#pinggir25

Mereka yang mengatakan “tidak perlu alasan untuk terus menunggu ketidakpastian” pastilah belum pernah menikmati segelas kopi seorang diri 

Tetapi tidak 

Saya tidak pernah menunggu sambil ditemani kopi 

Karena anda tidak akan kembali 

Seperti halnya hitam yang tidak kunjung memutih 

Walaupun kopi sang peracik mulai ditumbuhi buih

cindera mata

tirus. pucat membeku. bukan wajahmu yang biasa. walau parasmu tetap saja luar biasa.

garis pensil tipis tebal...

gaunmu baru? liontin dan sepatu birunya juga. aku belum pernah melihatmu mengenakannya.

garis pensil tebal pekat...

jangan bergerak. sebentar lagi selesai.

garis pensil pekat pasi...

sudah! ini untukmu. jangan sampai hilang.

lalu saya selipkan carik hitam putih ke dalam tangan anda seraya berdiri. menutup peti mati. membayang nanar sketsa terakhir tadi.

gunadeya

malam ini ia mati kehabisan darah...

mengapa?

buku yang dia berikan untukmu. sudah kamu baca?

belum. apa hubungannya?

dia tidak menulisnya dengan tinta. asal kamu tahu saja.

#pinggir24

apa kabar?

agaknya rindu lebih bermakna ketika pertemuan itu tidak pernah ada.

kalau begitu,
semoga kita tidak pernah lagi bertemu.

kembang api kecil

untuk ayah, ibu, paman, bibi, adik, dan aku...

ia tersenyum. berjalan perlahan menuju pekarangan rumah tempat seluruh keluarganya tengah berkumpul merayakan hari ulang tahunnya. di tangan kiri, revolver isi 6 peluru siap terkokang.

tawar

Bulan lalu

“Yang ini sepuluh ribu.” 

“Mahal sekali?” 

“Masih baru. Sehat luar dalam. Anda tidak akan kecewa. Bermutu tinggi seperti biasa dan tahan lama.” 

“Ah, pembual. Sudah banyak berita yang tersiar mengenai penipuan.” 

“Tidak di toko saya. Dan sekali lagi saya pastikan anda tidak akan kecewa.” 

“Delapan ribu?” 

“Delapan ribu enam ratus?” 



Hari ini

“Rasmini diduga meninggal akibat penyiksaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pemilik rumah di tempatnya bekerja sebagai pembantu. Hasil autopsi jenazah menunjukkan sedikitnya terdapat belasan luka sayat, luka robek, luka bakar, dan lebam-lebam di sekujur tubuh gadis asal Banyuwangi tersebut. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kedutaan asing terkait. Kasus Rasmini menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap TKI asal Indonesia di Arab Saudi.” 



Bulan berikutnya

“Yang ini sepuluh ribu.” 

“Baik. Saya ambil.”

50



Orde BaruRefleksi pancasila sebagai instrumen sang tiran untuk mengontrol dan menekan lawan-lawannya berpolitik. Mirip sebuah doktrin berbalut teror, yang dalam rentang dekade selanjutnya, memancing setampuk kalimat tanya : apa yang sakti sehingga pancasila perlu diperingati? Siapa pencetusnya sehingga pancasila layak dinyatakan sakti? Kepada siapa pancasila berpihak? 

“Tidak ada sebuah negara yang dinamis,” lalu lanjutnya mantap, “kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya.” demikian Bung Karno berujar. Walau begitu, sang orator juga merasakan bahwa sejumlah haluan ideologi yang membuncah berpotensi sekaligus menjadi gerbang penuai kecamuk, sekalipun masih dalam tataran candradimuka, atau masih dalam basis-basis praksis yang memerlukan konfigurasi. Wadah nation ini mendidih oleh karena daya juang yang semata-mata plural. Sebab itu, weltanschauung yang sebenarnya dirumuskan bukanlah sebuah fondasi pejal maupun kedap untuk diasumsikan sebagai titik final. Goenawan Mohamad menulis : Pancasila tidak pernah sakti, justru itu ia berarti. Ada negasi bernuansa satir dalam kalimat ini, juga ajakan untuk memberlakukan pancasila sebagai sebuah platform yang harus terus menerus dipugar tanpa jeda, tanpa hela, justru karena ke-tidak sakti-annya

Kini kita membutuhkan pancasila kembali karena ia merupakan rumusan ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. 

Kita membutuhkan pancasila kembali untuk mengukuhkan bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi, yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. 

Pancasila membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarah, dan sebab itu Bung Karno mengakui : tak ada teori revolusi yang “ready for use”

-Goenawan Mohamad dalam Tokoh + Pokok 

Agaknya dalam hal ini, Hölderlin akan menelusuri pancasila dalam rupa guntur yang datang dari kedalaman waktu, Tiefen der Zeit. Karena tak ada dunia yang diciptakan yang merintangi jalannya guntur. Juga pancasila, yang sejatinya invulnerable terhadap boikot maupun upaya untuk menyuntikkan doktrin terhadapnya. Maka, burung mitologi tersebut akan membentang sayap seluas-luasnya dalam merangkum nation, sembari menampik ego-individualisme dan ego-komunitarianisme dengan kesempurnaan, walau ia tidak pernah sakti. Atau sebagaimana daya hiptnotis magis yang terurai pada tembang Shahrazad dalam dongengan 1001 malam mampu membuai Sultan Shahriar, pancasila perlu diberi kesempatan mencecap, mengulum, hanyut bersama amplitudo sang waktu, agar pengejawantahan mengenai sebab-akibat, awal-akhir, tidak pernah ada. Substansinya bergulir tidak pasti, kecuali dengan paksa dan kekerasan. 

