garuda

aku memelihara seekor garuda
konon burung ini cuma ada satu di dunia, konon mereka bilang burung ini hasil dari konstruksi imajiner fiktif belaka
namun untukku, ia cukup nyata
garudaku bernama metafora
setiap hari aku memberinya makan, mulai dari biji hingga bayi
aku baru tahu, garudaku adalah seekor omnivora pemakan segala, tak terkecuali manusia
tubuhnya semakin lama semakin menjulang, sangkarnya semakin lama semakin sempit
bentangan sayapnya kini mencapai lebih dari 10 meter, aku terpaksa memindahkannya ke luar rumah
semenjak ia dipindahkan ke luar rumah, tingkah lakunya semakin tidak terkendali, ia kehilangan arah navigasi ketika mengudara, perlu waktu lebih lama untuk menemukan rumahnya kembali

aku memelihara seekor garuda
konon burung ini hinggap secara paradoks di hati rakyat, menjadi simbol dari suatu negara yang berdaulat
namun untukku, ia adalah fanatisme muslihat yang dibuat-buat oleh para birokrat biadab
garudaku mereka namai idealisme yang menjunjung tinggi serikat pluralitas serta hakikat manusia bermartabat
tubuhnya (menurut mereka) semakin lama semakin menjulang, sangkarnya (menurut mereka) semakin lama semakin sempit
kepakan sayapnya kini mampu melahirkan bencana, mengomandokan dinding tsunami, meluluh-lantahkan ekologi seraya memuntahkan berton-ton kubik lahar, mengakibatkan destruksi massal, tidak terkecuali pada aspek moral
semenjak ia dipindahkan ke luar rumah (oleh mereka), tingkah lakunya semakin tidak terkendali, ia kehilangan jati diri ketika dikepung jargon-jargon globalisasi, perlu waktu lebih lama baginya saat bercermin untuk mengenali identitasnya yang hakiki

suatu malam, mereka menculik garudaku
aku mendapati rantai besi pada lehernya yang terikat pada pasak baja sudah tercabik oleh gergaji mesin sang birokrat esok harinya
aku menangis, garudaku menjadi budak para penguasa bengis, ia direkayasa menjadi substansi nilai psikologis untuk menjadi tameng yang mengaburkan fakta dan realita pada setiap skenario konstitusi teramat sadis
aku menangis, garudaku menjadi sasaran yang kerap dipersalahkan, ia diberikan jubah bernama pancasila oleh para penguasa, jubah yang mendistribusikan sejumlah dogma dan falsafah kehidupan masyarakat yang semu, suatu umpama, sewujud niscaya, tidak terkecuali kesemrawutan retorika
aku menangis, garudaku menjadi olok-olok, kini statusnya tidak lebih dari sekedar momok, ornamen-ornamen yang menghiasi dadanya telah menjadi mimpi yang menelan habis seluruh bentuk hak asasi
aku menangis, garudaku sekarat, penghujung umurnya kian dekat, garudaku terpaku lemah di tengah tembok istana negara, melihat pasrah merah putih yang mengibarkan aroma darah, sampai ia tidak mampu lagi menatap sang pusaka, meskipun masih merentangkan sayap, ia tidak kuasa untuk tidak menolehkan kepala, tidak sanggup lagi menyaksikan drama durhaka Indonesia

suatu malam, aku berencana menyelamatkan garudaku
tanpa berbekal apa-apa, hanya nurani saja
selanjutnya aku akan mengajari garudaku tentang anarki
karena terbukti, demokrasi sudah tidak lagi hidup, tidak juga mati
garudaku tidak butuh penguasa untuk mampu mengurus dirinya sendiri
garudaku tidak butuh ranah hukum yang membatasi ruang geraknya di udara sepanjang hari
garudaku tidak butuh pasukan bersenjata maupun milisi untuk membuatnya merasa aman terhadap serangan dari luar negeri

dan kepada garuda, aku akan bernyanyi...
jadilah kau lelaki nan lantang, jangan takut tantang tirani*


*Tantang Tirani - Tika & The Dissidents