13


Untuk menjadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk, ternyata harus membayar mahal: jatuh ke bumi. Tuhan sendiri yang melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan. Pohon –yang menurut tuhan allah, membuat siapapun yang memakannya akan dapat mendeterminasi kebaikan pun keburukan.
Mungkin kita tidak perlu tahu. Dengan begitu, kita selamanya menetap di firdaus.

12


Ayu Utami, 43 tahun, sastrawati Indonesia yang melakukan terobosan melalui bukunya, Saman. Satir adalah pilihannya dalam menentukan genre. Terlihat dari karya-karyanya yang sedikit banyak mengambil analogi dari komposisi kehidupan urban. Yang nampak, yang seolah nampak, maupun yang sama sekali kasat mata.

“Perempuan kita, selalu dianggap sebagai mesin membikin keluarga alias mesin beranak. Kalau susunya sudah menggelambir, dengan mudah dipoligami.” Tambahnya, “itulah nasib perempuan kita.”

Kesetaraan gender dan emansipasi wanita adalah akar dari peradaban dunia, hikayat tak berujung, yang menurut Goenawan Mohamad, “cerita mengenai peradaban juga menampilkan cerita kebiadabannya sendiri,” sehingga ada yang ‘biadab’ meng-imbuh-i kehidupan yang ‘adab’. Dan apa yang biadab di sini adalah penafsiran ambigu oleh karena mistransfigurasi bahasa. Bahasa yang dikata kudus, sampai akhirnya diterjemahkan oleh manusia.

Penulisan injil, yang mengambil sabda tuhan sebagai platform, hendak menanamkan bahwa wanita tercipta oleh karena tulang rusuk seorang pria. Pria bernama adam yang kesepian menjelajahi eden, yang menemukan baginya binatang-binatang sebagai teman, walaupun tidaklah serupa dengan dirinya. 

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” – Kejadian 2 : 18

Sampai di sini, tahap penafsiran masih spekulatif. Apa yang akan tuhan ciptakan belumlah jelas, karena kata ‘sepadan’ amatlah ambigu untuk menjadi dasar suatu kesimpulan. Sampai akhirnya tuhan membuat pria tertidur, mengambil salah satu rusuk dari padanya, kemudian menutupi tempat itu dengan daging, dan pada akhirnya seorang perempuan terlahir. Kini jelas, seorang perempuan dikonstruksi dengan menggunakan jasmani pria sebagai bahan baku, bukan dengan material lain. Manusia dilahirkan melalui, oleh, dan dari manusia.
Kemudian, 

“Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan sebab ia diambil dari laki-laki.” – Kejadian 2 : 23

Kata-kata pria dalam kebahagiaan menemukan yang sepadan adalah kata-kata multipersepsi yang tidak akan pernah dapat dianalisa melalui aspek-aspek personal semacam psikologis. Atau mungkin, bahasa manusia –yang variatif lah yang menciptakan batas-batas penalaran umum sehingga proses penerjemahan tidak pernah sempurna dan utuh sama. Bias simbol, intonasi, artikulasi, bahkan persepsi itu sendiri adalah distorsi utama, yang agaknya sudah dianggap biasa dan tidak lagi menjadi konsekuensi dalam dasar interaksi. Dan kamus adalah berhala yang dipercaya mampu mengejawantahkan perbedaan tersebut.

Rasio akan menjawab bahwa perempuan terbentuk dari pria. Otoritas pria seakan-akan sirna dan terbagi setelah tuhan memutuskan untuk mengambil rusuk dan membentuk perempuan. Keduanya adalah perbedaan yang sekaligus melambangkan kesatuan intim. Sebagaimana kedua sisi dari sekeping logam. Berbeda dalam sesuatu yang satu.

“Perempuan kita, selalu dianggap sebagai mesin membikin keluarga alias mesin beranak. Kalau susunya sudah menggelambir, dengan mudah dipoligami.” Tambahnya, “itulah nasib perempuan kita.”
Lantas bagi seorang Ayu Utami, fenomena yang hadir adalah demikian. Hukuman atas sebuah keserakahan dan keangkuhan yang melahirkan fallacia (kesesatan).

