33

Belakangan ini, topik mengenai HAM menjadi kian menarik untuk dibahas kembali. Yaitu sejauh apa wacana HAM dapat merenggang terhadap kasus-kasus tertentu. Dan siapa sesungguhnya subjek yang diprioritaskan. Sebuah artikel dari majalah TIMES mengabarkan bahwa sepasang suami istri telah memberikan perlakuan amat spesial terhadap anaknya dengan memberikan kebebasan penuh bagi sang anak untuk memilih sendiri gendernya. Lalu mengenai kontroversi akan aborsi. Pihak pro dan kontra kembali menjamur seiring dengan argumentasi baru yang lebih luas, membawa serta pertimbangan medis yang (secara langsung maupun tidak) kontradiktif terhadap ketentuan hukum, bahkan HAM itu sendiri. Konflik ini menjadikan HAM sebagai sesuatu yang nisbi. Dan juga berarti bersinggungan dengan kata ‘asasi’ itu sendiri.

Mungkinkah ini utopis? Kembali lagi, kita berada di dalam lingkup post-modernis, sesuatu yang menurut salah seorang teman saya adalah tahap advanced yang tidak memiliki definisi. Maksimalisasi dan totalitas potensi per individu menjadikan setiap hal sebagai kancah persaingan. Manusia semakin banyak. Sebisa mungkin, kita menginginkan perbedaan signifikan yang membawa value tersendiri. Baik berupa konsep maupun pribadi sehingga menonjol dari pola kemajemukan strata sosial. Kita merubah perspektif pribadi menjadi capital. Asasi adalah modal. Harga mati.

Di tengah pergunjingan semacam ini, muncul seorang guru spiritual buddhist. Seorang lain yang mencoba membawa kita keluar sebentar dan mencari udara segar. Melepaskan beban serta kewajiban untuk sementara waktu. Serta mengajari bahwa momen meditasi menjadi amatlah perlu. Ketika kita mengistirahatkan panca indera dan menyisakan pikiran sebagai satu-satunya bagian tubuh yang bekerja, ketika itulah interaksi batiniah terjadi. Namun pikiran sama halnya seperti laut. Ada dan tercipta tidak untuk dikuasai. Melainkan disaksikan dan ditelisik. Perpetual Syndrome seperti ini cukup nyata.

Maka, saya pribadi menganggap HAM sebagai konteks yang lentur. Dan menjadi tidak valid lagi ketika muncul dalam secarik traktat terjanji yang dilegislasi. Di satu sisi, esensi akan HAM menuntut hilangnya setiap bentuk otoritas yang mengikat. Secara verbal maupun nonverbal, ranah HAM memasuki wilayah imajiner yang cukup dikonsumsi oleh alam pikiran setiap individu. Kebebasan mutlak. Meskipun di sisi yang lain, kebebasan itu sendiri hendaknya tidak mengganggu (atau bahkan menggugat) hak orang lain. Namun, kembali lagi, itu semua nisbi.

Katakanlah aborsi: hak seorang ibu untuk memiliki anak dan hak sang janin untuk memperoleh kehidupan. Ketika salah satu dimenangkan, ketika itulah terminologi ‘asasi’ dimusnahkan.

32


Heidegger-

Seorang anti religius yang dibesarkan dalam keluarga katolik, namun menolak mati-matian kristianitas itu sendiri. Dirinya tidak menunjuk tuhan sebagai subjek konvensional yang kita tahu, bahwa cerminan tuhan adalah sesuatu yang belum lagi datang, tetapi mungkin juga tidak eksis. Dia menamai tuhan untuk menyebut sesuatu yang diharapkan, dan mengiaskan bahwa sesuatu yang akan datang dan menyelamatkan kita akan kita beri nama tuhan.

Maka tuhan terbagi menjadi dua kategori: yang akan datang (tanpa terduga) dan yang mendorong harapan akan keselamatan. Jacques Derrida memaparkan gagasan akan mesianisitas tanpa mesianisme sebagai pemahaman dari kategori pertama. Bahwa kita (yang pada dasarnya bersifat mesianis) hanya perlu menunggu dengan sabar akan kehadiran tuhan sebagai sesuatu yang niscaya dan utopis. Penuh pengharapan sekaligus kerinduan akan sosok mesias yang (akan) datang.

