47

TabaPematokan agama adalah jika si pemeluk memiliki perhatian untuk saling memperhatikan sesama, memperingatkan mereka jika melakukan kesalahan, membantu mereka jika memperjuangkan kebenaran, menolong mereka jika tidak mampu. Ad-diin nashihah atau nasihat. Juga di sisi lain, agama itu interaktif dengan masyarakat. Intinya, jika si pemeluk agama berkomitmen untuk menciptakan hubungan dengan masyarakat, baiklah adanya jika ia berbagi, saling membantu mereka, apapun varian agamanya. Ad-diin mu’aamalah

Pria ini mungkin salah satu dari beberapa personal yang menolak diferensiasi agama dengan aliran kepercayaan. Bahwa menurutnya, subordinasi aliran kepercayaan di bawah agama tidaklah tepat. Terlebih keliru. Lebih mencekam ketika banyak praktek pemusnahan terhadap ‘kaum-kaum’ subordinat yang tidak mampu direkam sejarah. Sekiranya ada yang buas di balik sifat saling menghargai yang tertanam di balik relung keagamaan. Atau mungkin juga ketika yang-jasmani merasuk untuk menelisik yang-rohani dan transenden. 

1954, kampung paku tandang, ciparay, bandung, adalah seumpama bunker yang memekik bisu di tengah gelimpangan mayat bertoreh sayat akibat sabetan golok dan parang berkarat. Ketika itu, kampung masyarakat penganut agama (aliran kepercayaan) buhun ini dibantai. Tua muda pria wanita meranggas bersama tanah yang lembab oleh darah. mengalami evaporasi yang agaknya ‘dibungkam’ oleh sejarah. 

Di sini, pria Taba tidak meletakkan agama dalam tataran antagonis. Bahwa horror tanpa sisi amor yang sejati, termaktub dalam diri personal yang se’manusiawi’nya bengis.

46

Sebuah surga adalah kondisi ketika dunia berhenti sebagai dunia. Kira-kira begitu. Belum lama ini sebuah bom meledak di gereja solo, lengkap dengan sang martir yang mengurbankan badannya dengan iming-iming sepotong surga. Perjalanan bermaterai teriakan pemujaan, diakhiri dengan letupan dan kalut. Yang tidak disadarinya adalah asap beserta gelegar yang malah membuat reka surga malah berlarut luput. 

Namun kali ini bukanlah wabah eskatologi atau barisan anasir dengan otak yang terkontaminasi doktrin. Kita semua tahu agama muncul untuk menghalau yang eksis sekaligus menafikan apa yang demi-eksis. Ada penolakan terhadap chaos. Bahwa manusia merindukan apa-apa yang terstruktur dan terjalin rapih. Ada sejarah yang (barangkali dengan imbuhan pretensius tertentu) dikonfigurasi dan disulam sesuai dengan komposisi patriarki. Ada misinterpretasi yang teregenerasi secara simultan. Kita mencipta agama, sesuatu yang membiak menjadi buas dan berakhir sebagai penguasa manusia itu sendiri. 

Jika memang hidup ini penuh dengan uji coba dan manusia senantiasa hadir di garis depan, sebagai yang superior, supreme. Ada kalanya sesuatu yang buas tersebut dicuri sebagai boikot dan titik pengalihan nukleus. Benar. Manusia terlalu superior sehingga di saat yang sama nampak inferior ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

45


“ketika dunia masih kanak-kanak, manusia secara alami adalah penyair yang sublim…” - Vico 

