menu

Sudah jam 5 sore. Akhirnya aku bisa pulang ke rumah. Rutinitas kantor membuat kepalaku berdenyut–denyut. Tentu semua itu akan lenyap saat aku menemui buah hatiku yang baru genap berusia 8 bulan.

Aku meminta ibuku untuk mengurusnya selagi aku bekerja. Memang tidak tega rasanya lantaran usia ibu sudah teramat lanjut. Ibu sudah pikun dan lamban. Tetapi aku juga tidak ingin menyewa tenaga pengasuh.

"Dari mana saja kamu keluyuran sampai larut begini?"
"Kantor, bu. Aku kan sudah kerja."
"Oh begitu? Ya sudah makan dulu sini. Ibu membuatkanmu menu istimewa."
"Rangga mana, bu?"
"Siapa?"
"Rangga, cucu ibu sendiri masa lupa?"
"Cucu? Sejak kapan aku punya cucu?"

Aku menghela nafas. Lelah menjawab kepikunan ibu. Namun seketika helaan nafasku terhenti. Aku baru saja memperhatikan isi kuali di hadapanku. Ada sejumlah jari–jari manusia berukuran kecil yang sedang ibu beri bumbu.

terima kasih

Orang – orang berdatangan ke rumahku. Kebanyakan kukenal. Tapi banyak juga yang tidak. Mereka berpakaian hitam. Mungkin mereka pikir hitam adalah warna yang mencerminkan duka.

Satu per satu dari mereka masuk. Menyalami ibu yang sudah tidak mampu lagi menangis. Air mata ibu sudah kering sejak kepergian kakakku setahun yang lalu. Dan sejak saat itu, hanya ada tatapan kosong yang membingkai mata ibu.

Satu per satu dari mereka menghampiri peti jenazah. Tubuh itu telah membiru karena kematian yang penuh derita. Satu per satu dari mereka menangis. Beberapa diantaranya sesenggukan. Aku maklum. Kematiannya memang mengenaskan. Gagal ginjal.

Sudah sekitar seratus orang yang datang. Ibuku akhirnya berdiri untuk mengucapkan kata sambutan. Dilanjutkan dengan ajakan doa bersama.

“Terima kasih sudah datang. Andre adalah anak saya yang kedua, yang bungsu. Menyusul kepergian kakaknya yang tahun lalu mengidap penyakit serupa. Terima kasih banyak. Andre pasti tenang di alam sana.”

Aku tidak tahan melihat tangis ibuku semakin menjadi – jadi seperti itu. Aku menghantarnya ke belakang, mencoba menenangkannya dengan memeluknya.

Ibu benar. Aku memang sudah tenang. Kemudian aku pamit sebentar kepada ibu. Aku juga ingin berterima kasih kepada teman – teman yang sudah datang menengok jenazahku.

di sini

Di sini, mataharinya masih membakar kulit, tentu sama dengan matahari yang ada di tempatmu.

Di sini, bulan sabitnya masih menggendong ratusan bintang yang berkeliaran, tentu sama dengan langit malam di tempatmu.

Di sini, puncakan gunung - gunung tinggi masih berlomba menggapai cakrawala sunyi, tentu sama dengan alam di tempatmu.

Di sini, ombak dan badai masih menderu penuh rasa haru, tentu sama dengan laut di tempatmu.

Ah, betapa inginnya aku menulis surat untukmu meski sekedar barisan kata singkat.

Bahwa dunia tempatmu bernafas hingga kini, tidak jauh berbeda dengan dunia akhirat.

K-9

"Belum pernah aku ketemu makhluk seegois itu!"
"Kenapa lagi si Carlo?"
"Aku bilang iya, dia nggak. Bilang A, dia lakukan B. Nggak pernah nurut."
"Cowok emang suka begitu."
"Lengah sebentar, dia pasti hilang."
"Karena selama ini kau terus yang mengejarnya. Makanya dia belagu."
"Bahkan dia melakukan hal itu setiap hari."
"Apa?"
"Dia suka memasukkan kepalanya ke dalam rokku dan menjilatinya."
"Bohong?!"
"Serius! Kemudian dia akan mengencingiku!"
"Carlo? Tidak kusangka."
"Kalau sedang bergairah, dia suka menggosok–gosokkan kemaluannya padaku. Tidak tahu tempat."
"Sudahlah, cari pria la…"
"Aku ingin usir saja anjing Labrador jahanam itu!"
""
""
"Anjing?"

belum

"Mau menyelam lagi?"
"Iya."
"Sudah hampir setahun. Kamu masih belum bisa melupakannya?"
"..."
"Memangnya setiap kali menyelam, kamu selalu bertemu dengannya?"
"Ya."
"Dari segerombolan itu, kamu bisa tau dia yang mana?"
"Ya."
"Bagaimana mung...?"
"Aku memang tau, Pa."