“Hampa harapan hanya mungkin karena kita berharap bahwa sejumlah kebaikan atau seseorang yang kita cintai akan datang.” Karena dorongan akan pengharapan tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari hubungan manusia dengan waktu. Di satu sisi kita berharap akan kedatangan mesias, dan di sisi lain kita yakin kedatangannya akan membawa keselamatan. Dua hal ini agaknya paralel ketika keyakinan dan pengharapan tumbuh bersamaan dari dua tunas yang berlainan.

Namun saya masih kurang mengerti. Bagaimana harapan dan keyakinan akan tumbuh identik dan sejajar ketika subjek yang dipertanyakan sama sekali tidak pasti? Mungkin saya melupakan masa kanak-kanak yang begitu menyenangkan. Masa kanak-kanak yang dipenuhi doa dan gereja sebagai pengharapan lugu yang begitu polos dan tanpa pamrih. Masa-masa itu adalah ketika saya tidak lagi mempersoalkan eksistensi. Dan eksistensi, semakin mutlak dipertanyakan ketika realita hidup ini bersenggama pada poros kehidupan yang tanpa pasti, juga definisi.

Saya menyebutnya sebagai dentum pencarian makna irasional, ketimbang pergulatan emosi melawan aspek rasional itu sendiri.

31

Pertanyaan ini tiba-tiba muncul di tengah obrolan bodoh dengan seorang teman: sebelum tuhan menciptakan hawa, emang ada yang namanya buah terlarang?

Sekali lagi, karena berangkat dari pertanyaan bodoh, tolong jangan terlalu diambil hati apabila jawabannya (juga) tidak kalah bodoh. Perlu diketahui bahwa kami tidak sedang mabuk. Teman saya ini sedang menyetir. Konklusi akhir yang terdera di sela-sela hembusan asap rokok ialah: mungkin maksudnya buah terlarang itu adalah buah yang pada dasarnya sudah dimiliki oleh manusia. Lalu kami tertawa. Buah dada? Buah zakar? Tergantung dari apa yang melekat di badan anda. Saya bayangkan, sosok ular tertawa puas. Tuduhannya sebagai penghasut seketika lepas.

Sialan

30

Sibuk

Alasan klise yang umumnya dibuat-buat untuk menghindari sesuatu. Namun, term sibuk tidak selamanya digunakan hanya sebatas alasan untuk menghindar. Minggu malam ini, saya luar biasa sibuk. Tapi tidak untuk menghindari tuhan. Saya tidak bilang terlalu sibuk untuk pergi ke gereja. Bahkan saya tidak menggunakan kata sibuk. Tidak perlu kesibukan tertentu untuk tidak berkunjung ke gereja. Alasan saya sederhana : saya bingung tujuan saya pergi ke gereja…

Bagi kalian umat kristiani, setiap hari minggu adalah waktunya silaturahmi ke rumah tuhan. Rumah tuhan ini konon disebut gereja. Terlepas dari tata arsitektur serta takhta artifisialnya, pernahkah kalian yakin akan tujuan untuk pergi? Kewajiban – siapa yang mewajibkan? Panggilan – siapa yang memanggil? Saya tentu yakin banyak diantara kalian yang datang tidak untuk sekedar mengisi waktu luang. Kecuali kalian tidak sibuk, dan saya rasa tidak ada manusia yang senggang.

Salahkah saya karena sibuk lantas berniat untuk tidak datang? Atau apakah saya lebih salah lagi ketika datang lantas bingung mau berbuat apa? Bila kalian tahu jawabannya, tolong beritahu. Saya teramat buntu menemukan kesakralan dalam gereja. Sebaliknya, malam ini saya melihat gereja sebagai faktor pengganggu.

Masih pentingkah gereja dalam hidup saya? Mulai malam ini, saya akan berhenti datang kecuali terpaksa. Bukan karena alasan klise berupa sibuk. Saya menggeser posisi sibuk dari alasan utama karena tidak ada yang salah dengan gereja. "Tuhan, saya bingung untuk apa saya berkunjung ke sana. Mungkinkah saya telah berdosa terhadap surga?"

