34

Terbilanglah sejumlah filsuf yang karya-karyanya mengontaminasi literasi maupun kultur asli suatu individu hingga komponen masyarakat. Mereka mengembangkan sebuah ide, pemahaman, perspektif, paradigma, metode tertentu yang berdampak langsung terhadap realitas sosial. Globalisasi masa kini dianggap sebagai puncak kejayaannya. Dan oleh karenanya, semakin banyak pula individu yang terus mengembangkan gagasan, konsep, sehingga nilai-nilai konvensional dapat terus beradaptasi dengan pusaran dinamika. Segalanya berubah. Segalanya menua, musnah, dan menciptakan sejarah karena ada ‘segala’ lain yang telah berhasil menegaskan kata ‘berubah’ tadi.

Akan tetapi lain halnya dengan nama. Kekekalan nama para filsuf itu yang saya maksud. Secara sadar maupun tidak, membuat metamorfosa yang terjadi tidak bisa lepas dari akar yang telah tumbuh menyerupai hidra. Eksistensi mereka boleh jadi tinggal cerita, akan tetapi warisan mereka tidak lekang termakan usia, termakan jaman, termakan rangkaian spektrum dari pelbagai sudut peristiwa. Kita, terisolir oleh ide dengan predikat mashyur tersebut.

Di satu sisi, tidak ada yang salah. Jika dalam ajaran Buddha, anatman dan anitya mencoba merepresentasikan reinkarnasi sebagai sesuatu yang niscaya, tidak akan ada dua subjek yang seutuhnya sama, baik secara genetik maupun sifat pribadinya. Berpegang pada sebuah keniscayaan adalah bukti bahwa betapa luhurnya cita-cita yang telah teregenerasi sampai saat kini. Bergolak dalam rentetan dekade yang menawarkan evolusi yang masif sementara berhasil mempertahankan diri, agaknya menjadi simbol bahwa manusia akan senantiasa menjadi paradoks. Dan pada konteks ini, paradoks yang demikian tidaklah akan pernah dapat direnggut dari keabadian. Karena bakteri yang bernama manusia ini terus berkembang secara simultan.

determinasi waktu, macchiato, Quina, Mas Joko, & fantasia


”Bulan ingin memiliki seorang anak untuk membuatnya menjadi seorang wanita sejati, namun ia tidak memiliki seorangpun yang dapat membuatnya merasa sebagai seorang wanita.” – Margaretha Quina (dia bilang, kata-kata ini pernah diucapkan oleh salah seorang senior perempuannya di kampus)

***

Dini hari, pagi buta, larut malam, subuh, entah. Saya masih belum bisa menemukan kata yang tepat untuk menempatkan waktu. Namun percakapan itu terhenti di dalam keremangan angkringan soember oerip Mas Joko, Jagakarsa. Hanya saya, Margaretha Quina, dan Mas Joko sendiri. Ditemani gelas-gelas macchiato, kerupuk kemplang, rokok, lantas kami tenggelam dalam nuansa magis-magnetis yang santai.

Mungkin karena pengaruh cahaya remang di tempat ini, sehingga topik apapun bisa berkembang sedemikian luas hanya dengan bubuhan sejumput imajinasi maupun seberkas ide sinting. Atau mungkin karena pengaruh hawa dingin yang hening tanpa bising (sesekali, memang ada motor berknalpot nyaring melintas. Kami menganggapnya iklan komersil sebagai jeda obrolan. Biasanya, setelah itu kami menyumpahi sang pengendara agar mati di jalan), atau malah karena pengaruh waktu? Karena saya pribadi menganggap waktu yang bersemayam di antara tengah malam dan pagi hari adalah masa-masa ketika produktivitas mengalir deras. Probabilitasnya memang banyak. Namun apapun yang mendominasi, kontemplasi itu tetap ada, dan senantiasa diakhiri senyum dalam artian tersendiri.




