2-1



bapa kami di dalam surga, dimuliakanlah namamu, datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakmu, di atas bumi seperti di dalam surga…
delapan…
sepuluh… 
tiga belas tentara musuh ia robohkan dengan senapan mesin otomatis sambil terus merapal doa. memohon perlindungan tuhan agar selamat dari pertempuran sialan ini.

berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

dua puluh menit yang lalu, konvoi tiga peleton yang dipimpinnya disergap gerilyawan. padahal hari ini mereka diperintahkan untuk kembali ke pangkalan setelah berbulan-bulan menginvasi daerah lawan. 

ia menunggu dibebastugaskan. sama seperti rekan-rekan tentaranya, betapa ia merindu kampung halaman. merindu sang ibu yang menunggu kepulangannya dalam keadaan sakit-sakitan.

dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat, am…
kata penutup doa yang membatin lirih di dalam hatinya berhenti. ada peluru yang muncul tanpa permisi. ia jatuh tersungkur membentur bumi.

detik berikutnya, seorang tentara musuh berlari ke arahnya. mengambil senapan mesin serta amunisinya. memastikan dirinya benar-benar mati dengan menghadiahi tiga butir peluru lagi.

sambil mengucap doa bapa kami.

gerbang


image taken from Dini Budiayu's Album : sometimes, bitter is sweeter to taste

dorong...

dia sadar seketika dan langsung membelalak liar membuka mata. suara itu seperti bersumber dari dalam kepala. lantang sekaligus bergema. disusul respon panca inderanya yang seperti melambat. membuat segalanya terasa mengambang pelan tersendat, sekalipun begitu khidmat.

ini di mana? gue pingsan ya? gila... udah berapa lama gue pingsan?

memori terakhir yang terlacak otaknya menunjukkan bahwa dia terjatuh dari papan panjat tebing kampus. paling tidak dari ketinggian 11 meter. bubuk kapur di tangannya tersapu keringat. dia tergelincir sebelum pengaman sempat ditambat. kecerobohan yang mirip kecelakaan. hanya saja dengan tingkat resiko yang begitu gawat.

ia mencoba bergerak…

anjing! bangsat!
mendadak, waktu mengembalikan segalanya seperti semula. menuju kecepatan normal. tubuhnya menegang hingga hampir kejang. hanya rambutnya yang berkibar kelebat supercepat. meski gelap pekat menaungi pandangannya, dia yakin dirinya tengah jatuh. terjun bebas menuju palung yang seolah belum pernah tersentuh. apapun itu. tubuhnya melaju bersama kecepatan anomali. menuju dasar kedalaman tanpa definisi.

lagi... terus dorong...

kembali dia tersentak. suara apa ini? suara siapa ini? tangannya yang berusaha meraih-raih, menggapai-gapai, hanya mengibas udara bebas. dia tahu ini bukan mimpi karena setiap pergerakan menstimulasi rasa nyeri di punggung. dan dia hampir yakin kalau kaki kirinya mengalami dislokasi sendi.

bukan mimpi. bukan juga mati. masa kalau udah mati masih bisa ngerasa sakit begini? lalu apa ini? sebentar… apa… itu?
matanya menangkap sesuatu di bawah. titik putih kecil bercahaya. dia kembali meraih-raih, menggapai-gapai, kegelapan pekat membuat kelima panca inderanya gagal berfungsi optimal. masing-masing seperti miskoordinasi. sehingga antara dirinya dengan sang titik putih, tercantum disorientasi letak yang tidak berjarak. dia kembali meraih-raih, menggapai-gapai.

dorong... ayo, sedikit lagi...

kali ini refleksnya semakin sigap. kedua tangannya langsung menyambar telinga dan lekas menutupnya rapat-rapat. suara yang sama. lebih keras dan menggema ketimbang sebelumnya. dia kerjapkan mata berulang kali. berharap memperoleh visualisasi, biar cuma seutas tali prusik kesayangannya, atau harness kumal yang dia beli setengah harga di toko marinir sebelah pasar pramuka, atau apa saja. bebas. dia mau matanya kembali berfungsi.

pelan saja... ayo...

titik putih kecil bercahaya di bawahnya perlahan mulai membesar. dia perhatikan dengan seksama sambil memicingkan mata. ternyata tidak begitu silau, malah nampak berpendar.

apa itu dasarnya? seperti ubin putih yang baru saja dipel dari noda. ah… sebentar lagi juga warnanya berubah keciprat darah. apalagi mendarat kepala di bawah.