Lalu saya pulang. Kembali sibuk…

#pinggir12

Jika ada kesempatan untuk kembali ke masa lalu, saya ingin singgah untuk sementara waktu di tanggal 18 September 2007. Lalu menarik kata-kata kelakar agar air mata itu tidak jadi keluar, sehingga perasaan ini semakin dalam dan mengakar. Bukan hanya berupa #pinggir, bukan juga cerita latar yang suatu saat nanti akan terlantar. Melainkan sebuah melankolia.

Karena anda, adalah rona bias yang senantiasa hadir meskipun tidak selalu nampak di depan mata…

#pinggir11

Apa salah saya sehingga lima tahun lamanya tidak mampu membedakan perihal cinta dan obsesi?

Apa salah saya sehingga setiap mereka datang dan pergi silih berganti saya selalu kembali pada anda sebagai perhentian terakhir?

Apa salah saya sehingga malam-malam saya selalu dihantui sosok anda secara abstrak namun simultan dalam setiap selisih jam?

Apa salah saya sehingga rasio ini menolak berkompromi dan malah menghadirkan retorika batin tidak berkesudahan?

Apa salah saya sehingga anda terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh setiap kali saya berkunjung ke dunia maya?

Apa salah saya sehingga kesia-siaan mendamba ini terkadang berubah menjadi harapan baru yang layak untuk ditunggu?

Apa salah saya sehingga proyeksi imajiner ini seringkali terlihat nyata dengan senyum anda yang membungkus sejumlah fenomena?

Apa salah saya?




Atau mungkin saya tidak membutuhkan jawaban. Kita mungkin sama-sama tidak tahu harus menjawab apa. Berada di tengah pertanyaan yang tidak menuntut apa-apa akan kepastian dari sebuah jawaban itu sendiri mungkin tidak memerlukan perdebatan sepanjang waktu. Biarlah pertanyaan ini tidak kunjung diakhiri oleh titik temu yang terasa final. Sebagai bentuk dari apa yang belum selesai, ataupun metafor lain dari luka yang muncul sebagai duka sesal.

29

Setiap orang adalah seniman. Mereka memiliki spesialisasi akan karya sebagai bentuk ekspresi diri yang paling solid. Topeng (katakanlah demikian) yang membungkus identitas mereka adalah simbol dari abstraksi diri. Yaitu sesuatu yang dapat hadir dalam bentuk apapun, yang baik, dan juga tidak.

Seorang pembunuh bayaran sekalipun mempunyai aplikasi teknik yang dapat dikatakan sebagai seni. Seni membunuh, menghancurkan, melenyapkan, mengintimidasi, dan seterusnya, terkait dengan unsur spesialisasi yang dimilikinya. Dengan begitu, seorang pembunuh bayaran profesional memiliki kode etik tertentu yang mengharuskan mereka menghapus kata ‘pengampunan’ (mercy) untuk lenyap dari kamus pribadi. “Forgiveness is between them and God. It’s my job to arrange their meeting.” – John W. Creasy. Mungkin Creasy memang bukan seorang pembunuh bayaran. Dirinya adalah seorang bodyguard yang terpaksa membunuh sejumlah orang demi menyelamatkan anak perempuan sang majikan. Apa yang dilakukannya adalah semacam naluri, insting, metode penerapan akan seni reflektif dari dalam lubuk batin. Dia merekonstruksi tatanan kematian yang senantiasa menyeramkan menjadi sesuatu yang indah oleh aspek seni. The art of death itself.

Dalam perkembangannya, terutama rezim orde lama di Indonesia, seni membagi diri ke dalam dua kubu. Manifesto kebudayaan (manikebu) dan Lembaya Kebudayaan Rakyat (lekra) adalah dua idealisme yang berseteru dalam menempatkan seni dalam struktur yang imperialis maupun otonom. Lekra menempatkan politik sebagai panglima tertinggi yang seyogianya menjadi tujuan utama dari setiap produk seni. Sebaliknya, manikebu justru menegaskan akan kebebasan berekspresi dalam setiap karya seni. Bahwa seni tidak koheren jika dipadukan dengan nilai birokratis dalam bentuk apapun karena akan merusak estetika murni. Keduanya berseteru dalam periode pergolakan sejarah yang cukup penting, dan mereka telah membungkus peristiwa-peristiwa dalam kaidah seni, cara yang eksotik untuk mengutarakan kenyataan.

