#pinggir10

Sekali waktu, saya adalah seorang barista. Bukan profesional, saya hanyalah amatir yang gemar bereksperimen remeh. Maka, kecil kemungkinannya untuk saya menciptakan terobosan baru dalam hal racik-meracik kopi. Tidak ada keahlian sama sekali.

Eksperimen saya terhenti pada satu jenis biji kopi. Biji ini unik sekaligus menarik. Saya mencurahkan segenap daya untuk mengomposisikannya ke dalam takaran yang pas. Nikmat dan khas.

Ada kalanya saya berhasil meskipun lebih sering gagal. Maklum, ini eksperimen remeh dan saya masih teramat hijau dalam urusan seni peracikan. Ternyata rumit. Banyak indikator yang mempengaruhi tingkat keberhasilan saya. Indikator-indikator yang (celakanya) juga saya anggap remeh. Seperti medium, suhu, kematangan molekul, keberimbangan bobot, bentuk penyajian, cara mengaduk, hal-hal lainnya yang sepele, namun fatal.

Kegagalan besar yang pertama adalah ketika saya menambahkan nikotin ke dalamnya. Sang kopi meledak. Menyembur ke segala penjuru dapur. Menorehkan ampas ke mana-mana. Ke serbet, ke lemari kayu, bahkan ke kaca jendela. Gelas ukur yang saya pergunakan sebagai penakar juga dibuat hancur. Melebur menjadi satu dengan cairan kental di sudut kompor.

Saya terhenyak beberapa saat. Lalu mulai membersihkannya pelan-pelan, inci demi inci, sebelum saya melanjutkan eksperimen lagi. Ini pelajaran yang sangat mahal ternyata. Karena nikotin mampu menstimulasi elemen tertentu yang menjadi pemicu atom ledak. Saya mencoret nikotin dalam daftar bahan baku.

Beberapa eksperimen selanjutnya di kemudian hari, saya berhasil menciptakan kopi yang nikmat lagi. Aromanya kini lebih menguar dan membuncah. Menambah daya pikatnya jauh lebih tinggi.

Namun agaknya, terlampau terpikat dan lupa diri, saya terlalu cepat berpuas hati. Lantas meninggalkan biji kopi tidak tersentuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Mungkin saat itu saya bosan dengan kopi. Saya melupakan tugas dan tanggungjawab, serta komitmen saya sebagai seorang barista ingusan untuk terus berinovasi. Saya takabur. Menelantarkan bahan baku terpenjara di ruang dapur. Lama…

Dan ini adalah kegagalan kedua. Ketika saya memutuskan untuk berhenti menjadi barista dan pergi menjelajah semesta. Lidah saya kembali rindu akan cecap getir yang biasa hadir. Malam-malam saya menjadi pendek dan prematur ketika saya terlalu cepat tertidur. Dan batin saya kuyu karena mulai dihantui prasangka yang keliru. Segalanya sudah terlambat ketika saya kembali memasuki dapur.

Kopi itu masih ada. Namun kadaluarsa. Saya menyia-nyiakannya begitu saja…

***

Sampai hari ini saya masih terus meminum kopi. Namun tidak lagi meracik kembali. Dapur itu kini sudah terisi dengan barista baru setelah saya dipecat. Barista yang satu ini luar biasa karena biji kopi yang sama mampu diracik jauh lebih sempurna oleh kedua tangannya. Dan mulai hari itu saya resmi berstatus pelanggan tetap. Yang hanya dapat melihat biji kopi itu diracik dan disuguhkan dengan begitu hebat.

Lantas, menjadi pelanggan tetap juga tidak ada salahnya. Mungkin bukan takdir saya menjadi seorang barista yang penuh dengan mimpi. Ketika saya mencicipi kopi yang satu ini dan tersadar.

Saya sudah bukan siapa-siapa

23

Pengalaman kedua dan seterusnya merupakan perjalanan reduksi dari sebuah makna. Karena yang pertama memiliki aspek dramaturgi tersendiri, khas. Ada nuansa teatrikal-sakral pun tidak tergantikan ketika yang pertama hadir dan menyusup. Dan adaptasi menjadi mutlak perlu sebagai langkah preventif paling efektif.

