voltase

Sama sekali tidak empuk dan tidak nyaman diduduki. Apa boleh buat. Cuma ini satu-satunya kursi yang disediakan. 

Sebentar lagi pertunjukanku dimulai. Aku sedikit gugup sejujurnya, tapi orang tua di sebelahku ini berisik sekali. Berceloteh panjang lebar tidak karuan soal peraturan. Padahal aku tahu itu hanya formalitas belaka. Sialan. Mengganggu konsentrasi saja. 

Sesuai perkiraanku, banyak juga pengunjung yang datang. Oh, itu ibu. Dia menangis. Wajar saja, anak satu-satunya akan menampilkan pertunjukan besar. Pertunjukan perdananya di panggung drama yang konon penuh kemelut dan sandiwara. Air mata itu pastilah air mata bangga. Aku yakin sepenuhnya. 

Perlahan-lahan ruangan ini senyap. Para hadirin nampaknya sudah siap. Baiklah. Aku mulai saja. 

Any last words?Orang tua itu menatapku. 

Aku menggeleng. Kemudian, kursi yang semakin tidak empuk dan tidak nyaman ini memancarkan listrik. Pertunjukanku resmi dimulai.

bara api

Menjelang maghrib, ketika matahari nyaris terbenam di ufuk barat sana, seorang pemuda tengah kuyup. Kali itu adalah matahari terakhir yang ia pilih untuk membakar kulit sawo matangnya, sekaligus matahari terakhir yang ia titipkan salam dan barisan doa. Doa berlapis harapan karena kegetiran, juga putus asa yang bermutasi hingga menyerupai gulma. Mungkin sebab itulah matahari bersikap mafhum, lantas memutuskan untuk mengintip ketimbang menyaksikan penuh kronologi atas suatu tragedi. Karena menjelang maghrib, tepatnya pukul 17.30 WIBB, ketika matahari cuma berani mengintip, seorang pemuda yang tengah kuyup oleh siraman bensin membakar tubuhnya. Meneriakkan gaung kemurkaan melalui nyala api yang perlahan melumat sekat kulit ari dan pori-pori. Inci. Demi inci. Di depan istana negara yang keburu sunyi usai orasi perihal hak asasi. 

Di depan istana negara, Sondang Hutagalung mengubah tubuhnya menjadi nyala terang yang membahana. Walau tidak berlangsung lama... 


Amin... 

Beberapa hari lalu, misa kudus biasa di hari minggu biasa, seorang anak dan ibu pulang ibadah seperti biasa. Sondang Hutagalung yang membonceng ibunya pulang ke rumah juga nampak sebagai sesuatu yang biasa. Hanya saja tidak ada yang mampu menerka kehadiran masygul di tengah-tengahnya. Sosok Sondang yang bungsu dari empat bersaudara ini pendiam dan penurut. Seperti bambu yang meliuk sendirian di tengah kemelut. Namun seperti halnya nyala api yang menyisakan debu, Sondang menyisakan banyak hal di usianya yang ke-22. Juga termasuk di antaranya toga kelulusan untuk perayaan wisuda. 

Berita tentang Sondang membuat publik terkejut. 

"Dia pribadi yang unik, selalu membuat suasana demonstrasi lebih hidup dan cukup kreatif," kata seorang rekan aktivis, "Sebulan sebelum kejadian, Sondang sempat menitipkan organisasi Hammurabi." lanjutnya. Hammurabi adalah Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia. Sebuah organisasi yang identik dengan perjuangan hak asasi manusia. Di sinilah, kemuakan Sondang dengan kebijakan pemerintah yang kerap kali tidak adil dan mengecewakan khalayak massa membuatnya aktif secara mendalam, sehingga ditunjuk sebagai ketua organisasi ini. 

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga dituntut untuk sigap. Tubuh remaja ini mengalami luka bakar separah 85-90%. Yang kita lupa adalah bahwa keajaiban itu tidak selalu muncul setiap saat. Kecil kemungkinannya untuk selamat. Kecil peluangnya untuk kembali sehat. Sekalipun rongga serabut otot dan koyakan daging telah melepuh, kolega-kolega beserta sanak keluarga yang bertandang menjenguk tubuhnya selalu membawakan secercah semangat agar dirinya kembali sembuh. Di tengah kepungan alat medis serba canggih, bambu itu terkulai tanpa daya dengan warna keruh. 

Namun takdir juga hadir, malam ini, lengkap dengan tubir yang menyatakan bahwa tugasnya di dunia sudah paripurna.

Lalu, pada Sabtu malam yang kuyup oleh ngilu hujan pada tanggal 10 Desember 2011, Sondang Hutagalung dikabarkan mengembuskan nafas terakhir. 

Satu lagi anasir protagonis pergi, satu lagi pejuang tangguh memperlihatkan arti sesungguhnya kata ‘berani’, dan satu lagi penyair kreatif menantang mati dengan karya terakhirnya yang berupa puisi dalam nyala api. Ada simpati. Ada antipati. Namun lebih dari segala itu, masih ada tugas yang belum boleh berhenti. 

Karena menjelang maghrib, ketika matahari nyaris terbenam di ufuk barat sana, seorang pemuda tengah kuyup. Dan pemuda berdarah Medan ini mau mempertaruhkan hidup. Terutama hidup bagi orang-orang lain yang belum boleh surut. Walaupun cerita tentang dirinya akan memuai dan terlupakan sejarah, bahkan sebelum matahari petang itu selesai  merampungkan kata berpisah.

53



Duka itu kembali muncul di sela-sela siang yang bolong, melalui tangis seorang teman karena rekan futsalnya tewas ditusuk. Entah apa motifnya. Yang jelas, episode tragik selalu muncul dibarengi sensasi hampa yang tiba-tiba. Meskipun peristiwa kematian satu orang bukanlah sebuah berita luar biasa, khususnya di megapolitan tempat ratusan –bahkan ribuan- jiwa bersemayam, khususnya di arteri peradaban modern yang penuh ironi dan melodrama berbau darah manusia. Satu manusia berpulang, satu lainnya datang. Itu siklus alamiah bagi kategori mortal. Normal.

Normal?

Kita menganggap sesuatu secara normal hanya karena proses repetisi yang terus menerus terjadi tanpa henti. Termasuk kematian. Namun di balik pedih perpisahan dan ucapan selamat jalan, kita tetap saja mengimbuhi makna yang mendalam terhadap satu momentum yang tidak mungkin terulang kembali. Agaknya, normal hanyalah sekedar persepsi banal yang senantiasa menampik apa-apa yang radikal. Termasuk agresi instrumental. Termasuk pula peperangan antar hegemoni sosial.

Misteri perang tersembunyi di balik alam bawah sadar

1934 lampau, M. Ginsberg, pakar instingtifistik, harus menerima sanggahan pedas oleh E. Glover yang juga seorang pakar psikoanalisis ortodoks. Teorinya yang menempatkan perang atau perilaku destruktif manusia di bawah alam sadar, menegaskan bahwa perang merupakan sesuatu di luar kapabilitas manusia yang mustahil dikekang, apalagi dikendalikan.