Malam itu adalah malam perpisahan kami dengan Quina. Cewek macho ini ingin pamit untuk menjelajah Indonesia bagian timur dalam rangka program K2N (entah singkatan apa pula itu), menuju pulau kecil di dekat Flores dan Alor, yaitu pulau Palue. Dan kenapa macho? Pertama-tama, pulau itu jauh luar biasa. Kedua, kondisi perairan di sekitarnya amat labil dan cocok untuk dianggap sebagai kuburan massal kapal karam karena jumlah kapal laut yang tenggelam. Ketiga, di tengah pulau kecil itu, masih menjulang gunung api berstatus aktif. Keempat, epidemi kaki gajah dan malaria siap memangsa siapapun yang datang. Kelima sekaligus terakhir, dia baru kembali di awal bulan Agustus nanti, sementara yang akan membungkus seluruh perbekalannya hanyalah daypack berkapasitas 10-12 liter. Lalu, apa kalian masih belum percaya kalau Quina macho? Belum lagi, (meskipun sudah dilarang oleh dokter) dia tetap keras kepala minum kopi. Dua gelas, sambil merokok pula. Benar-benar pemandangan langka. 


Macchiato saya sendiri sudah gelas kedua. Satu hal yang sampai kini belum jelas artinya untuk saya, yaitu sensasi yang timbul ketika minuman ini dicecap indera perasa. Barangkali saya tidak akan pernah bisa mendeskripsikan rasanya dalam bentuk tulisan. Mas Joko pernah bilang kalau ini dibuat dari bubuk kopi dan coklat yang dimatangkan dengan sebongkah arang. Sesederhana itu, untuk cita rasa yang sedemikian kompleks. Memang subjektif, tapi setiap tegukan adalah penanda akan kehadiran kenangan secara acak setelahnya. Ditambah aroma yang pasti menyusup masuk dengan liar saat tutup gelas terbuka, saya seakan seperti mencoba mencari pengampunan ketika meminumnya. Selebihnya bisa kalian rasakan sendiri. Silakan resapi ledakannya di setiap inci lidah anda. Lebih dari itu, walaupun memang terdengar seperti sugesti, setiap kali saya minum minuman ini, obrolan seperti apapun akan terasa lebih intim, lebih dalam, tanpa perlu memperhatikan status relasional dari lawan bicara anda. Mas Joko sendiri, yang juga pemilik angkringan, adalah lawan bicara yang paling ideal di tempat ini. Banyak cerita inspiratif yang berasal dari pengalaman hidupnya sendiri. Sosoknya yang bersahaja, seolah membuat kita merasa dinaungi oleh kelebat-kelebat retrospeksi, dan bertukar pikiran dengannya selalu menyisakan kelegaan yang begitu lapang. Sehingga ketika obrolan selesai, saya selalu beranggapan bahwa lampu di kepala saya kembali berbinar.


Banyak sekali cerita yang saya dapat dari Mas Joko. Hampir seluruhnya berkesan. Seperti halnya kali ini, ketika pria ex-seminari tersebut berujar, “yang pasti dari ketidakpastian itu sendiri adalah kematian. Fakta lucu sekaligus menyedihkan.” Saya dan Quina hanya tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran Quina. Pikiran saya sendiri telah dibawa jauh sampai ke titik soal takdir. Apabila takdir itu memang benar-benar ada, rasanya percuma saja manusia berusaha. Kemudian ke kata-kata Sancho Panza, Justru di dunia yang sempurna, manusia merencanakan, tuhan mengecewakan. Kemudian terseret lagi oleh kata-kata seorang teman saya, Rangga Pranendra, takdir adalah objek yang kerap kali disalahkan pada setiap kebaikan dan keburukan. Hingga pada akhirnya kembali ke meja angkringan lagi, untuk mengatakan bahwa ketika seorang pragmatis sejati telah lahir, ketika itulah peradaban manusia resmi berakhir. Konklusi abstrak. Saya tidak tahu dari mana kalimat itu muncul. Singkatnya, kira-kira percakapan semacam itulah yang akan kalian dapatkan dengan Mas Joko. Percakapan yang secara tidak sadar akan menuntut daya eksplorasi berkelana seluas-luasnya tanpa perlu takut merasa salah bicara. Dan saya kira, tipe obrolan seperti ini tidak setiap kali anda temui. Bahkan dalam momentum rekoleksi.

Yang mengakhiri percakapan kami bertiga adalah matahari. Tiba-tiba saja ia merekah. Barangkali ia iri karena tidak diajak ikut serta, atau mungkin ia ingin mengingatkan kami bahwa sudah waktunya untuk beristirahat dan melanjutkan obrolan ini di lain kali. Saya kemudian bersiap-siap pulang. Quina ikut saya sampai Depok. Mas Joko juga pergi berbelanja untuk kebutuhan angkringannya malam nanti.

