terlambat

Jangan pernah mencintai seorang penyair.” 

Begitu kata ibu setelah aku memandikan jenazahnya. Ibu dikremasi. Keinginannya. Yang sudah sejak lama diutarakan karena tidak ingin meninggalkan beban berupa biaya penguburan kepada sanak familinya yang tersisa. Aku. 

Bapak tidak hadir sore itu. Hanya aku dan beberapa petugas krematorium yang menjadi saksi perubahan tubuh ibu menjadi abu. Seperti serpihan kapur yang terjatuh di lantai papan tulis tempat ibu pernah suatu kali menjadi guru. Juga tempat pertama kali ibu dan bapak bertemu. 

Delapan tahun sekiranya bapak menghilang. Meninggalkan rumah, meninggalkan harta benda yang tidak seberapa, meninggalkan kursi goyang reotnya yang hampir patah, meninggalkan tanah yang tidak cukup luas untuk kami bertiga, tidak lupa meninggalkan ibu yang nyaris mandi darah karena tidak kuat menahan amarah. 

Ibu memergoki bekas lipstik di saputangan bapak. Dan itu lebih dari cukup dari sekedar fakta, bahwa suaminya tidak lagi layak dipercaya. 

Jangan pernah mencintai seorang penyair.” 

Begitu kata bapak setelah menulis syairnya yang terakhir. Sehari-hari, ditemani kursi goyang reotnya yang hampir patah di sebelah dipan pada suatu malam yang cukup gerah. Ia sumringah menatap lembar syair yang berhasil ditorehnya tanpa salah. 

Dongengan bapak setiap malam hampir selalu sama. Tentang pena bulu angsa yang pandai merangkai aksara hingga tidak ada satupun perkamen yang tidak jatuh cinta dibuatnya. Betapapun sang pena menari, bergerak lincah di atas lembaran pori-pori, dirinya luput menyadari tatapan mangkuk tinta yang diam-diam patah hati. Dongengan bapak diakhiri ambivalensi. Pena yang patah karena lupa diri, perkamen yang kosong tanpa arti, serta tinta yang menguap sampai bersih karena tidak lagi berfungsi. 

Tetapi esok harinya bapak menghilang. Meninggalkan rumah, meninggalkan harta benda yang tidak seberapa, meninggalkan kursi goyang reotnya yang hampir patah, meninggalkan tanah yang tidak cukup luas untuk kami bertiga, tidak lupa meninggalkan ibu yang nyaris mandi darah karena tidak kuat menahan amarah. 

Bapak menyimpan cinta dalam sekam. Harga setimpal untuk abu ibu, juga syair terakhir malam itu. 

Jangan pernah mencintai seorang penyair.” 



Tapi, bu,

Syair ini untukmu.

wahai Galih, duhai Ratna

Ratna, anda salah orang. Saya bukan pria yang anda cari.

Mereka bilang, mata seorang perempuan yang tengah dilecut getir dan mala pastilah selalu berkata jujur. Itu sebabnya seorang Ratna bersikeras menegur, meskipun pandangannya semakin meluntur.

Saya tidak kenal anda. Dan saya yakin kita belum pernah bertemu.

Mereka bilang, apalah arti pertemuan jika perpisahan senantiasa lebih menyakitkan. Itu sebabnya seorang Ratna mengumpulkan dan menabung serpih-serpih rindu, meskipun segenap usaha membujuk suaminya pulang hanya membuahkan ngilu. 

Kamu bukan istri saya. ini istri saya.

Mereka bilang, status itu tidak lebih dari kamuflase. Seperti parade. Seperti sirkus. Itu sebabnya seorang Ratna menampar pria di hadapannya, berteriak lantang, garang, lalu luruh seperti baru saja dihempas gemuruh, meskipun penantian bagi suaminya tidak sedikitpun meluruh.

Anda ini maunya apa, sih?

"Aku cuma mau kamu percaya sama kata-kataku. Aku mau kamu pulang, mas..."



Mereka juga bilang, kita tidak mungkin membunuh cinta, kita hanya lupa bagaimana caranya mencintai.



Cukup, Ratna! Ini tempat umum. Saya tidak ingin mencari keributan di sini. Anda ingin saya panggilkan satpam?!

"Apa mas mau percaya kalau aku mati di depan mas? Apa mas baru mau percaya?"



Mereka juga bilang, satu-satunya yang pasti dari ketidakpastian adalah kematian, karena kepastian justru seringkali mengecewakan. 



Mau bunuh diri di depan saya? Mau ap

BLAM!!! 



Mereka pernah bilang, manusia adalah manifestasi cinta yang paling sempurna. 



Mereka salah...
Sebutir peluru berhasil menembus kepala Ratna.