Lepas dari sisi nasionalisme, seni agaknya mampu hidup secara individualis oleh karena kapabilitas ketunggalannya. Seni adalah metafor berisi konten manipulatif yang dapat menjadi kenyataan ketika dikonsumsi secara kolosal. Dalam seni, agaknya tidak ada spasi antara kreator dengan hadirin. Mereka tidak berjarak karena menjadi satu ketika diseduh untuk dipertunjukkan. Pencipta adalah penikmat, vice versa. Keduanya membutuhkan kejujuran dan kontemplasi sebagai langkah awal untuk memasuki gerbang intimasi dari seni.

28

Jaman ini adalah jaman yang menuntut secara halus akan perubahan paradigma konservatif menuju pola yang lebih dinamis. Salah satunya adalah cogito ergo sum “aku berpikir maka aku ada”. Salah satu paradigma latin yang berusaha mengusung eksistensialisme sebagai akar hidup. Juga esensialisme manusia sebagai binatang berakal budi.

Ada beberapa sudut pandang kuno yang masih lekat, meski sebenarnya perlu untuk dimodifikasi sehingga menjadi relatif lebih bermanfaat. Pukul dua pagi ini, saya mengunjungi angkringan di bilangan Jagakarsa. Tempat ini (subjektif saya) adalah simbol eksistensi yang justru berangkat dari titik-titik esensial tertentu. Titik-titik terlupakan di mana cogito ergo sum tidak menjadi basis.

“Saya tidak sekedar menghadirkan sebuah warung makan. Saya tidak beranggapan bahwa eksistensi warung makan ini adalah dongkrak instan yang melambungkan nama saya sebagai sang empunya warung.”

Lantas…

“Warung makan ini adalah wujud eksistensi dari pelanggan. Karena tanpa mereka, saya tidak dapat dikatakan eksis. Apalah artinya sebuah warung makan tanpa kehadiran pelanggan? Maka, sajian di sini tidak terbatas pada sego kucing dan hidangan pelengkap lainnya. Sebaliknya, saya menganggap pelangganlah yang memiliki warung ini. Juga pelayanan yang lebih memadukan sisi interpersonal. Sehingga pelanggan tidak hanya sekedar datang dan makan. Mereka datang karena kerinduan nurani mereka akan atmosfer yang nyaman, kerasan.”

Di tengah outlet angkringan lainnya yang banyak menawarkan menu, angkringan di Jagakarsa ini memberikan terobosan baru dalam pemikiran akan eksistensi. Bahwa sebuah warung makan tidak hanya menjadi tempat persinggahan tatkala perut merasa lapar. Ada impuls lain yang mengundang. Yang lebih intim sekaligus mempersuasi pelanggan untuk datang. Pelanggan dengan ‘otak’ yang lapar…

Cogito ergo sum?

Kalian ada, maka aku ada…

27

Nampaknya kultur yang melekat dalam diri setiap orang bisa diartikan sebagai kutukan turun-temurun dari nenek moyang. Kultur, secara tidak langsung, sadar atau tidak, mampu mengikat kita dalam banyak hal. Juga berpengaruh besar dalam pembentukan pola pikir dan hidup manusia. Namun hal ini tidak berarti buruk. Melalui dasar pemikiran yang sama, saya juga berasumsi bahwa kultur menjadi penting ketika kita ingin berwacana mengenai simbol atau identitas orisinil suatu budaya –atau dalam skala yang lebih besar lagi, negara.

Lantas apa sikap yang pantas? Terkadang saya pribadi menyalahkan kultur itu sendiri karena tidak memberikan saya pilihan sama sekali sejak awal. Lahir sebagai orang jawa membuat saya tumbuh dan berkembang sesuai dengan mayoritas masyarakat jawa itu sendiri. Artinya : saya dipaksa menjadi jawa sejak lahir! Apa ini cukup adil?