Tuhan, tidak menciptakan perempuan untuk menjadi budak pria.
Tuhan, tidak menciptakan perempuan dengan kemampuan yang tidak melampaui pria.
Tuhan, tidak menciptakan perempuan sebagai mesin beranak.
Tuhan tidak memiliki alasan tertentu selain menginginkan pria memiliki teman yang sepadan.

Lantas, apa yang sekarang membuat perempuan mendapat perlakuan tidak sama, tidak seperti ketika berada di taman eden? Agaknya kita, yang sadar ataupun tidak, lahir dari perempuan, telah berkhianat. Kita telah melupakan apa yang mereka emban, malah hanya melihat sebatas acuan fungsional semata. Keagungan perempuan yang selalu luput menjadi sorotan sehingga muncul dalam sosok figuran, adalah sebuah pesan konotatif, bahwa perempuan justru terlahir untuk melengkapi figur konkret seorang pria.
Dan seorang bijak akan berkata, “di balik pria hebat, terdapat perempuan yang jauh lebih hebat.”

11


Semakin tua, alih-alih semakin banyak pertanyaan terjawab, justru semakin banyak pertanyaan muncul. Mungkin hidup memang baik adanya ketika manusia masih balita. Lepas dari apa-apa yang membuat sirkulasi darah ke otak terhambat. Karenanya definisi hidup lambat laun semakin majemuk. Hidup adalah sandiwara, hidup adalah proses metamorfosa, hidup adalah pencarian makna, hidup adalah persinggahan sementara sebelum menuju nirwana, dan lain sebagainya.

Belakangan ini saya lebih kagum dengan pertanyaan polos lugu yang terlontar dari mulut seorang yang begitu kecil, “mati itu sakit, nggak?”, namun hadir dalam kontroversi yang begitu besar. Ketimbang pertanyaan-pertanyaan serius lainnya ketika anak kecil tersebut tumbuh menjadi seorang yang dewasa.

Mungkin beberapa pertanyaan memang tidak ditakdirkan untuk dijawab. Atau tidak memiliki jawaban absolut yang mampu berdiri kokoh sebagai konklusi akhir.

Jadi, masihkah kita perlu bertanya? Setelah melihat bahwa hidup itu sendiri adalah tanda tanya yang begitu besar karena kerap mempertanyakan mati. Apapun yang terjadi dalam hidup, mungkin tidak sepatutnya kita tenggelam dalam proses pencarian sebuah jawab. Karena ketika tanda titik telah rampung menjadi akhir kalimat, paragraf tanya baru akan dimulai dalam waktu dekat.

Dan manusia, tidak selayaknya repot-repot mengernyitkan dahi. Dengan melebarkan senyum dan mengendurkan otot pipi, melakukan apapun yang terbaik bagi segala sesuatu yang dicintai, hidup tidak akan lagi menyajikan tanda tanya yang senantiasa menghantui. Menjadi sesuatu yang ‘hidup’, cukuplah dengan mengucap syukur pada barisan doa pagi. Dengan kata ‘amin’ untuk mengakhiri. Tanpa perlu berpretensi.

10


Sekuntum senja adalah kemewahan bagi para pekerja. Gurat kemuning yang lebar dan berkelok, meminta disaksikan pasang demi pasang mata yang merindu. Senja juga merupakan konsumsi primordialisme. Tidak setiap pasang mata mampu menyaksikan senja yang dramatis, eksotis, bias lainnya begitu abstrak untuk diartikulasikan dalam bayang horizon dan ufuk cakrawala. Sehingga, senja itu hidup.

Senja punya isyarat yang represif. Setiap menyadari kedatangannya, manusia diberikan aba-aba ambigu yang menuntut kesiapan untuk menyambut malam. Dan artinya, kehidupan nokturnal akan melesat hinggap. Mendetikkan ancaman dalam aliran waktu. Ibarat buku, senja adalah pra-epilog.