Sebagai metafor, seseorang yang telah berulang kali terjatuh akan semakin kebal terhadap luka. “Dan kebijaksanaan seseorang…”, kata seorang arif, “ditentukan dari bekas lukanya.”

Agaknya ada dua faktor: jumlah dan bentuk. Masing-masing mengalami kontemplasinya yang terpisah, yang rapuh karena luka itu sendiri. Luka menjadi medium sempurna bagi bias untuk merasuk melalui bawah sadar. Bias yang menyumbat logika menguasai emosi. Sehingga apa yang selanjutnya terjadi adalah gejolak batin tanpa kekang kendali. Kita mengalami itu. Sadar maupun tidak.

Namun saya menolak untuk kembali ke kancah perang. Saya merasa tidak ada perlunya lagi membuang-buang peluru untuk menambah luka baru, atau memperdalam luka yang sudah ada sebelumnya. Seorang veteran perang tentu mampu melihat posisi paling strategis. Untuk bertempur, sekaligus bertahan.

Saya lelah kembali ke rumah membawa darah,

Saya lebih memilih untuk membasuh luka yang belum sembuh ketimbang membebat luka baru,

Sembari kembali ke pinggir pigura, karena luka lama yang satu itu bukan sekedar luka biasa...

22



Belum lama ini, saya membaca artikel perihal metode perekrutan anggota baru NII (Negara Islam Indonesia) dari postingan blog seorang teman. Menarik sekaligus lucu. Awalnya saya mengira bahwa orang-orang ini tentunya sudah ‘matang’ karena berani terang-terangan mengklaim eksistensi NII yang masih berada di dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Namun setelah membacanya, saya tergelak. Bagaimana tidak? Organisasi yang konon telah berhasil survive dari semenjak masa pra kemerdekaan ini ternyata memiliki SOP yang begitu dangkal dan munafik, dan diakhiri dengan masalah fulus.

Lepas dari artikel tersebut, ada hal lain yang menurut saya cukup lemah untuk mereka jadikan landasan ideologi. Salah satunya landasan ideologi akan negara islam. Kita semua tahu, sebuah negara yang didasari oleh unsur agama tidak akan memiliki umur panjang. Iran sudah menjadi sejarah yang juga contoh nyata bahwa ranah agama tidak ideal jika dipadukan dengan ranah politik. Apalagi memasuki konteks kenegaraan. Konsepsi negara sebaiknya berbasis sekuler. Karena agama yang bersifat transenden tidak akan pernah masuk ke dalam wilayah penalaran normatif. Agama memiliki proporsinya tersendiri untuk dikonsumsi. Namun secara individual, tidak untuk diinstitusionalkan.

Dalam buku Wars Within – Janet Steele, Ulil Abshar Abdalla, salah seorang founder JIL (Jaringan Islam Liberal) sekaligus tokoh cendekiawan islam tanah air, juga mencoba mengeksposisikan pemahamannya terhadap falsafah islam. Terhadap indikasi yang bersemayam di dalam Al Quran itu sendiri. Namun, tidak untuk mentransformasikan sebuah negara (dalam bentuk apapun) menjadi negara islam. Sebaliknya, term ‘negara’ diubah menjadi ‘masyarakat’. Di mana posisi paradigma konservatif secara otomatis juga berubah. Yaitu lebih memusatkan perhatian pada pembentukan masyarakat muslim yang harmonis dan hidup dalam cinta kasih, sama seperti ajaran agama-agama lainnya.

Melalui sudut pandang ini, orientasi lebih dititikberatkan pada individu ketimbang negara. Karena dengan memaksakan pembentukan negara muslim, sisi pluralitas akan sirna, dan ini merupakan bahaya besar yang menyinggung (bahkan menggugat) HAM. Dengan merombak tatanan sosial yang sudah ada (pancasila) menjadi syariat, heterogenitas yang justru menjadi identitas Indonesia akan mengalami tindakan represif yang mengancam. Baik dari segi eksistensi maupun esensi sosial masyarakat.