Permasalahan muncul ketika semakin banyak buku yang saya baca, semakin banyak pengalaman yang saya terima, semakin banyak pelajaran yang buat saya teramat berharga, membuat saya secara otomatis juga semakin menjauh dengan sifat kejawaan. Hidup di tengah keragaman kultur yang begitu unik dan menuntut sikap pro-pluralisme sebagai langkah toleransi ternyata juga membawa saya keluar secara perlahan dari zona kultur saya. Saya –mungkin secara tidak sadar, sudah bukan orang jawa lagi. Saya fleksibel. Saya rasa semua orang fleksibel dalam hal ini.

Saya pikir, identitas itu tidak lagi perlu. Jaman sudah berubah, peradaban sudah mengalami lusinan restorasi, dan faktor-faktor demikian, membuat identitas tidak perlu menjadi elemen yang dikrisiskan lagi. Ketika hanya dengan menekan tombol dan membiarkan jemari menari di atas keyboard saja sudah cukup, ketika itulah kita tidak lagi membutuhkan silaturahmi. Karena teknologi ciptaan manusia yang bertujuan untuk memperkuat eksistensi manusia, justru balik memangsa identitas itu sendiri. Kita telah mati tanpa pernah dilahirkan terlepas dari atribut. Dan kita masih hidup tanpa pernah sekalipun berhak untuk menuntut.

26


- May 1886 – Haymarket -

Ratusan ribu buruh mogok kerja dan turun ke jalan, menuntut dihapuskannya kebijakan tentang jam kerja. Era itu adalah ketika mereka dipaksa memeras tenaga selama 20 jam setiap hari. Era di mana kaum borjuis memegang kendali di balik roda pemerintahan. Sehingga suprastruktur-infrastruktur, institusi-federasi, menjadi semacam formalitas belaka tatkala wabah kapitalisme mulai menjamur. Ini adalah bara api di dalam sekam. Siap meledak setiap saat. Tersaji dengan butir peluru dan air mata haru. Wujud komoditi terbaru.

Maka dari itu, kongres internasional diadakan demi merealisasikan permintaan akan kesejahteraan kaum proletar, serta reduksi waktu kerja menjadi delapan jam per hari. Bisa dibayangkan betapa gentingnya situasi semasa itu. Reduksi jam kerja berarti reduksi olah produksi pada sektor industri. Seakan-akan kapitalisme mendapat teguran: “kalian itu hendaknya manusiawi…” jangan sampai memakan korban…

Di sisi lain, ada semacam tradisi yang berlanjut. Entah untuk meneruskan perjuangan para martir Haymarket, atau hanya sekedar perayaan hiburan. Satu abad lebih kita mengenal mayday yang semakin lama semakin berkembang beriringan bersama jaman. Mayday yang juga difungsikan sebagai penanda bahaya. Jeritan SOS. Terlebih mayday sebagai simbol transisi hegemoni sosial. Bahwa mayday sejatinya adalah perang melawan sistem kelas demi keselarasan seluruh entitas masyarakat. Dengan menempatkan anarkis, komunis, sosialis, dan para aktivis sebagai golongan masterplanner-actor.

Kini, unsur fleksibilitas telah berupaya mempertimbangkan segi positif negatifnya. Tidak ada yang justru menjadi mudah, hanya timbul kompleksitas baru yang memperparah hakekat dari mayday itu sendiri. Bias justru didominasi oleh klise politis. Tidak ada solusi, hanya ada harapan yang tidak kunjung pasti. Sama halnya seperti radikalisme, yang dalam beberapa dekade pemerintahan orde baru dianggap subversif dan oleh karenanya layak dicap sebagai musuh bersama. Musuh negara. Sama spektakulernya ketika dewan pengadilan Chicago menghukum gantung August Spies bersama kamerad lain. Menyisakan ide dan konsep.

Kapitalisme memang tidak lagi dilarang, namun dikondisikan sesuai dengan aturan main dan cara pakai. Tidak akan ada habisnya menyuarakan kesejahteraan tanpa pengambilalihan alat-alat produksi. Penghapusan sistem kelas akan hambar tanpa didasari substansi yang murni untuk menyejahterakan seluruh golongan tanpa terkecuali. Ini semacam resureksi paradoks. Namun sayangnya, irelevan.