Dan itu keliru.

Sementara anggapan yang jauh lebih realistis, tertulis dalam surat Sigmund Freud (Why War?) pada Albert Einstein. Dirinya tidak bersikukuh bawa perang disebabkan karena adanya kedestruktifan manusia, namun dia berpendapat bahwa penyebabnya adalah konflik nyata antarkelompok yang diselesaikan dengan kekerasan, mengingat tidak adanya hukum yang berlaku secara internasional (seperti dalam undang-undang sipil) untuk mengatasi konflik secara damai. Premis utamanya, manusia normal yang bermoral serta bersifat manusiawi hampir tidak mungkin berperang. Tidak ada dorongan pribadi dalam kadar tertentu yang mampu menstimulasi agresi maupun insting manusia (dengan beberapa pengecualian) untuk saling melukai dan membantai satu sama lain jika tidak diinfiltrasi oleh propaganda-propaganda sosial.

Dan penelitian historis mendukung hipotesis ini.

Perang dunia pertama dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan ambisi para pemimpin politik, militer, dan industri dari kedua belah pihak, bukannya oleh kebutuhan berbagai negara di dalamnya untuk menyalurkan dorongan agresi mereka yang selama ini dikekang. Seperti Jerman yang termotivasi oleh hegemoni ekonomi di Eropa Barat dan Tengah serta wilayah-wilayah di kawasan Timur, Perancis yang menghendaki Al-sace-Lorraine, Rusia yang menghendaki Dardanelles, juga Inggris yang menghendaki sebagian dari koloni Jerman, dan Italia yang menginginkan –setidaknya- barang rampasan perang.

Dalam beberapa hal, perang membalikkan semua nilai-nilai yang berlaku. Dalam peperangan, seseorang akan kembali kepada fitrahnya sebagai bagian dari suatu lingkup konstelasi sosial. Hematnya : perang adalah perlawanan tidak langsung terhadap ketidakadilan, perbedaan kelas, dan kejenuhan yang sangat terasakan dalam kehidupan sosial semasa damai.

Fakta bahwa perang memiliki tiga unsur positif merupakan komentar yang memprihatinkan bagi peradaban kita. Jika kehidupan masyarakat sipil dipenuhi dengan unsur-unsur petualangan, kesetiakawanan, kesetaraan, dan idealisme yang bisa didapati dalam perang, maka boleh disimpulkan bahwa akan sangat sulit untuk mendorong masyarakat agar maju ke medan tempur, dan karenanya mereka akan memberontak jika dipaksa.

Maka, peperangan besar di era modern dan sebagian besar peperangan antar kerajaan di jaman dahulu bukanlah disebabkan oleh agresi yang dikekang, melainkan oleh agresi instrumental dari elit politik dan militer.

Penting untuk diketahui, bahwa tanpa adanya unsur supremasi, dominasi, eksploitasi, dan hierarki kelas, motivasi sebagian besar manusia untuk berpartisipasi dalam kancah peperangan tidak akan berada dalam angka yang cukup signifikan. Justru dengan adanya tiran yang memobilisir pergerakan massa melalui doktrinasi beserta dogma-dogma partikular, masyarakat luas tidak akan mampu memiliki sifat altruisme, yang mana sifat tersebut merupakan bentuk konfrontasi langsung terhadap praktek represif yang mengekang kehidupan mereka. Sampai di sini, perang menjadi tidak lebih dari sekedar konstruksi montase yang-sosial yang dirancang oleh kepiawaian yang-individual. Perang menjadi tanda tanya abstrak yang selalu menampilkan jawaban mutlak. Acapkali dengan luka yang menggrowak. Dan seperti kata Lenin, “one death is a tragedy, one thousand death is a statistic.” Benar. Kematian menjadi sekedar kuantifikasi dalam kuantitas jamak.

Tetapi di sela-sela siang yang bolong ini, melalui tangis seorang teman karena rekan futsalnya tewas ditusuk tanpa motif yang jelas, barangkali, dan hanya barangkali, kita belum sepenuhnya bertransformasi menjadi manusia modern yang tidak memiliki hati. Karenanya kematian tetaplah pelik untuk ditafsirkan sebagai sekuens normal yang kita jumpai. Dan di gorong-gorong masyarakat megapolitan yang rawan, ternyata masih menyisakan dimensi primitif yang tersembunyi dalam kelam. Persisnya di ujung air mata sana.

Semakin primitif suatu peradaban, semakin jarang kita jumpai perang – Q. Wright, 1965

#pinggir30

dear sidewalk,

i guess i have to hit the road again.

#pinggir29

malam ini saya pergi membunuh jarak 

karena jarak menumbuhkan harap, namun harap mengutuk jarak 

jika malam ini jarak mati, saya sangat berharap agar harap juga mengalami hal serupa 

benar… 

harap tentang anda yang tidak kunjung nyata

fir-


setiap api memang ditakdirkan untuk redup dan kembali menjelma abu

panas ini tidak seharusnya palsu, apa anda setuju?

sementara kita, hadir sebagai suluh sekaligus sumbu, di tengah-tengah tradisi sosial yang mewajibkan segenap bentuk relasi memiliki simbol komemorasi untuk keberlangsungan selebrasi, yang justru acapkali membuat kita sembunyi dari esensi api itu sendiri


setiap api memang ditakdirkan untuk musnah tanpa perlu mendeterminasi menang-kalah

karena api adalah pelitur yang tidak mengenal kata luntur, walaupun dirinya telah mengabur pada petak-petak kubur

dan kita bukan ornamen dapur, yang mampu menjaga api agar tetap teratur

52


Setiap keinginan akan selalu terhalang oleh kemampuan badan. Pada mulanya adalah hasrat, hasrat untuk berbuat pun bernubuat. Juga diri yang mudah terkesima sehingga dengan telak membikin mulut lebar ternganga cukup lama. Atau konsentrasi yang seringkali melarikan diri, hinggap-hinggap secara acak melampaui segenap ambivalensi. 

Tetapi saya menyesali sebuah ontologi, tentang pikiran dan badan yang tidak ayal menolak kompromi. Tentang setiap keinginan yang akan selalu terhalangi oleh kemampuan badan. Mungkin, saya berniat memusuhi salah satunya, dengan mengkombinasikan lakon antagonis protagonis ke dalam amfiboli monolog yang kental retorika. Manakala yang tunggal dirasa majemuk, akan terbit perang yang berkecamuk. 