 --- 

Apa kabar sayang? Hari ini aku datang lagi membawakanmu makan siang.
Sudah hampir setahun kamu di laut, begitu menyenangkankah di sini? Sampai kamu tidak mampu ke darat lagi?
Sudah hampir setahun, sepertinya sudah saatnya untukku berhenti menemuimu seperti ini...
Sampai jumpa sayang...
Kali ini adalah pertemuan terakhir kita. Jaga dirimu baik - baik...

Seorang penyelam kembali ke permukaan. Meninggalkan hiu yang baru saja diberinya makan. Seekor hiu yang hampir setahun lalu akan berhasil melahap dirinya. Kalau saja istrinya tidak melompat ke air untuk melindunginya.

siam

                Sudah setengah jam Krisna menunggu ditemani gerbang abu – abu. Lidya belum keluar juga. Kali ini adalah kencan pertamanya seumur hidup. Setelah resmi berpacaran selama satu minggu dan belum terlalu mengenal Lidya luar dalam, ujian pertama Krisna malam ini adalah ‘bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanitanya dengan gentle’. Dan setelah hembusan nafas gugup berulang kali, sejumlah gosokan sapu tangan di dahi, Lidya masih belum juga keluar.

                “Hai Kris! Sudah lama? Maaf tadi aku baru selesai mandi.”
                “Oh, akhirnya… Tidak apa – apa. Ayo. Mau ke mana kita malam ini?” Gugup berlipat ganda. Efek samping kencan pertama!
                “Terserah. Aku ikut saja.”
                “Oh, baiklah. Yuk…” Krisna membuka pintu mobil. Mempersilakan Lidya duduk di sebelahnya.

                Mobil Jazz hitam itu meluncur perlahan. Mengucapkan selamat tinggal pada gerbang abu – abu di belakangnya.

***

Di dalam rumah yang berpagar abu – abu…

                “Loh, kamu belum berangkat sama Krisna, Lid?” Ibunya bengong.
                “Hah? Memangnya ibu kira aku mau ke mana? Aku baru saja bangun.”
Ibunya masih bengong melihat anak perempuannya yang masih berpakaian tidur itu. Jangan – jangan…
                “Oh iya. Ladya ke mana bu?"

l a ra




Perkenalkan, namaku Lara.
Aku bukan kehidupan, aku tidak memiliki bentuk bahkan bayangan , aku hanyalah sebongkah perasaan.
Akan tetapi, kamu masih dapat melihatku, bukan?
Sebagian besar dari kaummu biasanya terkecoh saat mendefinisikan diriku.
Ayahku adalah penderitaan, dengan ibu bernama kelambu muram.
Dan aku lahir persis saat malam temaram.
Aku mengenal kamu, begitu juga sebaliknya.
Sebab apa yang kita alami tidak jauh berbeda dan aku paham betul apa rasanya mengemban luka.
Aku tahu persis kapan sosokku dibutuhkan.
Setiap airmata yang menumpuk di pelupuk matamu bagaikan lonceng yang memanggil.
Setiap tubuhmu mulai menggigil pada nuansa yang dirasa ganjil.
Ketahuilah, aku datang tanpa membawa solusi karena akupun pribadi yang labil.
Aku ini penurut, seperti bambu yang meliuk dalam kemelut.
Aku hanyalah teman yang membantu jikalau dirimu kalut.
Aku akan berusaha menjadikan semua hal itu surut sebelum emosi mengambil alih logika yang luput.
Oh maaf, apakah kamu bingung dengan salam perkenalanku?
Sebenarnya aku ingin bercerita lebih banyak, yang tadi itu belum seberapa.
Atau sebaiknya kamu rasakan saja?
Karena untuk benar benar menjadi sahabat, kamu harus terbiasa ‘mengalami’ku, serta berpisah dengan Maya.
Namun tidak harus ber bapak derita, juga ber ibu nestapa.
Cukup dengan air mata saja.

