fir-


setiap api memang ditakdirkan untuk redup dan kembali menjelma abu

panas ini tidak seharusnya palsu, apa anda setuju?

sementara kita, hadir sebagai suluh sekaligus sumbu, di tengah-tengah tradisi sosial yang mewajibkan segenap bentuk relasi memiliki simbol komemorasi untuk keberlangsungan selebrasi, yang justru acapkali membuat kita sembunyi dari esensi api itu sendiri


setiap api memang ditakdirkan untuk musnah tanpa perlu mendeterminasi menang-kalah

karena api adalah pelitur yang tidak mengenal kata luntur, walaupun dirinya telah mengabur pada petak-petak kubur

dan kita bukan ornamen dapur, yang mampu menjaga api agar tetap teratur

52


Setiap keinginan akan selalu terhalang oleh kemampuan badan. Pada mulanya adalah hasrat, hasrat untuk berbuat pun bernubuat. Juga diri yang mudah terkesima sehingga dengan telak membikin mulut lebar ternganga cukup lama. Atau konsentrasi yang seringkali melarikan diri, hinggap-hinggap secara acak melampaui segenap ambivalensi. 

Tetapi saya menyesali sebuah ontologi, tentang pikiran dan badan yang tidak ayal menolak kompromi. Tentang setiap keinginan yang akan selalu terhalangi oleh kemampuan badan. Mungkin, saya berniat memusuhi salah satunya, dengan mengkombinasikan lakon antagonis protagonis ke dalam amfiboli monolog yang kental retorika. Manakala yang tunggal dirasa majemuk, akan terbit perang yang berkecamuk. 


Saya ingin memusuhi raga… 


Karena pikiran ini sedang deras. Menukik elok seraya meranggas kebas. Banyak yang terbit di sela-sela momentum layaknya loncatan kuantum di celah lubang jarum. Tenggelam sebentar sambil melantun nanar merayapi bilah-bilah sangkar. Sebagaimana seorang ahli nujum yang tertegun akan gerak pendulum, saya mau terbang saja, terbang meninggalkan raga terkapar di bawah sana. Terbang bersama cahaya menelusuri petak-petak semesta. Terbang menyusuri memori, merapikan arsip-arsip lama, menyusun masa kini, dan meramal masa nanti. Saya ingin memusuhi raga yang masih menuntut pikiran untuk beristirahat barang sejenak karena letih yang merasukinya begitu tamak. Saya ingin memusuhi raga yang masih menyiasati mata agar terpejam untuk menghindar dari fluktuasi resonansi yang sedapat mungkin menghujam. Saya ingin memusuhi raga karena ia menua, tidak seperti jiwa yang gagal dibujuk usia. Saya ingin memusuhi raga, namun antipati ini berujung durjana… 

Lantas, jauh lampau nan eksil di Naucratis, Mesir, di seberkas hari yang tidak jelas diketahui, mungkin Raja Thamus atau Ammon memiliki prasangka yang serupa. Yang tercenung sepanjang waktu di atas singgasana kebesarannya. Yang melepaskan jiwa untuk berkelana menyusupi relung-relung berlabel niscaya. Yang mengetuk pintu valhalla dan memastikan sesembahannya utuh tanpa cela. Ia menyibukkan diri dalam misi menemukan alétheian di balik pilar-pilar absolutisme kebenaran. Saya iri karena dirinya berhasil membuat sang raga berhenti menggugat posisi sekalipun pikirannya mendominasi. Ada enigma yang beroleh kuasa melebihi tubuh penuh jelaga di sana. Benar. Saya iri karena tarian Ammon kecil kemungkinannya untuk berhenti menggores sabda-sabda yang memaktubkan pharmakon menuju manusia yang anti sophón


Saya ingin memusuhi pikiran...


Tetapi saya bukan raja Mesir kuno, peradaban saya tidak mengenal kasta, barangkali konstelasi sosial telah bermetamorfosa dan menjelma menjadi sekedar muslihat, tipu daya ilusi, atau formalisasi yang mensubversi upaya pengembaraan jiwa di luar ranah dogmatisasi. Saya menjadi tipikal sekaligus universal di tengah-tengah yang partikular. Seperti produk era industri, individu siap cetak, siap saji, menjadi robot yang tunduk terhadap titah birokrat-birokrat laknat yang gemar mengeksploitasi. Otak saya berontak, namun raga ini memilih diam dalam riam benak yang teriak. Saya muak… 

Saya ingin memusuhi pikiran karena kekasatmataannya terlalu merangsang. Saya ingin memusuhi pikiran karena ketidakpastiannya yang selalu memastikan diri untuk kembali hilang. Saya ingin memusuhi pikiran karena permainannya yang melena pun menghanyutkan. Saya ingin memusuhi pikiran, namun masih ada sisa-sisa doa yang perlu dikabulkan. Saya segan… 

Lalu dari balik pualam, muncul Theuth, dewa pemilik burung yang dinamai Ibis, dewa yang gemar mencipta, dewa yang pertama kali menemukan hitungan dan angka, geometeri dan astronomi, permainan dadu, dan lebih dari semua itu, grammata atau aksara. Dewa yang berhasil mengakrabkan pikirannya dengan sang raga. 

