56

Kelas pekerja, kelas “menengah”, kelas borjuis. Tiga klasifikasi manusia yang kerap membuat saya bertanya-tanya di mana letak perbedaannya. Berawal dari pendapatan, citra, gaya hidup, pendidikan, (afiliasi) politik, budaya, dan variabel lainnya yang muncul sebagai indikator segmentasi, lalu ditransformasi menjadi skala numerik, dan akhirnya muncul kesimpulan : di mana letak kelas seorang manusia yang sedang diselidiki. 

Menanggapi keterlibatan sosial antar kelas dengan wadah politis, sebenarnya saya bosan merujuk pada wacana historis, bahwa setiap manusia (melalui premis ontologisnya) adalah seorang manusia yang bebas dari kategorisasi tertentu, yang menjadikannya sama dan sejajar. Saya bosan digiring oleh pola peradaban yang semakin menuntut kejelasan strata sosial dan alokasi atas akumulasi kapital. Saya bosan diatur lakon-lakon pemilik otoritas (yang entah dari mana datangnya) yang mempropagandakan, mempermainkan, memutarbalikkan, serta menyajikan rangkaian manuver ideologi sedemikian rupa, hingga pada akhirnya menimbulkan karakter grogi dalam mental banyak orang. Saya bosan dituntut untuk lebih mengoptimalkan nilai altruisme sebagai modal identitas yang kukuh. Saya bosan melulu disuguhi pilihan peran. Bosan. Juga jengah. 

Pasti ada banyak orang di luar sana yang menganggap argumen di atas tidak lebih dari sekedar dalih klise seorang individu pragmatis. Wajar. Saksikan sendiri bagaimana sebuah rekapitulasi peradaban senantiasa menuntut segala sesuatunya bergulir membesar bagai bola salju dan berbuntut inovasi mutlak pada seluruh wacana progresif. Saksikan sendiri bagaimana perubahan demi perubahan yang repetitif, yang berimbuhkan parafrasa manis, tidak lebih dari sekedar corong futuristik yang lantang berteriak 24 jam. Seperti halnya penyakit osteoporosis yang menggerogoti roda gigi produksi. Pelan. Masif. Memusnahkan mereka yang naif. 

Barangkali, setiap peradaban yang istimewa juga merupakan cerita tentang peradaban yang lahir dari sejumlah besar rasa kecewa. 

Seluruhnya yang tertera di atas adalah amunisi milik mereka para pencanang sistem kelas dan struktur hegemoni yang valid, untuk melawan individu-individu tanpa kelas yang enggan terkotak-kotakkan dalam bejana politik praktis. Dan lagi, saya bosan. 

Pasalnya, sekalipun kita berbicara tentang peran dan laku ideal, kelas menengah -yang mengundang polemik- atau kelas-kelas apapun lainnya, adalah irelevan jika disangkutpautkan dengan wacana partisipasi sosial-politik. Pola perilaku tiap kelas tidak seharusnya menjadi acuan determinisme sosiologis yang mempanglimakan praktek politik. Selama likuidasi kapital terakuisisi secara sektoral dan wewenang tersentralisasi hanya ke sebagian kelas, mustahil mendistribusikan peran yang rata dan adil bagi seluruh kelas yang ada. Maka, seluruh penekanan tentang kelas, baik dari dasar (variabel pembentuk) hingga peran (signifikansi sosial) adalah irelevan dan disosiatif terhadap nilai-nilai humanisme yang sejatinya luhur dan sosio-komunalistik. Namun begitu, apakah kita pesimis? Atau bahkan apatis? Saya yakin tidak. 

Silahkan juga memberi cap “cari aman” untuk orang-orang macam saya. Setelah itu, saya persilahkan kembali menengok revolusi timur tengah. Dan simpulkan sendiri “peran” seperti apa yang kira-kira dipilih oleh “orang-orang macam saya”.

#pinggir35


Selamat ulang tahun. Kali ini, ijinkan saya untuk sedikit berbagi imajinasi. Imajinasi usang yang barangkali tidak berarti. Walaupun di sisi lain, ia juga tidak pernah mati... 


standing in line to see the show tonight and there’s a light on heavy glow 
By the way i tried to say i’d be there 
Waiting for 
Dani the girl is singing songs to me beneath the marquee of her soul 

-by the way – red hot chili peppers (covered by coco d’or)- 


Saya menemukan lagu remake ini di cd coco d’or milik masbud pada tahun 2006. Lagu aslinya yang bernuansa poprock telah sukses dirombak menjadi samba. Saya nyengir, karena memang setiap kali menemukan lagu bagus, saya selalu nyengir. 

