#pinggir16

nothing...

i'm just terribly missing you...

and that might be wrong perhaps...

because no such tense could really describe it...

all i can say is "miss"...

so...


i miss you, percussion.

tentang #pinggir

sahabat saya bilang, “aku memperhatikanmu menyapu kenanganmu.”
tetapi ini bukan hanya sekedar kenangan. kenangan -bagi saya- adalah sesuatu yang lampau. sesuatu yang konstan dan hinggap statis dalam sangkar kekekalan bernama periode. kenangan adalah benda mati. serupa rasa yang sekedar hinggap untuk kemudian pergi tanpa kepastian kembali.

sementara, wanita ini, lebih menyerupai ilusi. dan bagaimana mungkin anda, wahai sahabat, menyapu sebuah ilusi? lebih lagi ketika daya magisnya telah terpatri bagai relief di serat nadi? lain halnya dengan kenangan, ilusi akan terus mengalir, bergulir, jatuh, jungkir balik, berpagut mesra dalam aliran jaman, tanpa harus menjadi seonggok beban.

dia lalu bertanya, "apakah engkau telah seputus asa itu?"
tetapi ini bukan soal asa, wahai sahabat. bukan pula soal harap. karena asa dan harap -bagi saya- mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang belum tercapai. misi itu masih berlangsung. misi menuju hasil, dengan mengorbankan hal-hal prinsipil, bahkan seringkali tiada dirasa adil.

sementara, wanita ini, lebih menyerupai kosong. dan bagaimana mungkin anda, wahai sahabat, menghilangkan sesuatu yang telah kosong? dia ada. tepat di sana. namun tiada jemari yang mampu mewakili letaknya. wanita ini tidak untuk ditunjuk oleh panca indera. dirinya adalah nihil di tengah kerikil ganjil. lain halnya dengan asa maupun harap, kosong tidak cukup nyata untuk dituju. ia akan terus ada untuk menopang apa yang tidak kasat mata, tanpa harus kehilangan pertanda pun prasangka.

terbilanglah sejumlah malam yang habis dengan cuplikan singkat kenangan akan dirinya. kenangan yang saya ceritakan kepada anda, wahai sahabat. terima kasih untuk mendengar. terima kasih karena tidak menganggap ini sesuatu yang bingar. terima kasih atas atensi yang tiada terlihat pudar. dan terima kasih, karena anda tidak menimpali dengan komentar.

itu saja...


- untuk margaretha quina. sesosok wanita hebat di balik badannya yang semakin hari semakin bulat -

#pinggir15

22 Juli '11

"tertidur tanpa sengaja sekitar jam 6 pagi karena membaca, lantas terbangun sekitar jam 11 siang seraya mengurut dada..."

tumben tuhan baik banget. ini mimpi tentang anda yang paling lama setelah beberapa tahun. kenapa saya dikasih mimpi begini saya juga nggak ngerti. dan begitu saya sadar, saya berusaha keras untuk tidur lagi. khusus hari ini, kalau boleh, saya mau menolak untuk sadar, saya mau lanjutin mimpi tadi.

mimpinya sederhana. kita ketemu, bertukar cerita, ketawa bareng (oke. mungkin ini luar biasa), sama-sama lelah karena rutinitas yang berbeda, yaa... kira-kira begitu. sederhana kan?

namun menjadi luar biasa karena satu adegan itu : adegan dengan setting jalan gelap. kita jalan kaki rame-rame (oh iya, di mimpi itu temen-temen kita jadi satu kubu. mereka saling kenal). kita jalan di belakang mereka. paling belakang. berdua. kita sama-sama mengenakan kaos biru-putih-garis-garis. dengan warna yang persis sama. berdua. kemudian...

"Sini, deh. Foto sebentar. Udah lama..."

tangan saya ditarik, lalu anda mengarahkan lensa kamera ponsel ke muka kita, kemudian ada blitz, dan anda memperlihatkan hasilnya kepada saya...