Dan lagi, apabila NII dengan bangga telah mengatakan bahwa jaringannya sudah tersebar luas di seluruh penjuru nusantara, apakah mereka yakin bahwa seluruh anggotanya memiliki background sosial yang homogen? Apakah mereka yakin bahwa dalam diri mereka tidak ada perbedaan sekecil apapun? Sejauh apa toleransi mereka terhadap perbedaan yang ada dalam diri mereka? Atau bagaimana mereka menyikapi perbedaan itu sendiri ketika hal itu terbukti hadir secara internal?

Maka, saya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh NII ini sama saja dengan aksi bunuh diri. Mereka menyimpan bom waktu dalam diri mereka yang sensitif terhadap tombol pemicu. Tidak ada gunanya mendirikan negara dalam sebuah negara lain yang sudah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Mereka tidak menawarkan solusi yang asosiatif. Mereka malah menggiring bangsa ini menuju momentum destruktif yang masif. Genosida perlahan dengan partisipasi kolosal. Menggunakan kekuatan agama yang artifisial.

Yang lebih lucu lagi? Seorang teman saya bilang bahwa NII tidak mengakui tatanan keberlakuan hukum NKRI. Tentu saja. Namun, begitu program raskin dan subsidi bagi masyarakat tidak mampu diadakan oleh pemerintah, mereka yang antri paling depan untuk minta dibantu. Luar biasa. Hipokrit kelas dewa.

21

Doa, percakapan dengan sang khalik, interaksi batiniah, aktivitas spiritual, dan lain sebagainya. Peradaban mistik memulainya dengan sebuah upacara sebagai bentuk pemujaan terhadap dewa-dewi. Mereka menari, bernyanyi, menghaturkan sesembahan tertentu sebagai bentuk terima kasih dan ucapan syukur atas hidup. Benar. Hanya atas hidup.

Hidup bermula ketika kita membuka mata, mereguk nikmatnya udara, lalu menghembuskannya perlahan. Mekanisme tadi sudah merupakan doa tersendiri yang terjadi ketika raga (jasmani) kembali memulai interaksi dengan roh. Membuat seseorang kembali dari pengembaraannya di alam bawah sadar. Juga mengingatkan bahwa tugasnya sebagai manusia itu sendiri belumlah selesai.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak bisa melihat? Tidak bisa menyaksikan visualisasi? Sementara, dalam konsep hierarki realitas dikatakan bahwa manusia meyakini segala sesuatunya berdasarkan apa yang telah mereka lihat. Apa yang hadir di pelupuk mata dan tertangkap retina, itulah yang akan dipercayai nantinya. Hal itu merupakan konsekuensi logis yang diselenggarai oleh otoritas kelima panca indera. Dan ketika salah satu dari mereka tidak mampu berfungsi, empat sisanya harus bekerja ekstra untuk menutupi kepiawaian sang indera yang mati.

Namun, di balik pekatnya buta dari ragam metafor yang disuguhkan oleh dunia, tidakkah itu malah menjadi sebuah anugerah? Di satu sisi, mata adalah anugerah yang begitu luar biasa, karena euforia dan nestapa dapat sekaligus ditumpu seutuhnya. Mata menjadi lensa pada teropong yang kerap menawarkan berhala. Hal-hal yang sarat goda dan pertanda. Mata menjadi corong tafsir paling mutakhir karena kemampuannya untuk menyerap makna nonverbal, beserta bentuk-bentuk ganjil yang dirasa janggal. Dan mata adalah durjana, stimulus kuat bagi aspek-aspek personal lain, walaupun cenderung memabukkan ketimbang menjelaskan.

Bersyukurkah kita yang masih bisa melihat? Mampukah mata kita menafsirkan segala sesuatu yang kita lihat? Ketika sepasang mata terpaksa harus memperlihatkan godaan terberat, apa kalian mampu mengendalikan arah agar tidak tersesat? Bahwasanya mata adalah berkah sekaligus ujian terberat.

Dan kalian yang tidak mampu melihat, bersyukurlah dengan lebih lagi. Ketika justru kekurangan kalian adalah pengurangan dari akumulasi ragam ujian yang diberikan tuhan. Kalian tidak perlu terperosok sedalam kami. Kalian tidak perlu bersaksi atas hierarki struktural yang bengis. Kalian adalah istimewa. Sungguh istimewa. Karena kalian selangkah lebih dekat dengan perwujudan doa.

