paralel

Hei, apa kabar?

Wah, tumben kamu datang? baik sekali. Tidak pernah sebaik ini.

Bagus, aku senang mendengarnya. Lagi sibuk apa sekarang?

Tetap seperti biasa. Tidak ada kesibukan berarti. Bagaimana kabar anak-anak kita?

Putrimu baru saja masuk sekolah dasar. Sementara jagoan kita sudah mampu berjalan sendiri.

(tersenyum)

Mereka kangen kamu.

Sampaikan cintaku untuk mereka, kalau begitu.

...... Baiklah. Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik.




Lalu pria itu meninggalkan areal pemakaman umum.
Seperti biasa.

#pinggir6

malam ini kita satu panggung
saya gugup
permainan saya hancur
saya tidak fokus
konsentrasi terdistorsi
jemari terjeruji
kontemplasi batin terbebani
saya melarikan diri walaupun sepi

sebabnya?
1. karena saya melihat anda tersenyum
2. karena saya melihat orang yang membuat anda tersenyum

orang itu bukan saya

easter eggs from disney toon

Cinderella: pergi dari rumah, meninggalkan pekerjaan serta keluarganya demi seorang pria.

Snow White: tinggal di pedalaman hutan, di sebuah gubuk kecil, bersama tujuh pria kerdil. bayangkan!

Sleeping Beauty: tertidur setelah terkena sihir, terbangun oleh kecupan seorang pria tak dikenal, dan mau saja menikahinya kemudian.

Hans & Gretel: kakak beradik yang tersesat di hutan, menemukan sebuah rumah yang terbuat dari kue kemudian memakannya tanpa pikir panjang, meskipun rumah tersebut bukan milik mereka.

Pinnochio: boneka kayu yang jika berbohong, hidungnya akan memanjang.

Little Mermaid: menjual ekor dan suara indahnya demi sepasang kaki, karena dibutakan oleh pesona seorang pria.

The Matches Girl: seorang gadis cilik yang hanya mampu berkhayal lewat cahaya korek api, tanpa melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya itu.

Robin Hood: jago panah yang mencuri dari kaum borjuis untuk dibagi-bagikan kepada rakyat jelata yang miskin.


lantas setelah sang anak tumbuh dewasa, orang tua akan membatin : Mengapa kelakuan anak muda jaman sekarang seperti ini?
ya, sadar atau tidak, mereka telah mensuplai doktrinasi kepada kami.
 


*dari sebuah obrolan bersama Bernardo Octo Brotoseno & Maria Goretti di kantin #kampusmiripruko suatu siang menjelang proses syuting

alibi

Aku mengobrak-abrik lemari pakaian, melemparkan isinya ke setiap sudut ruang, menampilkan kesan berantakan.

Kemudian aku menuju dapur, aku pecahkan seluruh porselen ke lantai, serpihan kaca menyebar.

Kemudian aku menuju ruang keluarga, aku banting televisi beserta home theaternya.

Kemudian aku menuju kamar tidur, aku bakar setiap uang tunai berikut dompetnya, aku lempar perhiasan-perhiasan ke sungai belakang rumah.

Kemudian aku menuju ruang tamu, aku telepon polisi, mengatakan bahwa telah terjadi perampokan di rumahku, pelakunya kabur setelah merampas harta dan membunuh istriku.

Kemudian aku menuju kamar mandi, tersenyum melihat istriku terbujur kaku untuk terakhir kali.

#pinggir5

3 June - 00.35 am - McD
bukan kue tinggi lezat dengan lilinnya yang menumpuk
bukan novel yang menceritakan tentang perang saudara di somalia
bukan converse kulit coklat special edition
bukan keyboard roland exr 7s
bukan sepotong hamburger dengan setampuk kentang berbumbu
bukan pepsi yang rasanya seperti air diberi gula

yang membuat saya tidak mampu mengerjapkan mata sepanjang malam adalah anda...
ketika bersedia menerima kembali diri saya setelah empat bulan berpisah...


that was the best birthday i ever had

#pinggir4

14 Februari 200*

"Selamat hari valentine." bukanlah susunan kata yang anda tulis saat itu. sepertinya anda lebih menyukai padanan kata lain, yang tentu bertolak belakang arti dan maknanya...

karena apa yang justru keluar di screen handphone saya adalah kata-kata...
"Selamat tinggal."

dan selesailah sudah, setelah beberapa bulan, terbukti kita memang tidak bertahan lama.