"Minta... Boleh?"

hanya itu yang saya ucap. hanya itu yang ada di pikiran saya (sementara itu, temen-temen kita udah jauh ninggalin kita di belakang). foto berdua itu kayaknya remeh banget. tapi tidak buat saya. ini foto "kita" berdua. "berdua". setelah "bertahun-tahun". apa aneh kalau saya anggap ini luar biasa?

tapi justru mungkin karena hal itu begitu luar biasanya bagi saya, sampai-sampai tubuh saya di alam realita bergerak, kaki saya menyenggol asbak, suaranya cukup keras untuk saya dengar di mimpi, detik berikutnya yang saya ketahui : saya di ruang tengah kosan, kepala menopang bantal di samping laptop, ponsel tergeletak persis di sebelahnya.

saya raih ponsel itu dengan kesadaran yang mendadak datang. membuka menu gallery, membuka picture. dan... foto itu tidak ada. tidak ada foto kita yang sama-sama mengenakan kaos biru-putih-garis-garis. tidak ada foto kita untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. tidak ada... apa-apa...


mimpi

sekilas mengenai "Nihilisme" - Friedrich Nietzsche



Gagasan nihilisme dicetuskan oleh Nietzsche dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna kini sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Ini merupakan sebuah krisis yang akan terus berlangsung tanpa berkesudahan. 

Renungan tentang nihilisme pada intinya adalah renungan tentang krisis kebudayaan, khususnya yang melanda benua Eropa. Renungan ini ditujukan untuk zaman yang akan datang, sebuah masa depan maupun perkembangan sejarah bagi kondisi kebudayaan itu sendiri. 

Nihilisme sebagai runtuhnya seluruh nilai dan makna meliputi seluruh bidang kehidupan manusia. Seluruh bidang ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu keagamaan (termasuk moral) dan ilmu pengetahuan. Runtuhnya dua bidang ini membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahanmi dunia dan hidupnya, termasuk aku-nya. Singkatnya, nihilisme mengantarkan manusia pada situasi kritis atau kepada hari yang menjadi “malam terus-menerus” karena seluruh kepastian hidupnya runtuh. 

Situasi ini digambarkan oleh Nietzsche dengan berteriak “Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet!” (Tuhan sudah mati! Kita telah membunuhnya!) 

Ungkapan ini bermaksud menyatakan perang melawan setiap bentuk jaminan kepastian yang mulai pudar. Jaminan kepastian yang pertama adalah Tuhan sebagaimana diwariskan oleh agama kristen, beserta jaminan-jaminan kepastian lainnya (ilmu pengetahuan, rasio, prinsip logika, sejarah, dan kemajuan). 



Ungkapan lain yang juga dipakainya adalah “Requiem Aeternam Deo” (Semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi). Ungkapan ini dapat ditemukan dalam bukunya yang mulai ditulis di Genoa pada tahun 1880, yaitu Die Frohliche Wissenschaft. 

Yang perlu diperhatikan adalah, ketika berseru “Tuhan sudah mati!”, Nietzsche pertama-tama tidak bermaksud mau membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Seruan ini lebih menunjuk pada Tuhan yang dulu pernah dibiarkan hidup, kini secara beramai-ramai sudah mulai dikuburkan banyak orang, bahkan kini sudah mulai membusuk. Dirinya juga memaklumi bahwa Tuhan pernah hidup dahulu kala. 

Nietzsche juga mengungkapkan bahwa Tuhan memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah. Karena sejak zaman Yunani hingga Renaissance, manusia dibayang-bayangi oleh jaminan absolut, Tuhan, untuk memberikan makna dan nilai bagi dunia dan hidupnya. 

Nihilisme sebagai runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan yang normal dan akibat yang harus terjadi. Dengan kata lain, nihilisme adalah hasil yang tak terelakkan dari seluruh gerak sejarah sebelumnya yang diresapi gagasan-gagasan ketuhanan. Terlepas dari itu, nihilisme lebih merupakan semangat zaman daripada suatu doktrin atau sikap para filsuf secara individual. 

