#pinggir20

Dari jauh,

Anda tahu? Saya bersyukur bahwa di antara kita terdapat sesuatu yang disebut sebagai jarak, atau rongga, atau ruang, atau celah. 

Sementara, saya juga turut bersyukur atas hari-hari lampau, ketika ‘sesuatu’ itu tidak hadir menemani kita. Karena kita satu. Dan jarak, atau rongga, atau ruang, atau celah, harus mengalah untuk sementara waktu. 

Saya tidak ingin hari-hari lampau kembali. Tidak. Namun saya tidak ingin kita terpisah seperti ini. 

Mungkin saya perlu berdamai terlebih dahulu dengan memori.

40

Aksi represi muncul di antara perbedaan ideologi. Padanya melekat sebuah stigma, atau bahkan rangkaian stereotype, yang kemudian berakumulasi dan bermetamorfosa menjadi gesekan sosial. Vertikal maupun horizontal. 

Kita mengenal pemerintah, atau katakanlah sekumpulan persona yang bertugas mewakili masyarakat dan menjalankan mekanisme negara. Konon, apabila ditinjau dari aspek normatif (atau atributif?), merekalah yang seharusnya berperan aktif dalam menjaga stabilitas sosial sehingga mencegah timbulnya gesekan. Vertikal maupun horizontal. 

Barangkali kita salah. Barangkali naif. Barangkali dan barangkali segala sistem hanyalah rekayasa anomali yang berlangsung secara repetitif. Barangkali... kita bodoh? 

Aksi represi muncul di antara kepentingan antargolongan. Padanya tersedia modal sosial, tunjangan kapital, dan kekebalan prosedural. Alasannya hanya satu: ada campur tangan pemerintah di situ. Dan mereka dipelihara, diternak, dikelola. Persis ketika negara memposisikan dirinya sebagai berhala.

39



Sebuah eksodus, terlebih yang dilakukan secara sporadis pun massal, adalah sebuah nisbi antara rasa kerinduan dan kewajiban. Sekalipun keduanya memiliki kesamaan tujuan. 

Jalanan tidak pernah mati, sirkulasi karcis tidak berhenti, bus dan kereta melaju sambil mengabaikan kapasitas maksimum penumpang, dan kapal penyeberang hingga kapal tongkang menyeruak di tengah selat sempit. Ini menjelaskan betapa besar nilai yang terpatri sebagai modus akan sebuah eksodus. Yaitu perjalanan panjang yang acapkali memakan tenaga, waktu, serta biaya. Sehingga ada nilai lain yang harus ditukar. Apakah itu rasa rindu semata, atau keharusan tertentu atas sesuatu yang seumpama niscaya. 

Oleh karena itu, Jakarta hadir sebagai metafora tentatif. Karena ketika bulan suci ramadhan tiba, ibukota metropolis yang sejatinya sumpek, gemerlap, dan terkenal sibuk sepanjang waktu tersebut akan memperlihatkan secercah kekosongan ganjil. Memperlihatkan jumlah penduduknya yang tidak seberapa. Dan kemudian muncul asumsi spontan, “bukan karena rindu, bukan karena haru, bukan karena apa. Mereka hanya muak dengan ibukota.”

38


Efek domino muncul di setiap celah kesempatan, kemudian diakhiri dengan dominasi, dengan diaspora sebagai skenario terburuk. 

Namun segalanya diawali oleh kamuflase, atau sebuah selubung untuk membayangi intrik yang nyata di balik panggung biadab bernamakan politik. Karenanya tidak ada satupun kekuasaan yang tidak memiliki unsur picik. Setiapnya membutuhkan pelumas untuk beringsut maju, menapaki tangga podium satu demi satu. Anda akan menemukan tragedi ini di belahan dunia manapun. Pertanyaannya (yang selalu sama) : mungkinkah anda maklum? 

Ini berlaku apabila sebuah aliansi dibidani oleh unsur politik dengan dalih pemboikotan aktualisasi fakta. Lalu, jika seorang manusia terlahir dengan ketentuan dosa asal, maka aliansi ini tumbuh dengan ikhwal berupa kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan. Dalam hal ini, mereka memiliki setumpuk bekal, dari modal kapital sampai status kekebalan hukum. Aliansi ini seakan kasat mata. Bebas memainkan petak-petak wahana dan mengendalikan opini massa, mirip invisible hands versi adam smith

Pada akhirnya, arogansi sang sutradara akan ditikam tenggelam oleh kemampuan sang aktor untuk mengendalikan plot. Chaos. Dan di saat kru film lain akhirnya menyadari bahwa mereka tengah menggarap film yang impoten, segalanya sudah terlambat.