dan seketika titik itu resmi terbuka. sepertinya sang cahaya berniat untuk menyergap tanpa terlebih dahulu memberi aba-aba, atau tanpa beban tertentu untuk menunda. tetapi harapannya terkabul. fragmen-fragmen gambar mulai muncul. matanya kembali pulih. pandangannya merambat kian jernih.

sedikit lagi...

dia melihat papan panjat tebing kampus. tangan kirinya yang sedikit gemetar menopang badan pada poin tertinggi sebelum overhang. sementara tangan kanannya yang mencengkeram carabiner screw terentang jauh ke atas, menuju lubang pin pengaman untuk jalur tali menuju puncak. salah seorang teman mapalanya, Preva, sedang berjuang menembus overhang persis di atas. sedangkan Lasse sibuk membelay Safa yang berada di sampingnya dari bawah.

dari ketinggian segini, gedung kampus terlihat semakin mirip ruko. lapangan futsal juga tidak lebih besar dari papan catur. dia tersenyum. tubuhnya sedikit terayun. ototnya meregang. nafasnya menderu.

dan bubuk kapur di tangan kirinya lenyap disapu keringat.

sudah mulai keluar...

langit begitu cerah. dia mendapati dirinya sedang tidur-tiduran santai di tanah. ada yang berlari menuju arahnya. satu orang… dua… banyak. beberapa jongkok dengan muka tegang. salah satunya Ardo. wajahnya mendekat, pucat, mulutnya komat kamit tanpa suara cukup lama. Ardo, Fian, Hero, Ino... semuanya memancarkan ekspresi serupa.

ini pada kenapa sih? apa? gue nggak denger lo ngomong apa.
tahan... atur nafasnya...

oh jadi yang teriak-teriak nggak karuan dari tadi itu lo?! kampret! bangsat! apaan tuh maksudnya? apanya yang dikit lagi?
terus begitu... konstan... sedikit lagiii...

apaan terus terus?! nggak jelas lo! udah sana. ganggu tidur gue aja…

sekali lagi...!

hah?





dan segalanya berhenti. hilang. kembali menghitam. diiringi bunyi gedebum keras.

selamat, bu.
bayi laki-laki...

wanita itu menangis. memeluk bayinya sambil berurai air mata. menamainya Pandji. sambil berdoa dan berharap agar bayi ini tumbuh menjadi seorang atlit panjat tebing kala dewasa nanti.

62


 dua puluh tiga tahun dan masih mengalami kelabilan seorang remaja. kapan saya layak dianggap dewasa? oh sebelum kalian lanjut baca, saya peringatkan kalau postingan ini tidak lebih dari sekedar upaya pembelaan diri yang sia-sia. jadi yaa… percuma. mending baca blog lain saja.

begini… belakangan ini timbul asumsi aneh (atau malah norak? terserah), "saya nggak cocok di bidang akademis". alasan pertama adalah karena dunia akademis selalu menuntut formalitas yang nggak pernah jelas. selalu saja ada hal baku yang tidak perlu. selalu ada sistem yang membatasi keinginan untuk lebih menggali atau mengobservasi. dan yang lebih parah, selalu ada standarisasi matematis yang bisa dengan entengnya mengklasifikasi kadar ilmu seseorang (ini paling norak). makanya saya yakin seyakin yakinnya kalau pelajar jaman sekarang lebih mengejar absen ketimbang substansi matakuliah yang ditawarkan para pengajar. saya makin heran. ini institusi pendidikan atau pabrik grosiran? saya ini anak sekolahan atau mie instan? kalau premis-premis remeh di atas saya satukan ke dalam konklusi (yang juga remeh), bunyinya akan begini : dunia akademis adalah metode struktural yang mengubah seorang terpelajar menjadi sekedar unit bipedal penerima perintah. menjadi robot yang imun terhadap ilmu karena tidak dirancang untuk bertambah maju.

alasan kedua barangkali lebih bersifat personal. saya merasa dikutuk setiap kali mengikuti alur kurikulum. entah kenapa. saya pernah kuliah ekonomi karena sempat bercita-cita menjadi seorang analis perbankan. hasilnya? saya benci ekonomi mikro-makro sejadi-jadinya. negeri ini terlalu jujur untuk korup sementara terlalu korup untuk dicitrakan jujur. paradoks bolak balik nggak karuan. selain hitungan variabel yang ribet, saya juga benci sama sistem perekonomian Indonesia yang dipenuhi birokrat-birokrat bangsat. semuanya korup. semuanya suap. semuanya cari aman dibalik peluru aparat. saya juga benci sama investor (alm WS Rendra lebih menyukai istilah 'Cukong') dua muka yang ngakunya investasi padahal kenyataannya eksploitasi. dan saya paling benci sama ekonom-ekonom mentereng yang orasi soal sosialisme pasar sementara mereka lebih milih naik mercy ketimbang jalan kaki. tai.