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam arti sempit, matinya Tuhan menunjuk pada runtuhnya jaminan absolut, yaitu Tuhan, yang merupakan sumber pemaknaan dunia dan hidup manusia. Situasi inilah yang disebut nihilisme oleh Nietzsche. Meskipun begitu, Nietzsche telah mengartikan Tuhan dengan lebih luas, yaitu suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian hidup dan manusia. Karena itu, sekalipun orang sudah membunuh Tuhan, orang belum tentu tidak menghidupkan Tuhan-tuhan lainnya. 



Nietzsche juga meramalkan bahwa gerak sejarah akan mengarah pada suatu bentuk nihilisme yang radikal. Seperti yang ditulisnya : 

“Nihilisme radikal adalah keyakinan bahwa secara mutlak eksistensi tak dapat dipertahankan lagi, bila hal itu menyangkut nilai-nilai tertinggi yang diakui manusia. dan ditambah lagi dengan pemahaman bahwa kita tidak lagi mempunyai hak sedikitpun untuk menyatakan ciri di seberang dan pada dirinya dari segala sesuatu seolah-olah bersifat ilahi atau merupakan moral yang menjelma.” 

Menurut Nietzsche, manusia harus bebas dari segala makna absolut yang menjamin dirinya dan dunianya. Manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberinya nilai. 



Dalam menghadapi nihilisme sebagai konsekuensi atas perkembangan yang harus terjadi, Nietzsche menolak sikap diam karena menurutnya sikap ini bukanlah sikap netral dan memang tidak suatu sikap pun yang netral. Menurutnya, sikap diam berarti membiarkan diri didikte oleh keadaan nihilistik atau krisis terus menerus. Sikap ini justru akan mengantar manusia ke dalam situasi dekaden yang tak tertahankan. Dan ini disebutnya sebagai nihilisme pasif. 

Nietzsche mengajukan sikap tidak tinggal diam, taitu mengatasi nihilisme tanpa harus menolak nihilisme. Usaha ini dilakukan dengan pembalikan nilai-nilai. Dan cara ini akan menghasilkan nihilisme aktif. Artinya : Nietzsche tetap menolak setiap bentuk model Tuhan, yang melaluinya orang mendapat jaminan untuk memahami dirinya dan dunianya. Ia juga tidak bermaksud mencari pengganti dalam bentuk apa pun. Nietzsche mengakui bahwa segala sesuatu itu Chaos. Tak ada suatu pun yang benar, maka segalanya diperbolehkan (“nothing is true, everything is permitted” atau “nichts ist wahr, allest is erlaubt”). 

Yang dimaksud dengan pembalikan nilai-nilai adalah mencari cara untuk berkata ‘YA’ pada dunia yang adalah chaos dan nihil, yang tidak mengandung kebenaran mutlak atau tata dunia moral. Dalam usahanya ini, Nietzsche memandang nilai tak lebih daripada titik berangkat dari suatu pengembaraan. Tidak ada kebenaran absolut. Kebenaran adalah semacam kekeliruan yang tanpanya kita tak dapat hidup. Kalau suatu nilai atau kebenaran sudah mengarah menjadi absolut, manusia harus meninggalkannya.

