voltase

Sama sekali tidak empuk dan tidak nyaman diduduki. Apa boleh buat. Cuma ini satu-satunya kursi yang disediakan. 

Sebentar lagi pertunjukanku dimulai. Aku sedikit gugup sejujurnya, tapi orang tua di sebelahku ini berisik sekali. Berceloteh panjang lebar tidak karuan soal peraturan. Padahal aku tahu itu hanya formalitas belaka. Sialan. Mengganggu konsentrasi saja. 

Sesuai perkiraanku, banyak juga pengunjung yang datang. Oh, itu ibu. Dia menangis. Wajar saja, anak satu-satunya akan menampilkan pertunjukan besar. Pertunjukan perdananya di panggung drama yang konon penuh kemelut dan sandiwara. Air mata itu pastilah air mata bangga. Aku yakin sepenuhnya. 

Perlahan-lahan ruangan ini senyap. Para hadirin nampaknya sudah siap. Baiklah. Aku mulai saja. 

Any last words?Orang tua itu menatapku. 

Aku menggeleng. Kemudian, kursi yang semakin tidak empuk dan tidak nyaman ini memancarkan listrik. Pertunjukanku resmi dimulai.

bara api

Menjelang maghrib, ketika matahari nyaris terbenam di ufuk barat sana, seorang pemuda tengah kuyup. Kali itu adalah matahari terakhir yang ia pilih untuk membakar kulit sawo matangnya, sekaligus matahari terakhir yang ia titipkan salam dan barisan doa. Doa berlapis harapan karena kegetiran, juga putus asa yang bermutasi hingga menyerupai gulma. Mungkin sebab itulah matahari bersikap mafhum, lantas memutuskan untuk mengintip ketimbang menyaksikan penuh kronologi atas suatu tragedi. Karena menjelang maghrib, tepatnya pukul 17.30 WIBB, ketika matahari cuma berani mengintip, seorang pemuda yang tengah kuyup oleh siraman bensin membakar tubuhnya. Meneriakkan gaung kemurkaan melalui nyala api yang perlahan melumat sekat kulit ari dan pori-pori. Inci. Demi inci. Di depan istana negara yang keburu sunyi usai orasi perihal hak asasi. 

Di depan istana negara, Sondang Hutagalung mengubah tubuhnya menjadi nyala terang yang membahana. Walau tidak berlangsung lama... 


Amin... 

Beberapa hari lalu, misa kudus biasa di hari minggu biasa, seorang anak dan ibu pulang ibadah seperti biasa. Sondang Hutagalung yang membonceng ibunya pulang ke rumah juga nampak sebagai sesuatu yang biasa. Hanya saja tidak ada yang mampu menerka kehadiran masygul di tengah-tengahnya. Sosok Sondang yang bungsu dari empat bersaudara ini pendiam dan penurut. Seperti bambu yang meliuk sendirian di tengah kemelut. Namun seperti halnya nyala api yang menyisakan debu, Sondang menyisakan banyak hal di usianya yang ke-22. Juga termasuk di antaranya toga kelulusan untuk perayaan wisuda. 

Berita tentang Sondang membuat publik terkejut. 

"Dia pribadi yang unik, selalu membuat suasana demonstrasi lebih hidup dan cukup kreatif," kata seorang rekan aktivis, "Sebulan sebelum kejadian, Sondang sempat menitipkan organisasi Hammurabi." lanjutnya. Hammurabi adalah Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia. Sebuah organisasi yang identik dengan perjuangan hak asasi manusia. Di sinilah, kemuakan Sondang dengan kebijakan pemerintah yang kerap kali tidak adil dan mengecewakan khalayak massa membuatnya aktif secara mendalam, sehingga ditunjuk sebagai ketua organisasi ini. 