"Beda melahirkan bahasa dan bentuk.” Begitu yang tersurat dalam salah satu esai Goenawan Mohamad perihal keragaman. Barangkali sastra termasuk di dalamnya(?). Sejauh ini saya terlalu memusatkan minat terhadap karya-karya sastra yang diproduksi oleh kaum laki-laki. Semisal Pram dengan tetralogi buru-nya, atau Chairil Anwar yang dengan hanya berbekal belasan sajak pribadi, dianggap mampu merubah paradigma kesusasteraan dunia. Menyaksikan kontribusi yang demikian gemilang dari kalangan sastrawan lokal, saya dihadapkan pada kenyataan yang lebih mencengangkan, bahwa terdapat sedikitnya tiga sastrawati yang turut berpartisipasi dalam rangka memperkaya khazanah kesusasteraan nasional. Adapun fenomena ini membawa kesan lain, terlebih dari unsur estetika yang absen di kalangan sastrawan laki-laki. Suguhan dengan cita rasa feminis, berbalut perspektif ‘alternatif’ (jika boleh saya sebut demikian), yang menjadikan daya jelajah sastra demikian majemuk dan lebar. Di satu sisi, saya merasa mendapat afirmasi akan personifikasi sastra sebagai sesuatu yang transenden. Namun di sisi lain, saya tidak dapat menolak anggapan bahwa ‘beda’ (dalam hal ini : gender) memiliki posisi yang sangat krusial dalam mengkaji jenis-jenis karya sastra. 

Seringkali kita mengaitkan perkembangan sastra dengan masa-masa perjuangan era kolonial dan momen-momen yang berdekatan dengan presensi ‘penjajahan’, atau analogi-analogi lain yang menitikberatkan pada nilai-nilai ekspansif dan agresif sang penjajah. Sebagaimana kita tahu, sastra juga sempat dikooptasi oleh upaya propaganda para pengarangnya untuk mentransliterasikan suara-suara perjuangan nasional yang progresif. Wacana ini terkadang menuntut spekulasi biner antara karya sastra dengan budaya patriarki (karena mayoritas sastrawan adalah laki-laki), tidak terkecuali bayang-bayang superioritas kaum laki-laki. Sehingga aroma maskulin terasa begitu kental. Nuansa-nuansa seperti inilah yang tidak ditemukan oleh Manneke Budiman di dalam karya-karya Hanna Rambe, Linda Christanty, dan Nukila Amal. Bagi Budiman, sekalipun apa yang dilakukan oleh ketiga perempuan ini jauh dari dugaan mengenai perjuangan kaum feminis, mereka tetap patut mendapat apresiasi karena telah menawarkan ‘bumbu-bumbu’ yang inovatif. Dapat dilihat dari bentuk penulisan dan konsep cerita yang disuguhkan dalam karya ketiganya, bahwa mereka menerapkan posisi subjek yang didominasi -atau lakon protagonis utama- oleh alam, dan bukan kepada individu (manusia). “Alam dilukiskan sebagai sosok pemberi kehidupan, tetapi ketika kelangsungannya terancam, alam akan melepaskan kekuatan latennya yang luar biasa untuk mempertahankan diri.” (novel Pertarungan – Hanna Rambe). 

Linda Christanty
Pendekatan yang lebih berfokus pada lingkungan ini disebut sebagai ecocentric environmentalism oleh Jane Jacobs. Sementara rujukan pendekatan ini bukanlah adaptasi dari pemikiran rasional barat tentang pelestarian lingkungan, melainkan kebajikan lokal yang dikembangkan sendiri oleh budaya indigenous. Pandangan ini mengadopsi gagasan eko-feminisme yang membuat analogi antara alam dan perempuan. Tubuh perempuan beserta alat reproduksinya direpresentasikan sebagai sumber kehidupan, sebagaimana halnya dengan alam. Keduanya menghadapi eksploitasi dan opresi yang sama. Tidak pelak, pandangan ini mendapat kritik karena mereduksi perempuan sebagai makhluk biologis semata, sehingga terperangkap ke dalam pola pikir esensialis. Namun, sekalipun eko-feminisme dituduh kerap bersandar pada identifikasi antara perempuan dan alam, cara pandang ini memiliki strategi tertentu untuk membantu menghindarkan terjadinya universalisme dalam subjektivitas.

*makalah oleh Manneke Budiman mengenai pembahasan novel Pertarungan karya Hanna Rambe.


Yang juga tidak kalah menarik adalah sikap ketiga sastrawati tersebut dalam mengkritik model pemerintahan yang cenderung sentralistik sampai-sampai ‘menelantarkan’ gugusan-gugusan kontinen di sekitarnya. Bisa dibayangkan, Jakarta sebagai kota metropolis berdiri angkuh sebagai tokoh antagonis, yang daripadanya lahir watak-watak parasit dalam rupa birokrat korup, penduduk yang seolah mengidap delirium akan materialisme ataupun yang terjangkit paranoia komodifikasi, juga watak-watak lainnya yang bersifat negasi dan hanya menanamkan benih destruktif terhadap alam. 

