60

visi hidup

dua kata yang amat mengganggu di telinga manusia-manusia seusia saya. dua kata yang membutuhkan jawaban sekaligus tindakan nyata. dua kata yang menuntut mimpi berwujud implementasi. dua kata yang melarut hambar seiring dinamika hidup memancar dengan gerilya euforia. atau singkatnya, dua kata (berharga) yang semakin mengalami degradasi makna. mengapa? karena itu tidak penting.

tidak penting? memangnya anda mau jadi apa nanti?

saya yakin, tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa tujuan. dari yang mulia sampai yang hina, dari yang pertama kali berhasil menemukan bulan hingga yang sukses menghancurkan harapan banyak orang, bahwa kita ada karena adanya tujuan tertentu yang seringkali terasa tidak menentu. dan itu wajar. kita tidak dikarunai kemampuan prediksi yang cukup jitu. kita berproses, menuju sesuatu justru karena tidak ada satu halpun yang kita tahu. saya yakin hal itu.

jangan alasan. hidup tanpa tujuan adalah kesia-siaan itu sendiri… tidak layak dijalani.

apa yang sia-sia? apa yang tidak? apa yang membuat kata sia-sia menjadi semacam momok bagi  tujuan? apa yang membedakan kegagalan dengan keberhasilan? karena di mata saya, manusia hanyalah makhluk lugu yang terlalu belagu untuk menjustifikasi jawaban benar salah dari rentetan 'apa' tadi. kita cuma bisa menuduh. merekonstruksi pakem yang nantinya disebut perangkat normatif sebagai prosedur awal untuk mengklasifikasi ego personal. maka dengan kata lain, manusia, selama memiliki ego, tidak ubahnya makhluk egois yang berjaya (atau menjayakan dirinya) dengan bekal bernamakan antipati. sementara dunia sudah terlalu manis untuk dibumbui ironi. kita terprogram dan didesain untuk selalu memikirkan diri sendiri.

anda ini bicara apa? saya tanya soal tujuan hidup. jangan malah berputar-putar di ranah ontologi. kalau anda tidak paham substansi, saya ganti pertanyaannya. apa cita-cita anda?

sama seperti cita-cita seluruh manusia. termasuk anda…

HIDUP AKAN SELALU NAMPAK REDUP MESKI SUMBU NYALANG BENDERANG. KETIDAKTAHUAN KITA, KEEGOISAN KITA, ADALAH BUKTI BAHWA TIDAK ADA USAHA YANG BERAKHIR DI KATA SIA-SIA


mati.

59


baiklah. belakangan ini banyak sekali keluhan seputar media internet. terutama karena mereka (media internet) semakin mementingkan kecepatan publikasi suatu berita ketimbang mempertimbangkan akurasi sebagai salah satu esensi elemen jurnalistiknya. dan saya rasa kita semua tahu, internet, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah bermetamorfosa menjadi media massa yang cukup berpengaruh di era globalisasi informasi dewasa ini. tetapi kita tetap saja mengeluh. akurasi akurasi akurasi dan blablabla itu.

di satu sisi, pendidikan formal ilmu komunikasi jurnalistik di bangku kuliah selama enam semester agaknya masih belum mampu menjawab keluhan tadi. mungkin ini salah saya pribadi karena terlalu malas melakukan observasi sementara miskin pustaka dan literasi. atau barangkali, di sisi lain, hal ini justru menjadi kesalahan institusi (baca : industri) pendidikan karena gagal menyajikan materi berkualitas beserta metode kurikulum yang berbasis kerangka pemikiran kritis. tapi saya tidak akan membahas siapa yang salah. anggaplah tulisan ini sekedar pengisi waktu lowong di kala gerah atau malah sekedar celotehan di tengah-tengah kelas yang luar biasa bikin jengah.