Ada yang salah ketika senja tidak lagi hadir penuh pesona. Mungkin manusia luput menangkap isyaratnya, alih-alih sibuk mempersiapkan diri pada janji, obsesi, dan ambisi yang ambivalensi. Maka, jangan salahkan senja, jika suatu kali nanti dirinya tidak lagi merona. Panggung dramaturgi akan kehilangan cahaya emas, justru karena ulah manusia.

9


Seorang bijak pernah mengatakan: “Hormatilah ayah ibumu, lalu gurumu, baru tuhanmu.”
Namun, jika saya boleh berargumen sedikit, saya akan terlebih dahulu menghormati diri saya sendiri. Ketika saya berhasil menghormati pribadi, menghormati yang lain seperti mereka, agaknya, tidak lagi sulit.

8


Musik adalah bumbu hidup. Alunan magis yang mampu membentuk rasa, disadari ataupun tidak. Banyak diantara kita yang dibentuk oleh musik. Setiap melodi dan komposisi selalu hadir, bahkan dalam ruang kedap sekalipun. Bahkan sepotong sunyi adalah jelmaan musik tersendiri.

Begitu sederhananya musik, sehingga manusia tidak perlu mengorbankan apa-apa untuk menikmatinya. Cukup memasang telinga. Lalu kontemplasikan, betapa dinamisme dan ritmik membuncah dalam lirih sepoi udara. Menghantar pesan yang majemuk dan interpretatif, namun sekaligus memikat, disadari ataupun tidak.

Kita telah melupakan gugusan merdu itu. Kehadirannya jarang sekali diresapi dalam nuansa khidmat. Alam adalah kidung itu sendiri yang penuh akan rahmat dan menjulang melampaui apa yang manusia pelajari. Bahkan, gelembung udara sudah tidak lagi mendapat predikat instrumen terbaik. Ketika resonansi yang dianggap mahakarya tercipta oleh kemampuan manusia.

#pinggir8


Waktu itu saya bingung: “apa bedanya cinta dengan obsesi?”
Kebanyakan menjawab kalau kuncinya hanya ada pada satu kata: tulus.
Lalu saya bingung lagi. Kata ‘tulus’ agaknya terlalu sederhana untuk menjabarkan kompleksitas rasio yang memunculkan pertanyaan tadi. Tulus itu bagaimana? Tulus itu memihak pada siapa? Tulus itu untuk apa? Manfaatnya apa? …
Oh, ya. Saya bicara manfaat. Menurut saya, ‘tulus’ dan ‘manfaat’ memiliki korelasi tersendiri. Ada yang memang memisahkan mereka dalam batasan terminologi, namun substansinya lebih merasuk. Lebih mengikat. Tulus akan berbuah manfaat. Meskipun tidak untuk kedua belah pihak.
Lalu saya bingung lagi. ‘manfaat’ itu sebaiknya dirasakan oleh pihak yang mana? Yang mencintai atau yang dicintai? Yang terobsesi atau yang di-obsesi-kan-oleh? Sepertinya tulus memang memiliki efek jangka panjang yang berujung ketidakadilan. Tidak ada win-win solution. Hanya totalitas keberserahan diri terhadap peristiwa yang dimaksud.
Definisi keduanya malah menambah konflik batin saya. Jadi serba salah mau apa-apa.

Hari ini…
Saya masih belum menemukan jawaban pasti. Namun, saya sudah tidak peduli apa itu cinta dan obsesi. Melihat anda tersenyum saja sudah cukup. Selanjutnya, tidak perlu ada pertanyaan lagi.

7


”Mana yang lebih penting: menjaga orisinalitas kultur untuk mempertahankan identitas asli suatu daerah, atau mengkolaborasikannya dengan kultur lain yang lebih akomodatif untuk diterapkan pada masyarakat modern dewasa ini?”

