#pinggir3

Malam itu macet. Tidak heran, malam itu malam minggu.

Kijang Innova saya berusaha berkutat menembus lapisan kendaraan lainnya di tengah lalu lintas yang sesak. Berusaha memburu waktu, karena saya tidak ingin terlambat.

Saya memilih Coco D’or untuk menyanyikan lagu pengusir segala bentuk kepenatan. Cukup berhasil. Sesekali saya menemaninya bernyanyi di dalam mobil. Ikut mengangguk-anggukkan kepala sesuai irama, memukul-mukul kemudi sesuai ketukan drumnya, tersenyum-senyum sendiri ketika dirinya mengajak saya untuk ikut naik ke panggung, lalu memberikan seikat mawar padanya sebagai bentuk terima kasih atas penghiburannya di tengah kepadatan jalan raya. Penat saya hilang, terima kasih untuk sang biduan.

Masih belum sampai, masih setengah jalan, sementara Coco D’or sudah kembali pulang ke bungkus CDnya, saya memilih untuk mengambil handphone. New Text Message…

"Di mana? Ke Emax juga kan?"

Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasan.

"Jadi. Lo di mana? Main jam berapa?"
"Di jalan. Macet. Mainnya masih sejam lagi sih. Keburu nggak ya? Eh, lo udah sampe?"
"Belom, baru mau jalan."
"Nonton gue kan? Ha ha ha… Mau bareng, tuan putri?"

Pertanyaan terakhir sepertinya muncul sendiri di screen handphone saya. Spontanitas pergerakan jari semata. Tidak ada maksud tertentu. Saya yakin akan hal itu.

Kali ini saya harus menunggu cukup lama. Entah dirinya sedang menimbang-nimbang ajakan saya. Atau barangkali sudah berjanji dengan teman-temannya untuk berangkat bersama. Saya tidak terlalu peduli. Saya sudah bersiap-siap membanting kemudi menuju kediamannya di bilangan Fatmawati. 
Mengharapkan balasan yang berisi sebuah afirmasi.

"Oh, nggak usah. Gue kesana sama pacar gue, ‘Dji."



Lalu segalanya berhenti. Tidak hanya lalu lintas. Seluruh pergerakan di sekitar saya berhenti. Pedagang minuman di sebelah mobil saya nampak kaku dengan tangan masih terangkat menjajakan sebotol air mineral dingin, orang-orang yang sedang menyeberang terlihat membeku di zebra cross dengan posisi kaki melangkah, sedangkan lampu lalu lintas seolah terdiam saat menyajikan warna merah. Tidak hanya itu, Ella Fitzgerald - yang saya pilih untuk menemani saya bernyanyi menggantikan Coco D’or - juga ikut berhenti mendendangkan ‘Misty’.

Di tengah keterhentian universal yang terjadi, saya kembali menatap screen handphone saya, dan mencoba memilih reply, dengan harapan segala sesuatu akan bergerak lagi.

"Oh… Gue nggak tau. Maaf, tadi main ngajak-ngajak bareng aja."

Semuanya masih mematung. Belum ada tanda-tanda pergerakkan sedikitpun.

"Iya nggak apa-apa. Gue pikir lo tau. Udah seminggu juga kok."
"Gue nggak tahu apa-apa. Beneran. Ok kalo gitu. See you there."
"Ok. See you. Good luck manggungnya nanti :)"

Saya mengunci layar handphone, memasukkannya ke dalam tas di bangku sebelah saya.

Ella sudah kembali bernyanyi, lampu lalu lintas sudah bergerak menuju warna hijau, orang-orang di zebra cross mempercepat laju langkahnya untuk menyeberang, pedagang minuman di sebelah mobil saya sudah kembali ke pinggir jalan.


Sekarang giliran saya yang tidak kuasa bergerak dalam kesendirian...


malam itu saya merasa tersisih selayaknya pecundang

#pinggir2

Seingat saya malam itu cukup dingin, karena hujan baru saja berhenti menjelang sore.

Pukul 22.30, ditemani motor bebek yang setia, dan jaket kulit pemberian opa, serta helm dua buah, saya meluncur.

Dan sampailah saya di kafe itu, tempat dirinya bekerja paruh waktu, malam ini gilirannya mengunci pintu.

Agaknya dia terkejut melihat saya.

“Ngapain di sini?” dahinya berkerut.

“Jemput.”

Tidak ada janji sebelumnya. Mungkin itulah sebab dirinya bertanya.

Percakapan kami kemarin malam memang bukan sebuah perjanjian. Namun saat dirinya kelepasan mengeluhkan kebingungannya pulang naik apa, sementara jam kerja usai terlampau larut, saya berpikir untuk (diam-diam) menjemput.

“Oh, sebentar.” dia berpaling, merogoh telepon genggam, lantas menelpon seseorang.

Saya menyaksikannya menjauh, dan secara tidak sengaja melihat di penghujung parkiran, seorang pria (yang sedari tadi berdiri di samping mobilnya) mengangkat telepon genggamnya.

Percakapan wanita itu tidak lama, rokok yang saya bakar belum habis saat pria di penghujung parkiran itu menjauhkan telepon genggam dari telinganya, lantas memasukkannya kembali ke dalam saku celana, diikuti wanita di depan saya (dengan gerakan yang persis sama).

“Yuk.” wanita itu berkata sambil menghampiri saya.

Saya memberikannya helm, menyuruhnya memakai jaket, sambil menyumpahi malam yang terlalu dingin, dia tersenyum, meskipun senyumnya letih luar biasa.

Mobil di penghujung parkiran itu menyalakan lampu, bergerak perlahan, lalu melintasi kami berdua untuk keluar menapaki jalan raya.

Kacanya terlalu gelap. Akan tetapi saya merasa tidak perlu melihat untuk tahu siapa pria itu.

“Sudah siap?”

Saya melihat wanita itu mengangguk dari kaca spion, kemudian saya menyalakan mesin.


Seingat saya malam itu cukup dingin, karena hujan baru saja berhenti menjelang sore.

Pukul 23.30, ditemani motor bebek yang setia, dan jaket kulit pemberian opa, serta helm dua buah, saya meluncur…

…menghantarnya pulang.


malam itu saya merasa keluar sebagai pemenang

#pinggir

Malam itu, saya melihatnya duduk di bawah lampu bohlam meja makan.

Tidak ada yang berubah, seperti tata rambutnya yang selalu seadanya, senantiasa.

Kalau menunya nasi goreng, dia akan meraup kerupuk cukup banyak sebelum makan.

Kawat giginya selalu membentuk senyum simpul yang unik, saya yakin, hanya dirinyalah pemilik sah, pemilik satu satunya bentuk senyum seperti itu, tidak ada lagi yang lain.

Wanita di depan saya tidaklah cantik, dia bukan wanita paling menarik, tidak ada keistimewaan tertentu yang cukup untuk membuat kaum pria rela antri dan berjibaku dengan alasan untuk memperebutkan hatinya.

Untuk soal itu, biarlah selamanya menjadi misteri, saya sendiri masih belum bisa membedakan perihal cinta dan obsesi, saya lebih suka merenung ditemani segelas kopi.

Karena wanita, untuk saya hanya ada satu, dan selalu satu, meskipun dirinya tidak lagi tahu, dan tidak akan pernah selamanya tahu.

Itu saja cukup, terima kasih.