20

.film tanda tanya karya Hanung Bramantyo.
Mungkin sebuah film adalah proyeksi imajiner yang dituangkan ke dalam kanvas realitas. Berisi lakon, figur, latar, situasi, dan detail-detail lain yang menarik sekaligus menggugah, bahkan terkadang dapat mengubah hidup pemirsanya. Manusia sendiri yang mengemas ragam kompleksitas sosial dan fenomena untuk kemudian disulap menjadi komoditas. Manusia memodifikasi seperangkat ilustrasi, melahirkan harapan, menyublim fakta dan fiksi, serta mempropagandakan ilusi yang riil, sebagai bentuk adaptasi dan partisipasi dalam lingkup kemajuan pada berbagai sisi kehidupan.

Tanda tanya (“?”), sebuah film garapan sutradara muda, Hanung Bramantyo, adalah salah satu dari sekian banyak film idealis nasional. Dengan keyakinan penuh bahwa konsepsi dasar idealisme (nonkomersil) juga dapat diterima oleh khalayak ramai, film yang banyak mengambil alur pluralitas serta heterogenitas individu di dalam negeri ini diluncurkan ke pasar. Namun, seperti halnya konsekuensi dasar (atau malah kutukan) atas suatu film, “?” menuai polemik. Kontroversi yang diawali oleh persepsi kaum fundamentalis-fanatis tersebut mengecam, dan dengan luar biasanya, menganggap sang sutradara telah berbuat murtad. Sebuah maksiat yang patut mendapat hukuman tuhan.

Saya heran. Ranah kreativitas dalam wujud film bahkan juga mendapat intervensi dari sisi ketuhanan yang (lebih parahnya lagi) berasal dari platform teologis begitu sempit. Masih ada saja individu-individu yang merasa paling mampu mengartikulasikan tuhan. Individu-individu yang banal akan sudut pandang lain. Individu-individu yang terobsesi oleh ornamen artifisial, semu, rancu. Individu-individu yang agaknya menolak gejala masyarakat posmo, yakni konservatisme yang membuncah dan terdistorsi oleh dogma-dogma destruktif. Benar, mereka masih ada di antara kita.

Melihat percakapan antar sang sutradara dengan sang pengkritik melalui situs web, saya dilanda kecemasan bahwa nantinya ranah-ranah ekspresi lain akan disinggahi kaum-kaum seperti tadi. Nantinya tidak hanya film. Musik, tari, segala produk cerminan kultur yang telah berevolusi, mereka akan merasuk ke dalam pikiran dan menanam separatisme. Kemudian memupuknya dengan pemahaman tunggal untuk menghindari subjektivitas yang riweuh. Mereka memandang rendah keanekaragaman. Mereka mendamba keseragaman.

Tapi pikirlah. Hidup di tengah manusia lainnya dengan segala perbedaan. Hidup menjalin interaksi yang saling melengkapi (justru) karena perbedaan tersebut. Mampu mengenali seseorang justru karena keunikannya yang berbeda dari yang lainnya. Tidakkah semua itu terjadi sejak dulu? Masih ingat menara babel yang pernah dicoba sebagai salah satu opsi penyamarataan umat manusia? Toh hancur juga. Hancur merata dan terburai, justru oleh sesuatu yang transenden, sesuatu yang oleh kaum konservatis tadi dipuja setengah  mati. Masih ingat?

curhat



"Curhat Setan" - Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya

"Selama ini aku difitnah!"


'Kau tahu, kebaikan dan keburukan adalah keniscayaan. Tuhan gagal menjadi dirinya sendiri jika tak ada yang mewakili keburukan dan kejahatan. Dan, aku melengkapinya. Aku jadi semacam korban!'

'Tuhan memilih kawan : malaikat. Dan ia menetapkan seteru abadinya : aku, iblis, dajjal, dan semua zat negatif lainnya!'

"Asal kau tahu! Aku juga ingin berbuat baik, tapi tak pernah bisa! Siapa yang tak adil! Siapa yang menentukan aku tak mungkin berada di sisi kebaikan?! Siapa?!"