Senafas dengan Hanna Rambe, Nukila Amal dalam cerpen Lalumba juga mengangkat air dalam personifikasi perempuan. Air mengalami feminisasi karena semua ikhtiar besar penaklukan pada masa silam dilakukan laki-laki, dan dengan demikian, air menjadi locus tempat maskulinitas dikukuhkan. Sejarah terjadi di atas air, tetapi ini adalah sejarah orang-orang yang hidupnya terpusat di daratan. 

Berikut adalah cuplikan singkat dari cerpen Lalumba – sebuah cerpen yang dilatarbelakangi oleh konflik agama berdarah yang pecah antara 1999 dan 2004 di Ternate, Maluku Utara: 

Pandanglah pantai. Di sebelah sana, di mana barisan bakau dan karang agak menjorok ke laut, itulah tanjung. Tempat perayaan kami. Aku dan ayahmu pergi ke sana suatu pagi, setelah mengetahui kau telah menjelma seorang jabang bayi dalam perutku. Saat itu langit cerah sehabis hujan subuh hari, ada pelangi membusur di langit barat daya. Di depanku, ayahmu mengayuh sampan perlahan […]. Di bawah tampak koral warna-warni tertabiri air hijau biru jernih. Dan ikan. Ikan-ikan kecil berwarna terang berenang-renang di antara karang. Di pantai, kami makan, bercakap panjang hingga ayahmu tertidur di pinggir gerumbun bakau. 

Ke laut. Cuma ke laut yang membebaskan. Semua cecabang sungai ini berakhir di sini. Tak lagi punya asal-usul atau jumlah atau jejak atau warna. Semua sama. Biru laut. Luas. Datar. Tenang. Di sini bulir-bulir air melebur, mengapung, mengombak, naik menderas ke langit. Biru langit.


Pada tataran harfiah, laut berasosiasi dengan kematian, karena melarikan diri ke laut sama artinya dengan mati tenggelam. Namun, pada tataran figuratif, laut kini berasosiasi dengan pembebasan dari cekaman ketakutan yang disebabkan oleh pembantaian. 

Sehingga bisa dipastikan, dengan cita rasa dan unsur estetika yang ‘berbeda’ oleh karena pengaruh gender seperti ini, sementara sering kita jumpai fenomena-fenomena transgender di kalangan masyarakat, bukan tidak mungkin lagi apabila kedepannya khazanah kesusasteraan (setidaknya) dalam lingkup nasional akan jauh lebih kaya rasa. Tentunya sembari melepaskan diri dari dikotomi-dikotomi yang tak ayal menghantui, seperti halnya ‘gender’ itu sendiri.

44


Bagi saya, sastra adalah luapan ekspresi yang menolak batas -ad infinitum, atau paduan karya yang dibangun atas ranting-ranting komunikasi antar manusia, yang dalam konteks ini, mustahil diinterupsi, terdistraksi, bahkan tersendat oleh variabel eksternal apapun, tidak terkecuali ekspresi ‘yang lain’. Sastra begitu otonom sehingga mampu mengalami evolusi kontekstual dengan sendirinya. Barangkali inilah yang kemudian menghadirkan sebuah anggapan, bahwa di dalam setiap karya sastra, bersemayam unsur transendentalitas yang kasat mata, sekalipun in absentia

Sapardi Djoko Damono, salah seorang sastrawan senior Indonesia, yang dalam diskusi mengenai perkembangan literasi sastra Indonesia di era kolonialisme, memaparkan dengan gamblang akan variasi bentuk sastra yang telah berhasil merepresentasikan sejarah kesusasteraan bangsa sebelum kemerdekaan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah hampir segala bentuk riset terhadap asal usul kesusasteraan Indonesia masih berkisar di tahap permukaan analisa. Dengan kata lain, “belum mendalam”. Artinya, masih banyak bahan kajian yang siap dan tersedia untuk dibedah dan diteliti. Mulai dari aspek bahasa, pengaruh sastra asing, penerapan regulasi bacaan (yang sempat didominasi oleh Balai Pustaka), hingga kritik sastra itu sendiri, yang pada akhirnya akan memunculkan data-data baru mengenai ekosistem sastra Indonesia secara menyeluruh dan rinci. 