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga dituntut untuk sigap. Tubuh remaja ini mengalami luka bakar separah 85-90%. Yang kita lupa adalah bahwa keajaiban itu tidak selalu muncul setiap saat. Kecil kemungkinannya untuk selamat. Kecil peluangnya untuk kembali sehat. Sekalipun rongga serabut otot dan koyakan daging telah melepuh, kolega-kolega beserta sanak keluarga yang bertandang menjenguk tubuhnya selalu membawakan secercah semangat agar dirinya kembali sembuh. Di tengah kepungan alat medis serba canggih, bambu itu terkulai tanpa daya dengan warna keruh. 

Namun takdir juga hadir, malam ini, lengkap dengan tubir yang menyatakan bahwa tugasnya di dunia sudah paripurna.

Lalu, pada Sabtu malam yang kuyup oleh ngilu hujan pada tanggal 10 Desember 2011, Sondang Hutagalung dikabarkan mengembuskan nafas terakhir. 

Satu lagi anasir protagonis pergi, satu lagi pejuang tangguh memperlihatkan arti sesungguhnya kata ‘berani’, dan satu lagi penyair kreatif menantang mati dengan karya terakhirnya yang berupa puisi dalam nyala api. Ada simpati. Ada antipati. Namun lebih dari segala itu, masih ada tugas yang belum boleh berhenti. 

Karena menjelang maghrib, ketika matahari nyaris terbenam di ufuk barat sana, seorang pemuda tengah kuyup. Dan pemuda berdarah Medan ini mau mempertaruhkan hidup. Terutama hidup bagi orang-orang lain yang belum boleh surut. Walaupun cerita tentang dirinya akan memuai dan terlupakan sejarah, bahkan sebelum matahari petang itu selesai  merampungkan kata berpisah.

53



Duka itu kembali muncul di sela-sela siang yang bolong, melalui tangis seorang teman karena rekan futsalnya tewas ditusuk. Entah apa motifnya. Yang jelas, episode tragik selalu muncul dibarengi sensasi hampa yang tiba-tiba. Meskipun peristiwa kematian satu orang bukanlah sebuah berita luar biasa, khususnya di megapolitan tempat ratusan –bahkan ribuan- jiwa bersemayam, khususnya di arteri peradaban modern yang penuh ironi dan melodrama berbau darah manusia. Satu manusia berpulang, satu lainnya datang. Itu siklus alamiah bagi kategori mortal. Normal.

Normal?

Kita menganggap sesuatu secara normal hanya karena proses repetisi yang terus menerus terjadi tanpa henti. Termasuk kematian. Namun di balik pedih perpisahan dan ucapan selamat jalan, kita tetap saja mengimbuhi makna yang mendalam terhadap satu momentum yang tidak mungkin terulang kembali. Agaknya, normal hanyalah sekedar persepsi banal yang senantiasa menampik apa-apa yang radikal. Termasuk agresi instrumental. Termasuk pula peperangan antar hegemoni sosial.

Misteri perang tersembunyi di balik alam bawah sadar

1934 lampau, M. Ginsberg, pakar instingtifistik, harus menerima sanggahan pedas oleh E. Glover yang juga seorang pakar psikoanalisis ortodoks. Teorinya yang menempatkan perang atau perilaku destruktif manusia di bawah alam sadar, menegaskan bahwa perang merupakan sesuatu di luar kapabilitas manusia yang mustahil dikekang, apalagi dikendalikan.

Dan itu keliru.

Sementara anggapan yang jauh lebih realistis, tertulis dalam surat Sigmund Freud (Why War?) pada Albert Einstein. Dirinya tidak bersikukuh bawa perang disebabkan karena adanya kedestruktifan manusia, namun dia berpendapat bahwa penyebabnya adalah konflik nyata antarkelompok yang diselesaikan dengan kekerasan, mengingat tidak adanya hukum yang berlaku secara internasional (seperti dalam undang-undang sipil) untuk mengatasi konflik secara damai. Premis utamanya, manusia normal yang bermoral serta bersifat manusiawi hampir tidak mungkin berperang. Tidak ada dorongan pribadi dalam kadar tertentu yang mampu menstimulasi agresi maupun insting manusia (dengan beberapa pengecualian) untuk saling melukai dan membantai satu sama lain jika tidak diinfiltrasi oleh propaganda-propaganda sosial.