Pertanyaan ini timbul dari lamunan santai, setelah sebelumnya mencoba skeptis terhadap isu kesetaraan gender dan persamaan hak asasi. Feminisme yang lahir dari cabangan ilmu humanisme, juga merupakan sebuah ketidakterputusan usaha untuk memerangi kultur yang melekat pada zaman dan daerah tertentu. Western-centris & eastern-centris. Kita mengenal dua diferensiasi yang ada kalanya mengusik dua wilayah tersebut. Perluasan makna akan kultur melalui pretensi serta diskursus yang kurang optimal, menumbuhkembangkan otoritas yang saling mengekang, bahkan menjelek-jelekkan satu dengan yang lainnya.

Jawabannya mungkin sederhana. Sesederhana: ‘kolaborasikan saja’. Namun tetap, ego yang melekat dalam diri kultur membuatnya sulit untuk melepaskan diri dari wilayah cakupan kontekstualnya. Seperti halnya menara babel yang dipercaya dapat menyatukan seluruh manusia, namun berakhir dengan keporak-porandaan akan kepongahan manusia itu sendiri. Dalam ayat perjanjian lama yang tertulis, tuhan menghancurkan upaya manusia untuk menyeragamkan, karena perbedaan adalah lambang dari hidup. Dari keberadaan yang seringkali disepelekan oleh absennya kearifan manusia.

Maka, perbedaan adalah keberadaan. Koefisien yang memisahkan meskipun terkadang terdistraksi oleh benih-benih kecemburuan, sehingga menstimulasi kehancuran tanpa disadari.

Mungkin, menjadi berbeda adalah bentukan rahmat yang selalu dikhianati manusia. Apa yang esa, ternyata menginginkan apa yang berbeda. Dan oleh sebab itu, manusia hanya menjalankan logika berdasarkan nilai abstrak atas rumusan para pendahulu yang belum selesai. Dan kolaborasi tidak lagi menjadi jawaban yang cukup untuk menyimpulkan polemik akan kultur. Orisinal maupun campuran, tidak akan pernah cukup untuk menjadi alasan manusia untuk saling menjustifikasi: benar atau salah.

6


Kemajemukan semesta dapat terangkum dalam kelas perkuliahan. Ada sistem, mekanisme, seperangkat komponen yang membuat keseluruhannya bergerak utuh. Meskipun sarat distorsi karena beberapa elemen tentatif yang eksternal. Dosen, sebagaimana yang telah ditetapkan tanpa kesepakatan tertentu, hadir di muka kelas sebagai pusat sekaligus poros. Perannya untuk menciptakan dinamisme rekreatif sehingga membuat apa yang edukatif-membosankan gampang dicerna, dibawa pulang, terekam sempurna.

Mahasiswa, yang telah mengalami evolusi, dari prosedurial reaktif menuju proaktif, turut merubah atmosfer dan mekanisme ruang kuliah beberapa dekade belakangan ini. Ibarat kumpulan internalisasi yang cukup potensial untuk memberikan distraksi lebih signifikan ketimbang apa-apa yang eksternal. Mahasiswa mampu menciptakan bom yang menggetarkan kesemestaan ruang kelas. Tuntutan kurikulum yang direvisi untuk menjadikan mahasiswa sebagai strata sosial kelas yang juga mampu menggerakkan roda permainan. Hal ini, menjadikan dosen dan mahasiswa adalah dua subjek yang setara, yang hanya bertukar ilmu, tanpa implikasi menggurui satu sama lain.

Semesta, melalui sudut pandang ruang kelas, mungkin memang demikian. Bahwa alam dan manusia haruslah setara, mutualis, dan konstruktif dalam segala hal. Alam mengajari manusia untuk kemudian manusia mengajari alam bagaimana caranya mengajari manusia. Adalah sia-sia dan konyol untuk mengeksploitasi tanpa berusaha mengenal lebih jauh karakteristiknya. Ketika keduanya binasa, dan tiada apapun untuk disalahkan di neraka.

...yang terberat...

...adalah melihat punggung dirinya yang perlahan pergi menjauh.
merangkum perjumpaan singkat kala itu...