Saya ingin memusuhi raga… 


Karena pikiran ini sedang deras. Menukik elok seraya meranggas kebas. Banyak yang terbit di sela-sela momentum layaknya loncatan kuantum di celah lubang jarum. Tenggelam sebentar sambil melantun nanar merayapi bilah-bilah sangkar. Sebagaimana seorang ahli nujum yang tertegun akan gerak pendulum, saya mau terbang saja, terbang meninggalkan raga terkapar di bawah sana. Terbang bersama cahaya menelusuri petak-petak semesta. Terbang menyusuri memori, merapikan arsip-arsip lama, menyusun masa kini, dan meramal masa nanti. Saya ingin memusuhi raga yang masih menuntut pikiran untuk beristirahat barang sejenak karena letih yang merasukinya begitu tamak. Saya ingin memusuhi raga yang masih menyiasati mata agar terpejam untuk menghindar dari fluktuasi resonansi yang sedapat mungkin menghujam. Saya ingin memusuhi raga karena ia menua, tidak seperti jiwa yang gagal dibujuk usia. Saya ingin memusuhi raga, namun antipati ini berujung durjana… 

Lantas, jauh lampau nan eksil di Naucratis, Mesir, di seberkas hari yang tidak jelas diketahui, mungkin Raja Thamus atau Ammon memiliki prasangka yang serupa. Yang tercenung sepanjang waktu di atas singgasana kebesarannya. Yang melepaskan jiwa untuk berkelana menyusupi relung-relung berlabel niscaya. Yang mengetuk pintu valhalla dan memastikan sesembahannya utuh tanpa cela. Ia menyibukkan diri dalam misi menemukan alétheian di balik pilar-pilar absolutisme kebenaran. Saya iri karena dirinya berhasil membuat sang raga berhenti menggugat posisi sekalipun pikirannya mendominasi. Ada enigma yang beroleh kuasa melebihi tubuh penuh jelaga di sana. Benar. Saya iri karena tarian Ammon kecil kemungkinannya untuk berhenti menggores sabda-sabda yang memaktubkan pharmakon menuju manusia yang anti sophón


Saya ingin memusuhi pikiran...


Tetapi saya bukan raja Mesir kuno, peradaban saya tidak mengenal kasta, barangkali konstelasi sosial telah bermetamorfosa dan menjelma menjadi sekedar muslihat, tipu daya ilusi, atau formalisasi yang mensubversi upaya pengembaraan jiwa di luar ranah dogmatisasi. Saya menjadi tipikal sekaligus universal di tengah-tengah yang partikular. Seperti produk era industri, individu siap cetak, siap saji, menjadi robot yang tunduk terhadap titah birokrat-birokrat laknat yang gemar mengeksploitasi. Otak saya berontak, namun raga ini memilih diam dalam riam benak yang teriak. Saya muak… 

Saya ingin memusuhi pikiran karena kekasatmataannya terlalu merangsang. Saya ingin memusuhi pikiran karena ketidakpastiannya yang selalu memastikan diri untuk kembali hilang. Saya ingin memusuhi pikiran karena permainannya yang melena pun menghanyutkan. Saya ingin memusuhi pikiran, namun masih ada sisa-sisa doa yang perlu dikabulkan. Saya segan… 

Lalu dari balik pualam, muncul Theuth, dewa pemilik burung yang dinamai Ibis, dewa yang gemar mencipta, dewa yang pertama kali menemukan hitungan dan angka, geometeri dan astronomi, permainan dadu, dan lebih dari semua itu, grammata atau aksara. Dewa yang berhasil mengakrabkan pikirannya dengan sang raga. 

Thamus malah mencelanya. Mengucapkan bahwa apa yang diperoleh Theuth hanyalah bentuk-bentuk artifisial yang mengingkari supremasi manusia sebagai makhluk pencari yang terus menari dalam kebingaran eksistensi. Theuth hanyalah meramu sesuatu yang remeh, sesuatu yang dangkal, sesuatu yang mengakibatkan manusia menuai dekadensi dan mengalami erosi hayati. Singkatnya : Thamus dan Theuth adalah implikasi atas kontradiksi ontologi yang saat ini sedang saya sesali. Antara manifestasi pemikiran dengan kehadiran badan yang tidak pernah akur. Pikiran yang terpekur beserta raga yang mendengkur. Hasrat saya luntur… 

Barangkali Nietzsche benar. Hidup ini cuma soal pengarungan, cuma semata pelayaran tanpa jangkar untuk ditambatkan di pulau terdekat. Tidak setiap perjalanan membutuhkan tempat peristirahatan. Walaupun raga acapkali memaksa berhenti karena lemas berdiri, dan karena seorang musafir sejati tidak akan pernah menemukan oase abadi dalam pengembaraannya seorang diri, mungkin -dan hanya mungkin- tidak ada kata selesai pada suatu tarian tidak terpemanai. Tarian di mana pikiran dan badan menyatu gemulai bersama simfoni yang tidak kunjung selesai. 

Seperti kelahiran, juga kematian, akan senantiasa hadir sebagai epilog tentang kisah manusia yang dihantui kesendirian. Sebagai paradoksal instrumen sosial yang berawal dan berakhir dalam dimensi individual, tanpa menafikan sublimasi virtual.


Saya ingin memusuhi kehidupan dan kematian…

pada sebuah percakapan yang mungkin tidak pernah terjadi

“boleh tanya sesuatu?” 

“ya?” 

“apa lo nyaman dengan situasi begini?” 

“maksudnya?” 

“situasi kita.” 

Anda mengangkat bahu… 

“apa lo nggak pernah mikir kenapa gue nggak ngajak lo pacaran atau semacamnya?” 

Anda menggeleng samar… 

“apa lo nggak pernah menduga kalau gue cuma main-main?” 

Anda mengernyit sedikit… 

“apa lo nggak pernah menuntut kejelasan soal hubungan kita? 

Anda mengulum senyum… 

Namun seketika bibir itu mengangkat singkat. Sebagai satu-satunya respon yang mungkin dilakukan untuk mengisi kekosongan jeda. Bersuara, gumam nada tanpa bait kata… 

“apa sekarang lo bingung?” 

“iya. Kok tiba-tiba bilang begitu?” 

“mastiin aja.” 

“mastiin apa?” 

“mastiin kalau kita sama-sama nggak menunggu kepastian.” 




Justru karena hidup ini penuh dengan ketidakpastian, juga anda, kita, bukankah ini cukup untuk menjadi alasan yang bebas dari tunggakan beban?

#pinggir28

Ketika tidur menjadi hal yang ditakuti 

Karena ada kalanya anda muncul tiba-tiba dari balik mimpi

51

Mungkin manusia adalah satu-satunya makhluk yang merasa memiliki tuhan, sekaligus satu-satunya makhluk yang mampu berlaku seolah tidak memiliki tuhan. Contohnya dengan usaha mendeterminasi waktu. Saya melihat kalender masehi dan takjub. Sistem penanggalan, pembagian hari dan bulan, peletakkan tahun dan milenia, juga pengkotak-kotakan ragam peristiwa, semuanya diakhiri dengan tanda tanya raksasa… 

Mungkinkah kalender masehi terlahir sebagai upaya pragmatisme manusia, yang sekaligus upaya mengkooptasi ranah waktu agar mampu diatur dan difungsikan demi kepentingan umat manusia? Atau hanya sekedar solusi remeh yang muncul dari proses interaksi antar waktu dengan manusia? 

