reminiscence

.photo from Ready Febrian.
- Sabtu, 25 Agustus 12 -

sekitar pukul 10 malam, ayah teman saya meninggal. teman saya menangis. pertama kalinya saya melihat dia menangis. siapa juga yang tidak menangis mendengar kabar duka, terutama kabar duka yang melibatkan kepergian orang tua... singkatnya, teman saya menangis. dan dari sela-sela nafasnya saya mendengar suara...


gue belum ngapa-ngapain...

anak ini salah satu teman saya yang paling kuat. merantau dari kalimantan hingga ke sudut jawa pastilah melapisinya dengan mental baja. saya ngilu ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya. ngilu. seperti getah yang merambat keluar dari sayatan kayu. karena saya juga belum berbuat apa-apa untuk orang tua. belum ada prestasi, nihil pencapaian, atau apa yang bisa saya banggakan. 

lalu di kepala ini muncul pikiran-pikiran lain. pikiran mengerikan karena saya mencoba menempatkan diri di posisinya. pikiran yang dengan cepat memaksa saya menahan air mata. belum bisa... walau nanti akan tiba saatnya...

tapi, melihatnya menangis seperti itu saya yakin, bahwa setiap kabar duka menyimpan kekuatan yang niscaya muncul di lain waktu. kekuatan yang -meskipun tidak langsung- akan tertempa secara simultan dalam diri mereka yang menerima pesan. ini bukanlah kekuatan untuk melawan. melainkan kekuatan untuk menerima. ada determinasi yang jelas antar keduanya. dan persis di saat itulah arti kata 'tabah' tiba-tiba menjadi sulit dicerna. di sisi lain, udara seolah berubah menjadi barang langka untuk sementara.

hari ini ayahnya meninggal dan dia menangis... barangkali setahun kedepan dirinya cukup tersenyum diliputi kenangan, dan sepuluh tahun kemudian, anak ini akan kembali ke makam sang ayah, membawa serta segala pencapaiannya...

pada akhirnya, ada emosi yang bergulir perlahan pada satu topik. langkah demi langkah dari yang membuatnya meraung malam ini, hingga yang membuatnya tersenyum suatu saat nanti. yaitu kekuatan dari balik kabar duka yang sunyi.