarinya yang patah dan berdarah-darah.

kepala sekolah lalu pingsan. digotong ke uks. sampai detik ini dia belum siuman.

tidak lama, ani, salah satu teman si anak perempuan, juga berteriak. hanya saja teriakannya lebih mirip anjing gila yang menyalak. dia memandang nyalang ke arah uks. lalu… perlu kerja sama dari tiga guru untuk menghentikannya menerjang pintu. apa sesungguhnya niat ani, aku tidak tahu. yang jelas, sesaat setelah ditenangkan oleh pak bram, ani menangis tanpa suara. namun aku masih bisa membaca gerak bibirnya. 'maafin aku' 'maafin aku' katanya. siapa yang memberi dan siapa yang meminta maaf, yang mati, yang pingsan, atau yang tersedu sedan, entahlah.

mayat si anak perempuan diturunkan. tali pramuka yang menjerat lehernya berasal dari gudang olah raga. kalau yang ini jelas aku tahu. karena ada dua ruas bambu teronggok di pojok yang seharusnya berbentuk tandu. lucu. baru sebulan lalu dia diangkut tim medis dengan tandu ini karena cedera kaki saat latihan senam di aula. sekarang nyawanya harus hilang dibawa tali dari tandu yang sama. sungguh ironi paham benar caranya bercanda.

ani pingsan menyusul kepala sekolah. murid-murid mulai membingar. ada yang bilang ani kesurupan arwah si anak perempuan. yang lain bilang dia stress karena tidak kuat menghadapi kenyataan. tetapi ada juga yang bilang kalau dia diam-diam menahan dendam karena tidak tahan menghadapi kebiasaan jelek kepala sekolah, yang seolah mencekik anak perempuannya perlahan-lahan.

koridor semakin bising. aku tidak tahan dan memilih untuk berpaling. menyusuri tangga menuju kamar mandi pria untuk membasuh muka. pemandangan tadi, yang datang bertubi-tubi, membuat mulutku pahit dan mataku berjengit.

aku baru menggapai keran wastafel ketika mendengar rintihan pelan dari balik salah satu bilik. ada orang…

aku juga bisa langsung tahu siapa orang yang terisak di situ. dia tidak nampak sedari tadi. padahal dia yang seharusnya berteriak paling keras dari antara kami. pacar si anak perempuan…

aku tidak jadi cuci muka. mulutku tidak lagi pahit dan mataku sudah berhenti berjengit. tapi kini nafasku memburu. seorang murid perempuan baru saja tewas gantung diri akibat ulah bapaknya sendiri, lantas ironi melengkapinya dengan menjadikan seutas tali pramuka beralih fungsi. sang bapak yang juga kepala sekolah lepas kendali melihat anaknya mati, dan retakan tembok di kamar mandi menjadi saksi betapa tidak kuasa dirinya menghindari tragedi. teman si anak perempuan murka sekaligus luka karena dia tidak tahu penyebab kematiannya, dan dia meminta pengampunan terakhir atas dosa serta rasa kecewa yang tersimplifikasi dalam satu kata, 'takdir'. pacar si anak perempuan berurai air mata mendapati kekasihnya memilih mati lewat pertolongan tali, walaupun sesungguhnya dia ketakutan luar biasa, tidak ingin dihantui arwah si anak perempuan yang mungkin mengetahui bahwa dirinya pernah sekali dua kali berhubungan badan dengan temannya yang baru saja pingsan.

hanya satu yang mati. selebihnya cuma sekedar cerita pelengkap yang menambah efek dramatisasi. aktor utama sudah tergantung. dan para figuran sebaiknya cukup bertugas menjadi lakon pendukung. penggarapan dinamika alur cerita telah rampung. interpretasi naskah sudah berakhir. babak akhir dari skenario getir beraroma satir.


setelah itu aku pulang ke rumah.

oh, jika aku pulang lebih awal, biasanya di depan halaman suka terparkir sedan mewah. bukan, bukan punyaku. gaji bapakku bertahun-tahun ditambah santunan berkala tidak akan sanggup mencicil mobil yang lebih murah, atau yang paling murah sekalipun. aku perhatikan sebentar, sedan mewah kali ini berwarna hitam. bukan merah marun seperti beberapa waktu lalu. artinya, bukan pak bram yang sedang singgah bertamu. pak bimo? pak widodo? atau mungkin orang baru? yang jelas pria-pria ini selalu datang membawa segepok nafsu. aku membuka pintu.