Namun saya tidak mengerti. Jika sastra benar-benar murni hasil eksplorasi kreatif, maupun komposisi ragam ekspresi manusia yang tengah berkelana menempuh labirin imajiner tanpa akhir, mengapa sastra harus menuai kritik? Atau jika memang sastra demikian transenden, mengapa masih menyisakan cela yang kemudian memicu beberapa ‘pakar’ untuk menelisik? Barangkali Derrida benar tentang intertekstualitas yang merupakan sifat yang terkandung dalam setiap teks. Bahwa jika sastra diumpamakan sebagai tesis, maka perlu diadakan kritik sebagai antitesis untuk menghadirkan sebuah sintesis. Aufhebung. Sekalipun itu berarti nilai  kemurnian suatu karya sastra harus didera campur tangan ‘yang lain’.

43


Pertama kali yang muncul di benak saya ketika mendengar kata ‘sensor’ adalah rasa waswas. Bahwa terdapat subjek yang merasa terintimidasi oleh subjektivitas lain -terutama yang menginterupsi penalaran umum (objektivitas) atas sebuah gagasan, yang kemudian berupaya untuk menunda (jika tidak membungkam) proses distribusinya kepada khalayak luas. Sehingga esensi sensor tidak lebih dari sekedar manifestasi tradisi totalitarian. Barangkali begitu. 

Kita seringkali mengaitkan konteks sensor dengan wacana kebebasan berekspresi, sekalipun paradoks yang ditimbulkan melalui penggabungan keduanya cukup pelik. Dimulai dari kata ‘bebas’. 

‘Bebas’ seperti apa yang dimaksud? Absolut? Atau masih memiliki barrier yang justru bertujuan untuk menjaga kebebasan itu sendiri? Dilema kontekstual ini menyebabkan term bebas tidak dapat berdiri tanpa imbuhan kata ‘tapi’ (ataupun kata-kata penanda yang bersifat antitesa lainnya). Kita sadar gejala kebebasan menyimpan sel-sel kebuasan yang memerlukan sosok regulasi sebagai batasan agar tidak (katakanlah) kebablasan –sesuatu dapat dikatakan bablas hanya (dan memang hanya) jika melanggar wilayah privasi sebuah subjek. Lalu masih layakkah disebut bebas? Bukankah bebas tidak memiliki batas? 

Lagi-lagi, bebas yang tidak memiliki batas rasanya terlampau utopis, dan alih-alih konstruktif, malah berpotensi destruktif. Dan pertanyaan lain yang tidak kalah meresahkan adalah ‘siapa saja’ yang berhak memiliki kebebasan semacam ini? Atau siapakah subjek-subjek yang memiliki kebebasan secara otonom sehingga di saat yang sama dapat merasa bebas untuk merampas kebebasan subjek-subjek lainnya? Kebebasan milik siapa? Untuk mengakhiri polemik ini, muncul istilah “bebas asal bertanggung jawab”. 

Namun bagi saya, ini tidak menyelesaikan masalah. Kata ‘tanggung jawab’ lagi-lagi berada dalam wilayah penalaran ambigu karena masih mengalami fenomena multiinterpretasi oleh varian subjek yang relatif. Tanggung jawab kepada siapa? Tanggung jawab seperti apa? 

“Bebas asal toleran terhadap kebebasan yang lain...”

Lalu pada kata ekspresi. 

Ekspresi adalah hasil produksi individual. Hadir dan hilang dalam berbagai momentum abstrak, dan seringkali bersifat spontan. Pertanyaannya : apa mungkin hal semacam ini, seprivat ini, mampu direduksi melalui upaya sensor? Agaknya studi kasus melalui pendekatan historis masih belum cukup diulang & direpetisi untuk memperjelas dampak psikologis atas intervensi terhadap ranah privat. Bahwa kita tahu, semakin suatu hal dibatasi (atau bahkan dilarang), stimulus yang memicu insting resistansi justru akan semakin membuncah dengan dahsyat. Semakin gencar sensor terhadap suatu hal, semakin besar pula minat subjek untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di baliknya. Manusia adalah makhluk penasaran. Bersyukurlah selalu atas anugerah tersebut. 