Dan penelitian historis mendukung hipotesis ini.

Perang dunia pertama dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan ambisi para pemimpin politik, militer, dan industri dari kedua belah pihak, bukannya oleh kebutuhan berbagai negara di dalamnya untuk menyalurkan dorongan agresi mereka yang selama ini dikekang. Seperti Jerman yang termotivasi oleh hegemoni ekonomi di Eropa Barat dan Tengah serta wilayah-wilayah di kawasan Timur, Perancis yang menghendaki Al-sace-Lorraine, Rusia yang menghendaki Dardanelles, juga Inggris yang menghendaki sebagian dari koloni Jerman, dan Italia yang menginginkan –setidaknya- barang rampasan perang.

Dalam beberapa hal, perang membalikkan semua nilai-nilai yang berlaku. Dalam peperangan, seseorang akan kembali kepada fitrahnya sebagai bagian dari suatu lingkup konstelasi sosial. Hematnya : perang adalah perlawanan tidak langsung terhadap ketidakadilan, perbedaan kelas, dan kejenuhan yang sangat terasakan dalam kehidupan sosial semasa damai.

Fakta bahwa perang memiliki tiga unsur positif merupakan komentar yang memprihatinkan bagi peradaban kita. Jika kehidupan masyarakat sipil dipenuhi dengan unsur-unsur petualangan, kesetiakawanan, kesetaraan, dan idealisme yang bisa didapati dalam perang, maka boleh disimpulkan bahwa akan sangat sulit untuk mendorong masyarakat agar maju ke medan tempur, dan karenanya mereka akan memberontak jika dipaksa.

Maka, peperangan besar di era modern dan sebagian besar peperangan antar kerajaan di jaman dahulu bukanlah disebabkan oleh agresi yang dikekang, melainkan oleh agresi instrumental dari elit politik dan militer.

Penting untuk diketahui, bahwa tanpa adanya unsur supremasi, dominasi, eksploitasi, dan hierarki kelas, motivasi sebagian besar manusia untuk berpartisipasi dalam kancah peperangan tidak akan berada dalam angka yang cukup signifikan. Justru dengan adanya tiran yang memobilisir pergerakan massa melalui doktrinasi beserta dogma-dogma partikular, masyarakat luas tidak akan mampu memiliki sifat altruisme, yang mana sifat tersebut merupakan bentuk konfrontasi langsung terhadap praktek represif yang mengekang kehidupan mereka. Sampai di sini, perang menjadi tidak lebih dari sekedar konstruksi montase yang-sosial yang dirancang oleh kepiawaian yang-individual. Perang menjadi tanda tanya abstrak yang selalu menampilkan jawaban mutlak. Acapkali dengan luka yang menggrowak. Dan seperti kata Lenin, “one death is a tragedy, one thousand death is a statistic.” Benar. Kematian menjadi sekedar kuantifikasi dalam kuantitas jamak.

Tetapi di sela-sela siang yang bolong ini, melalui tangis seorang teman karena rekan futsalnya tewas ditusuk tanpa motif yang jelas, barangkali, dan hanya barangkali, kita belum sepenuhnya bertransformasi menjadi manusia modern yang tidak memiliki hati. Karenanya kematian tetaplah pelik untuk ditafsirkan sebagai sekuens normal yang kita jumpai. Dan di gorong-gorong masyarakat megapolitan yang rawan, ternyata masih menyisakan dimensi primitif yang tersembunyi dalam kelam. Persisnya di ujung air mata sana.

Semakin primitif suatu peradaban, semakin jarang kita jumpai perang – Q. Wright, 1965

#pinggir30

dear sidewalk,

i guess i have to hit the road again.

#pinggir29

malam ini saya pergi membunuh jarak 

karena jarak menumbuhkan harap, namun harap mengutuk jarak 

jika malam ini jarak mati, saya sangat berharap agar harap juga mengalami hal serupa 

benar… 

harap tentang anda yang tidak kunjung nyata