Waktu diintervensi, dikomodifikasi, disamakan dengan uang, diperlakukan selayaknya komoditi yang berpotensi menghasilkan materi. Pernah mendengar frasa time is money? Atau cabang ilmu astrologi yang pada akhirnya memilah-milah karakteristik manusia berdasarkan hari kelahirannya? Dua hal itu sudah cukup untuk menjelaskan dominasi manusia terhadap waktu. Bahwasanya kita lupa jika waktu sama sekali tidak berharga, namun ia bernilai. Dan manusia sama sekali tidak mampu menyia-nyiakan waktu, karena waktulah yang menyia-nyiakan kita, satu demi satu. 

Tetapi, apa jadinya bila manusia tidak bersinggungan secara simultan dengan waktu? Apa yang terjadi jika manusia tidak mengenal sistem pembagian detik, jam, tanggal, bulan, dan seterusnya dan seterusnya? Apakah kita akan berakhir terbangun di setiap pagi lantas bertanya? Ini hari keberapa…? 

Karena di antara manusia dengan waktu terbentang dimensi yang bebas interupsi. Keduanya bersimbiosa tanpa memegang kendali, namun saling mengafirmasi kelahiran maupun kematian sebagai fenomena yang tidak mengenal kata ‘berhenti’, apalagi ‘terkendali’.

maternity


Pertengahan abad 20 – James Mellaart, seorang antropolog cum arkeolog, melakukan penggalian situs Kota Çatal Hüyük yang berusia 6500 SM. Kota ini merupakan salah satu kota peninggalan jaman Neolitik berperadaban paling maju di Anatolia, Turki, di mana untuk pertama kalinya industri pengecoran logam, yang mampu menjadi aspek perekonomian penopang hidup bagi seluruh koloni masyarakat ditemukan. Setelah sebelumnya kesejahteraan sosial masih sangat bergantung pada hasil perburuan dan pertanian. 

Ciri utama yang menarik dari pedusunan Neolitik seperti Çatal Hüyük adalah peran sentral kaum perempuan (khususnya ibu) dalam struktur sosial dan dalam agama mereka. Perempuan disejajarkan dengan alam, dengan kemampuan untuk menghasilkan dan melahirkan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum pria. Atmosfer matriarkial dapat dirasakan melalui dua personifikasi simbolik, yaitu perempuan sebagai dewi agung dalam dunia religius, lalu perempuan sebagai induk dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Sebuah fenomena yang sama sekali bertolak belakang dengan mayoritas sistem masyarakat modern bernuansa patriarkial. Karena itulah, barangkali Çatal Hüyük berdiri sebagai representasi terakhir dari pola masyarakat prasejarah yang masih menjunjung tinggi emansipasi gender. Mengingat kaum pria mulai mendominasi peran di dalam masyarakat pada peradaban-peradaban sejarah lebih lanjut. Terutama setelah kemunculan cerita Mitologi Babilonia, Enuma Elish, yang menceritakan kemenangan pemberontakan dewa pria bernama Marduk terhadap Tiamat, sang “Bunda Agung” pewaris jagat raya. 

Kita tahu, klaim atas kajian pre-historiografis menunjukkan bahwa masyarakat primitif yang menempatkan perempuan sejajar dengan pria terbukti lebih potensial menciptakan kondisi masyarakat yang relatif harmonis dan minim konflik. Paradoks perempuan yang lembut namun tegas bak sebuah metafora tentang alam semesta, tempat seluruh manusia mengawali, juga mengakhiri hidupnya. Seperti yang dikatakan J.J. Bachofen dalam Mutterrecht, “keluarga yang berlandaskan prinsip patriarkial merupakan sebuah sistem hubungan individu yang tertutup, sedangkan keluarga yang berazas matriarkial menghasilkan sifat universal yang khas yang telah ada pada awal segala perkembangan dan yang membedakan kehidupan material dari kehidupan spiritual lebih tinggi.” 

Barangkali sudah menjadi kewajiban kita yang hidup di era paternal, untuk menengok kembali periodesasi prasejarah, menengok kembali Çatal Hüyük, menengok kembali detak emansipasi, menengok kembali apa yang menyebabkan masyarakat dewasa ini begitu rentan oleh praktek diskriminasi, terlebih menengok kembali apa yang telah kita lupakan dari sosok seorang perempuan. Karenanya, hari ibu tidak lantas hanyalah sekedar komemorasi tahunan. Hari ibu adalah ungkapan akan dedikasi seorang anak yang begitu mencintai kehidupan. Seorang anak yang dikandung dan dibesarkan oleh seorang perempuan. Seorang perempuan bernama ibu. 

Bahwa setiap kehidupan diawali dari pengorbanan seorang ibu, dan ketika tidak ada manusia yang tidak lahir dari rahim seorang ibu, apa yang lebih mulia selain hal itu?

#pinggir27

menanyakan kabar anda sebagai kalimat pembuka percakapan adalah sebuah kesia-siaan belaka

maka dari itu

apa kabar?

#pinggir26

why i wonder if you still remember every single chapter from november 'till september
why i wonder how long does it take to wait and also pretending to have some faith
though back and forth it seems really short
i do expect that you had forgot

was our word 
has already lost its worth?

#pinggir25

Mereka yang mengatakan “tidak perlu alasan untuk terus menunggu ketidakpastian” pastilah belum pernah menikmati segelas kopi seorang diri 

Tetapi tidak 

Saya tidak pernah menunggu sambil ditemani kopi 

Karena anda tidak akan kembali 

Seperti halnya hitam yang tidak kunjung memutih 

Walaupun kopi sang peracik mulai ditumbuhi buih

cindera mata

tirus. pucat membeku. bukan wajahmu yang biasa. walau parasmu tetap saja luar biasa.

garis pensil tipis tebal...

gaunmu baru? liontin dan sepatu birunya juga. aku belum pernah melihatmu mengenakannya.

garis pensil tebal pekat...

jangan bergerak. sebentar lagi selesai.

garis pensil pekat pasi...

sudah! ini untukmu. jangan sampai hilang.

lalu saya selipkan carik hitam putih ke dalam tangan anda seraya berdiri. menutup peti mati. membayang nanar sketsa terakhir tadi.

gunadeya

malam ini ia mati kehabisan darah...

mengapa?

buku yang dia berikan untukmu. sudah kamu baca?

belum. apa hubungannya?

dia tidak menulisnya dengan tinta. asal kamu tahu saja.