Problem mulai timbul ketika wilayah ekspresi turut dicampuri gumpalan-gumpalan peraturan. Ekspresi terpaksa mengalami segmentasi dan terpecah. Hal ini (sayang sekali), malah menjadikan ekspresi (dalam bentuk apapun) kehilangan nilai istimewanya. Sebelumnya, ekspresi yang saya maksud adalah elemen ekspresi kreatif. Kreatif dalam arti ‘otak’ berada dalam posisi kontributor yang dominan (ketimbang otot) dalam mewujudkan suatu bentuk ekspresi. Dan sejujurnya saya malas menyebut format-format tertentu yang hasil produksinya didominasi oleh hasil kerja otot sebagai ‘ekspresi’. Tidak. Mereka tidak layak untuk itu. 

Bagi saya, ekspresi adalah bentuk kemewahan tertinggi yang mampu direalisasikan oleh kolaborasi impuls-impuls kreativitas manusia. Ekspresi tidak lepas dari estetika. Sekaligus tidak menjustifikasi acuan-acuan internal dan eksternal lainnya secara semena-mena. Kita manusia bermartabat. Selera hanya soal rasa, bukan lantas menjadikan yang lain ‘berdosa’ hanya karena berbeda. 

Dalam hal ini, saya pribadi adalah seorang yang antipati terhadap sensor. Relevansi sensor hanya berlaku selama masih ada pihak-pihak yang cukup paranoid dan insecure (baiklah... GOBLOK) yang tidak sadar terhadap kemampuannya sendiri. Sensor cuma akal-akalan picik yang mencoba menghadang progresivitas arus kreatif manusia. Dan apabila malah menjadi penghambat, buat apa didebat? Dibuang saja cepat-cepat... 

“Satu-satunya dogma warisan rezim orde baru yang saya setuju berbunyi : bahwa olah rasa tertinggi adalah sikap toleransi...” – Aji Prasetyo, Pengarang Kumpulan Komik Opini Hidup Itu Indah

#pinggir23

remember this place?
4 years ago, i was truly a dickhead for abandoning you like that... 

Now, everyone calls me a true dickhead for waiting another chance with you like this... 

You know? When you abandoning hope and later you find yourself hoping to be abandoned 

... you couldn’t help but laugh.

status

Tidak ada wanita yang begitu mengerti diriku kecuali kamu. 

Cuma kamu yang tahu kalau mood aku lagi jelek dengan hanya melihat pola makanku. 

Cuma kamu yang tahu kalau aku lagi banyak pikiran dengan hanya memperhatikan gaya tidurku. 

Cuma kamu yang tahu kalau aku sedang ditimpa masalah dengan hanya mendengar intonasi suaraku. 

Aku yakin, sayang, kita memang ditakdirkan untuk bersatu. 

Aku sangat mencintaimu. Meskipun definisi cinta teramat rancu, aku berani berkata aku cinta padamu. 

Dan aku tahu kamu juga mencintaiku. Lantas apa cinta cukup? 

Ternyata tidak. 

Kamu lebih mencintainya. Kamu lebih mencintai orang itu. 

Kemudian kalian menikah. Sempurna sudah! Hati ini patah menyisakan debu. 

Sialan. Sekarang kamu harus kupanggil ibu.

42

Membicarakan TKI berarti membicarakan paradoks. Mereka, yang mendapat atribusi (atau kompensasi?) berupa gelar ‘pahlawan’, ternyata mengalami perlakuan yang tidak lebih baik ketimbang sekumpulan hewan. Saya kira, tidak ada satupun hewan yang alat vitalnya diseterika setelah sebelumnya diperkosa, bibirnya digunting menggunakan beling, tubuhnya disiram air mendidih sampai berbuih, hingga kulitnya dilubangi oleh panasnya suhu besi, dengan sengaja oleh spesies bernamakan manusia. Manusia? 