'Aku memang penggoda. Tapi, aku menggoda manusia dengan tujuan ingin membebaskan mereka dari kediktatoran Tuhan yang telah membuat hegemoni dan dominasi nilai-nilai moral atas makhluknya. Kediktatoran Tuhan memukul rata semuanya, diberlakukan secara universal tanpa memahami hasrat setiap individu yang sejatinya ingin bebas.'

'Memecundangi perasaan setiap individu dengan dusta-dusta transendental hanya akan mengasingkan manusia dari dirinya sendiri!...'

"...Dusta-dusta transendental. Kau tahu itu? Agama!"

'Satu hal lagi. Asal kau tahu, kenapa Tuhan melarang Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan? Ia pelit! Tuhan tidak ingin berbagi ilmu pengetahuan pada siapa pun, termasuk manusia, ia ingin menguasainya sendiri, ia takut posisinya dilemahkan oleh pencapaian-pencapaian pengetahuan dari makhluk-makhluk ciptaannya sendiri. Tapi, aku berhasil melakukan revolusi di kerajaan Tuhan, aku berhasil membuat Adam dan Hawa mencicipi buah pengetahuan.'


*buku karya Fahd Djibran.

19

Semesta adalah subjek yang luas sekaligus sempit. Dan ketika yang luas dirasa tidak mendukung, yang sempit akan mengambil alih roda kemudi. Namun yang seringkali terlupa adalah potensi setiap individu untuk melahirkan bencana. Ketika ketidakmampuan menjerit kalah, yang mampu seakan absen membantu.

“Ketakutan kita yang tedalam bukanlah karena kita tidak memadai. ketakutan kita yang terdalam adalah karena kekuatan kita tidak terpemanai. Cahaya terang kita, dan bukan kegelapan kita, itulah yang paling mengerikan kita.” – Nelson Mandela

Mungkin manusia lupa, bahwa mereka adalah spesies paling berbahaya.

18

Bagi mereka umat kristiani, hari minggu adalah hari penebusan di tempat bernama gereja. Sama seperti bait allah lainnya, gereja memiliki ornamen dan ritusnya yang unik. Air suci, tabernakel, altar, miniatur goa, patung-patung, dan alkitab. Gereja mencoba menawarkan dimensi yang lebih intim ketimbang hubungan interpersonal, yang menurut salah seorang teman saya, proses inkarnasi (in-carnage) tahap klimaks.

Sedikit dari sejarah, kita telah berangkat dari mistikus menuju realistis. Dari pragmatis menuju kapitalis liberalis. Dari unilateral ke multikultural. Ragam latar dan skenario telah berjalan secara sirkuler, meski tidak sepenuhnya sama melingkupi kurun peristiwa yang sudah-sudah. Kita mengenalnya sebagai siklus. Dan itu adalah hidup.

Maka, apa yang ada di dalam gereja seakan lepas dari perkembangan perspektif. Bahwa umat kristiani tetap meletakkan kapasitas imani mereka ke dalam ruang yang tak tersentuh zaman. Hakiki, mereka berkunjung sebagai pelepasan rindu akan yang maha kuasa.

Tapi ini posmo. Ritus dan ornamen sedikit demi sedikit bergulir. Hukum dan kode etik mulai mencuat di sekitar lempeng fondasi. Sehingga apa yang tak tersentuh dan kosong tadi telah menjadi sesuatu yang pudar. Kita termakan subjektivitas ketika keliru menafsirkan laku iman. Kita terjebak pemikiran-pemikiran baru yang berangkat dari orang yang tidak tahu. Ada mutasi yang kasat mata, yang telah memenjarakan keintiman gereja dan esensi kristiani itu sendiri.

Gereja tidak lagi menjadi bait allah ketika mereka berkunjung karena dekor ruang dan arsitektur yang indah. Juga tidak lagi menjadi tempat penebusan ketika mereka berkunjung karena faktor kewajiban. Sementara isi tabernakel tetaplah sama. Dan hosti dan anggur, hanya dapat bisu melihat semuanya itu.