#pinggir24

apa kabar?

agaknya rindu lebih bermakna ketika pertemuan itu tidak pernah ada.

kalau begitu,
semoga kita tidak pernah lagi bertemu.

kembang api kecil

untuk ayah, ibu, paman, bibi, adik, dan aku...

ia tersenyum. berjalan perlahan menuju pekarangan rumah tempat seluruh keluarganya tengah berkumpul merayakan hari ulang tahunnya. di tangan kiri, revolver isi 6 peluru siap terkokang.

tawar

Bulan lalu

“Yang ini sepuluh ribu.” 

“Mahal sekali?” 

“Masih baru. Sehat luar dalam. Anda tidak akan kecewa. Bermutu tinggi seperti biasa dan tahan lama.” 

“Ah, pembual. Sudah banyak berita yang tersiar mengenai penipuan.” 

“Tidak di toko saya. Dan sekali lagi saya pastikan anda tidak akan kecewa.” 

“Delapan ribu?” 

“Delapan ribu enam ratus?” 



Hari ini

“Rasmini diduga meninggal akibat penyiksaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pemilik rumah di tempatnya bekerja sebagai pembantu. Hasil autopsi jenazah menunjukkan sedikitnya terdapat belasan luka sayat, luka robek, luka bakar, dan lebam-lebam di sekujur tubuh gadis asal Banyuwangi tersebut. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kedutaan asing terkait. Kasus Rasmini menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap TKI asal Indonesia di Arab Saudi.” 



Bulan berikutnya

“Yang ini sepuluh ribu.” 

“Baik. Saya ambil.”

50



Orde BaruRefleksi pancasila sebagai instrumen sang tiran untuk mengontrol dan menekan lawan-lawannya berpolitik. Mirip sebuah doktrin berbalut teror, yang dalam rentang dekade selanjutnya, memancing setampuk kalimat tanya : apa yang sakti sehingga pancasila perlu diperingati? Siapa pencetusnya sehingga pancasila layak dinyatakan sakti? Kepada siapa pancasila berpihak? 

“Tidak ada sebuah negara yang dinamis,” lalu lanjutnya mantap, “kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya.” demikian Bung Karno berujar. Walau begitu, sang orator juga merasakan bahwa sejumlah haluan ideologi yang membuncah berpotensi sekaligus menjadi gerbang penuai kecamuk, sekalipun masih dalam tataran candradimuka, atau masih dalam basis-basis praksis yang memerlukan konfigurasi. Wadah nation ini mendidih oleh karena daya juang yang semata-mata plural. Sebab itu, weltanschauung yang sebenarnya dirumuskan bukanlah sebuah fondasi pejal maupun kedap untuk diasumsikan sebagai titik final. Goenawan Mohamad menulis : Pancasila tidak pernah sakti, justru itu ia berarti. Ada negasi bernuansa satir dalam kalimat ini, juga ajakan untuk memberlakukan pancasila sebagai sebuah platform yang harus terus menerus dipugar tanpa jeda, tanpa hela, justru karena ke-tidak sakti-annya

Kini kita membutuhkan pancasila kembali karena ia merupakan rumusan ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. 

Kita membutuhkan pancasila kembali untuk mengukuhkan bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi, yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. 

Pancasila membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarah, dan sebab itu Bung Karno mengakui : tak ada teori revolusi yang “ready for use”

-Goenawan Mohamad dalam Tokoh + Pokok 

Agaknya dalam hal ini, Hölderlin akan menelusuri pancasila dalam rupa guntur yang datang dari kedalaman waktu, Tiefen der Zeit. Karena tak ada dunia yang diciptakan yang merintangi jalannya guntur. Juga pancasila, yang sejatinya invulnerable terhadap boikot maupun upaya untuk menyuntikkan doktrin terhadapnya. Maka, burung mitologi tersebut akan membentang sayap seluas-luasnya dalam merangkum nation, sembari menampik ego-individualisme dan ego-komunitarianisme dengan kesempurnaan, walau ia tidak pernah sakti. Atau sebagaimana daya hiptnotis magis yang terurai pada tembang Shahrazad dalam dongengan 1001 malam mampu membuai Sultan Shahriar, pancasila perlu diberi kesempatan mencecap, mengulum, hanyut bersama amplitudo sang waktu, agar pengejawantahan mengenai sebab-akibat, awal-akhir, tidak pernah ada. Substansinya bergulir tidak pasti, kecuali dengan paksa dan kekerasan. 

Kita membutuhkan pancasila kembali karena ia merupakan proses negosiasi terus menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa “eka”, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang mahabenar. Kita membutuhkan pancasila kembali : bahwasanya kita hidup di sebuah zaman yang makin menyadari ketidaksempurnaan nasib manusia. 

-Goenawan Mohamad dalam Tokoh + Pokok

49


Pada malaikat tidak terdapat imbuhan yang tepat. Seorang malaikat? Sesosok malaikat? Tidakkah ini menarik? Seperti mata pisau, rupanya malaikat benar-benar menampik epos klasik tentang dewa-dewi, sehingga tidak terdapat konstruksi kata atau preposisi yang padan bagi malaikat. Tidak terkecuali melahirkan praduga : seperti apa wujudnya

Mungkinkah kita tidak selamanya harus berpaut pada alegori? Nyatanya, melalui tata arsitektur interior Bassilica, ragam konsepsi malaikat hadir dalam citra manusia bersayap yang dipersenjatai lengkap selayaknya bala tentara surga. Berparas mulia. Bercahaya. Penuh kharisma. Pekat oleh enigma... 

Yang kita lupa adalah ketika raga (atau yang-jasmaniah) telah resmi menelikung ke dalam prosedur yang belakangan berujung pada dikotomi superioritas patriarki, unit-unit transendennya seketika ikut luluh lantak sembari merelakan sukma berada di level subordinat terhadap raga. Dengan sangat menyesal, malaikat berhasil kehilangan simbol oleh karena represi simbolik lain. Manusia meletakkan raga atas malaikat. One playable semiotic. Mirip teorema Simulacra a la Baudrillard.

Sepertinya, hanya malaikat yang dipandang sebagai roh (terlepas dari kudus tidaknya) yang senantiasa mampu menelurkan benih-benih spekulasi secara kontinuum. Hanya malaikat dalam kajian parameter a priori, juga noumena, yang dapat diartikulasikan sebagai malaikat seutuhnya. Dan kita, manusia, barangkali telah berdosa dengan mencoreng potret malaikat sedemikian rupa. Acapkali dengan memberi imbuhan berupa raga.

48



Agaknya di antara intersubjektivitas dan objektivitas terdapat bilah-bilah transparan yang melibatkan perbendaharaan bahasa serta pemaparan sosial. Keduanya sekaligus meniadakan ‘aku’ untuk selanjutnya bermutasi menjadi ‘kita’. Ada kemajemukan individu yang terkumpul, terstrata, tersusun, terorganisir dalam membentuk sebuah kesepakatan. Menjadikan bilah-bilah meranggas rukun sejalan dengan proses negosiasi menuju mufakat. 

namun apa yang dicari oleh upaya kolektif semacam ini nampaknya cukup pelik. 

