#pinggir4

14 Februari 200*

"Selamat hari valentine." bukanlah susunan kata yang anda tulis saat itu. sepertinya anda lebih menyukai padanan kata lain, yang tentu bertolak belakang arti dan maknanya...

karena apa yang justru keluar di screen handphone saya adalah kata-kata...
"Selamat tinggal."

dan selesailah sudah, setelah beberapa bulan, terbukti kita memang tidak bertahan lama.

14 Februari di tahun yang sama

saya menyalakan mobil dan melaju bersama malam. menuju hanya tempat itu, kost-kostan wanita di bilangan wijaya yang kerap disinggahi banjir. tidak berniat turun dan mengetuk pintu. bukan... saya takut. tidak siap menemui anda untuk menerima langsung kenyataan dari sela-sela bibir yang terbuka. memperjelas semuanya. terutama kata-kata "Selamat tinggal" itu.

14 Februari di tahun yang sama

saya berputar tak tentu arah. mencari ketidaktahuan yang menuntut ditemukan. menuntut kejelasan yang menyakitkan. mencari segelas kopi dengan richeese nabati yang selalu anda simpan sebagai makanan cemilan.

14 Februari di tahun yang sama

saya melihat teman-teman anda yang sebagian adalah teman saya juga, yang sedang menghabiskan waktu bersama kekasihnya yang tak lain adalah teman-teman saya yang sebagian adalah teman anda juga. sayang sekali... kita tidak mampu menjadi salah satu dari mereka. melihat teman-teman kita yang sedang tertawa mesra adalah harga sepadan yang harus dibayar dengan perbuatan luka sebelumnya. tapi saya tidak kuat berlama-lama. tidak sampai 15 menit, saya memutar kemudi berbalik arah.

14 Februari di tahun yang sama

akhirnya saya berhasil kencan dengan anda malam ini. saya senang melihat anda tersenyum. melihat anda mengenakan kostum kebesaran dengan nomor punggung kebanggaan. melihat ekspresi anda yang puas setelah berjibaku dalam pertandingan. melihat anda menang dengan gemilang. melihat semuanya itu, pada foto dari dalam dompet yang baru saja saya keluarkan.

14 Februari di tahun yang sama

saya bertanya pada gelas kopi, "Saya salah?". tidak ada jawaban dari sang gelas. namun rasanya yang pahit sepertinya menjawab. saya memutuskan untuk berhenti bertanya dan menyeruput sisanya.

14 Februari di tahun yang sama

saya berhenti di toserba 24 jam tempat pertama kali kita bertukar cerita. sandwich yang saya bayar cuma satu buah, begitu juga dengan susu kocoknya. mereka bertanya "Cuma untuk satu orang?" saya jawab "Benar. Semoga kalian mengerti." mereka diam, lalu saya telan habis keduanya.

14 Februari di tahun yang sama

saya melihat jam, sepuluh menit lagi. lalu setelah tiga lagu habis, angka tanggalan jam tangan saya berubah.

15 Februari di tahun yang sama

sudah kamis dini hari. segala hal masih berjalan seperti sedia kala. segalanya. kecuali...