seketika aku dikepung hening. hening hingga terasa sedikit berdenging. terlalu hening untuk sebuah rumah kecil yang sedang kedatangan tamu dengan sedan mewah. berarti kakak perempuanku belum pulang. oh, tentu saja belum. jika sudah, biasanya di halaman depan rumahku akan terpampang satu lagi hiasan kendaraan mewah milik pacarnya. kadang roda empat, kadang roda dua. berhubung kakak sedang tidak ada, aku rasa tidak perlu sopan santun juga ramah tamah. aku nyelonong masuk rumah.

aku menuju kamar ibu. satu-satunya sumber suara dari segala arah rumah. benar saja, sudah kuduga, suara mendesah. dengan nada tertatih yang melantunkan gairah. aku masuk sebisa mungkin menahan amarah…

"bu, siang tadi kakak mati gantung diri. bapak tidak sadarkan diri karena kalut menahan emosi. dan setelah aku meninggalkan kamar ini, ibu boleh tetap melanjutkan ritual siang berulang kali, kapan saja, dengan banyak laki-laki. toh bapak belum tentu berani pulang dalam beberapa hari…"

***

ruang tamu, beberapa bangku reot berebut mencari pantat yang sekiranya sudi untuk merapat.
kamar tengah, televisi tua, radio miskin frekuensi sedari rezim orba, foto keluarga, ayah, ibu, tanpa keturunan.
dapur, wajan berminyak, lemari porselen yang pincang bertahan agar seimbang, selang kompor gas yang sesekali mampet.
dan kamar mandi, yang ternyata bukan lagi sekadar tempat mandi atau basuh-basuh diri

ada tuhan dalam senggama

Sepasang manusia meneriakkan tuhan atas nama senggama.

Birahi yang dilarang agama dengan dalih sakramen suci, ternyata harus pupus diserobot naluri.

Kala itu, tuhan tersublim dalam gugusan gairah. Peluh. Bahkan bercak darah.
Tuhan dianggap cinta, dan cinta butuh senggama, maka tuhan menjadi seruan nikmat sementara.


Saya pernah menyaksikan sepasang manusia yang tengah bercinta.
Masing-masing berlomba meneriakkan nama tuhan lebih keras ketimbang nama pasangannya.
Mata mereka terpejam, lidah mereka kelu bertemu, kelamin mereka beradu, nafas mereka satu satu.
Apa yang mereka bayangkan, satu sama lain saya yakin tiada saling tahu. Tidak juga tuhan yang terlanjur bisu.


Karena ketika sepasang manusia meneriakkan tuhan atas nama senggama.
Ketika orgasme membuncah dan raga bergelora.
Manusia telah lupa akan tuhan yang hadir di mana-mana.
Tidak terkecuali di dalam sebulir sperma.



Dan mereka akan segera berhenti mempercayai ilahi sesaat setelah mencapai ejakulasi.

balasan surat cinta komandan lapangan


pertama kali saya ditugasi menjadi komandan lapangan orientasi mahasiswa baru 2012, saya sama sekali nggak tau apa-apa. kala itu hanya tinggal dua minggu lagi sebelum hari pelaksanaan. yang ada di kepala saya cuma 'oh paling nanti harus ikut upacara', 'oh paling nanti harus ngasih wejangan', atau 'oh' 'oh' formalitas lainnya. lantas setelah dibrief oleh mas hargyo, barulah saya terkena tremor stadium ringan. tremor yang membuat 'oh' 'oh' sebelumnya tergantikan oleh 'oh, ternyata jauh lebih berat dari yang saya duga…'

barangkali predikat komandan lapangan dapat dikatakan sebagai sutradara dalam perspektif tertentu. karena menurut saya, posisi inilah yang memandu, mengarahkan, sekaligus bertanggung jawab penuh terhadap jalannya acara. tremor ringan saya makin intens setiap kali saya teringat bahwa akan ada lebih dari 1000 kepala yang harus diarahkan dalam acara ini. gila… sanggupkah saya?