37

Mungkin kita hidup di jaman yang mengijinkan enigma beroleh kompromi. Di mana perseteruan kian menggelinjang setelah mereguk viagra bernamakan intrik. Ketika itulah politik merasuk, mengambil alih, membungkam barangsiapa yang berani berdalih, menyisakan gurat pedih untuk yang merasa dicurangi, seringkali tanpa rasa mawas diri. 

Persis di masa-masa seperti ini, seorang patriot akan lahir dari puing sisa, juga melalui reruntuhan amnesti penuh jelaga. Ia akan menyusup ke dalam parlemen, di antara tumpukkan kursi dan prasasti, untuk menempatkan pedang damocles di kepala sang pemimpin tertinggi. Dan alih-alih menggantungnya dengan hanya sehelai surai kuda, ia menghunusnya tepat di hadapan muka. Biar ngeri dan enigma tidak lagi berseliweran penuh drama.

plot

sekujur tubuhnya bergetar, berguncang. di hadapannya, sosok bercahaya memantulkan silau ke segala petak ruang. kali itu malam hari, sekalipun kilaunya secercah pagi. namun bukan itu yang membuatnya bergetar, berguncang...

"saya rasa instruksinya cukup sederhana. tidak ada yang sulit dengan pekerjaanmu kali ini."

tubuhnya bergetar semakin hebat. sederhana? benar. tidak ada yang sulit dengan pekerjaannya kali ini. dia hanya perlu mencari gurunya. itu saja.

"tidak ada tawar menawar. ingatlah, ada konspirasi agung di sini. sudah tidak ada lagi jalan kembali. ini perintah."

kali ini dia hampir yakin akan kejang. guncangan ini terlalu kuat untuk diemban tubuhnya yang sudah renta dimakan usia. dan getaran ini terlalu durjana untuk dilawan niatnya yang sudah kempis ditepis tangis.

"tuhan besertamu. semoga berhasil."

ah, tuhan. entah mengapa seketika timbul kekuatan. sekalipun dirinya tidak pernah kelihatan...

selanjutnya gelap kembali merayap. sosok bercahaya telah pergi. kini dirinya resmi seorang diri.

dia berjalan keluar ruangan, memberi isyarat kepada beberapa prajurit romawi untuk menemaninya dalam perjalanan. tubuhnya masih bergetar, berguncang. akan tetapi tugas ini tidak mungkin dibatalkan. dan dengan penyertaan tuhan, pria ini berjalan menuju taman getsemani, menuju sang guru bersimpuh dan berdoa sampai hari menjelang pagi.

dia bernama Yudas Iskariot.

36

Rumah adalah sebuah titik koordinat terindah. Sebuah tempat manakala musafir yang gamang sekalipun akan tertunduk haru apabila melihatnya. Susunan kayu atau batu, padanan semen atau fragmen, serta tumpuan tanah atau darah, masing-masing mengisyaratkan bahwa sebuah rumah tidak hanya sekedar tempat untuk kembali. Karena sebuah rumah akan selalu menanti kembalinya seorang empunya tatkala tengah pergi mengembara (entah di mana, entah sampai mana). 

Namun hal ini tidak berlaku bagi Musa. Ketika laut merah dibelah untuk menggiring bangsa Israel dari serangan penjajah, ada sesuatu yang dipertaruhkan melebihi lecut geram seorang Firaun melalui bala tentara berkudanya. Sekalipun rumah itu menunggu untuk ditempati dalam rupa tanah terjanji, sekalipun loh batu harus dikumandangkan agar lembu emas tidak lagi berarti, ruang itu tetap terbuka. Yakni ruang untuk bangsa yang begitu dicinta semesta. Sebuah rumah. Tentu saja. 

Peradaban prasejarah juga mengenal sistem koloni nomaden. Agaknya ketika hidup dan mati berjibaku dalam jumlah kelompok, dan hinggap di satu titik dianggap begitu penuh resiko, kita secara naluriah akan berpindah mencari koordinat lain. Seolah tempat bernama rumah dapat hadir dalam setiap wujud, setiap bentuk, tidak terpaut spektrum cahaya maupun lekuk gua. Kita hidup bersama angin. Sebuah bentuk apresiasi terhadap kefanaan alam dan citra semesta itu sendiri. Begitu luhurnya generasi nenek moyang sehingga alam berbalik meluhurkan mereka sebagaimana mestinya. Lalu persis ketika saat itulah hidup tidak mengenal kata eksploitasi. Karena simbiosa mutualistik timbul dan bergerak dengan begitu asosiatif. Segalanya terpadu dan terangkum oleh petak sawah yang subur gemah ripah. Elok. Hanya itu sejatinya. Begitu riang sekaligus ringan. 