Begini... 

Imajinasi yang saya maksud adalah imajinasi yang selalu muncul setiap lagu ini diputar. Imajinasi tentang suatu tempat yang belum sempat kita hampiri bersama, walaupun pernah tercetus sebagai rencana kencan keberapa. 

Anda tahu dunia fantasi? Tempat itu yang saya maksud... 



Standing in line to see the show tonight and there’s a light on heavy glow 
By the way i tried to say i’d be there 
Waiting for 

Saya sedang duduk di salah satu bangku taman dekat wahana komidi putar. Menatap barisan kuda warna-warni tanpa penunggang yang tidak bosan-bosannya naik turun. Kerlip puluhan lampu bohlamnya menerangi areal sekitar wahana dengan semarak. Tidak ada siapa-siapa di situ. Hanya saya dan waktu yang sedang menunggu. 

Di samping bangku, ada satu lampu taman dengan cahaya yang lebih redup. Hanya lampu itu yang terjaga dan berpijar dari puluhan lampu lain. Mungkin dia lebih mengerti imajinasi ini, mungkin juga tidak. 



Dani the girl is singing song to me beneath the marquee of her soul 

Anda muncul, setengah berlari. Saya melihatnya melalui sela-sela tiang komidi putar. Wajah anda bersemu rona merah dan kuning yang seolah membakar. 

Lari anda terhenti setelah melihat saya berdiri dari bangku. Mata kita bertemu. Senyum lebar memperlihatkan kawat gigi anda, yang karena pengaruh lampu menjadikannya berwarna perunggu. Dan peluk itu... terasa sangat bahagia. Jauh lebih bahagia ketimbang di dunia nyata. 


Agaknya saya tidak pernah berhasil membuat anda bahagia seutuhnya ketika kita masih bersama. Hanya ada kecewa yang terulang di masa-masa itu. Kecewa yang berbuntut gamang dan sesal berkepanjangan. Tidak lebih. Tidak juga maaf yang tersisih. 

Tetapi ini ulang tahun anda. Dan saya sama sekali tidak berniat membawakan nostalgia pahit yang sudah kadaluarsa. Hanya sebongkah imajinasi untuk berbagi dan lagu lama untuk melengkapi. Meski mungkin, tidak lagi dapat dinikmati. 

Selamat ulang tahun.

#pinggir34

seperti seorang laut yang boleh memilih untuk pasang maupun surut.
namun ia tidak pernah kering...

walau apa yang tersimpan di palungnya tidak cukup penting.

#pinggir33

jika saya memesan seporsi pelukan dan segelas hujan setiap malam, maukah anda menemani saya di meja makan?

ajak juga dirinya
sebab menu ini memang untuk kalian berdua
dan tetaplah bahagia.

Angelina, salam kenal, selamat tinggal

- Sungai Cikandang, Garut -

Saya langsung teringat cerita Om Adhe. Dia bilang, sungai itu keren banget. Banyak bebatuan yang mirip pilar-pilar besar merintangi jalur pengarungannya, banyak jeram dengan drop rata-rata dua meter yang akan memudahkan perahu karet untuk terbalik, banyak hole yang akan membuat siapapun yang terjatuh ke dalamnya kembung, banyak undercut yang menganga tersembunyi di dasar sungai, banyak ini, banyak itu, banyak adrenalin berjibaku. Seru. 

Saya juga ingat cerita Abraham Wangge tentang Cheppy, salah seorang senior himpunan mahasiswa penjelajah alam Edelweiss fakultas ekonomi Atma Jaya. Dia bilang, Cheppy termasuk di antara skipper (skipper adalah commander tim pengarungan dalam satu perahu) ulung yang pernah dimiliki Edelweiss, dan ketika Cheppy menjadi skipper untuk tim pengarungan di Cikandang, perahunya seringkali terbalik dan menumpahkan isinya ke sungai deras. Butuh proses latihan yang tidak mudah untuk mempertahankan kestabilan perahu di cikandang. 