#pinggir14

Jika anda adalah sebuah buku, mungkinkah saya boleh menjadi pembatasnya? Saya berjanji tidak akan hadir sebagai pengusik. Barangkali saya malah menjadi pengingat. Ya. Bukan penggugat. Saya akan menyusup di sela-sela lembar cerita anda bersamanya. Cerita tawa maupun nelangsa kalian berdua. Saya akan menggarisbawahi setiap hal penting yang sekiranya perlu untuk kalian ingat. Memori yang terlewati dan oleh karenanya perlu direkam lebih erat pun lekat sehingga sang waktu sekalipun tiada kuasa untuk menggurat. Di waktu lain, katakanlah saya berfungsi sebagai pemberi jeda. Karena kisah kalian terlampau bermakna untuk langsung ditelan habis sekali baca. Jangan terburu-buru dan jangan juga ragu untuk sesekali menutup buku. Kalian tentunya memiliki wilayah personal masing-masing sebagai manusia. Dan itulah tugas saya : menandai lembar tertentu agar kalian mampu melanjutkan membaca kembali tanpa perlu memulai dari awal cerita. Oh ya. Sepertinya sedikit lancang. Hanya saja apa boleh saya minta agar cerita di buku ini tidak diakhiri dengan epilog ataupun kata ‘selesai’? Sebagai pembatas buku yang beberapa tahun lalu pernah mengalami apa rasanya menjadi tokoh di dalam buku anda ini, saya telah menyaksikan transformasi. Terlebih dalam diri anda, sebagai karakter utama. Sekalipun hanya sebatas asumsi belaka, saya percaya, bahwa anda telah tumbuh sedemikian rupa menjadi seorang yang berbeda. Atau lebih tepatnya, seorang yang jauh lebih bahagia. Dan ketika kebahagiaan itu tidak ada saat saya masih menjelma tokoh di dalamnya, saya memutuskan untuk menjadi pembatas buku. Menjadi pembatas buku yang senantiasa membayangi cerita hidup sepasang manusia. Namun tidak untuk menghantui, apalagi mengganggu. Karena ini adalah cerita bahagia. Cerita anda.
Meskipun saya tidak hadir di dalamnya.

Madre (Review)

.MADRE.

Banyak yang berkata bahwa sebuah karya tulis yang bagus haruslah memiliki bentuk penulisan yang mampu memproyeksikan reka visual cerita pada saat kita membacanya. Saya setuju. Terlebih jika mereka yang membacanya dapat tenggelam dan terbawa oleh interpretasi kontemplatif tersendiri. Menjadikan sebuah teks memiliki nilai apresiasi yang begitu tinggi tanpa disadari, sekaligus memposisikan si pembaca sebagai sang sutradara yang bebas menuangkan citra terhadap alur cerita.

Madre adalah buku yang menyajikan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa pendek karya Dewi Lestari. Ini adalah buku ketujuhnya setelah trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Recto Verso, dan Perahu kertas.

Komposisi yang hadir dalam Madre langsung mengingatkan saya akan Filosofi Kopi. Dari beberapa cerpen yang menggugah selera hingga kumpulan prosa pendek yang sarat makna, Madre seumpama meracik hidangan yang sama dengan bumbu yang jauh berbeda, sehingga sensasi di setiap lembarnya memberikan nuansa yang sama kaya meskipun lain rasa. Analoginya, jika Filosofi Kopi adalah hidangan pembuka, maka Madre hadir sebagai menu utama yang melengkapi dan menggenapi jamuan makan anda.

Seperti misalnya di cerpen Madre, wanita bernama pena Dee ini menceritakan petualangan Tansen, seorang pemuda yang secara tiba-tiba mewarisi Toko Roti Tan De Bakker, dengan gaya penuturannya yang khas seperti halnya ia menceritakan Ben dalam kisah Filosofi Kopi. Meskipun menurut saya, plot di kedua cerita sangatlah bertolak belakang satu sama lain. Akan tetapi, sekali lagi Dee berhasil membuat saya kelaparan sendiri membayangkan varian jenis roti yang digambarkan dalam cerita tersebut. Deskripsi cara pembuatan roti hingga tipe-tipe roti yang dijabarkan secara detail, membuat saya ingin merasakan langsung seperti apa roti sourdough yang tercipta melalui biang adonan bernama Madre. Persis sama ketika saya dibuat kehausan saking penasaran bukan kepalang membayangkan seperti apa rasa kopi bernama Ben’s Perfecto maupun Kopi Tiwus yang tumbuh liar di daerah perbukitan Jawa. Judul pertama dari kedua buku ini seolah berusaha memberikan separuh bekal yang kiranya dapat mengganjal perut saya agar meneruskan membaca dalam kondisi setengah lapar. Kondisi yang membuat saya sulit untuk merasa kenyang sebelum mencapai akhir lembar.