Oh, berbicara mengenai waktu, saya yakin kalau ini adalah pagi. Pagi adalah ketika dunia kembali terlihat sibuk oleh aktivitas penghuni-penghuninya. Pagi adalah ketika matahari menyaksikan itu semua nan jauh dari atas sana. Pagi adalah sesuatu yang memang memiliki definisi sejak lama. Namun, berbeda halnya dengan waktu ketika kami bertiga masih duduk dan ngobrol ngalor-ngidul sambil menenggak gelas-gelas macchiato. Ketika itu, agaknya waktu tidak memiliki definisi valid dan hanya duduk manis menyimak setiap kata. Atau mungkin sang waktu sedang menunggu kami bertiga untuk mendeterminasikannya? Tidak ada yang tahu... 

Dried Cassava - Mind Thieves | The Launching





Minggu malam, 5 Juni 2011, suasana di jalan Gunawarman 42, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lain dari biasanya. Nampak sejumlah mobil terparkir sampai menutupi sebagian jalan raya. Beberapa saat sebelumnya, hujan turun cukup deras. Namun suaranya tidak cukup keras untuk mengalahkan suara yang berasal dari Studio BISS. Di lantai tiga bangunan tersebut, Dried Cassava tengah membius pengunjung dengan suguhan musik yang sekaligus merupakan materi album perdana mereka.

Saya naik menuju venue yang ternyata cukup gelap. Konsep dekorasi yang meminimalisir penggunaan cahaya ini memberi kesan intim. Atmosfer yang nampak benar-benar mengeluarkan chemistry dari keempat personil. Sorotan lampu berwarna, resonansi sound yang cukup sempurna, telah berhasil memberikan nuansa artistik-estetik bagi penampilan panggung mereka.

Dried Cassava
terbentuk melalui pertemanan antar personilnya semenjak masa SMA. Baskoro Adhi Juwono-vokal & gitar, Nandie Daniel Febryan-gitar, Bana Drestanta-bass, dan Kago Mahardono-drum adalah angkatan 2007 dari siswa SMA Pangudi Luhur Brawijaya 4. Lebih dari lima tahun bergelut di dunia musik membuat band ini dapat dikatakan matang dalam segala aspek. Pengalaman yang mereka dapat, telah menempa individu-individu di dalamnya menjadi begitu solid dan kokoh.

Album perdana mereka yang bertitel Mind Thieves mengisahkan tentang sebuah ide mengenai kehidupan yang didapat dari pengalaman hidup masing-masing personilnya. Dengan menggabungkan berbagai pengalaman pahit dan manis, lahirlah sosok Mind Thieves yang dianggap mampu merepresentasikan perjalanan karir musik mereka.






“Kenapa Mind Thieves? Karena ‘tepat’ aja menurut saya. Ide-ide yang terkumpul ditanamkan secara tidak langsung karena tersembunyi di balik lirik-liriknya. Jadi memang harus didengar dan diresapi dulu musiknya untuk benar-benar mengerti esensi dari Mind Thieves itu sendiri. Secara genre, mungkin ini bukanlah sesuatu yang baru. Namun berbeda dengan liriknya yang dikemas secara lebih dalam.” jelas Baskoro Adhi Juwono, vokalis Dried Cassava, yang malam itu mengenakan setelan kemeja hitam.







Ada 12 lagu di album Mind Thieves. Dan seperti yang diutarakan oleh Baskoro, genre memang variatif. Salah satu masterpiece mereka, ‘Be Myself’ juga turut menghiasi playlist album ini. Namun, satu lagu yang menurut saya pribadi sungguh luar biasa dan benar-benar ‘dalam’ secara lirik adalah ‘Menjual Kaum Hawa’. Di lagu ini, Baskoro bernyanyi sambil memetik gitarnya dengan nuansa blues yang kental. Sehingga ‘Kuat dan kharismatik’, adalah komentar yang sangat cocok. Lagu ‘Menjual Kaum Hawa’ dipastikan akan membuat pendengarnya terbawa dalam dimensi kontemplatif tersendiri yang sarat ironi dan retorika hidup manusia, khususnya remaja.

Lagu lain yang juga khas menurut saya adalah ‘Manusia Beruang’. Lagi-lagi di lagu ini, Baskoro sang vokalis tampil berbeda di belakang keyboard. Ada kesan lirih yang teramat sangat ketika Baskoro memainkan nada bawah di keyboard sambil diselingi lengkingan suaranya. Saya merinding. Jujur saja. Mereka benar-benar mampu mengatur dinamika ambience sehingga perhatian seluruh pengunjung senantiasa terpaku pada panggung.