Saya juga ingat buku tentang sungai yang pernah saya baca. Di buku itu tertulis, ada enam level sungai di dunia ini. Dari level satu yang hampir tanpa riak, hingga level enam yang mustahil untuk diarungi. Sungai Cikandang bertengger di level lima. Yang menjadikannya salah satu sungai paling berbahaya (mungkin) di dunia. 



- Senin, 6 februari 2012 -

Saya membaca tentang peristiwa naas yang menimpa salah satu mahasiswi ITB bernama Angelina Yofanka ketika tengah mengarungi sungai cikandang. Dirinya terjatuh ke sungai karena perahunya terbalik, lalu menghilang terseret arus. Saat saya membaca berita tersebut, Angelina Yofanka telah menghilang selama dua hari, dan salah satu tim SAR menduga ada kemungkinan dirinya terjebak di dalam undercut. 



Sungai cikandang – level lima – drop yang tinggi – perahu yang terbalik – seorang mahasiswi itb yang terjatuh dan terseret arus – undercut yang menganga tersembunyi di dasar sungai – pencarian tim SAR yang telah berjalan selama dua hari.



Abraham pernah bilang... 

“Cuma ada dua kemungkinan untuk keluar dari undercut. Pertama, dikeluarin sebagai mayat. Kedua, keluar sendiri... sebagai mayat.” 



Tetapi Fenny Djaja, salah seorang teman saya yang kebetulan pernah mengenal Angelina Yofanka, juga bilang... 

Gue percaya masih ada keajaiban.” 



Saya kira, jauh lebih banyak yang sependapat dengan Fenny. Itulah sebabnya mengapa proses pencarian Angelina Yofanka tidak hanya melibatkan tim SAR. Namun juga sejumlah mahasiswa, mahasiswi, rekan, kolega, keluarga, dari Angelina Yofanka.

Kita percaya masih ada keajaiban...” 

Percaya. Ada keyakinan yang mendalam pada kalimat itu. Keyakinan yang sejatinya tidak goyah. Melalui upaya pencarian, juga melalui doa yang diucapkan. 



- Rabu, 8 feburari 2012 -

Angelina Yofanka akhirnya ditemukan. Seperti cerita Abraham, dirinya dikeluarkan dalam keadaan tidak bernyawa setelah terjebak berhari-hari di dalam undercut... 

... 

... 

Gue percaya masih ada keajaiban...” 



Memang. Keajaiban seringkali muncul dalam wujud yang jauh berbeda dari ekspektasi. Barangkali apa yang ajaib dari peristiwa ini bukanlah Angelina Yofanka yang akhirnya ditemukan dalam keadaan masih hidup, masih bernafas. Barangkali apa yang ajaib dari peristiwa ini bukanlah pekik gembira dan haru keluarga, teman, kolega, serta rekan Angelina Yofanka, ketika dirinya kembali pulang ke rumah. Bukan. Keajaiban kali ini bukan begitu. 



Tidak lama, saya iseng membuka artikel-artikel terkait tentang peristiwa ini di internet, dan menemukan sejumlah blog maupun tulisan dari teman-teman Angelina Yofanka. Ada banyak kenangan, ada banyak doa, ada banyak kisah, juga ucapan yang mengantar kepulangannya. Saya tertegun, merinding, pun terharu. Bahwa di balik suatu peristiwa tragis, ternyata masih menyimpan banyak hal tentang Angelina Yofanka, hal-hal yang patut dikenang, hal-hal yang manis. Buat saya, ini ajaib. 

Kemudian saya membuka twitter, secara tidak sengaja menemukan dan membaca twit dari band lokal bernama Float. Mereka menulis ucapan duka untuk kepergian Angelina Yofanka, dan berniat membawakan secara khusus lagu berjudul “Pulang” pada hari Sabtu, 11 Februari 2012 nanti. Bahwa empati yang begitu dalam mampu muncul dari banyak khalayak, bahkan muncul dari mereka yang tidak secara langsung mengenal Angelina Yofanka, adalah hal yang luar biasa. Saya tertegun, merinding, pun terharu. Buat saya, ini ajaib. 