Thamus malah mencelanya. Mengucapkan bahwa apa yang diperoleh Theuth hanyalah bentuk-bentuk artifisial yang mengingkari supremasi manusia sebagai makhluk pencari yang terus menari dalam kebingaran eksistensi. Theuth hanyalah meramu sesuatu yang remeh, sesuatu yang dangkal, sesuatu yang mengakibatkan manusia menuai dekadensi dan mengalami erosi hayati. Singkatnya : Thamus dan Theuth adalah implikasi atas kontradiksi ontologi yang saat ini sedang saya sesali. Antara manifestasi pemikiran dengan kehadiran badan yang tidak pernah akur. Pikiran yang terpekur beserta raga yang mendengkur. Hasrat saya luntur… 

Barangkali Nietzsche benar. Hidup ini cuma soal pengarungan, cuma semata pelayaran tanpa jangkar untuk ditambatkan di pulau terdekat. Tidak setiap perjalanan membutuhkan tempat peristirahatan. Walaupun raga acapkali memaksa berhenti karena lemas berdiri, dan karena seorang musafir sejati tidak akan pernah menemukan oase abadi dalam pengembaraannya seorang diri, mungkin -dan hanya mungkin- tidak ada kata selesai pada suatu tarian tidak terpemanai. Tarian di mana pikiran dan badan menyatu gemulai bersama simfoni yang tidak kunjung selesai. 

Seperti kelahiran, juga kematian, akan senantiasa hadir sebagai epilog tentang kisah manusia yang dihantui kesendirian. Sebagai paradoksal instrumen sosial yang berawal dan berakhir dalam dimensi individual, tanpa menafikan sublimasi virtual.


Saya ingin memusuhi kehidupan dan kematian…

pada sebuah percakapan yang mungkin tidak pernah terjadi

“boleh tanya sesuatu?” 

“ya?” 

“apa lo nyaman dengan situasi begini?” 

“maksudnya?” 

“situasi kita.” 

Anda mengangkat bahu… 

“apa lo nggak pernah mikir kenapa gue nggak ngajak lo pacaran atau semacamnya?” 

Anda menggeleng samar… 

“apa lo nggak pernah menduga kalau gue cuma main-main?” 

Anda mengernyit sedikit… 

“apa lo nggak pernah menuntut kejelasan soal hubungan kita? 

Anda mengulum senyum… 

Namun seketika bibir itu mengangkat singkat. Sebagai satu-satunya respon yang mungkin dilakukan untuk mengisi kekosongan jeda. Bersuara, gumam nada tanpa bait kata… 

“apa sekarang lo bingung?” 

“iya. Kok tiba-tiba bilang begitu?” 

“mastiin aja.” 

“mastiin apa?” 

“mastiin kalau kita sama-sama nggak menunggu kepastian.” 




Justru karena hidup ini penuh dengan ketidakpastian, juga anda, kita, bukankah ini cukup untuk menjadi alasan yang bebas dari tunggakan beban?

#pinggir28

Ketika tidur menjadi hal yang ditakuti 

Karena ada kalanya anda muncul tiba-tiba dari balik mimpi

51

Mungkin manusia adalah satu-satunya makhluk yang merasa memiliki tuhan, sekaligus satu-satunya makhluk yang mampu berlaku seolah tidak memiliki tuhan. Contohnya dengan usaha mendeterminasi waktu. Saya melihat kalender masehi dan takjub. Sistem penanggalan, pembagian hari dan bulan, peletakkan tahun dan milenia, juga pengkotak-kotakan ragam peristiwa, semuanya diakhiri dengan tanda tanya raksasa… 

Mungkinkah kalender masehi terlahir sebagai upaya pragmatisme manusia, yang sekaligus upaya mengkooptasi ranah waktu agar mampu diatur dan difungsikan demi kepentingan umat manusia? Atau hanya sekedar solusi remeh yang muncul dari proses interaksi antar waktu dengan manusia? 

Waktu diintervensi, dikomodifikasi, disamakan dengan uang, diperlakukan selayaknya komoditi yang berpotensi menghasilkan materi. Pernah mendengar frasa time is money? Atau cabang ilmu astrologi yang pada akhirnya memilah-milah karakteristik manusia berdasarkan hari kelahirannya? Dua hal itu sudah cukup untuk menjelaskan dominasi manusia terhadap waktu. Bahwasanya kita lupa jika waktu sama sekali tidak berharga, namun ia bernilai. Dan manusia sama sekali tidak mampu menyia-nyiakan waktu, karena waktulah yang menyia-nyiakan kita, satu demi satu. 