Peringatan hari buruh yang berlangsung tahun ini di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, berlangsung cukup tertib. Tidak ada kericuhan selama demonstrasi berlangsung. Aspirasi rakyat tersalurkan dengan jelas melalui setumpuk speaker. Yang perlu diingat adalah bahwa disampaikan tidak berarti akan selalu didengarkan. Sekali lagi, ini adalah meja judi luas yang semakin sarat ketidakpastian. Tidak terkecuali propaganda terselubung dan varian konflik kepentingan. Siapa saja boleh bersuara, tapi tidak semua orang boleh mendengar, atau mau dengar.

Saya kira ada yang keliru karena makna mayday telah bergeser ke arah yang salah. Serikat ini sudah tidak lagi kompak dan idealis karena nampak gelagat yang mencerminkan nilai disosiatif. Mereka tidak lagi satu. Lantas saya turun langsung ke jalan, menanyai salah satu di antara mereka: “pembenahan seperti apa yang anda harapkan untuk lebih pro rakyat dan menyejahterakan kaum buruh?”, pria itu menjawab: “tidak tahu."

casual convo

on a day that may never happen, I step inside God’s living room, we sit & have a little chat afterwards…

Pandji: Hello.

God: Hello my child.

Pandji: Can I ask you something?

God: What is it my child?

Pandji: What is your religion?

God: Go fuck yourself.

25


Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengerti wanita. Bahasa mereka sulit. Baik verbal maupun nonverbal. Mereka memiliki ruang sugestinya sendiri yang hidup dan menolak gugatan pun ilham secara resmi untuk dirasuki. Mungkin karena mereka berasal dari tulang rusuk kita, para pria. Di mana rusuk yang dihibahkan adalah rusuk spektakuler teramat langka. Rusuk yang menolak definisi karena mereka jauh dari logika. Semilir angin tanpa hawa.

"Mungkin ketika saya sudah berhasil memahami wanita, ketika itulah saya gagal untuk memahami diri saya." fallacia...

24

Manusia. makhluk yang begitu superior hingga seringkali tenggelam oleh kemampuannya. Tidak terkecuali ciptaannya sendiri yang salah satunya bernama agama. Fahd Djibran dalam bukunya ‘Curhat Setan’ berusaha menampilkan sosok setan yang lain, yang penuh akan misinterpretasi manusia dalam memaknainya sebagai suatu wujud. Bahwa agama bagi setan adalah dusta-dusta transendental. Dan menurut saya, secara tidak langsung manusia telah mencoba meningkatkan kapasitas mereka akan kemampuannya dengan merambah dimensi tersebut.

Problema berkepanjangan terjadi ketika manusia mulai merasa lebih dari yang lain. Saya kira, hal ini sudah berlangsung sejak sekian lama. Sistem strata kelas dan kasta telah menjadi bukti sejarah yang tidak mungkin dihapus. Dan bagan sedemikian rupa menyiratkan bahwa kemampuan manusialah yang cenderung berkontribusi besar terhadap fenomena separatisme. Seperti kaum borjuis dan serikat proletariat. Lagi, ini adalah senjata makan tuan berbau epik.

Maka dari itu, jika melihat dari ruang yang serba sekuler, manusialah yang memegang kendali semesta. Jagat raya satu persatu dibuat tunduk ketika kaki manusia mampu menapaki kulitnya inci demi inci. Melakukan riset dan kerap menciptakan terobosan baru bagi dunia pengetahuan, sains, teknologi, dan pemahaman akan modernitas tidak berkesudahan. Semesta ini sudah berada di dalam genggaman manusia tanpa kita sadari. Antariksa yang terpenetrasi adalah bukti.

Namun kita memanglah terbatas adanya. Keterbatasan kita untuk meyakini superioritas membuat kita kalah melawan diri kita sendiri. Kita menyusun atom, meracik partikel, yang pada akhirnya berpotensi untuk meninggalkan palung-palung kekecewaan, serta kebiadaban dalam suatu peradaban. Begitu superiornya manusia ketika mereka dengan superiornya menyatakan bahwa mereka telah dibatasi hal-hal tertentu. Luar biasa.