Lalu pada cerpen berjudul Have You Ever, yang menurut pengakuan Dee sendiri, memerlukan proses bertahun-tahun untuk diselesaikan, Dee menggambarkan sosok Howard, seorang lelaki yang rela menghabiskan waktu cutinya di ujung paling utara benua Australia untuk mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu pasti. Howard yang begitu tidak percaya diri dan sepenuhnya pasrah pada pertanda, Howard yang tidak ingin mengakui dan tidak cukup berani menghadapi konsekuensi akan realitas hidup yang begitu absurd, hingga dirinya mendapati bahwa hidup memiliki caranya sendiri untuk memandu langkah kaki setiap manusia, sehingga tidak ada seorangpun yang bakal tersesat dan menemui jalan buntu di akhir waktu. Howard, bagaimanapun juga, adalah potret langsung masyarakat sibernetika. Masyarakat sosial yang umumnya sangat tergantung pada intuisi imajiner yang kerap kali menyenangkan, atau dapat dikatakan sebagai bagian dari masyarakat sosial yang justru jauh dan terisolir, bahkan merasa anomali terhadap lingkungan sosial yang sebenarnya.

Lain lagi di cerpen berjudul Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan. Karakter ‘aku’ dikisahkan sebagai seorang berprinsip dan memiliki idealisme kuat dalam mendefinisikan hal-hal yang tak terpemanai. Cinta dan Tuhan, digambarkan sebagai dua subjek yang tidak memiliki definisi universal pun valid oleh karena sifatnya yang transenden dan berada di luar jangkauan kemampuan telaah manusia. Memang menjadi ironis, bahkan klise, ketika dua hal yang paling sering dipertanyakan dan diperdebatkan justru tidak memiliki jawaban mutlak dan absolut. Bahwa esensi keduanya adalah cukup dirasakan, tidak untuk dicari dan diperkarakan. Dan menurut saya, cerpen ini telah berhasil menohok realitas sosial masyarakat Indonesia dengan keras, terlebih mengingat kondisi masyarakatnya sendiri yang labil karena isu-isu fundamental dan anti-pluralitas semakin marak setiap harinya.

Lalu pada sebuah prosa pendek berjudul Wajah Telaga, mengingatkan saya akan Salju Gurun dalam buku Filosofi Kopi. Dengan kepiawaiannya menyusun kata, Dee kembali berbahasa melalui metafora. Bila Prosa Salju Gurun melambangkan keberanian untuk tampil berbeda di tengah situasi yang serba monoton, Wajah Telaga hadir sebagai simbol keberanian untuk berlaku jujur serta kemauan menerima rotasi kehidupan dengan tulus dan sabar. Keduanya melengkapi secara tidak langsung, secara tidak sengaja, dan membuncah bagai stimulus alam sadar manusia agar dapat terus bertahan di tengah arus pasang iklim global yang senantiasa majemuk. Survive tanpa harus membohongi diri sendiri, terlebih tanpa harus memanipulasi jati diri.

Maka, saya menyimpulkan bahwa Madre adalah main course yang datang beberapa saat setelah Filosofi Kopi sebagai appetizer. Sebuah menu utama yang apik dan dramatik, merangkum realitas sosial dengan begitu luwes sekaligus jenaka. Dan saya kira, model narasi seperti ini hanya dimiliki, selalu dimiliki, oleh Dewi Lestari seorang. Selamat makan

kompromi

“Terlalu banyak yang menarik, hingga saya tidak bisa menelan seluruhnya...”
Kali ini, waktu cukup berbaik hati karena bersedia memenjarakan garis tenggat untuk sesaat. Saya dibiarkan mengawang jauh dalam beberapa bulan ke depan. Lepas darinya, lepas dari kekasih yang cukup sering mengguratkan batas-batas perih. Kali itu pertemuan terakhir dengan kontrak tanpa materai. Sebagai gantinya, produktivitas saya harus mampu digenjot sampai batas bungkusan rokok kretek, kaleng-kaleng bir, serta reduksi suplai darah. Saya mengangguk, lalu kami bersenggama. Ritual ini terlaksana atas dasar komitmen semata tanpa rasa cinta. Pun acapkali terjadi tanpa merekayasa efek jera...