17

Struktur sosial merupakan studi empirik yang sarat epidemi. Tumbuh berangsur namun gontai, dan berakhir pada masyarakat informasi, yang kembali terkena wabah eskatologi, filosofi, dan identitas diri. Saya ambil contoh: tren go green. Sebuah pesan berwarna hijau yang mencoba kembali membangun peduli akan ekosistem dan biosfer dalam perjuangan melawan gedung-gedung pencakar langit, persis ketika pinus tidak lagi menjangkau yang tertinggi.

Sponsor dan investor datang bergantian dengan topeng yang seragam. Lanskap yang mashyur oleh kicau kini telah bising oleh deru turbin. Kita telah merampas pori-pori universal dengan keserakahan dan eksploitasi yang teregenerasi. Berkembang biak untuk memeras, lupa menanam bebijian itu kembali.

Atau barangkali saya yang salah menilai, bahwa setiap kali kampanye hijau diselenggarakan, saya malah melihat abu-abu sebagai warna yang direalisasikan? Di rimba yang belum tersentuh, sejumlah pinus melakukan sensus terakhir. Menghitung dan berandai, ‘kapan gergaji listrik akan tiba untuk membantai’.

16

Perang adalah proses, yang menuntut kemenangan atau kekalahan sebagai hasil akhir dari salah satu pihak. Pengakuan atas jumlah raga yang terbujur, klaim atas teritorial yang tergusur, serta traktat perdamaian yang tersungkur. Kita tidak membutuhkan praduga, yang kita perlu adalah peluru dan lusinan senjata. Zaman ini telah kembali menampik purbakala dalam euforia metropolitan berskala global, tatkala menggantung lebih banyak jumlah kepala setiap detiknya.

Perang juga menjadi wahana rekreasi dimensi militer. Mungkin karena itulah kita membentuk lembaga yang berserikat, mengikat sekaligus otonom, dengan palu sebagai pemutus mufakat bagi apa yang adil dan apa yang tidak. Kita telah menciptakan berhala bagi tatanan humanisme, yang dengan elok seolah tanpa kedok dan kamuflase. Maka peace treaty resmi dideklarasikan sebagai menu utama dari segala jenis manuver terhadap orientasi. Namun tetap berbumbu milisi dan teknologi yang masif destruktif, sebagai cita rasa sempurna yang luput dicecap dan diraba lidah.

Militer adalah bukti bahwa ketulusan itu tidak pernah ada. Atau selayaknya bencana yang ditunda. Justru setiap bangsa berlomba-lomba mencapai apa yang mutakhir, setiap bangsa mengumpulkan cendekiawan untuk berstrategi dan berpikir, dan lagi-lagi semuanya soal ekspansi. Aktualisasi diri yang begitu berbinar ketika digelari takhta tertinggi. Saya kagum sekaligus heran : semakin mereka menjargonkan perdamaian, konflik dan pemusnahan justru semakin semarak. Mereka lalu berujar tentang manusia era post-modernist, tanpa mempertimbangkan anggapan terhadap konflik kepentingan dan teori konspirasi di balik sekat berupa mayat.

Mungkin sedikit lucu jika kita membayangkan seberapa besar potensi manusia yang mampu mereka kontrol secara sadar. Dan hanya di dunia yang menjanjikan perang, pada suatu hari (yang mungkin tidak akan pernah terjadi) nanti, manusia akan terlahir dari sarang yang anonim.

15


Jejaring sosial telah menjadi siklus baru dalam sebuah peradaban. Peradaban yang disebut modern dan futuristik. Ketika tangan kita mampu menjangkau yang tidak dapat ditangkap mata, ada sebuah harapan dan kegelisahan baru. Dan menjadi lebih tahu akan sesuatu secara rinci, agaknya tidak serta-merta menghasilkan resolusi. Karenanya ilmu adalah candu, terutama bagi mereka yang lapar akan labirin sosialisme.

Dewasa ini, paradigma telah merubah ‘apa yang maya’ sehingga lebih layak mendapat kepercayaan ketimbang ‘apa yang nyata’. Lagi, kita dimangsa oleh teknologi. Sebuah konsekuensi yang tidak pernah dianggap merugikan, meskipun pada kenyataannya melaju bagai bumerang.