saya pindah kuliah, masuk ilmu komunikasi dan ambil konsentrasi jurnalistik. memang sedari sekolah menengah, saya sempat kepikiran mau jadi reporter lapangan dengan mimpi bergabung bersama tim national geographic. taunya sama aja. awalnya, saya kira hakekat ilmu komunikasi yang lebih multidisipliner (ketimbang fakultas lainnya) mampu membuka gerbang seluas mungkin untuk beragam ilmu baru. jadi, kalaupun saya bete dengan salah satu cabang ilmu, masih ada cabang-cabang lain yang siap ditomploki tanpa perlu merasa rugi. tetapi saya kambuh lagi. semakin saya mempelajari jurnalistik, semakin saya membaca studi historis media massa, semakin saya memperhatikan sistematika jalannya regulasi (yang subhanaoloh kacau), semakin saya mengenal varian wartawan (mulai dari yang jujur hingga mental amplop selipan buat jajan), semakin saya ilfil setengah mati. jurnalistik tak ubahnya ilmu kejam yang siap merekayasa realita menjadi suguhan profan, untuk selanjutnya dikemas ke dalam secarik koran yang biasa dibaca orang sambil sarapan. jurnalistik Indonesia berdiri di posisi kejar setoran. ia merekonstruksi kebenaran dari bahan dasar kebohongan yang diulang-ulang. akurasi? fakta? kredibilitas data? percayalah. itu juga salah satu bagian dari iklan.

untung dulu saya nggak masuk fakultas sastra. saya takut kalau sampai nanti malah jadi berbalik membenci seperti sekarang saya membenci ilmu ekonomi dan komunikasi. saya mencintai sastra justru karena kesederhanaannya. sastra adalah sarana saya melepas penat untuk sejenak merapal mantra melalui kata. seperti upaya pra-reflektif merehabilitasi diri. apa jadinya kalau sastra sampai masuk kurikulum dan dibakukan oleh metode perkuliahan perguruan tinggi? kepada siapa lagi saya bisa menulis? bisa ngamuk saya nanti.

alasan yang ketiga adalah karena saya percaya, bahwa tidak harus menjadi ilmuwan untuk bisa memperoleh kebebasan belajar. komitmen dalam dunia ilmu pengetahuan justru terjadi pada mereka yang menolak untuk diam dalam keajegan. di sini, ajeg yang saya maksud adalah rasa puas diri hanya karena semata-mata berhasil menemukan bukti empirik. sementara ilmu pengetahuan baru dianggap sah karena hanya bersinggungan dengan ranah fisik ataupun kalkulasi numerik. Nikola Tesla pernah bilang, "The day science begins to study non-physical phenomena, it will make more progress in one decade than in all the previous centuries of its existence…"

bahwa ada sesuatu di dalam diri kita. sesuatu yang jauh melampaui dugaan dan hipotesa psikologis konvensional. sesuatu yang berada di luar sekaligus di dalam fisik. yaitu spirit. kebebasan mengeksplorasi ilmu yang saya dambakan berkaitan dengan kebebasan untuk memperoleh ilmu semacam itu. tetapi bagaimana mungkin hal itu dilakukan jika fenomena metafisik dan elemen-elemen spiritualitas tidak disejajarkan dengan term ilmu pengetahuan oleh klausul ilmu pendidikan jaman sekarang? secara fisik, manusia akan selalu dijegal keterbatasan. namun secara spirit, inferioritas kita akan menemukan caranya sendiri untuk bersinkronisasi dengan dimensi lain dari ilmu pengetahuan. gampangnya : umur manusia hanya cukup untuk mengembara hingga ke bulan. ketimbang stagnan di ranah pengetahuan konvensional (yang selalu berusaha mencari cara, materi, perangkat eksternal) demi menggapai belahan antariksa terjauh atau terluar, mengapa tidak mencoba menerapkan metode baru atau metode alternatif? tepatnya metode yang melibatkan unsur-unsur spiritual dari perangkat internal manusia itu sendiri? ini prinsip dasar yin yang, alpha omega, dan lain-lainnya yang mengibaratkan manusia sebagai dua sisi koin dalam satu kesatuan. kita tidak mungkin mengabaikan nilai immaterial dan menggantungkan sepenuhnya kepada nilai material. antara tesis dan antitesis, akan selalu ada sintesa yang mengasosiasikan keduanya.

terakhir, alasan keempat. nah, alasan ini yang paling masuk akal. alasan ini lebih bersifat spontan, namun saya yakin setiap pelajar akan berpendapat serupa. alasan keempat mengapa saya tidak cocok di bidang akademis, adalah karena saya malas ikut ujian akhir semester. apalagi ujian tertulis.