kali ini, perkenankan saya bertanya di ranah elaborasi kualitatif. naif dan pendek saja: apa sih akurasi itu? apa yang menjadi standarisasi pada suatu informasi agar layak dikatakan akurat? apa sebatas 5W+1H? lantas, apa akurasi itu berlaku untuk semua pihak? apa dengan demikian, akurasi menjadikan suatu informasi memiliki nilai kebenaran mutlak?
accurate: ac-cu-rate|adj|1. free from error or defect; consistent with a standard, rule, or model; precise; exact. 2. careful or menticulous: an accurate typist. atau dalam bahasa Indonesia, akurasi bersifat terbebas dari kesalahan, serta konsisten dengan standar, peraturan, maupun model tertentu. namun seperti apa yang saya sampaikan sebelumnya, penjelasan ini mungkin sudah cukup komprehensif secara teori. tapi jika berkaitan dengan implementasi, ceritanya lain lagi.

mari ambil contoh komparatif : ada dua portal berita internet memberitakan peristiwa yang sama, sama-sama memenuhi unsur 5W+1H sebagai syarat kelayakan edar berita, namun sumber data yang mereka angkat berbeda. lalu, apabila keduanya menyatakan bahwa mereka menulis rujukan berdasarkan fakta yang ada, portal berita mana yang boleh dianggap lebih akurat? mana yang lebih layak dipercaya atau paling tidak dapat dijadikan referensi utama? apa yang menjadikan sumber yang satu lebih dapat diakui kredibilitasnya ketimbang sumber yang lain? apakah latar belakang akademik? kompetensi ataupun pengalaman profesi? hal-hal barusan memang sah untuk dipertimbangkan. hanya saja tidak berarti mutlak dianggap relevan.

menurut saya, ada kalanya elemen-elemen subjektif yang terkait dengan narasumber sama sekali disosiatif terhadap potensi keakuratan data. ingat kasus Sampit? kala itu, sebagian besar media mayor meminta sejumlah pengamat budaya, sosiolog, sampai tokoh-tokoh antropologi sebagai narasumber mereka. isu yang terangkat kemudian adalah gesekan sosial seputar konflik multi-etnis. walhasil, rakyat Sampit dipersonifikasikan sebagai manusia brutal nan barbar yang intoleran terhadap perbedaan karena media menggunakan angle pemberitaan yang cenderung mengarah ke persepsi tersebut. sehingga konstruksi realitas yang mereka bangun akan mempengaruhi opini publik sedemikian rupa. saya tidak bilang hal ini salah. hanya saja, bagaimana kita mampu yakin bahwa konflik multi-etnis adalah sebuah hipotesa final (konklusi) atas kasus Sampit? apa yang membuat kita yakin bahwa tidak ada argumen lain yang juga mampu menjelaskan kasus Sampit selain wacana sosio-antropologis?

sementara itu, di saat yang sama, saya juga menemukan satu media independen yang mengangkat kasus ini dengan angle pemberitaan lain. secara kronologis, apa yang tertulis tentang kasus Sampit memang tidak jauh berbeda dengan media mayor lainnya. hanya saja, ada argumen baru yang menyatakan dampak kausalitas atas praktek politik di balik kasus tersebut. sehingga apa yang membuat masyarakat Sampit bersitegang tidak hanya diakibatkan oleh intoleransi multi-etnis, melainkan juga oleh keterlibatan aktor-aktor politik yang memiliki agenda sektoral untuk mengakuisisi hak pengelolaan hutan di daerah bersangkutan. yang lebih menarik, sumber ini berasal dari seorang anonim.

pertanyaan saya selanjutnya : apa yang membuat sumber anonim diragukan? masih ingat siapa yang menjatuhkan Presiden Nixon pada kasus skandal Watergate? meskipun harus diakui, tidak ada yang bisa memastikan validitas data yang didapat dari sumber anonim. tetapi apa lantas data dari sumber yang jelas identitasnya dapat diasumsikan valid begitu saja? apa lantas data yang diperoleh melalui sumber anonim selalu boleh dianggap provokasi belaka dan karena tidak berlandaskan fakta? saya rasa tidak. karena fakta, aktualisasi, serta kebenaran, memiliki penekanannya masing-masing yang hanya berada di dalam tataran partikular. tidak ada justifikasi tunggal yang lantas menjadikan mereka layak diakui secara universal.