Akan tetapi, ada kalanya skala produktivitas membumbung tinggi, jauh melampaui metode-metode konvensional yang unik dengan tatanan klasik nan anggun. Harus selalu ada yang berkorban untuk sesuatu yang lebih. Sebaik apapun tujuan dan visi dari sebuah konsep akan pembaharuan peradaban, tidak mungkin tidak mengulang sejarah manusia. Seperti ventilator, menyaring dari yang kotor, untuk kemudian dikonsumsi menjadi sesuatu yang kotor, kontinuitas, selalu begitu.
Mungkin manusia terlalu lugu.

#pinggir9


Sore ini saya mengamati kucing. Entah kenapa, tidak ada nafsu membunuh seperti biasanya. Sepertinya sekilas saya melihat anda sedang bercanda bersama adik perempuan yang bukan adik anda itu. Maka, saya memupuskan niat melindas kucing itu, saya mau bernostalgia sedikit.
Tetapi hanya ada beberapa hal konyol yang saya ingat, seperti ketika saya cemburu dan iri dengan adik anda (meskipun kalian sama-sama wanita). Waktu itu alasan saya sungguh luar biasa : anda lebih memperhatikannya ketimbang saya. Saya malu mengingatnya lagi. Ternyata ketika berusia belasan tahun, saya masih begitu naif dan posesif. Atau malah obsesif?
Ada yang pedih ketika melihat kalian bercanda. Karena derai tawa itu tidak pernah hadir dalam canda kita. Tawa lepas itu tidak pernah mampir pada setiap pelukan kita. Dan rona merah itu tidak pernah muncul sebagai pengganti sapaan pagi. Mereka selalu sembunyi, kalau saya yang menjadi lawan bicara anda.
Sore ini saya mengamati kucing. Entah kenapa, tidak ada nafsu membunuh seperti biasanya. Sepertinya sekilas saya melihat anda sedang bercanda bersama si kucing kecil. Maka, saya memupuskan niat melindas kucing itu, saya mau bernostalgia sedikit.

Konyol pun tidak mengapa. Selama masih ada kaitannya dengan hidup anda.

14


Terkadang ada kalanya kita resah, berspekulasi, asik sendiri melamunkan sesuatu yang tidak pasti, atau barangkali yang tidak pernah terjadi. Mungkin ini yang disebut kontemplasi. Ragam imajiner yang atraktif sekaligus persuasif, menuntut konsentrasi memecah dan merunut pada konsentrasi lain yang secara bawah sadar mendominasi partikel otak.

Kontemplasi adalah syukur. Kemampuan tertinggi yang dicapai makhluk ciptaan tuhan paling sempurna. Oleh karenanya, kontemplasi akan mengembangkan rangka struktural jangka panjang, yang senantiasa bertahap, bertumpu, dan tumpang tindih, namun tidak untuk saling meruntuhkan, melainkan saling menggenapkan.

Kontemplasi membutuhkan waktu, vice versa. Mengorbankan sejenak realitas yang nampak sebagai mimpi buruk, lalu sekonyong-konyong mengempaskannya sebagai latar, dan menarik objek baru sebagai foreground, fokus. Namun, kendati yang berada di belakang nampak jauh lebih mencekam dan aktual, mereka adalah acuan yang lekang oleh waktu. Ada hantu, tentu saja, dalam komposisi yang sama sekali tidak terdefinisikan sebagai alarm realistis. Palu yang menghunjam tatkala kita lupa, mencoba melupakan, atau tidak sengaja terlupa.

Momentum yang mirip sakramen suci ini adalah ambiguitas dengan penyajian paling nikmat. Tidak untuk dilahap kalap, namun sepotong-demi sepotong. Mencermati fitur dari tiap keadaan dan fenomena yang dramatis maupun fantastis.

Dengan kontemplasi, monolog batin akan menemukan posisinya dalam secuil paradigma. Bahwa manusia –sadar atau tidak, adalah bagian dari suatu kolektivitas yang tidak pernah usai. Generasi selanjutnya tidak memerlukan predikat sebagai bekal. Mereka lahir, dan berbahtera, untuk melanjutkan kontemplasi generasi sebelumnya.