#pinggir40



i just don't know how to stop...



ketika anda semakin merasa bersalah karena mulai membanding-bandingkan orang yang sama. antara kini, dengan orang yang pernah anda kenal sebelumnya.

sebab waktu telah mengubahnya menjadi berbeda… 


i just don't know how to stop...

please tell me,
tell me to stop...

61

musik : untuk segenap idealisme, utopia, serta usaha yang harus selalu ditempa


eksistensi musik di jagat raya jauh melampaui kemunculan manusia maupun makhluk hidup lainnya. difusi antar dimensi, suara, dan nuansa adalah bahan dasar pembentuk musik yang natural. yang alami. manusia hanya memanifestasikan keahliannya untuk merekonstruksi dan mengkreasikan suara-suara tadi menjadi sesuatu yang dapat mereka nikmati. juga sesuatu yang dekat dengan mereka secara personal. antara musik dan manusia, keduanya saling berkelindan dan bersimbiosa dalam harmoni. itulah mengapa banyak yang bilang bahwa bahasa musik adalah bahasa universal yang dapat dimengerti tanpa perlu terlebih dahulu dimaknai.


belum genap setahun sejak saya bergabung sebagai reporter di majalah metronome: the universal language of music, sudah cukup banyak pemahaman baru yang saya dapat. khususnya   mengenai fenomena musik lokal (tanah air) yang belakangan ini nampak terjebak dalam arus dekadensi temporer (atau malah permanen? entah), di mana musik lebih dipandang sebagai komoditi ketimbang sebagai hasil produksi kreatif terhadap seni. singkatnya : upaya komodifikasi atas karya seni itu sendiri.

sebagai seseorang yang mencintai musik luar dalam, saya menganggap opini-opini yang dituturkan oleh beberapa musisi melalui sesi wawancara langsung sangatlah menarik, meskipun saya maklum bahwa tidak semua orang memiliki minat (apalagi pendapat) yang sama terhadap musik. begitu ajaibnya karakteristik sebuah musik hingga mampu memberikan efek yang berbeda-beda bagi masing-masing orang yang mendengarkannya. hanya saja, bagi saya ini bukan sekedar masalah selera. lebih dalam dari itu, ini menyangkut soal apresiasi seni dan budaya yang seringkali kita lupa. padahal, banyak dari kita sering berujar mengenai orisinalitas budaya sebagai bumbu utama dalam upaya pembentukan jati diri bangsa. benar, hal-hal semacam itulah yang agaknya semakin kita lupakan begitu saja.

dalam konteks musik itu sendiri, scene musik lokal (Indonesia) sangat luar biasa. banyak varian musisi dari varian daerah yang dengan berani memainkan varian genre serta varian eksplorasi suara. hal ini menunjukkan antusiasme yang tidak kecil di kalangan insan-insan Indonesia terhadap perkembangan musik tanah air. sejauh yang saya perhatikan, dinamika perkembangan musik Indonesia dapat dikatakan paling tinggi, paling potensial, dan paling berpengaruh di level Asia Tenggara. bukankah hal ini membanggakan? saya yakin, keanekaragaman latar belakang, budaya, kultur, dan hal-hal esensial lainnya yang melekat dalam diri masing-masing individu masyarakat juga memberikan kontribusi yang tidak kecil terhadap perkembangan jenis musik yang tersedia.

sementara di sisi lain, perkembangan teknologi juga turut mempercepat laju perkembangan musik. boleh dibilang, perkembangan teknologi berbanding lurus dengan perkembangan inspirasi di benak tiap-tiap orang. dan karenanya, semakin berkembang pula warna-warna dan keanekaragaman nuansa yang muncul di dalam dunia musik. dalam sehari, kita bisa mendengar ratusan lagu, bisa mengunduh ratusan lagu, mengunggah ratusan lagu, serta hal-hal lainnya dengan menggunakan bantuan internet. dan salah satu konsekuensi dari fenomena ini adalah persaingan sengit (yang positif) di kalangan musisi lokal. karena semakin banyak hal baru dan berbeda yang mereka ciptakan, semakin menjamur ragam lagu yang unik dan menarik, dan di saat yang sama kemampuan eksplorasi dari tiap-tiap musisi akan semakin luas.