Acara peluncuran album perdana mereka juga diramaikan oleh penampilan dua band pembuka, Swimming Elephants, dan Mammals. Satu hal yang membuat para pengunjung takjub adalah keikutsertaan orang tua dari masing-masing personil di acara ini. Figur mereka sebagai musisi seketika lenyap dan berganti menjadi sosok anak kecil ketika orang tua mereka naik ke panggung untuk sesi foto. This is absolutely rare.






Jam 23.00, acara peluncuran ini selesai. Saya menemui mereka yang tersenyum cerah meski bermandikan keringat. Wajah mereka menunjukkan begitu berharganya momentum ini. Tentu saja, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dan perjuangan selama lima tahun yang menuntut konsistensi tersebut, akhirnya menghasilkan sesuatu yang sangat membanggakan, sesuatu yang tidak terlupakan. Kemudian saya pamit. Dan benar saja. Perjalanan pulang saya yang diiringi musik-musik dari album Mind Thieves telah menyeret saya ke dalam lamunan ambigu. Malam ini, Dried Cassava berhasil membuat seisi jalan raya seolah ikut berdentum sesuai ritmiknya. Superb.





“Jangan pernah berhenti bermimpi. Karena impian lo pasti akan tercapai dalam banyak cara.” – Dried Cassava.

*other review*

#pinggir13

.imagine that one day, we finally able to see that dawn together. with tears...
semua bilang 'selamat ulang tahun.'

...
 ...
  ...

saya bilang 'selamat hari jadi.'

...
 ...
  ...

benar. ini tahun keempat kita... seharusnya...

"happy imaginary anniversary. may god bless our dreamless relationship. amen..."

22nd

perahu ini adalah simbol akan eksistensi kalian ketika menopang saya mengarungi hidup.

Hari kelahiran adalah momentum yang tepat untuk introspeksi diri. Melihat serta mengevaluasi rekam jejak yang menyayat takdir, disyukuri maupun tidak. Ulang tahun saya yang ke-22 ini adalah fase repetual seperti biasanya. Paling tidak, bumbu yang ditebar sedikit berbeda. Kali ini, dunia memberi lebih banyak gula. Karena menjelang hari ulang tahun, dinamika dunia tersaji dengan begitu pahitnya untuk saya.

Mungkin memang ada saatnya ketika seseorang menemukan titik pergolakan batin paling klimaks. Di mana kesanggupan dan kontemplasi semata tidaklah cukup untuk merombak solusi. Ada dekonstruksi terhadap apa yang sudah saya tekuni, ada pengabsahan, ada perbaikan, juga ada beberapa memoar yang semakin memar tatkala tidak kunjung berakhir selama bertahun-tahun. Saya, pada fase ini, telah mengalami evolusi instan dari sosok individu pragmatis menjadi pribadi yang lebih gamang dan diskursif ketika mencoba mengartikulasi sesuatu. Dan ini tidak dapat saya sebut begitu saja sebagai kemajuan…

Namun terima kasih. Momentum singkat yang hanya berlangsung selama 24 jam ini telah kembali mengingatkan saya akan realita yang dapat bertransformasi menjadi begitu berseri. Segalanya terasa tidak lagi asing dan raut wajah kalian telah menyeret saya turun kembali dari dimensi imajiner. Kalian yang sebelumnya saya anggap virtual, artifisial, semu dan penuh paradoks, ternyata mampu berbinar di tengah kronisnya konfrontasi intrapersonal yang mendera perlahan.

Orang tua, saudara, teman, kalian semua yang hadir secara nyata, adalah ornamen terindah yang melingkupi kurun waktu saya. Sekaligus penanda bahwa kesendirian tidaklah berarti tanpa keberadaan kalian di belakang. Oleh karena itu, perayaan ulang tahun adalah bukan perayaan terhadap subjek yang terlahir kembali, melainkan pada objek yang justru melahirkan si subjek sehingga dapat terus menapaki hidup. Kalianlah sesuatu yang disebut ‘tak terpemanai’. Dan karena kalianlah, saya yakin bahwa terminologi kebahagiaan hanya membutuhkan hal kecil. Hal yang disaat yang sama, seringkali luput dan kasat mata…


Hidup ini untuk kalian, karena kalian adalah bukti akan kehidupan saya. Terima kasih yang sebesar-besarnya.