maka, apa yang selama ini kita kenal sebagai akurasi sesungguhnya bersifat relatif subjektif. kemajemukan premis yang terkandung dalam satu pola penjabaran ilmiah (maupun nonilmiah) untuk menguji keakuratan suatu informasi tidak akan mampu menentukan benar salahnya sebuah data secara sepihak, baik tekstual ataupun kontekstual. lebih dari itu, saya meyakini bahwa tidak ada satupun media massa (apalagi media internet) yang sepenuhnya aktual dan layak ditelan bulat-bulat sajian informasinya. sebaliknya, ini adalah tugas kita sebagai masyarakat informasi, sebagai produsen, sebagai distributor, juga sebagai konsumen informasi, untuk melakukan filterisasi terhadap segala jenis informasi yang tersebar dalam jaringan komunikasi global.

namun seperti yang juga saya bilang, tulisan ini hanya sekedar pengisi waktu lowong di kala gerah atau malah sekedar celotehan di tengah-tengah kelas yang luar biasa bikin jengah. hanya sebatas argumen remeh temeh yang barangkali sama sekali tidak penting. terlebih karena saya menggunakan media internet.

kapiten

matanya lekat menatap poster Captain America sambil mengawang jauh. yah… Amerika negara luar biasa. wajar saja memiliki pahlawan sehebat itu.

"andai Indonesia juga punya kapten." batinnya, "coba pikir, ada berapa banyak kasus kejahatan yang bisa ditumpas secepat kilat tanpa perlu bergantung lagi sama aparat? ada berapa banyak koruptor yang akan bener-bener diadili dengan ganjaran terberat? lebih dari itu, ada berapa banyak rakyat kecil yang bisa diselamatkan dari cengkeraman korporasi-korporasi bangsat?" ia melamun. mengulum senyum.

tetapi lamunannya akan segera berakhir. seiring ia beranjak bangkit, tekadnya membulat. niatnya menguat. ia memutuskan untuk menjadi Kapten Indonesia. menjadi seorang pahlawan yang rela mempertaruhkan jiwa raganya demi menjaga kedamaian tanah air pusaka.

ia melangkah menuju balkon. 

"mulai sekarang, Indonesia juga punya Kapten yang nggak kalah dari Amerika!"

maka malam itu, ia menjejak sekuat tenaga, terbang menembus langit dengan kecepatan cahaya. untuk mengamati dan menjaga negaranya sebagai seorang Kapten Indonesia.

di malam yang sama, seorang remaja tewas terjatuh dari lantai 22 apartemen brawijaya.

58

it's never about the death. it's always been about the way to greet death with glory and grace…

prison, as we knew, is a place where some people get a guilty stamp because of disobeying particular rules. more likely a boundary which spawned in order to separate one's social interaction or social live for a while. it's also a great metaphor about being isolated in which comes from punishment forms. that's why many prisoners have tried to escape. though most result ends with failure. and i guessed it's reasonable yet remarkable at the very same point.

but the movie "Shawshank Redemption" provides me another perspective. i find it amazes me more than i ever thought since i have failed to acknowledge whether or not the movie is based (or at least inspired) from true events. generally, the movie is trying to tell us about prison with its various inhabitants. amongst corrupted warden, iron-handed guardian chief, old librarian, until illegal stuffs which smoothly distributed between each prisoners. furthermore, prison is not visualized as a harmful and isolated place while it enables to breed numbers of new subordinary groups that later change the prisoners's live afterwards. even if they finally retake their freedom outside the walls.

"these walls are funny. at first you hate them, then you get used to them, and enough time passes you get so depended on them. that's the institutional line…" - Ellis Boyd Reddings a.k.a. Red (played by Morgan Freeman)

what Red actually want to tell about this institutional line is that there is no such thing. perhaps it's simply an imaginary line which getting thickened by years of punishment. slowly and steady, it drives a prisoner down till deeply drowned, so the barrier between the prison and the outside is no longer seen. once a prisoner fell into it, he'll see none but a similar situation beyond the two worlds. in short, it is considered as an attempt to unite the prisoners with the prison itself. so they have no reason to runaway any longer. they have become one. inter-depended subjects.