Musik dan Pasar
salah satu musisi lokal yang sempat saya wawancarai, Leonardo Ringo, punya opininya sendiri mengenai scene musik tanah air. menurutnya, tahun-tahun belakangan ini merupakan tahun-tahun terburuk dalam sejarah musik lokal. alasannya sederhana : banyak musisi kurang berkualitas yang justru lebih digemari khalayak umum ketimbang musisi-musisi lainnya (yang berkualitas dan berani tampil dengan idealismenya masing-masing). mereka-mereka inilah yang entah kenapa mampu mendominasi pasar dan lambat laun naik peringkat menjadi scene mainstream.

padahal, jika menengok beberapa dekade silam, khususnya pada era 60-70an, scene mainstream Indonesia justru diisi oleh musisi-musisi berkualitas yang sangat berbobot. kita mengenal nama-nama seperti Godbless, The Rollies, Chrisye, dan lainnya di panggung mainstream. bandingkan dengan musisi-musisi mainstream kebanyakan jaman sekarang yang hanya bisa menawarkan musik monoton dan hanya memiliki nilai popularitas berjangka pendek.

apabila kata-kata "kesadaran musik dalam diri seseorang mencerminkan kadar intelektualnya" itu benar, mungkinkah kadar intelegensia masyarakat Indonesia belakangan ini menurun? saya tidak bermaksud mengatakan bahwa musik-musik mainstream di era ini beserta musisi-musisinya itu buruk. namun, jika dikomparasikan dengan musikalitas dan daya eksplorasi musik dari musisi-musisi mainstream di era sebelumnya, saya merasa ada perbedaan yang sangat kontras. perbedaan yang menjadikan scene mainstream lokal jaman sekarang semakin lama semakin dirasa terjebak dalam apa yang saya sebut di awal tulisan ini sebagai dekadensi musikal temporer (atau permanen? entah). perkembangan musik justru menemui titik stagnansi di saat kemampuan teknologi sudah begitu unggul. dan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap presiden Indonesia, saya tidak akan serta merta bilang prihatin begitu saja.

pertanyaan saya cukup sederhana : mengapa bisa sampai begitu? kalau musisi-musisi mainstream yang disukai khalayak luas beberapa dekade silam itu berkualitas, mengapa sekarang tidak demikian? apa yang salah? apa yang bisa dilakukan untuk kembali meresureksi potensi musik lokal?

"jawaban dari pertanyaan ini nggak gampang. mirip dengan retorika ayam dan telur muncul mana duluan. karena pada dasarnya, kita nggak bisa berharap ada salah satu pihak yang akan mulai duluan untuk membenahi scene musik lokal." ujar Leo.

"lo nggak bisa nyuruh pihak label dengan ngomong 'kenapa sih nggak produserin musisi-musisi underground (indie)?'. karena mereka pebisnis. mereka mengejar keuntungan. dan itu sama sekali nggak salah. itu wajar. lo juga nggak bisa nyuruh pihak media massa, seperti stasiun tv misalnya, dengan ngomong 'kenapa sih nggak undang musisi-musisi underground di jam-jam primetime?'. karena mereka juga pebisnis. mereka nggak mau mengambil resiko ratingnya turun. dan itu sama sekali nggak salah. sebaliknya, lo juga nggak bisa nyuruh musisi-musisi underground dengan ngomong 'kenapa sih lo nggak berusaha lebih untuk promosi musik lo?'. karena jaman sekarang, mau masukin video clip aja bayar. sementara musisi-musisi underground pasti selalu terbentur kemampuan finansial. dan itu juga merupakan suatu hal yang lumrah. intinya, lo nggak bisa mengharapkan siapa duluan yang mulai gerak untuk perubahan. ini tanggung jawab kita semua, tugas kita semua, dan sebagai musisi, apa yang bisa dilakukan ya teruslah berkarya semaksimal dan semampunya." tutupnya.

lebih jauh, ada sedikitnya tiga hal yang harus lebih diperhatikan dari perspektif musisi. pertama, kemampuan manajemen yang adaptif dan progresif. ini mutlak diperlukan apabila musisi-musisi (khususnya underground) ingin meningkatkan daya kompetisi terhadap musisi-musisi mainstream yang kebanyakan disponsori oleh industri (label). apalagi dengan kemampuan teknologi yang semakin berkembang, seharusnya hal tersebut turut menunjang managerial skill sang musisi.