.P

5


Masa penciptaan juga dikenal sebagai periode asal muasal manusia. Bahwa tuhan mengkonstruksi mineral-mineral suci, yang pada akhirnya membentuk rupa laki-laki. Tuhan menaruh berkat, sehingga laki-laki hidup, dan menguasai firdaus dengan keberadaannya yang tunggal. Lantas tak lama tuhan melihat laki-laki kesepian, sehingga tuhan membuatnya tertidur, mengambil sebagian rusuknya, dan membentuk perempuan untuk menemani agar sang laki-laki tidak lagi merasa bosan.

Fase di atas diakhiri dengan penekanan, “Tuhan menciptakan manusia baik adanya”.
Cuplikan klise. Ketika ayat yang dikata kudus menyebutkan demikian, manusia-dengan segala keterbatasannya-akan menelan bulat-bulat pemahaman tersebut. Dengan dalih mengamini apa yang tidak terlihat dan transenden. Ilham dan keyakinan atas cerita yang keabsahannya tiada habis dipertanyakan.

Saya, di satu sisi, mencoba membalikkan perspektif dari klise yang dimaksud. Bahwa ada kalanya tuhan menciptakan laki-laki, namun ia menyesal. Sehingga ia memutuskan untuk menciptakan perempuan, namun acapkali kembali kecewa.

Sehingga tuhan membawa laki-laki dan perempuan ke luar ruang kerjanya dan melemparnya ke dalam tong sampah. Tong sampah-yang menurut malaikat-bernama bumi. Bumi manusia.

4


Apa yang membuat pagi hari ini berbeda dengan yang kemarin? 

Pertama-tama, pagi adalah ketika malam mengakui kekalahannya atas matahari. Dan matahari, sepatutnya tidak congkak hanya karena menyandang predikat raja galaksi, karena akan tiba saatnya malam untuk menyeretnya turun takhta, mengeluarkan senjata pamungkas bernama gulita. 

Lalu, rutinitas. Rutinitas yang muncul dari evolusi kultural. Rutinitas yang membuat manusia bangun dari tidur, membasuh lelah dengan percik dingin embun, lalu bergegas melakukan sesuatu yang konon membuat eksistensi sosialnya diakui dalam masyarakat. Paling tidak, rutinitas adalah potongan cermin dari sebongkah pagi yang umum. Di mana gejolak dinamika akan terasa lebih padat, lebih hidup, menepis kelengangan yang terkalahkan beberapa jam sebelumnya. 

Pagi, termasuk seluruh kepingan visualnya, adalah bukti semesta yang senantiasa bersenggama dengan kehidupan walau dirinya akan terus menjadi korban. Terutama tentang eksploitasi dan ekspansi yang tiada kunjung usai. Pengurasan material untuk memenuhi kepentingan manusia sendiri, membuat manusia bagai benalu yang berkoalisi.

Ada yang terlupakan ketika manusia menganggap setiap pagi hanyalah pengulangan retorikal. Banyak hal akan luput. Hal-hal yang semestinya cukup mampu mengakibatkan rasa kalut. 
Masih ingatkah manusia akan jumlah cecabangan pohon yang semakin sepi? Seberapa keras kicau burung saat ini? Ayam yang mulai malas berkokok, karena mereka semakin sadar bahwa apa yang mereka lakukan penuh kesia-siaan tatkala suara semakin sayup dan tidak lagi terdengar. Lapis embun pada serat tumbuhan yang semakin menipis, karena tingkat kelembaban yang menurun drastis. 

Mengingat hal kecil yang lebih esensial dari apapun ketika pagi bagaikan sekilas gumam doa tersendiri. Doa yang mengucap syukur, karena masih boleh menjadi saksi, meskipun tidak selamanya. Syukur atas semesta yang tidak pernah berhenti menyayangi manusia dalam kesewenang-wenangannya.