Tetapi, apa jadinya bila manusia tidak bersinggungan secara simultan dengan waktu? Apa yang terjadi jika manusia tidak mengenal sistem pembagian detik, jam, tanggal, bulan, dan seterusnya dan seterusnya? Apakah kita akan berakhir terbangun di setiap pagi lantas bertanya? Ini hari keberapa…? 

Karena di antara manusia dengan waktu terbentang dimensi yang bebas interupsi. Keduanya bersimbiosa tanpa memegang kendali, namun saling mengafirmasi kelahiran maupun kematian sebagai fenomena yang tidak mengenal kata ‘berhenti’, apalagi ‘terkendali’.

maternity


Pertengahan abad 20 – James Mellaart, seorang antropolog cum arkeolog, melakukan penggalian situs Kota Çatal Hüyük yang berusia 6500 SM. Kota ini merupakan salah satu kota peninggalan jaman Neolitik berperadaban paling maju di Anatolia, Turki, di mana untuk pertama kalinya industri pengecoran logam, yang mampu menjadi aspek perekonomian penopang hidup bagi seluruh koloni masyarakat ditemukan. Setelah sebelumnya kesejahteraan sosial masih sangat bergantung pada hasil perburuan dan pertanian. 

Ciri utama yang menarik dari pedusunan Neolitik seperti Çatal Hüyük adalah peran sentral kaum perempuan (khususnya ibu) dalam struktur sosial dan dalam agama mereka. Perempuan disejajarkan dengan alam, dengan kemampuan untuk menghasilkan dan melahirkan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum pria. Atmosfer matriarkial dapat dirasakan melalui dua personifikasi simbolik, yaitu perempuan sebagai dewi agung dalam dunia religius, lalu perempuan sebagai induk dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Sebuah fenomena yang sama sekali bertolak belakang dengan mayoritas sistem masyarakat modern bernuansa patriarkial. Karena itulah, barangkali Çatal Hüyük berdiri sebagai representasi terakhir dari pola masyarakat prasejarah yang masih menjunjung tinggi emansipasi gender. Mengingat kaum pria mulai mendominasi peran di dalam masyarakat pada peradaban-peradaban sejarah lebih lanjut. Terutama setelah kemunculan cerita Mitologi Babilonia, Enuma Elish, yang menceritakan kemenangan pemberontakan dewa pria bernama Marduk terhadap Tiamat, sang “Bunda Agung” pewaris jagat raya. 

Kita tahu, klaim atas kajian pre-historiografis menunjukkan bahwa masyarakat primitif yang menempatkan perempuan sejajar dengan pria terbukti lebih potensial menciptakan kondisi masyarakat yang relatif harmonis dan minim konflik. Paradoks perempuan yang lembut namun tegas bak sebuah metafora tentang alam semesta, tempat seluruh manusia mengawali, juga mengakhiri hidupnya. Seperti yang dikatakan J.J. Bachofen dalam Mutterrecht, “keluarga yang berlandaskan prinsip patriarkial merupakan sebuah sistem hubungan individu yang tertutup, sedangkan keluarga yang berazas matriarkial menghasilkan sifat universal yang khas yang telah ada pada awal segala perkembangan dan yang membedakan kehidupan material dari kehidupan spiritual lebih tinggi.” 

Barangkali sudah menjadi kewajiban kita yang hidup di era paternal, untuk menengok kembali periodesasi prasejarah, menengok kembali Çatal Hüyük, menengok kembali detak emansipasi, menengok kembali apa yang menyebabkan masyarakat dewasa ini begitu rentan oleh praktek diskriminasi, terlebih menengok kembali apa yang telah kita lupakan dari sosok seorang perempuan. Karenanya, hari ibu tidak lantas hanyalah sekedar komemorasi tahunan. Hari ibu adalah ungkapan akan dedikasi seorang anak yang begitu mencintai kehidupan. Seorang anak yang dikandung dan dibesarkan oleh seorang perempuan. Seorang perempuan bernama ibu. 

Bahwa setiap kehidupan diawali dari pengorbanan seorang ibu, dan ketika tidak ada manusia yang tidak lahir dari rahim seorang ibu, apa yang lebih mulia selain hal itu?

#pinggir27

menanyakan kabar anda sebagai kalimat pembuka percakapan adalah sebuah kesia-siaan belaka

maka dari itu

apa kabar?

#pinggir26

why i wonder if you still remember every single chapter from november 'till september
why i wonder how long does it take to wait and also pretending to have some faith
though back and forth it seems really short
i do expect that you had forgot

was our word 
has already lost its worth?