“Kebenaran!” jerit parau para musafir yang merindu oase. Kebenaran itu bernama air. Niscaya, reguknya akan selalu membenarkan setiap prasangka yang ambivalen di tengah paradoksnya citra suatu gurun. Apa yang benar adalah apa yang memuaskan. Dan apa yang memuaskan adalah apa yang membuat kaki-kaki sang musafir berhenti melangkah. Saya bayangkan Goebbels sebagai salah satunya. Dia mencecap sejuk air dengan cara yang sama. Namun, agresor yang membawa bendera Nazi itu tidak menghentikan langkahnya. Dirinya tidak cukup puas dengan sekeping oase nan asing yang tidak begitu penting. Lantaran apa yang akan membuatnya terpukau tanpa menafikan pecut dahaga di kerongkongannya sudah pasti muncul melebihi ekspektasi siapapun yang berani melamun. Ketika Dewi Lestari menulis tentang presensi salju gurun, rupanya barisan kalimat fiksi itu mengandung makna yang jauh melampaui materialisme estetika belaka. Ada yang tidak terpemanai dan sanggup dicerna logika di dalam analogi sastra. 

Maka, kendali tertinggi tetap berada dalam kuasa subjek, atau dalam wacana ini, individu. Korelasi intersubjektivitas dan objektivitas memang berlaku, namun tanpa penggagas yang dominan, retorika akan berkecamuk permanen bagai aliran sungai yang absen hulu-hilir. Hanya ada involusi. Dan involusi adalah berhala bagi gejala modernitas maupun misinterpretasi evolusi. Dan tanpa evolusi yang gradual, kebenaran adalah kemustahilan yang digadaikan secara legal. 

Kebenaran hanya akan tetap menjadi kebenaran selama belum ditemukan. 

Benar?

47

TabaPematokan agama adalah jika si pemeluk memiliki perhatian untuk saling memperhatikan sesama, memperingatkan mereka jika melakukan kesalahan, membantu mereka jika memperjuangkan kebenaran, menolong mereka jika tidak mampu. Ad-diin nashihah atau nasihat. Juga di sisi lain, agama itu interaktif dengan masyarakat. Intinya, jika si pemeluk agama berkomitmen untuk menciptakan hubungan dengan masyarakat, baiklah adanya jika ia berbagi, saling membantu mereka, apapun varian agamanya. Ad-diin mu’aamalah

Pria ini mungkin salah satu dari beberapa personal yang menolak diferensiasi agama dengan aliran kepercayaan. Bahwa menurutnya, subordinasi aliran kepercayaan di bawah agama tidaklah tepat. Terlebih keliru. Lebih mencekam ketika banyak praktek pemusnahan terhadap ‘kaum-kaum’ subordinat yang tidak mampu direkam sejarah. Sekiranya ada yang buas di balik sifat saling menghargai yang tertanam di balik relung keagamaan. Atau mungkin juga ketika yang-jasmani merasuk untuk menelisik yang-rohani dan transenden. 

1954, kampung paku tandang, ciparay, bandung, adalah seumpama bunker yang memekik bisu di tengah gelimpangan mayat bertoreh sayat akibat sabetan golok dan parang berkarat. Ketika itu, kampung masyarakat penganut agama (aliran kepercayaan) buhun ini dibantai. Tua muda pria wanita meranggas bersama tanah yang lembab oleh darah. mengalami evaporasi yang agaknya ‘dibungkam’ oleh sejarah. 

Di sini, pria Taba tidak meletakkan agama dalam tataran antagonis. Bahwa horror tanpa sisi amor yang sejati, termaktub dalam diri personal yang se’manusiawi’nya bengis.

46

Sebuah surga adalah kondisi ketika dunia berhenti sebagai dunia. Kira-kira begitu. Belum lama ini sebuah bom meledak di gereja solo, lengkap dengan sang martir yang mengurbankan badannya dengan iming-iming sepotong surga. Perjalanan bermaterai teriakan pemujaan, diakhiri dengan letupan dan kalut. Yang tidak disadarinya adalah asap beserta gelegar yang malah membuat reka surga malah berlarut luput. 

Namun kali ini bukanlah wabah eskatologi atau barisan anasir dengan otak yang terkontaminasi doktrin. Kita semua tahu agama muncul untuk menghalau yang eksis sekaligus menafikan apa yang demi-eksis. Ada penolakan terhadap chaos. Bahwa manusia merindukan apa-apa yang terstruktur dan terjalin rapih. Ada sejarah yang (barangkali dengan imbuhan pretensius tertentu) dikonfigurasi dan disulam sesuai dengan komposisi patriarki. Ada misinterpretasi yang teregenerasi secara simultan. Kita mencipta agama, sesuatu yang membiak menjadi buas dan berakhir sebagai penguasa manusia itu sendiri. 

Jika memang hidup ini penuh dengan uji coba dan manusia senantiasa hadir di garis depan, sebagai yang superior, supreme. Ada kalanya sesuatu yang buas tersebut dicuri sebagai boikot dan titik pengalihan nukleus. Benar. Manusia terlalu superior sehingga di saat yang sama nampak inferior ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

45


“ketika dunia masih kanak-kanak, manusia secara alami adalah penyair yang sublim…” - Vico 

"Beda melahirkan bahasa dan bentuk.” Begitu yang tersurat dalam salah satu esai Goenawan Mohamad perihal keragaman. Barangkali sastra termasuk di dalamnya(?). Sejauh ini saya terlalu memusatkan minat terhadap karya-karya sastra yang diproduksi oleh kaum laki-laki. Semisal Pram dengan tetralogi buru-nya, atau Chairil Anwar yang dengan hanya berbekal belasan sajak pribadi, dianggap mampu merubah paradigma kesusasteraan dunia. Menyaksikan kontribusi yang demikian gemilang dari kalangan sastrawan lokal, saya dihadapkan pada kenyataan yang lebih mencengangkan, bahwa terdapat sedikitnya tiga sastrawati yang turut berpartisipasi dalam rangka memperkaya khazanah kesusasteraan nasional. Adapun fenomena ini membawa kesan lain, terlebih dari unsur estetika yang absen di kalangan sastrawan laki-laki. Suguhan dengan cita rasa feminis, berbalut perspektif ‘alternatif’ (jika boleh saya sebut demikian), yang menjadikan daya jelajah sastra demikian majemuk dan lebar. Di satu sisi, saya merasa mendapat afirmasi akan personifikasi sastra sebagai sesuatu yang transenden. Namun di sisi lain, saya tidak dapat menolak anggapan bahwa ‘beda’ (dalam hal ini : gender) memiliki posisi yang sangat krusial dalam mengkaji jenis-jenis karya sastra. 