3


Bagi saya, merokok adalah cara menikmati hidup. Tidak ada suara yang lebih indah daripada bunyi geretan beradu untuk menimbulkan api, juga ketika api membakar ujung rokok sampai berkeretak. Sedotan pertama adalah surga duniawi, tentu saja. Perut dan pikiran akan dimanja untuk beberapa menit ke depan. Obrolan pun akan tersalur lancar. Derai tawa akan menyembur keluar dilapisi nuansa santai. Sempurna.
Namun, setiap batang rokok sama halnya dengan penolakan tidak langsung terhadap nikmatnya hidup. Komposisi candu yang persuasif, yang adiktif, akan menggiring manusia lebih cepat menuju liang lahat. Racun memang hal yang menakutkan, karena kebahagiaan dan kematian mampu berasimilasi tanpa disadari. Pun menyadari, lebih banyak yang memilih untuk tidak perduli. 

Jadi, saya akan mengatakan bahwa “Setiap batang rokok adalah doa”.
Bukti bahwa manusia mensyukuri setiap detik hidupnya, karena setiap hembus bisa menjadi nafas yang terakhir menguar di udara sekitarnya. Tatkala paru-paru terkontaminasi oleh konsekuensi, manusia terbukti bersyukur dengan terus menghisapnya lebih dalam, lebih kelam, sampai tiba saatnya bersemayam.

2


Pada gelas plastik bekas, tuhan menampakkan wujudnya dengan sempurna, yaitu ketika seorang pemulung merekah tawa dan mengucap syukur, karena tuhan telah menafkahi dirinya. Detik itu, adalah momentum penghiburan yang ada kalanya sakral.
Seperti halnya pemulung, kita dapat menemukan tuhan di mana-mana. Penyanyi January Christy mengatakan dalam lagunya, “tuhan ada di mana-mana”. Tidak melulu di rumah ibadah dan sinagoga. Tidak terbatasi lempeng benua dan jarak pandang mata.
Maka malam itu saya terenyuh sekaligus bersyukur. Mendapati sesosok ibu paruh baya bermalam beralaskan sarung dan berselimutkan kardus, tuhan hadir menjaga umatnya dalam wujud yang seringkali terbengkalai. Dan lalai, apabila manusia tidak jua merasa damai, hanya karena materi yang tiada sahih sama sekali jika disandingkan dengan keabadian itu sendiri.

1

pengalaman rohani adalah konsumsi lahiriah, eksklusivisme personal, sebuah privasi yang menunjukkan keintiman hubungan manusia dengan sang pencipta. Namun dalam momentum yang bersamaan, hal utama yang meluluh-lantakkan pakem tersebut adalah takaran dari tingkat kepekaan manusia, kepekaan yang tidak sama antara satu dengan lainnya.
Maka, mereka yang merasa dikaruniai suatu kelebihan akan artikulasi, pun aksara, akan mencoba menafsir secara kolektif. Membikin paradigma baku yang sekaligus memangkas praduga subjektif dari masing-masing individu. Sehingga terbentuklah wahyu yang terkodifikasikan dengan sempurna dalam rupa dan wujud kitab. Kitab yang dipercaya telah berhasil mentransformasikan apa-apa yang majemuk, yang ambigu.
Akan tetapi saya mencoba berspekulasi. Ketika metode penerjemahan sabda dipercaya tidak menemui titik kekeliruan, boleh dikata menghadirkan keraguan pula atas varian perspektif tertentu. Pendekatan-pendekatan kontra yang menghadirkan noktah tanya akan memburu seperti intelektualitas itu sendiri tidak lekang dibebat usia dan waktu.
Mungkin, selama ini kita keliru karena telah melembagakan sesuatu yang hakiki untuk hanya dapat dinikmati secara pribadi. Mungkin, selama ini berhala telah menjajah rasio yang luput memaknai sempurna ketika peka tidak lagi dirasa. Ada rasa bersalah, sekaligus nikmat, karena manusia secara tidak langsung menunjukkan kuasanya pada kapabilitas untuk hidup. Dengan melakukan hal-hal yang seringkali dirasa absurd.