Rumah ternyata menyimpan kesegalaan dari segala sesuatu yang terkodifikasi oleh sejarah. Tanah air, tumpah darah, tempat membuka dan menutup mata, denyut degap jantung bersimbah, ataupun kata ‘akhir’ pada sebuah ekspedisi rantau. 

Malam ini saya menyadari bahwa esensi dari sebuah rumah tidak hanya sekedar simbol arsitektur ataupun koordinat geometrikal. Karena keniscayaan sebuah rumah, atau sejatinya sebuah rumah, adalah sebuah tempat ketika nafas anda menjadi satu dengan semesta. Lantas menderu dan berpadu pada sebuah gugusan merdu. Dan anda tahu, tiada hawa penolakan di situ.

35


- Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara - 18/8/11 -

Suatu kali, saya pernah mendengar bahwa kemewahan tertinggi kaum muda adalah impuls idealisme yang tengah membara. mengalami muda adalah mengalami kebuasan cara berpikir. manakala baris demi baris intuisi yang menguak tabir akan identitas senantiasa bergulir hingga titik nadir tergelincir. dan barangkali, di usia 22 tahun ini, saya masih boleh merasakan 'muda'. merasakan dinamika belia di tengah himpitan aksi represif sosial. baik secara verbal-nonverbal, juga secara tekstual-kontekstual. muda adalah masturbasi kreasi satir. kira-kira begitu.

secara tidak langsung, uraian congkak di atas juga memiliki implikasi terhadap langkah pengasingan diri. sebagaimana menjadi subjek seumpama terumbu karang yang dikelilingi mortir dan pukat harimau, seperti bunaken yang corak koralnya surut dan berteman nelayan yang menganggap laut adalah ikhtiar dari sekedar ilusi danau sengau, saya segera menjelma dalam gejala kesendirian akut. keterasingan prematur... ada harga yang teramat mahal di balik idealisme yang dicap kekal. misalnya saja : orang tua. yaitu ketika untuk pertama kalinya anda harus beroposisi dengan mereka. lalu bagaimana mengubah (atau setidaknya) mensejajarkan pola pikir antar generasi melalui metode prosedural-diskursif tanpa harus berperan durhaka.

"yang perlu diingat adalah bahwa anda tengah berada dalam proses re-orientasi. atau suatu proses yang menuntut kedalaman observasi. anda masih muda. ketahuilah bahwa keinginan untuk bebas akan selalu ada. lepas dari struktur tidak berarti akan menjadi hancur. namun demikian, upaya moderasi tetap harus dilakukan agar kekecewaan dan praduga tidak akan selamanya bersemayam di benak pemikiran. bicaralah baik-baik. lakukanlah yang terbaik. menalar Tuhan tidaklah pelik."

lalu lanjutnya...

"saya yakin kedua orang tua anda tidak seharusnya khawatir. karena di satu sisi saya rasa, Tuhan sendiri tidak akan khawatir."

Saya tersenyum lega. kalimat yang mengakar dari dirinya tidak hanya sekedar afirmasi. lebih dari itu, saya menganggapnya sebagai sebuah oase emansipasi. bahwasanya saya, yang muda, yang belia, bebas melanglang buana, bebas mencari penyesuaian diri sampai tahap pengukuhan itu tiba dengan sendirinya. tanpa disadari. cukup digenapi... also sprach zarathustra.

#pinggir19




"us..."

#pinggir18

dua kaleng bir
dua bungkus rokok
dua dus biskuit
adalah mereka yang biasa menemani saya tatkala menulis tentang satu objek

anda

tamu

”Pemandangannya bagus banget!” 

“Sumber alamnya melimpah, peradabannya makmur, tentunya menyenangkan tinggal di sini.” 

“Oh! Makanan di sini juga enak-enak.” 

“Udah lihat sejarah mereka? Benar-benar eksotik. Banyak cerita-cerita romantis.” 

“Jadi kangen rumah.” 

“Hmm...” 

“Pulang, yuk.” 

“Baiklah. Selamat tinggal, bumi. Senang sekali bisa mampir ke sini."

#pinggir17

mungkin sepele.

tapi saya menemukan dua tiket bioskop. itu film terakhir yang kita tonton berdua. selagi masih sebagai sepasang manusia yang entah benar-benar berbahagia, atau entah berkamuflase kebahagiaan semata.

lalu saya menjadikannya pembatas buku. tiket ini menandai lembar terakhir sekaligus menemani saya membaca tanpa harus mengganggu.

mungkin sepele.

tapi saya menangis.