the story goes for Brooks Hatlen who imprisoned for more than 50 years. the old man chooses to end his life with a rope rather than living outside the line. he chooses to refuse his freedom. because being back to normal isn't that easy for him. 50 years trapped inside the walls without any clue what have happened outside might possibly bring one genuine terror to him. but does he have a choice? or else, does he have to choose? the old librarian, who has been fought barely for his weakened arms, who has no specialities to be proud of at his age, is seemingly don't have any reason to even choose if there's any option left. what comes next is as predicted. only vain and despair. also disappointment because of dying in an undesirable place.

despair and disappointment? is hope has finally ended? dead? hopefully not…

because what institutional line really mean is an inevitable risk, or a consequence one can't probably evade. but then it doesn't mean that there is no option left. options are will always available as if hope will always remain. some of them are eventually happens to be unseen. but then, almost every invisible stuffs will serve you invincibility in return. and one prisoner proves that story.

the name is Andy Dufresne. a man who can survive trough the euphoria symptoms of that imaginary line, also a man who finally reach the ocean of pacific as his next chapter. once again, i didn't know whether or not this story comes from true events. and as for Andy, no matter if he's real or merely an imaginary folklore hero, he taught me that some invisible things are better left invisible to keep the invincibility beneath it remains still.

dering

untuk pertama kalinya telepon rumah berbunyi pukul 4 dini hari, aku sontak terbangun dan merinding ngeri. aku tahu bapak yang mengangkat. karena tidak lama, tangisnya yang tercekat terdengar menembus pintu kamarku yang tertutup rapat. eyang meninggal. 

setelah kejadian itu, aku benci bunyi telepon dini hari. 

sejauh ini aku yakin, hanya ada dua alasan kenapa telepon harus berbunyi begitu pagi. pertama, sanak keluarga yang mengabarkan berita duka. kedua, pihak rumah sakit yang mengucapkan belasungkawa sebagai bentuk formalitas belaka. sejauh ini pula aku yakin, mendengar bunyi telepon dini hari sama halnya dengan mendengar kabar orang mati. 

tetapi apa rasanya memulai pagi dengan bekal berupa kabar ada anggota keluargamu yang mati? 

apa rasanya memulai pagi dengan kepala berdenyut-denyut dan dahi mengkerut sementara porsi tidurmu semalam lebih dari cukup? 

apa rasanya memulai pagi dengan mensyukuri bahwa dirimu masih hidup sementara ada orang yang tidak bernyawa lagi? 

sure you don't want to call them? 

aku menggeleng. tawarannya terpaksa kutolak… 

aku tidak ingin mendengar bapak menangis lagi hanya karena aku mati.

kuburan di langit

bu, aku mau dikubur di langit. boleh? 

biar nanti disaat ibu berdoa, aku bisa turun langsung dari sana, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi seperti biasa. aku tidak takut ketinggian, kok. lagipula bukankah itu harapanmu dari dulu? semakin tinggi aku bermimpi, semakin pasti aku akan membahagiakanmu. 

lagipula, apa serunya dikubur di dalam tanah kalau di atas sana kita masih bisa bertemu sepuasnya? lalu aku akan mencari tahu seperti apa bentuk rasi bintang yang selalu muncul di dalam dongenganmu. ibu cuma perlu memanggil namaku. tidak perlu repot-repot menyiram nisan dan menabur bunga setiap minggu. bukan begitu? 

bu, aku mau dikubur di langit. boleh? 

dari sekian banyak awan di atas sana, pasti masih ada beberapa yang tersisa. aku bisa pilih sendiri, tentunya yang jaraknya paling dekat dengan rumah. biar nanti ibu tidak terlalu lelah. 

mungkin aku belum bisa terbang sekarang. tapi nanti aku yakin bisa. kira-kira sayapku akan sebesar apa ya? kira-kira terbang itu sesulit apa ya? ah, tapi aku pasti bisa. aku kan jago olahraga. 

bu, aku mau dikubur di langit. boleh? 

jangan risau, hujan tidak akan membuatku kedinginan, awan hitam tidak mungkin membuatku ngeri gemetaran, dan petir pun halilintar tidak bisa membuatku menangis kemudian. 

bu, aku mau dikubur di langit…



- untuk setiap ibu yang harus merasakan kehilangan karena lupa mengunci jendela apartemennya -