#pinggir44

Rahasia by Payung Teduh by Rahne

#pinggir,

malam ini, sepucuk payung nan teduh bicara tentang rahasia di satu sore yang tidak lagi ada. bulir pasir melayang-layang di udara. dan dua manusia berteriak sekencang-kencangnya. mereka bicara dalam diam. dalam bisu yang menjerit kencang sesaat sebelum tenggelam.

ilustrasi yang kemudian muncul dalam pikiran saya adalah anda. kita, lebih tepatnya.

duduk berdua bersama malam, lampu tungsten jalan, dua kaleng bir, serta nyamuk yang kelaparan. di atas genteng merah bersampul pendar bulan. 

kita bicara dalam diam. tentang tahun-tahun yang terpisahkan, tentang kopi yang gagal diracik, tentang potret kita di belakang alat musik, tentang pesiar yang pernah karam di tengah jalan karena sang nakhoda melepas roda kemudi begitu saja ketika air pasang datang, tidak terkecuali tentang seorang barista yang abai dan perkusi yang dibuatnya gontai. bersama malam, kita bicara banyak hal. dalam diam.

lalu mata kita bertemu…
sepotong rahasia memaknai tatapan itu…

cukup sampai di sini. tolong berhenti. berhenti menanti.


malam ini, sepucuk payung nan teduh bicara tentang rahasia di satu sore yang tidak lagi ada. cahaya menjalari subuh. dan seorang manusia menemukan hatinya tinggal separuh. dia diam. dalam bisu yang menjerit kencang sesaat sebelum tenggelam. lalu kembali menanti di pinggir jalan.

#pinggir43


the reason why i've been keeping your portrait inside my wallet. that portrait which portrays you playing drums. 
that portrait, which happens to be the only perplexed portrait i've portrayed so far.

#pinggir42

#pinggir,

saya pernah dengar seorang bodoh yang bilang kalau kesempatan kedua adalah fatamorgana. benar. dia bodoh betul ketika menganggap fatamorgana adalah kesia-siaan. yang dalam hal ini, kesia-siaan mengharap. karena selama harapan itu masih ada, saya rasa mengharapkan sesuatu yang tidak diharapkan juga tidak ada salahnya. keduanya memiliki peluang yang seimbang untuk muncul. keduanya memiliki konsekuensi. harapan tak ubahnya tragedi. anda tahu. kita sama-sama tahu soal itu. semuanya cuma soal waktu. sekalipun waktu seringkali mengecewakan di saat-saat tertentu.

waktu.

lima tahun yang lalu, kita masih mengenakan seragam. masih harus bangun pagi setiap hari demi mengejar gerbang yang setelah pukul tujuh nanti dikunci satpam.

siapa yang tidak rindu dengan masa lalu?



paling tidak,
saya harap anda tidak.

LDR


daah. take care… aku menutup telepon.
dari pacar? muka lo sumringah gitu.
kenapa? oh, bukan. belom resmi. hehe…
pedekate jangan kelamaan. nanti disangkanya lo ngegantungin. lagian kayaknya udah mesra banget di telepon.
aku diam.

saran gue sih tembak aja, bro. secepatnya…
aku diam.

oh gue tau. dia anak kampus ya? lo males kegep sama anak-anak lain ya kalo akhirnya jadian beneran?
aku diam.

udah cuek aja. penting amat lo nanggepin komentar orang…
aku diam.

ini sekarang lo bengong lagi mikir caranya nembak atau gimana sih?
aku diam.

kalau mau nyamperin dia sekarang, gue temenin deh.
aku diam.

doi tinggal di mana?
di masa depan. aku pura-pura sibuk menenggak kopi.

dia diam.

#pinggir41



kalau seandainya ada lebih banyak kenangan tentang hal-hal yang tidak pernah terjadi, apa  sia-sia saja saya menunggu lima tahun ini?

pada sebuah percakapan yang mungkin tidak pernah terjadi (2)

"lo nganggep gue apa, sih?"

pernah denger istilah 'instalasi memori'? kenangan tentang kita berdua mungkin emang nggak banyak. tapi ada kalanya lo berarti di saat lo nggak ada.
ada kalanya lo berarti justru karena lo bukan siapa-siapa.
dan ada kalanya lo berarti ketika hubungan kita nggak punya satu definisi yang pasti.
mirip instalasi memori.
karena memori itu sendiri nggak mungkin bisa dijadikan objek instalasi.

"temen…"

Oath - Part I

my first tattoo : a remington standard typewriter (typing machine) no. 7 serial #s 818144 & 241692 which was made at 1897 by remington company.


consider this as the beginning of forthcoming oaths. an oath to emphasize that the moment this tattoo was scratched, shaded, sticked, bleed, and lastly integrated, i would never quit writing for the rest of my time.

since writing itself is like working for eternity. isn't that so?



throughout my writings, i wish that my children, grandchildren, all of my future generations will be allowed to know, what kind of person Pandji Putranda was once. let them sense his anxiousness, his fantasy, his obsession, his imagination, his anger, his disenchantment, his contentment, also his naiveness and dumbness.

this is my first oath.
seven more to go.