***

                ... mimpi kah? Di depanku ada seorang wanita pucat berpakaian serba kelabu, tanpa alas kaki, rambut terurai sebahu, dengan senyum yang manis. Aku pikir dia itu kuntilanak atau semacamnya. Aku cubit pipi kananku perlahan. Sakit. Mimpi kah? Nyata kah?

                Siapa kamu?
                Lara, salam kenal.
                Apa ini mimpi?
                Bukan hakku untuk menjawab itu. Nyata atau maya, semuanya ada dalam kuasa imajimu.
                Oh, baiklah. Anggap saja ini mimpi. Ada perlu apa Ra? Eh, boleh aku memanggilmu begitu?
                Boleh. Aku hanya ingin tahu jawabmu. Apakah kamu bersedia?
                Bersedia? Bersedia untuk apa?
                ‘Mengalamiku’?

Aku mencubit ulang pipiku. Kali ini dua – duanya. Masih sakit. Mimpi yang sakit. Ajaib sekali!

                Tidak. Tidak mau. Kita baru saja kenal. Aku tidak mau diajak – ajak segampang ini oleh orang yang baru saja aku kenal.
                Oh, sesungguhnya kamu kenal betul siapa aku. Hanya saja belakangan ini kita jarang bertemu. Anggap saja ini sebagai pelepas rinduku.
                Tetap saja aku tidak mau. Sudah! Tinggalkan aku!

                … dan aku terbangun. Benar – benar mimpi yang aneh.

***

                Aku baru saja selesai mandi, ketika aku melihat kabar di salah satu stasiun televisi…

                Kebakaran di gedung Chase Plaza hingga saat ini masih belum dapat dipadamkan. Sejauh ini pasukan pemadam telah mengirim enam unit mobil pemadam beserta puluhan anggotanya. Sumber api diduga berasal dari generator pendingin ruangan yang mengalami gangguan arus listrik. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 30 orang. Dari Sudirman, Roy Simatupang, melaporkan.

                Chase Plaza. Kantor ayahku bekerja. Kebakaran yang terlihat di layar kaca begitu hebat. Aku sangsi akan keselamatan ayah. Belum lagi ruangannya terletak di salah satu lantai teratas gedung tersebut.

                Tapi aku tidak panik. Aku tidak khawatir. Aku tidak cemas akan ayah meskipun sudah banyak sekali jenazah yang diperkirakan. Aku diam saja. Aku mengganti saluran televisi. Mencari acara selain berita. Ah, pagelaran musik. Ini saja!

                Namun belum sampai aku duduk, acara tadi telah berganti. Headline News. Brengsek.

                Selamat siang pemirsa. Sebuah kecelakaan baru saja terjadi di Jakarta Outer Ring Road pukul 11.23 siang ini. Kecelakaan yang terjadi antara mobil pribadi dengan bus malam tersebut menewaskan sedikitnya delapan korban, termasuk pengemudi dari masing – masing kendaraan. Berikut ini penayangan hasil reportase dari tim wartawan.

                Musibah lagi? Baru saja lebaran selesai. Aku mengunyah roti coklat sambil menggerutu agar sekilas berita ini cepat berakhir. Kecelakaan ini tidak kalah menarik dengan berita kebarakan sebelumnya. Mobil kijang innova B 2429 BB itu ringsek seperti diinjak Hulk. Begitu juga dengan Bus Putraluragung jurusan Jakarta – Kuningan di hadapannya.

                Sebentar… B 2429 BB?! Kijang innova 
itu berwarna coklat. Tol JORR?! Ibu dan adikku sedang dalam perjalanan menuju Bogor pagi ini.



                Itu mobilku.
                                Ibu dan adikku ada di dalam situ.

                Tapi aku tidak terkejut. Aku tidak histeris. Aku tidak berpikir akan ibu dan adikku meskipun keadaan mobilku sudah sedemikian parah. Mustahil mereka selamat. Aku diam saja. Aku mematikan televisi. Mencari acara selain menonton. Ah, piano. Main saja!