kedua, kualitas produksi musik (rekaman maupun penampilan di panggung). sayangnya, cukup banyak musisi underground yang tidak teliti (bahkan cenderung mengabaikan) dengan kualitas penampilannya. hal inilah yang membuat banyak khalayak mendiskreditkan musisi underground secara tidak langsung. memang, alasan yang paling sering diutarakan adalah kapasitas dana yang tidak mencukupi ongkos produksi. karena untuk bisa mengemas karya dengan baik dan benar, dibutuhkan daya dan kepiawaian sound operator yang juga memakan biaya tambahan. padahal, kualitas standar penampilan yang paling dasar sesungguhnya hanya membutuhkan ketelitian dan kepekaan seorang musisi. misalnya : pengambilan nada yang tidak melenceng, komposisi suara yang seimbang (tidak tumpang tindih antar instrumen), dan hal-hal sepele lainnya, yang seyogyanya dikuasai oleh seluruh musisi.

dan ketiga, konsep musik yang matang. musik seperti apapun yang dimainkan, selama memiliki konsep dasar yang kuat, seharusnya enak didengar dan memiliki kualitas tersendiri. konsep dalam hal ini sama dengan nilai jual musik yang dimiliki. apa yang membuat musisi yang satu memiliki kelebihan ketimbang musisi yang lain, dan sebaliknya. jika ketiga elemen di atas sudah dimiliki oleh setiap musisi, niscaya langkah pertama menuju kebangkitan musik Indonesia sudah berhasil ditapaki.

Gelombang Mainstream dan Selera Suburban
boyband berkiblat korea-pop dan melayu ialah dua wabah yang tengah diternak di tangga mainstream belakangan ini. akan tetapi, jika berbicara mengenai mainstream itu sendiri, Indonesia memiliki musik dangdut di posisi utama. hal ini bisa dengan mudah dilihat dari banyaknya jumlah masyarakat yang memiliki antusiasme terhadap jenis musik dangdut. terutama kaum masyarakat suburban (jelata) dengan kemampuan ekonomi sejajar hingga di bawah rata-rata pendapatan perkapita. lantas apa yang membuat dangdut digemari dan begitu cepat meresap di kalangan masyarakat suburban?

mengutip makalah Ragil Nugroho, bahasa dangdut adalah bahasa rakyat jelata. iwak peyek contohnya. ia muncul di mana-mana sebagai salah satu lagu yang paling sering diputar di media massa. ia menyebar dan hinggap di telinga masyarakat lebih cepat ketimbang berita-berita politik ataupun video mesum anggota dewan. pertanyaan yang serupa : mengapa pengaruhnya bisa sebesar itu?

jika diteliti lebih dalam, atau sebagaimana kajian Andrew N. Weintarub dalam bukunya yang berjudul: Dangdut Stories; A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music, dangdut merupakan representamen konkret yang berhasil menggambarkan situasi dan kondisi kehidupan sosial masyarakat secara dekat dan nyata. singkat cerita, dangdut adalah rakyat itu sendiri. selain itu, tempat-tempat kelahiran musik dangdut memperlihatkan karakteristik masyarakat di sekitarnya. awalnya berkembang di kawasan remang-remang Bangunrejo (Surabaya), Planet Senen (Jakarta), dan Sunan Kuning (Semarang). tempat-tempat itu boleh dikatakan jorok dan mesum (kumuh). tetapi justru di situlah musik dangdut berbiak pinak menghidupi rakyat jelata. lebih jauh, Andrew mengutip: "pemusik butuh uang, pelacur butuh uang, pemilik warung butuh ramai pelanggan, sedangkan penonton butuh hiburan." ada hubungan mutualistik yang saling membutuhkan di lokasi tersebut. masing-masing pihak merasa membutuhkan, merasa senang, sekaligus merasa sama-sama diuntungkan.

memang, kebanyakan pentas musik dangdut yang selama ini berlangsung terkesan beringas dan liar, bahkan berisik. penyanyi dangdut (terutama yang perempuan) sering dicirikan seronok dan berkenan menampilkan aksi panggung yang ekstrem. namun itulah potret masyarakat suburban yang sesungguhnya. atau dengan kata lain, potret yang paling mewakili nuansa beserta suasana kehidupan mereka.

salah satu musisi dangdut fenomenal yang tidak luput diwawancarai oleh Andrew adalah Bang Haji Rhoma Irama. bagi Bang Rhoma, musik harus mampu membentuk masyarakat. kita mau bikin merah, merah. kita mau bikin putih, putih. maka, persepsi musik di mata Bang Rhoma sama halnya dengan sarana dakwah, atau bisa disebut propaganda dalam pandangan kiri. ada muatan politis di dalamnya. seperti  muatan kasat mata yang mampu mempersuasi hingga memobilisir pergerakan massa. sehingga seni bukanlah untuk seni. melainkan untuk rakyat itu sendiri.