Berbeda dengan seorang syuhada, sekalipun dalam perspektif tertentu ‘layak’ disebut pahlawan, seorang TKI berhasil menjadi simptom sebuah kehidupan yang luka melalui anatomi paradigma yang berbanding terbalik. Jika menyambung hidup harus dibayar seharga mati, dan sesuap nasi harus setara dengan eksklusi atau alienasi akan eksistensi, betapa perihnya kucuran keringat di setiap satuan waktu. Atau barangkali memang begitu? 

Dan kata ‘pahlawan’ akan kehilangan unsur syahdu, bila yang disemat sudah terlanjur membisu di liang lahat. 

Persis di situlah sikap hormat saja tidak cukup.

41

Pada mulanya adalah politik, yang dalam metamorfosanya disisipi pelbagai laku intrik, tidak terkecuali konflik. Kita semua tahu, Indonesia adalah gemah ripah yang terlampau subur. Orang dulu, sekali waktu, bilang bahwa sebatang tongkat mampu menjadi umbi. Namun kali ini, yang diternak adalah upaya segregasi. Jika orang dulu bilang pemerintah terlalu kuat untuk dilawan oleh sipil dan satu-satunya cara adalah dengan menyelenggarakan revolusi, maka kali ini, pemerintah resmi mengidap impotensi konstitusional dan apa yang berkembang biak tak lain daripada atmosfer delegitimasi itu sendiri. Fenomena ini sekaligus menempatkan wajah media massa sebagai agen komunikasi sosial yang turut serta berperan aktif di bawah kendali panglima bernama komersialisasi. Di sisi lain, model konvergensi juga dirasa tidak banyak membantu selain hanya menawarkan opsi tanpa akurasi informasi yang menentu. 

“Indonesia memasuki era informasi” barangkali tidak tepat. “Canggung” adalah substitusi yang menurut saya jauh lebih hemat. Potret masyarakat yang terefleksi tak ubahnya potret rasa grogi. Dan seorang profesor sekaligus guru besar yang belum lama ini melakukan praktek plagiarisme karya ilmiah telah membuktikan hal itu. Ada perasaan insecure, atau kecanggungan akut. Bangsa gerilyawan yang konon terkenal akan keberaniannya ini, apa mungkin mengalami stagnansi yang justru menjadikannya pengecut? Terlebih lagi, penakut? Kaum intelektual, golongan menengah-terpelajar terlalu sibuk menyusun strategi pribadi. Nuansa progresif tidak lagi kental. Buku-buku dibredel, literatur penting ditelantarkan di sudut perpustakaan nasional tanpa perawatan berkala, data historis dimanipulasi, dan moral kini marak diobral sebagai pasokan komoditi dengan harga tidak seberapa tinggi. 

Demokrasi mengalami kemundurannya secara gradual. Sesuatu yang nampak jauh lebih irasional ketimbang simptom dekadensi prematur. Dalam hal ini, sintesa tidak terjadi di tengah pergolakan antara tesis dan antitesis. Metode diskursif menjadi selebaran jargon mentah yang kadaluwarsa sebelum mulai diolah. Saya bisa bayangkan, di dapur intersubjektivitas yang menjunjung tinggi ciri khas setiap individu, Habermas duduk murung. Pisau jagal di tangannya masih bersih dari proses deliberasi. Saran-sarannya lumpuh di tangan konservatisme dan stigma-stigma konfrontasi yang mengabaikan langkah metodologi. Jika memang tiada gading yang tak retak, mungkin ada pula lingkup primordial yang tidak beranjak. Sementara ribuan kilometer jauhnya di prefektur Fukushima-pasca bencana tsunami dan kebocoran zat radioaktif reaktor nuklir, Naoto Matsumura, seorang petani tua yang bertahan (atau terpaksa mempertahankan lahan) seorang diri, enggan menggubris himbauan pemerintah untuk mengungsi, “if I give up and leave, it’s all over.” Lalu “it’s my responsibility to stay. And it’s my right to be here.” 

Mungkin, hanya sebatas mungkin, jika seluruh manusia mewarisi jiwa seorang Matsumura, seorang anarkis dengan modal berupa loyalitas hingga integritas yang tak terpemanai itu, kata Bushido tidak akan pernah ada.