Lalu dirinya hilang, dibawa waktu entah ke mana...

Perhentian pertama dari langkah kaki adalah justru ketika untuk pertama kalinya kaki ini melangkah sendiri. Dan bebas adalah sensasi. Melewati batasan-batasan indeks prestasi maupun bibit bebet bobot nominal formalitas belaka. Benar, deadline sudah dipenjara. Tiket perselingkuhan sudah di tangan. Namun kembali ke permasalahan... “Terlalu banyak yang menarik, hingga saya tidak bisa menelan seluruhnya...”

Seketika, saya merasa dihantui oleh simulasi bervisualkan laboratorium milik seorang pakar ethologi, Konrad Lorenz. Saya adalah tikus di samping bejana biokimia yang sama-sama terpenjara oleh selapis kaca baja. Sang profesor hanya tinggal menekan katup untuk memutuskan masih atau tidak layakkah saya hidup. Dibunuh atau terbunuh hanya soal waktu. Yang membedakannya adalah daya juang untuk terus bertahan. Dan ketika banyak diantara manusia memilih mati, sementara sisanya yang memilih untuk hidup hanya dapat dihitung menggunakan jari kaki, tidak ada alasan apapun yang mampu menunda sang profesor untuk menekan katup kembali. Karenapun satu tikus mati tidak lantas membuat poros bumi berhenti...

Mungkin saya merindukan deadline. Saya merindukan mata sembab dan tensi yang meluap, atau distraksi berujung kalap. Ironis. Karena semakin saya membutuhkannya, semakin saya sadar bahwa tali kekang kendali berada penuh di bawah wewenangnya. Dirinya adalah majikan tak berbudak yang berkuasa membuat waktu berjalan sesuai kehendak. Seperti bulan yang senantiasa dipuja sekalipun tidak pernah berbuat apa-apa selain memantulkan cahaya empunya panglima semesta. Kali itu saya bilang, “Terlalu banyak yang menarik, hingga saya tidak bisa menelan seluruhnya...”. Dia terbahak. Itu saja reaksinya...

Tidak ada yang menyuruhmu menelan, sayang. Menu itu hadir untuk dipilih, tidak untuk asal dipesan...

Tapi saya ingin menelan seluruhnya...

Apa yang membedakanmu dengan tikus laboratorium itu?

Saya manusia...

Dan manusia hanyalah noktah inferior bagi kaum amoeba...

Tidakkah itu menarik?

Spesies kalian adalah yang terunik karena mampu menghabisi spesies sejenis tanpa alasan jelas, bahkan seringkali mengabaikan kajian-kajian empirik...

Saya percaya akan rekayasa genetik dan reinkarnasi identik. Kamu hanya congkak karena mampu menyabotase partikel yang menyebabkan misreplika dna...

Tidak ada yang berkuasa sayang, tidak pula yang menyia-nyiakan waktu. Kalian ada bukan untuk menyia-nyiakan waktu, karena waktu yang menyia-nyiakan kalian. Satu... demi... satu...

Dan berhentilah. Bukankah kamu ada untuk memenggal rotasi? Bukankah namamu adalah simptom atas lembaran tragedi? Secuil saja, menghentikan waktu untuk sementara agar kami bisa bernapas lega ataupun berderai duka?

Dan kalian lupa, saya masih dipenjara...



Maka di malam yang sama, saya menjemput kekasih dengan berbekal secarik kunci...

Kunci untuk membebaskannya, sekaligus kunci untuk memenjarakan saya...



Terlalu banyak yang menarik, bukan?