                Namun belum sampai aku memencet tuts, telepon genggamku bergetar. Pesan masuk dari Indira.Read text message.

                Lo dimana nyet? Kesini cepetan! Joshi, Roy, Luthfi, Reka, Putra, Mindy, tewas semua! Lo inget kan mereka lagi liburan di Pulau Pramuka minggu lalu? Kemarin tuh harusnya udah pulang. Nah, mereka dirampok! Perampokan bersenjata katanya! Gue baru dapet kabar dari supirnya Jo. Itu juga karena harusnya supirnya jemput anak – anak kemarin. Gue sekarang di Cipto. Kasih kabar ke yang lain!

                Lagi? Kali ini menimpa sahabat – sahabatku. Aku masih diam. Badan ini belum juga bergetar. Tulang ini belum juga menggigil. Rupanya berita yang bertubi – tubi sepanjang itu belum cukup untuk menarik emosiku keluar. Aku masih diam. Kenapa aku masih bisa diam?

                Aku lempar telepon genggamku sampai memecahkan layar televisi (berikut telepon genggamnya sendiri). Aku raih bantal di sebelah sofa. Aku banting kepalaku seraya menghembuskan nafas keras – keras. Kenyataan tidak lebih baik daripada mimpi. Realita tidak lebih nyata dari sekedar fiksi. Lalu aku mencoba tidur. Dengan kepala yang masih segar merekam peristiwa – peristiwa yang baru saja merenggut nyawa seluruh orang – orang terdekatku (bahkan keluargaku sendiri), aku mencoba tidur.

kenapa aku bisa setenang ini?

***

                Lara?
                Benar. Beruntung sekali bisa bertemu lagi dengamu.
                Aku juga heran. Belum pernah aku mengalami mimpi yang bersambung seperti ini.

Dia tersenyum. Kali ini bentuknya sudah tidak lucu lagi. Kali ini hanya bibirnya saja yang naik. Matanya senantiasa sayu. Raut muka seperti itu mengisyaratkan bahwa dia ingin menanyakan sesuatu. Dan benar saja…

                Ada yang ingin kamu katakan? Sepertinya kamu panik.
                Panik? Aku merasa cukup statis setelah mendengar tiga peristiwa yang membuatku resmi  menjadi pria sebatang kara. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sesantai itu menghadapi semuanya?
                Kamu mencari jawaban? Kamu menemuiku untuk mendapatkan jawaban atas semua itu?
                Aku tidak mencarimu. Bukankah kebetulan kita bertemu lagi? Dan siapa kamu sebenarnya?!

Kali ini dia tertawa. Membahana. Menggetarkan seisi ruang yang senyap oleh pekatnya gulita.

                Ingatlah. Aku adalah proyeksi dari imaji alam bawah sadarmu. Aku adalah senyawa yang tidak kamu ajak ikut serta  mengecap realita. Kamu hanya meninggalkanku sendiri dan tidak terbawa..
                Apa? Apa maksudmu? Jadi kamu marah karena aku menolak … apa katamu? ‘mengalami’mu?
                Jangan berpikir begitu. Aku tidak marah. Mau atau tidak, bukankah sudah kubilang, itu sepenuhnya hakmu?

Aku menyerah kali ini. Oleh kata – katanya yang menggantung. Kalau memang itu maunya. Kalau memang sepenting itu eksistensinya dalam realita…

                Baiklah...


***

                Aku terlonjak dari tempat tidur. Berlari membuka pintu kamar. Aku melihat ayah sedang memakai sepatu, bergegas pergi ke kantor. Ibu dan adik sedang menyiapkan makanan, untuk dibawa ke Bogor, Indira mengabari aku melalui pesan singkat : “Lo di mana nyet? Ke sini lah! Anak – anak mau ngumpul hari ini. Kita hunting yuk! Hahaha :D”.

                Aku mencubit pipi. Menampar muka. Sakit. Sakit sekali. Mimpi yang aneh. Kedua orang tuaku dan adikku mengucapkan selamat pagi silih berganti. Kemudian aku menangis.

                Cukup dengan air mata saja bukan?

- Bogor -