Saya pribadi tidak mengenal wanita ini. Namun dengan mengikuti kronologi peristiwa, mengenang cerita rekan-rekan himpunan mahasiswa penjelajah alam, membaca cerita di blog teman-temannya, serta mendengar harap yang tak putus-putusnya terucap dari mulut banyak orang, membuat saya merasa dekat dengan Angelina Yofanka tanpa pernah melihat dirinya secara nyata. Bukankah ini ajaib? 

Dan di sinilah saya sekarang. Tertegun, merinding, pun terharu. Mendengar lagu “Pulang” yang dibawakan oleh Float, yang dipersembahkan khusus untuk Angelina Yofanka karena ini adalah salah satu lagu kesukaannya, dipersembahkan khusus untuk menemani kepulangannya, ke suatu tempat jauh di atas sana. 

Untuk Angelina Yofanka. Salam kenal. Selamat tinggal... 

portal

Lo tau kenapa kita berbeda?” 
Beda?” 
Lo cenderung bergantung sama kapasitas intelektual, sebaliknya, gue lebih suka bertualang sama imajinasi.” 
Maksudnya? Gue lebih pinter dari lo?” 
Nggak juga. Maksudnya sih percuma pinter tapi ga punya mimpi.” 
Terus buat apa punya mimpi kalo ga pernah lo pake buat nambah kepinteranlo?” 
Ini bukan soal kompetisi, jangan emosi lah. Santai aja.” 
Lah lo sendiri yang mancing gue ngomong begini! Bangsat!” 

Geram. Kemudian salah satu dari mereka meninggalkan cermin. Entah yang mana. Memecahkannya. Dan tidak pernah lagi bertukar cerita.

coba pikir

”Ini tidak seperti apa yang kamu pikir...”

Jawabnya tercekat. Lirih menahan pedih di rongga tenggorokan. Mungkin tali rami yang melilit lehernya lebih mampu menjelaskan. Atau paling tidak, membuat mereka berpikir berbeda dari apa yang terpikir sebelumnya. Tapi ini hanya sebatas perandaian. Karena wanita ini sadar, bahwa kemampuan prediksi manusia tidak sehebat cerita-cerita bualan leluhurnya.
Dua meter di sebelahnya tergeletak kursi plastik. Ringkih. Masih meringis akibat menahan tendangan terakhir wanita tadi. Ia gemetar ketakutan ketika mereka menatapnya lekat-lekat. Suasana interogatif ini tidak cocok untuknya yang sehari-hari hanya mendekam berdebu di sudut ruang. Yang sewaktu-waktu dipakai hanya untuk menjadi pijakan si wanita mengganti bohlam lampu. Maka dari itu, ia ragu untuk memilih bisu.
Tiga puluh sentimeter di bawahnya meriak genangan merah. Kental. Dengan sepotong pisau cukur milik seorang pria yang dulu pernah membawa hatinya begitu jauh. Namun, lingkar darah dan pisau cukur itu begitu dekat. Keduanya lupa dibawa pergi. Tertinggal untuk menemani tkp. Menemani mati yang didamba ratusan hari. Menyayangkan pria pengecut yang memilih lari.
Dua inci di sudut bibirnya terselip busa. Bukti nyata racun tikus juga ampuh membasmi seekor manusia. Terutama wanita yang separuh hatinya telah berubah warna menjadi jingga karena antitoxin di tubuhnya berontak seketika. Dan kematian datang begitu cepatnya seraya memamerkan sabuk juara. Tetapi mungkin hal ini tidak selamanya salah. Wanita ini tahu, setelah kematian bertakhta, mati bukan lagi tolak ukur besar kecilnya suatu perkara. Terlebih sejak nafas ini tidak lagi menuntut asupan udara.
“Ini tidak seperti apa yang kamu pikir...”
Semilir cahaya masuk. Dan polisi bertransformasi pengunjung. Tim forensik bertransfigurasi pemandu. Jumlahnya puluhan. Mereka tengah mematung memandang instalasi kematian. Sekalipun instalasi kematian di hadapan mereka bukanlah figur seonggok patung. Biarlah tali, kursi, koyakan nadi, dan buih yang menjelaskan duduk perkaranya, juga kronologi atas peristiwa ini. Peristiwa yang -menurut wanita ini- tidak seperti apa yang kita pikir.