Kita membutuhkan pancasila kembali karena ia merupakan proses negosiasi terus menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa “eka”, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang mahabenar. Kita membutuhkan pancasila kembali : bahwasanya kita hidup di sebuah zaman yang makin menyadari ketidaksempurnaan nasib manusia. 

-Goenawan Mohamad dalam Tokoh + Pokok

49


Pada malaikat tidak terdapat imbuhan yang tepat. Seorang malaikat? Sesosok malaikat? Tidakkah ini menarik? Seperti mata pisau, rupanya malaikat benar-benar menampik epos klasik tentang dewa-dewi, sehingga tidak terdapat konstruksi kata atau preposisi yang padan bagi malaikat. Tidak terkecuali melahirkan praduga : seperti apa wujudnya

Mungkinkah kita tidak selamanya harus berpaut pada alegori? Nyatanya, melalui tata arsitektur interior Bassilica, ragam konsepsi malaikat hadir dalam citra manusia bersayap yang dipersenjatai lengkap selayaknya bala tentara surga. Berparas mulia. Bercahaya. Penuh kharisma. Pekat oleh enigma... 

Yang kita lupa adalah ketika raga (atau yang-jasmaniah) telah resmi menelikung ke dalam prosedur yang belakangan berujung pada dikotomi superioritas patriarki, unit-unit transendennya seketika ikut luluh lantak sembari merelakan sukma berada di level subordinat terhadap raga. Dengan sangat menyesal, malaikat berhasil kehilangan simbol oleh karena represi simbolik lain. Manusia meletakkan raga atas malaikat. One playable semiotic. Mirip teorema Simulacra a la Baudrillard.

Sepertinya, hanya malaikat yang dipandang sebagai roh (terlepas dari kudus tidaknya) yang senantiasa mampu menelurkan benih-benih spekulasi secara kontinuum. Hanya malaikat dalam kajian parameter a priori, juga noumena, yang dapat diartikulasikan sebagai malaikat seutuhnya. Dan kita, manusia, barangkali telah berdosa dengan mencoreng potret malaikat sedemikian rupa. Acapkali dengan memberi imbuhan berupa raga.

48



Agaknya di antara intersubjektivitas dan objektivitas terdapat bilah-bilah transparan yang melibatkan perbendaharaan bahasa serta pemaparan sosial. Keduanya sekaligus meniadakan ‘aku’ untuk selanjutnya bermutasi menjadi ‘kita’. Ada kemajemukan individu yang terkumpul, terstrata, tersusun, terorganisir dalam membentuk sebuah kesepakatan. Menjadikan bilah-bilah meranggas rukun sejalan dengan proses negosiasi menuju mufakat. 

namun apa yang dicari oleh upaya kolektif semacam ini nampaknya cukup pelik. 

“Kebenaran!” jerit parau para musafir yang merindu oase. Kebenaran itu bernama air. Niscaya, reguknya akan selalu membenarkan setiap prasangka yang ambivalen di tengah paradoksnya citra suatu gurun. Apa yang benar adalah apa yang memuaskan. Dan apa yang memuaskan adalah apa yang membuat kaki-kaki sang musafir berhenti melangkah. Saya bayangkan Goebbels sebagai salah satunya. Dia mencecap sejuk air dengan cara yang sama. Namun, agresor yang membawa bendera Nazi itu tidak menghentikan langkahnya. Dirinya tidak cukup puas dengan sekeping oase nan asing yang tidak begitu penting. Lantaran apa yang akan membuatnya terpukau tanpa menafikan pecut dahaga di kerongkongannya sudah pasti muncul melebihi ekspektasi siapapun yang berani melamun. Ketika Dewi Lestari menulis tentang presensi salju gurun, rupanya barisan kalimat fiksi itu mengandung makna yang jauh melampaui materialisme estetika belaka. Ada yang tidak terpemanai dan sanggup dicerna logika di dalam analogi sastra. 

Maka, kendali tertinggi tetap berada dalam kuasa subjek, atau dalam wacana ini, individu. Korelasi intersubjektivitas dan objektivitas memang berlaku, namun tanpa penggagas yang dominan, retorika akan berkecamuk permanen bagai aliran sungai yang absen hulu-hilir. Hanya ada involusi. Dan involusi adalah berhala bagi gejala modernitas maupun misinterpretasi evolusi. Dan tanpa evolusi yang gradual, kebenaran adalah kemustahilan yang digadaikan secara legal. 

Kebenaran hanya akan tetap menjadi kebenaran selama belum ditemukan. 

Benar?