Seringkali kita mengaitkan perkembangan sastra dengan masa-masa perjuangan era kolonial dan momen-momen yang berdekatan dengan presensi ‘penjajahan’, atau analogi-analogi lain yang menitikberatkan pada nilai-nilai ekspansif dan agresif sang penjajah. Sebagaimana kita tahu, sastra juga sempat dikooptasi oleh upaya propaganda para pengarangnya untuk mentransliterasikan suara-suara perjuangan nasional yang progresif. Wacana ini terkadang menuntut spekulasi biner antara karya sastra dengan budaya patriarki (karena mayoritas sastrawan adalah laki-laki), tidak terkecuali bayang-bayang superioritas kaum laki-laki. Sehingga aroma maskulin terasa begitu kental. Nuansa-nuansa seperti inilah yang tidak ditemukan oleh Manneke Budiman di dalam karya-karya Hanna Rambe, Linda Christanty, dan Nukila Amal. Bagi Budiman, sekalipun apa yang dilakukan oleh ketiga perempuan ini jauh dari dugaan mengenai perjuangan kaum feminis, mereka tetap patut mendapat apresiasi karena telah menawarkan ‘bumbu-bumbu’ yang inovatif. Dapat dilihat dari bentuk penulisan dan konsep cerita yang disuguhkan dalam karya ketiganya, bahwa mereka menerapkan posisi subjek yang didominasi -atau lakon protagonis utama- oleh alam, dan bukan kepada individu (manusia). “Alam dilukiskan sebagai sosok pemberi kehidupan, tetapi ketika kelangsungannya terancam, alam akan melepaskan kekuatan latennya yang luar biasa untuk mempertahankan diri.” (novel Pertarungan – Hanna Rambe). 

Linda Christanty
Pendekatan yang lebih berfokus pada lingkungan ini disebut sebagai ecocentric environmentalism oleh Jane Jacobs. Sementara rujukan pendekatan ini bukanlah adaptasi dari pemikiran rasional barat tentang pelestarian lingkungan, melainkan kebajikan lokal yang dikembangkan sendiri oleh budaya indigenous. Pandangan ini mengadopsi gagasan eko-feminisme yang membuat analogi antara alam dan perempuan. Tubuh perempuan beserta alat reproduksinya direpresentasikan sebagai sumber kehidupan, sebagaimana halnya dengan alam. Keduanya menghadapi eksploitasi dan opresi yang sama. Tidak pelak, pandangan ini mendapat kritik karena mereduksi perempuan sebagai makhluk biologis semata, sehingga terperangkap ke dalam pola pikir esensialis. Namun, sekalipun eko-feminisme dituduh kerap bersandar pada identifikasi antara perempuan dan alam, cara pandang ini memiliki strategi tertentu untuk membantu menghindarkan terjadinya universalisme dalam subjektivitas.

*makalah oleh Manneke Budiman mengenai pembahasan novel Pertarungan karya Hanna Rambe.


Yang juga tidak kalah menarik adalah sikap ketiga sastrawati tersebut dalam mengkritik model pemerintahan yang cenderung sentralistik sampai-sampai ‘menelantarkan’ gugusan-gugusan kontinen di sekitarnya. Bisa dibayangkan, Jakarta sebagai kota metropolis berdiri angkuh sebagai tokoh antagonis, yang daripadanya lahir watak-watak parasit dalam rupa birokrat korup, penduduk yang seolah mengidap delirium akan materialisme ataupun yang terjangkit paranoia komodifikasi, juga watak-watak lainnya yang bersifat negasi dan hanya menanamkan benih destruktif terhadap alam. 

Senafas dengan Hanna Rambe, Nukila Amal dalam cerpen Lalumba juga mengangkat air dalam personifikasi perempuan. Air mengalami feminisasi karena semua ikhtiar besar penaklukan pada masa silam dilakukan laki-laki, dan dengan demikian, air menjadi locus tempat maskulinitas dikukuhkan. Sejarah terjadi di atas air, tetapi ini adalah sejarah orang-orang yang hidupnya terpusat di daratan. 

Berikut adalah cuplikan singkat dari cerpen Lalumba – sebuah cerpen yang dilatarbelakangi oleh konflik agama berdarah yang pecah antara 1999 dan 2004 di Ternate, Maluku Utara: 

Pandanglah pantai. Di sebelah sana, di mana barisan bakau dan karang agak menjorok ke laut, itulah tanjung. Tempat perayaan kami. Aku dan ayahmu pergi ke sana suatu pagi, setelah mengetahui kau telah menjelma seorang jabang bayi dalam perutku. Saat itu langit cerah sehabis hujan subuh hari, ada pelangi membusur di langit barat daya. Di depanku, ayahmu mengayuh sampan perlahan […]. Di bawah tampak koral warna-warni tertabiri air hijau biru jernih. Dan ikan. Ikan-ikan kecil berwarna terang berenang-renang di antara karang. Di pantai, kami makan, bercakap panjang hingga ayahmu tertidur di pinggir gerumbun bakau. 

Ke laut. Cuma ke laut yang membebaskan. Semua cecabang sungai ini berakhir di sini. Tak lagi punya asal-usul atau jumlah atau jejak atau warna. Semua sama. Biru laut. Luas. Datar. Tenang. Di sini bulir-bulir air melebur, mengapung, mengombak, naik menderas ke langit. Biru langit.


Pada tataran harfiah, laut berasosiasi dengan kematian, karena melarikan diri ke laut sama artinya dengan mati tenggelam. Namun, pada tataran figuratif, laut kini berasosiasi dengan pembebasan dari cekaman ketakutan yang disebabkan oleh pembantaian. 

Sehingga bisa dipastikan, dengan cita rasa dan unsur estetika yang ‘berbeda’ oleh karena pengaruh gender seperti ini, sementara sering kita jumpai fenomena-fenomena transgender di kalangan masyarakat, bukan tidak mungkin lagi apabila kedepannya khazanah kesusasteraan (setidaknya) dalam lingkup nasional akan jauh lebih kaya rasa. Tentunya sembari melepaskan diri dari dikotomi-dikotomi yang tak ayal menghantui, seperti halnya ‘gender’ itu sendiri.

