#pinggir32

menjauhi cahaya hanya demi mencari bayangan anda.

karena apa yang dipersatukan oleh jarak, tidak semestinya dipisahkan oleh spasi.

memoar anda.
menjelang tahun kelima.

turnamen (khusus amatir)

Peringkat pertama sudah diumumkan. Kali ini sang juara bertahan tersisih. Orang ini terbukti lebih mampu mengatur hidup milyaran manusia ketimbang tuhan sendiri.

#pinggir31

Anda hadir setiap kali saya lapar dan ingin membeli makanan
Anda hadir setiap kali saya harus berurusan dengan aparat di jalanan
Anda juga hadir persis di depan gerbang tol
Anda hadir di pom bensin
Anda hadir di warung kopi
Anda hadir di counter pulsa prabayar
di depan celengan
di mesin atm
di mana-mana. Sialan. Saya heran.
Yah...

Mungkin memang keputusan yang salah memasang foto anda di dompet saya.

55



Perbatasan mirip situs yang mempertemukan barisan konflik. Rangkaian garis kasat mata, namun senantiasa berhasil memancing mala dan senjata. Dengan perbatasan, suatu negara mampu mengklaim dirinya berdaulat. Mereka seolah memiliki penanda bertaring yang mengatakan : masuk sini, dan habis riwayatmu. Simbol itu, garis itu, yang sesungguhnya bukanlah suatu hasil produksi alamiah, merupakan metafor akan riwayat panjang peradaban laku manusia arogan. Adapun manusia memetak-metak otoritas, mengadakan pelbagai alasan, membuahkan korban, tidak terkecuali status migran. 

Otoritas manusia? 

Itu berarti setiap negara adalah sejarah mengenai otoritas. Indonesia tidak akan bernama Indonesia jika tidak mendeklarasikan dirinya sebagai negara Indonesia yang berdaulat. Dan kembali lagi, negara berdaulat sama halnya dengan negara yang memiliki garis-garis maya sebagai penanda wilayah jurisdiksional. Indonesia, seperti negara-negara lainnya, tentu memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan acapkali kelam. Sebuah proses yang berkelindan dengan kemustahilan untuk rampung dan berkesudahan. Proses adalah idealisme, idealisme itu nyawa, dan memang benar : nyawa seringkali berkecimpung dalam usaha mempertahankan pun memperjuangkan garis-garis tadi. Dengan kata lain, jika merujuk kepada elemen dan status partisipan, maka perbatasan tidak mengenal pembatasan. Baik itu kategori pun segmentasi. Siapa saja boleh mengambil fungsi dalam memperkaya batasan, termasuk darah sekalipun. 

Ini tanahku, tanah air, tanah tumpah darahku, di tanah inilah aku membuka dan menutup mata, untuk kemudian kembali mengadu. Syahdan, penggalan kalimat ini mampu membuncah patriotisme (sekalipun semu). Tetapi nampaknya ada yang kurang tepat. Jika perbatasan seringkali diasumsikan sebagai langkah preventif pragmatis yang menunda sengketa multilateral, masih ada yang menjerit pilu dari bawah sana. Tepatnya dari darah yang terbuang karena mempertahankan, atau memperjuangkannya. Kedaulatan itu citra, konstitusi itu iming-iming durjana, politik itu wahana, sementara negara tak ubahnya berhala yang sepatutnya dipuja, yang mencerai-beraikan manusia menjadi bidak-bidak catur global di dalam turnamen bernama persaingan sempurna. 

Sekali lagi, dalam dunia yang (nyaris) tidak terpenuhi, terbukti adanya bahwa manusia menentukan, dan tuhan mengecewakan. Lalu saya bayangkan Sancho Panza bersenandung  ceria, entah di mana. Menertawakan perbatasan dan hukum rimbanya.

54

Waktu tidak juga berhenti. Menggerogoti semesta, menggurat usia, menyia-nyiakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun kisah Jawa itu, Serat Cabolek, diam-diam mengungkapkan bahwa (terutama) manusia tidak takluk, atau tepatnya: menolak untuk takluk, tunduk. Inferioritasnya terlampau superior untuk dikooptasi apa dan siapa saja. Bahkan oleh semesta sekalipun. Dan bicara semesta adalah bicara tentang waktu. Walaupun ada banyak hal yang tidak mampu secara komprehensif dan proporsional dimaktubkan dalam sejarah. 

Pramoedya Ananta Toer, salah seorang insan penulis terkuat di Asia pada periode 60an, turut menyuarakan nafas yang sama. Persis ketika ia berujar : “Dunia telah dibangun oleh manusia dengan kemampuannya, yang terbaik, yang maksimum. Adalah munafik mengajarkan tentang ketidak-mampuannya, kekecilannya, ketiada-artiannya.” Di sinilah yang-magis, sekaligus merupakan salah satu temuan manusia yang-fenomenal, mewujud absah dan nyata. Fotografi. 

Melalui sebuah foto, manusia mempunyai kuasa menghentikan waktu. Menghentikan arus yang mengalir menjadi selembar visual yang diukir. Manusia mengklaim momentum singular yang mustahil mengalami repetisi dalam selembar foto. Detik ini tidak terulang. Melalui foto, manusia mengabadikannya menjadi lebih dari sekedar tubuh pun realitas yang di kemudian hari akan berubah tulang belulang. Foto bukanlah fosil yang sedang dalam proses mekanistis menjadi ‘lebih berharga’. Foto, sejak shutter ditekan, memiliki nilai di luar daya kalkulasi material. 

Namun foto tidak cukup konkret. Progresivitas manusia dalam menemukan unsur-unsur komplementer ada kalanya dapat dikatakan cacat dan melukai esensi dari upaya ‘pengabadian-waktu’ pada sebuah foto. Dan foto tetap hadir sebagai wadah bisu yang hanya mampu lantang perihal rekayasa artifisial, permainan estetik. Ia tidak mungkin bersaksi dan menginterpretasi (atau mungkin merepresentasikan) secara otonom fenoma yang terefleksikan. Di situlah manusia kembali hadir, mengambil peran, yang (juga) tidak substantif dan rentan kerancuan. Sekalipun manusia mampu mengabadikan waktu, mereka acapkali luput menerjemahkan momentum dan mentransvaluasi yang-tak-ternilai-itu. 

Serat Cabolek juga begitu. Untuk memakai kata-kata Heidegger: “Dunia yang diringkus menjadi objek” (Welthild). Terutama karena presensi manusia yang dominan, tampil bertakhta di atas makro dan mikro kosmos sekaligus. Menjadikan dirinya dewa dan budak dalam sekuens lecutan periodik. Ini, hematnya, adalah suguhan imajinasi humanis. Karena di balik superioritasnya sebagai makhluk inferior, manusia menemukan kontradiksi yang bertolak, untuk kemudian berpulang kembali kepada ranah intrapersonalnya. Ranah yang sunyi dan bisu. 

Sebabnya, paradoks itu ada pada selembar foto. Kekakuan yang luwes. Perhentian sementara bagi sang waktu di jaman yang tidak pernah pasti.