tetapi saya melihat teman-teman panitia. saya memperhatikan upaya dan kinerja mereka. dan saya melihat usaha, saya melihat dedikasi yang tidak sanggup dimaknai dengan bahasa, saya melihat misi yang sama dari ratusan kepala yang ada. saya harus sanggup. saya harus mampu. dan tanpa disadari, saya semakin termotivasi. sebuah harapan untuk mengubah generasi berikutnya menjadi lebih baik. jauh lebih baik. sehingga membikin saya tidak mungkin tidak merasa tertarik…

saya percaya, 

'di balik waktu tidur yang terbuang dan lelah yang tidak kunjung berkurang, akan timbul cerita tentang kelahiran seorang pemenang. itulah sebabnya kami semua berjuang. semampunya. sekuatnya…'

meski begitu, kesan yang awalnya saya dapat dari mahasiswa baru justru berbanding terbalik. saya mendengar kabar bahwa banyak mahasiswa baru yang mengeluh karena tugas. bahkan tidak sedikit pula yang mencerca acara dan memaki panitia. padahal, tugas-tugas yang diberikan tidak jauh berbeda dengan omb pada tahun-tahun sebelumnya. sempet kesel, sih. kesel banget malah. ini angkatan baru kenapa manja-manja sekali anaknya. to make it even worse, ada yang orang tuanya ikutan ngomel. lah ini yang dikasih tugas anaknya kenapa jadi orang tuanya yang repot? nalar saya gagal mencerna. yang ikut omb ini siswa atau orang tuanya? apa perlu orang tuanya diorientasikan juga?

lalu saya mencoba berpikir positif. 'yaa, barangkali mereka belum memahami arti di balik tugas yang diberikan', 'barangkali mereka belum menyadari manfaat dari tugas yang harus dikerjakan'… yasudahlah… diredam saja dulu emosinya.

hingga tibalah hari itu. hari pertama saya menjejak podium bersenjatakan megaphone. hari pertama saya mengambil alih acara. hari yang sampai kini masih membuat saya merinding dan merasa sedikit jumawa karena resmi menjadi pemberi instruksi. hahaha…

singkatnya, saya bangga luar biasa. tidak hanya kepada rekan-rekan panitia, namun juga kepada rekan-rekan mahasiswa baru 2012. mereka telah memperlihatkan progress yang tidak sedikit. mereka berhasil melewati hari-hari yang sulit. yang melelahkan. yang menguras tenaga, stamina, secara individu maupun secara kelompok. ini adalah otentisitas dari komitmen yang terealisasi sempurna. mereka ada untuk rekan-rekannya. begitu juga sebaliknya. sehingga jelas, perbedaan di dalam diri masing-masing justru menjadi pelengkap di dalam keseragaman yang mereka miliki. university in diversity. seragam meski beragam. and i believe nothing could be more romantic than this short story.

rangkaian acara ini ditutup dengan refleksi diri dan dentuman kembang api. kami semua berdiri, berteriak, mengelu-elukan esensi solidaritas yang sejatinya kompak. persis di saat itulah sekat di antara kami bertolak. bahwa ikatan kami lebih dari sekedar rekan kerja. lebih dari kamerad berstatus mahasiswa. lebih dari segalanya, kami adalah satu keluarga.

oleh karena itu, biarkan saya tutup narasi ini dengan romantika klise picisan yang agaknya sudah sering kalian dengar. "one for all and all for one". karena seperti yang selalu saya ucapkan. saya pribadi, khususnya, memiliki dan menaruh harapan sebesar-besarnya kepada kalian generasi baru. menjadi mahasiswa adalah hal yang paling menyenangkan sekaligus menyiksa. profesi ini menuntut dahaga yang tidak pernah terpuaskan oleh ilmu, sekaligus menyajikan realitas sosial yang seakan membuat kita merasa tertipu. akan ada ambiguitas temporer pun probabilitas yang bergerilya tanpa batas. kita perlu berhati-hati memaknai, perlu ekstra usaha untuk menempatkan diri. sehingga aktualisasi yang kita capai tidak pernah menuai kata 'sesal' di kemudian hari.

mulai detik ini, tidak ada lagi kata saya, tidak ada lagi kata kalian, kita telah menjadi keluarga. keluarga besar mahasiswa dengan tugas serta komitmen yang sejatinya nggak akan ada habisnya…

salam hangat. karya terbaik. untuk almamater. persada. dan sesama.