44


Bagi saya, sastra adalah luapan ekspresi yang menolak batas -ad infinitum, atau paduan karya yang dibangun atas ranting-ranting komunikasi antar manusia, yang dalam konteks ini, mustahil diinterupsi, terdistraksi, bahkan tersendat oleh variabel eksternal apapun, tidak terkecuali ekspresi ‘yang lain’. Sastra begitu otonom sehingga mampu mengalami evolusi kontekstual dengan sendirinya. Barangkali inilah yang kemudian menghadirkan sebuah anggapan, bahwa di dalam setiap karya sastra, bersemayam unsur transendentalitas yang kasat mata, sekalipun in absentia

Sapardi Djoko Damono, salah seorang sastrawan senior Indonesia, yang dalam diskusi mengenai perkembangan literasi sastra Indonesia di era kolonialisme, memaparkan dengan gamblang akan variasi bentuk sastra yang telah berhasil merepresentasikan sejarah kesusasteraan bangsa sebelum kemerdekaan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah hampir segala bentuk riset terhadap asal usul kesusasteraan Indonesia masih berkisar di tahap permukaan analisa. Dengan kata lain, “belum mendalam”. Artinya, masih banyak bahan kajian yang siap dan tersedia untuk dibedah dan diteliti. Mulai dari aspek bahasa, pengaruh sastra asing, penerapan regulasi bacaan (yang sempat didominasi oleh Balai Pustaka), hingga kritik sastra itu sendiri, yang pada akhirnya akan memunculkan data-data baru mengenai ekosistem sastra Indonesia secara menyeluruh dan rinci. 

Namun saya tidak mengerti. Jika sastra benar-benar murni hasil eksplorasi kreatif, maupun komposisi ragam ekspresi manusia yang tengah berkelana menempuh labirin imajiner tanpa akhir, mengapa sastra harus menuai kritik? Atau jika memang sastra demikian transenden, mengapa masih menyisakan cela yang kemudian memicu beberapa ‘pakar’ untuk menelisik? Barangkali Derrida benar tentang intertekstualitas yang merupakan sifat yang terkandung dalam setiap teks. Bahwa jika sastra diumpamakan sebagai tesis, maka perlu diadakan kritik sebagai antitesis untuk menghadirkan sebuah sintesis. Aufhebung. Sekalipun itu berarti nilai  kemurnian suatu karya sastra harus didera campur tangan ‘yang lain’.

43


Pertama kali yang muncul di benak saya ketika mendengar kata ‘sensor’ adalah rasa waswas. Bahwa terdapat subjek yang merasa terintimidasi oleh subjektivitas lain -terutama yang menginterupsi penalaran umum (objektivitas) atas sebuah gagasan, yang kemudian berupaya untuk menunda (jika tidak membungkam) proses distribusinya kepada khalayak luas. Sehingga esensi sensor tidak lebih dari sekedar manifestasi tradisi totalitarian. Barangkali begitu. 

Kita seringkali mengaitkan konteks sensor dengan wacana kebebasan berekspresi, sekalipun paradoks yang ditimbulkan melalui penggabungan keduanya cukup pelik. Dimulai dari kata ‘bebas’. 

‘Bebas’ seperti apa yang dimaksud? Absolut? Atau masih memiliki barrier yang justru bertujuan untuk menjaga kebebasan itu sendiri? Dilema kontekstual ini menyebabkan term bebas tidak dapat berdiri tanpa imbuhan kata ‘tapi’ (ataupun kata-kata penanda yang bersifat antitesa lainnya). Kita sadar gejala kebebasan menyimpan sel-sel kebuasan yang memerlukan sosok regulasi sebagai batasan agar tidak (katakanlah) kebablasan –sesuatu dapat dikatakan bablas hanya (dan memang hanya) jika melanggar wilayah privasi sebuah subjek. Lalu masih layakkah disebut bebas? Bukankah bebas tidak memiliki batas? 

Lagi-lagi, bebas yang tidak memiliki batas rasanya terlampau utopis, dan alih-alih konstruktif, malah berpotensi destruktif. Dan pertanyaan lain yang tidak kalah meresahkan adalah ‘siapa saja’ yang berhak memiliki kebebasan semacam ini? Atau siapakah subjek-subjek yang memiliki kebebasan secara otonom sehingga di saat yang sama dapat merasa bebas untuk merampas kebebasan subjek-subjek lainnya? Kebebasan milik siapa? Untuk mengakhiri polemik ini, muncul istilah “bebas asal bertanggung jawab”. 

Namun bagi saya, ini tidak menyelesaikan masalah. Kata ‘tanggung jawab’ lagi-lagi berada dalam wilayah penalaran ambigu karena masih mengalami fenomena multiinterpretasi oleh varian subjek yang relatif. Tanggung jawab kepada siapa? Tanggung jawab seperti apa? 

“Bebas asal toleran terhadap kebebasan yang lain...”

Lalu pada kata ekspresi. 

Ekspresi adalah hasil produksi individual. Hadir dan hilang dalam berbagai momentum abstrak, dan seringkali bersifat spontan. Pertanyaannya : apa mungkin hal semacam ini, seprivat ini, mampu direduksi melalui upaya sensor? Agaknya studi kasus melalui pendekatan historis masih belum cukup diulang & direpetisi untuk memperjelas dampak psikologis atas intervensi terhadap ranah privat. Bahwa kita tahu, semakin suatu hal dibatasi (atau bahkan dilarang), stimulus yang memicu insting resistansi justru akan semakin membuncah dengan dahsyat. Semakin gencar sensor terhadap suatu hal, semakin besar pula minat subjek untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di baliknya. Manusia adalah makhluk penasaran. Bersyukurlah selalu atas anugerah tersebut. 

Problem mulai timbul ketika wilayah ekspresi turut dicampuri gumpalan-gumpalan peraturan. Ekspresi terpaksa mengalami segmentasi dan terpecah. Hal ini (sayang sekali), malah menjadikan ekspresi (dalam bentuk apapun) kehilangan nilai istimewanya. Sebelumnya, ekspresi yang saya maksud adalah elemen ekspresi kreatif. Kreatif dalam arti ‘otak’ berada dalam posisi kontributor yang dominan (ketimbang otot) dalam mewujudkan suatu bentuk ekspresi. Dan sejujurnya saya malas menyebut format-format tertentu yang hasil produksinya didominasi oleh hasil kerja otot sebagai ‘ekspresi’. Tidak. Mereka tidak layak untuk itu. 

Bagi saya, ekspresi adalah bentuk kemewahan tertinggi yang mampu direalisasikan oleh kolaborasi impuls-impuls kreativitas manusia. Ekspresi tidak lepas dari estetika. Sekaligus tidak menjustifikasi acuan-acuan internal dan eksternal lainnya secara semena-mena. Kita manusia bermartabat. Selera hanya soal rasa, bukan lantas menjadikan yang lain ‘berdosa’ hanya karena berbeda. 

Dalam hal ini, saya pribadi adalah seorang yang antipati terhadap sensor. Relevansi sensor hanya berlaku selama masih ada pihak-pihak yang cukup paranoid dan insecure (baiklah... GOBLOK) yang tidak sadar terhadap kemampuannya sendiri. Sensor cuma akal-akalan picik yang mencoba menghadang progresivitas arus kreatif manusia. Dan apabila malah menjadi penghambat, buat apa didebat? Dibuang saja cepat-cepat... 

“Satu-satunya dogma warisan rezim orde baru yang saya setuju berbunyi : bahwa olah rasa tertinggi adalah sikap toleransi...” – Aji Prasetyo, Pengarang Kumpulan Komik Opini Hidup Itu Indah