senafas dengan Bang Rhoma, Njoto, salah satu petinggi Lekra (lembaga kebudayaan rakyat) -yang eksis di tahun 60an dan disinyalir sebagai lembaga underbow PKI- mengatakan : musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri. memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan. kedua konsep yang dipaparkan oleh Bang Rhoma dan Njoto sama-sama memiliki satu orientasi : jangan pisahkan musik dengan politik.

lalu bagaimana dengan antusiasme di luar musik dangdut? belum lama ini, masyarakat Indonesia kembali gaduh akibat dibatalkannya konser dari salah satu musisi mancanegara. tiket sudah terjual habis, penggemar sudah bersiap-siap diri menemui sang idola, kemudian datanglah gerombolan militan yang menolak pengadaan konser tersebut secara sepihak. sayangnya, kita tidak bisa berharap lebih banyak kepada aparat karena gerombolan militan ini merupakan salah satu bagian dari mereka. akan tetapi, saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh ke arah gerombolan-gerombolan preman tadi, daripada ujung-ujungnya saya emosi sendiri.

kembali ke antusiasme masyarakat suburban. nampaknya, diadakan maupun tidaknya konser barusan, mereka tidak terlalu peduli. paling tidak, reaksi yang mereka hasilkan tidak akan sesengit masyarakat urban. bukan berarti mereka tidak menyukai musik dari sang musisi mancanegara. hanya saja, mereka tidak peduli karena lirik lagu-lagu sang musisi sama sekali tidak ada kaitannya dengan hidup mereka. masyarakat suburban tetap memiliki jenis musik tersendiri yang selalu hidup dan mengakar dalam diri mereka masing-masing. jenis musik yang benar-benar mewakili eksistensi mereka seutuhnya.


Literasi dan Pengaruhnya terhadap Musik
selain konten musik yang cenderung kurang representatif, saya menduga ada salah satu faktor lain yang mendasari alasan masyarakat luas dalam memilih jenis musik. yaitu penggunaan bahasa. atau efek literasi yang terkandung dalam musik.

paling tidak, sampai di era 90an, musik-musik lokal selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium di dalamnya. jarang kita jumpai musisi-musisi lokal yang menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia. kalaupun ada, mereka menggunakan bahasa daerah tertentu yang masih berada di seputar wilayah Indonesia. hingga kemudian, muncullah beberapa musisi lokal yang menggunakan bahasa asing dalam bermusik. contoh umumnya adalah musisi Bandung bernama Mocca, musisi Bali bernama Superman Is Dead, dan beberapa lainnya. sejujurnya, saya kurang mengetahui dengan persis siapa musisi yang bisa dikatakan sebagai pelopor penggunaan literasi asing. tetapi, era 90an bisa dikatakan sebagai momen transisi bahasa dalam musik lokal, di mana semakin banyak musisi-musisi lokal yang menggunakan bahasa asing dalam materi musiknya. akan tetapi, perlu dicatat bahwa musisi-musisi yang melakukan upaya transliterasi umumnya berasal dari kalangan musisi underground. bukan dari musisi mainstream.

sampai sekarang, penggunaan bahasa Indonesia masih terdengar jelas di kalangan musisi mainstream. ini tidak jadi masalah. adalah hak setiap musisi untuk menggunakan bahasa manapun sebagai medium interaksi di dalam musiknya. selain itu, penggunaan bahasa asing belum bisa dijadikan tolak ukur untuk menentukan kualitas musik. kita tidak mungkin begitu saja menganggap musik berbahasa asing lebih berkualitas ketimbang musik berbahasa asli.

tetapi bagaimana dengan pendengar? bagaimana dengan reaksi pasar? bagaimana dengan awareness terhadap musik itu sendiri apabila sebagian besar masyarakat masih kurang paham dengan bahasa asing? musisi boleh saja bebas berkarya, tetapi pendengar belum tentu siap menerima.

apa yang membuat someone like you yang dinyanyikan oleh Adele kurang lama menggaung ketimbang keong racun yang dinyanyikan secara lip-sync (atau lipsing) oleh Sinta dan Jojo, barangkali turut dipengaruhi oleh penggunaan literasi. karena sebagai masyarakat Indonesia asli, tentu kita akan jauh lebih cepat menangkap, mencerna, dan memahami musik yang menggunakan bahasa Indonesia. berbeda dengan bahasa asing yang terkadang masih perlu dibantu oleh kamus terlebih dahulu. di samping itu, jika kita mengaitkan fenomena ini dengan konsep Lekra sebelumnya mengenai seni untuk rakyat, akan jelas terlihat bahwa posisi musisi-musisi underground (atau yang umumnya lebih sering menggunakan bahasa asing) tidak jauh berbeda dengan kaum Manikebu (manifes kebudayaan). adapun kaum Manikebu ialah mereka yang berseberangan ideologi dengan kaum Lekra. kaum Manikebu menganggap karya seni adalah karya yang diperuntukkan bagi hakekat seni secara ontologis, bukan untuk rakyat.

singkat cerita, bahasa telah memainkan peranan penting dalam sejarah perkembangan musik tanah air. penggunaan bahasa yang berbeda akan menimbulkan kecenderungan peminatan yang berbeda pula di kalangan pendengar, dan hasil akhirnya sudah jelas : musisi-musisi yang mencoba menggunakan bahasa asing tidak akan (atau kurang) mendapatkan apresiasi yang layak dari masyarakat. sehingga di tahap selanjutnya, peluang mereka untuk lebih dikenal secara luas juga akan semakin mengecil.


Pekerjaan Rumah
Indonesia tentulah memiliki peluang besar untuk memperbaiki scene musiknya. selama masing-masing kita mau untuk mulai membuka mata dan telinga, juga mengobservasi lebih jauh lagi, kita akan dikejutkan dengan musik-musik berkualitas dalam jumlah yang gigantis. di sisi lain, musisi-musisi berkualitas yang berada di bawah permukaan sebaiknya juga ikut melakukan hal serupa agar mampu beradaptasi dengan lebih baik kepada masyarakat umum. dan tidak kalah penting, pihak industri serta media massa diharapkan untuk memperbesar kapasitas (slot) produksi untuk musisi-musisi underground. jelas hal-hal ini membutuhkan keterlibatan dari seluruh pihak. baik pendengar, musisi, pihak industri, pihak media massa, dan pihak-pihak terkait manapun, untuk mengeksplorasi kembali scene musik lokal sehingga tidak mengalami stagnansi yang monoton seperti sekarang.

ketika kita menonton Dahsyat atau inbox atau DeRings atau acara musik apapun dan menemukan ST12 bisa satu panggung dengan Efek Rumah Kaca, menemukan SM*SH berkolaborasi dengan Tika & The Dissidents, atau melihat Bang Rhoma beradu melodi gitar dengan The Trees and The Wild, we simply know that the people will judge… dan bila keadaan sudah seperti itu, bila scene musik lokal sudah kembali dinamis dan menawarkan banyak pilihan, things are definitely going the way as it should be.

#pinggir39

the dead among the living trees. yet it stood still. as i hope i am to you...
i guess i love you
happy (imaginary) 5th anniversary dearest #pinggir


sincerely,
the unseen admirer

23rd


dini hari, 01.20, tidak perlu menyendiri jika anda hanya seorang diri.

"should i pray? should i beg? guess i shouldn't… it only brings exhaustion…"


raga meleleh lelah, meletup redup persis ketika kewajiban tengah berkecamuk
saya mulai sangsi dengan definisi profesi
ia memikat namun mengikat
imajinasi saya resmi dibebat sumbat…

sekali saja, saya mau bertukar tempat
mungkin denganmu… biar kita tidak melulu beradu pendapat demi memburu laknatnya penat
sekali saja, saya ingin tahu rasanya mati dengan tangan tersayat
mungkin dengan pisau, mungkin dengan penggaris besi… saya penasaran bagaimana cerita ini tamat nanti

nafas saya berasap karena ulah nikotin
urine saya lekat tercampur kafein
jantung saya lebur memompa dopamin
otak saya kabur diculik psikosilosibin
sementara hidup seperti narkotik yang merasuk dalam satuan detik
saya masih mengeluh, cobaan… cobaan… ujian… mereka begitu pelik…

23 tahun di panggung gladi resik tanpa satupun penghayatan peran yang benar-benar apik
23 tahun bergidik, meracik komposisi dramatik dan tragik agar sesuai dengan rayuan minor pentatonik
23 tahun hilir mudik membawa rintik racun ular derik, saya bukan apa-apa selain noktah. semacam titik dengan begitu banyak celah…

maka dari itu, terima kasih yang sebesar-besarnya karena tidak melakukan apa-apa
saya tidak lari. hanya memilih menyendiri
saya tidak resah, hanya mengenang kisah yang tidak sengaja pernah singgah
lebih dari itu, terima kasih sekali lagi…
sebab 23 tahun ini tanpa kalian hanyalah kesia-siaan belaka tanpa arti

senja hari, 19.14, tidak perlu untaian puisi selama dalam bisikan kita dapat saling mengerti.