14 Februari di tahun yang sama

saya menyalakan mobil dan melaju bersama malam. menuju hanya tempat itu, kost-kostan wanita di bilangan wijaya yang kerap disinggahi banjir. tidak berniat turun dan mengetuk pintu. bukan... saya takut. tidak siap menemui anda untuk menerima langsung kenyataan dari sela-sela bibir yang terbuka. memperjelas semuanya. terutama kata-kata "Selamat tinggal" itu.

14 Februari di tahun yang sama

saya berputar tak tentu arah. mencari ketidaktahuan yang menuntut ditemukan. menuntut kejelasan yang menyakitkan. mencari segelas kopi dengan richeese nabati yang selalu anda simpan sebagai makanan cemilan.

14 Februari di tahun yang sama

saya melihat teman-teman anda yang sebagian adalah teman saya juga, yang sedang menghabiskan waktu bersama kekasihnya yang tak lain adalah teman-teman saya yang sebagian adalah teman anda juga. sayang sekali... kita tidak mampu menjadi salah satu dari mereka. melihat teman-teman kita yang sedang tertawa mesra adalah harga sepadan yang harus dibayar dengan perbuatan luka sebelumnya. tapi saya tidak kuat berlama-lama. tidak sampai 15 menit, saya memutar kemudi berbalik arah.

14 Februari di tahun yang sama

akhirnya saya berhasil kencan dengan anda malam ini. saya senang melihat anda tersenyum. melihat anda mengenakan kostum kebesaran dengan nomor punggung kebanggaan. melihat ekspresi anda yang puas setelah berjibaku dalam pertandingan. melihat anda menang dengan gemilang. melihat semuanya itu, pada foto dari dalam dompet yang baru saja saya keluarkan.

14 Februari di tahun yang sama

saya bertanya pada gelas kopi, "Saya salah?". tidak ada jawaban dari sang gelas. namun rasanya yang pahit sepertinya menjawab. saya memutuskan untuk berhenti bertanya dan menyeruput sisanya.

14 Februari di tahun yang sama

saya berhenti di toserba 24 jam tempat pertama kali kita bertukar cerita. sandwich yang saya bayar cuma satu buah, begitu juga dengan susu kocoknya. mereka bertanya "Cuma untuk satu orang?" saya jawab "Benar. Semoga kalian mengerti." mereka diam, lalu saya telan habis keduanya.

14 Februari di tahun yang sama

saya melihat jam, sepuluh menit lagi. lalu setelah tiga lagu habis, angka tanggalan jam tangan saya berubah.

15 Februari di tahun yang sama

sudah kamis dini hari. segala hal masih berjalan seperti sedia kala. segalanya. kecuali...

#pinggir3

Malam itu macet. Tidak heran, malam itu malam minggu.

Kijang Innova saya berusaha berkutat menembus lapisan kendaraan lainnya di tengah lalu lintas yang sesak. Berusaha memburu waktu, karena saya tidak ingin terlambat.

Saya memilih Coco D’or untuk menyanyikan lagu pengusir segala bentuk kepenatan. Cukup berhasil. Sesekali saya menemaninya bernyanyi di dalam mobil. Ikut mengangguk-anggukkan kepala sesuai irama, memukul-mukul kemudi sesuai ketukan drumnya, tersenyum-senyum sendiri ketika dirinya mengajak saya untuk ikut naik ke panggung, lalu memberikan seikat mawar padanya sebagai bentuk terima kasih atas penghiburannya di tengah kepadatan jalan raya. Penat saya hilang, terima kasih untuk sang biduan.

Masih belum sampai, masih setengah jalan, sementara Coco D’or sudah kembali pulang ke bungkus CDnya, saya memilih untuk mengambil handphone. New Text Message…

"Di mana? Ke Emax juga kan?"

Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasan.

"Jadi. Lo di mana? Main jam berapa?"
"Di jalan. Macet. Mainnya masih sejam lagi sih. Keburu nggak ya? Eh, lo udah sampe?"
"Belom, baru mau jalan."
"Nonton gue kan? Ha ha ha… Mau bareng, tuan putri?"

Pertanyaan terakhir sepertinya muncul sendiri di screen handphone saya. Spontanitas pergerakan jari semata. Tidak ada maksud tertentu. Saya yakin akan hal itu.

Kali ini saya harus menunggu cukup lama. Entah dirinya sedang menimbang-nimbang ajakan saya. Atau barangkali sudah berjanji dengan teman-temannya untuk berangkat bersama. Saya tidak terlalu peduli. Saya sudah bersiap-siap membanting kemudi menuju kediamannya di bilangan Fatmawati. 
Mengharapkan balasan yang berisi sebuah afirmasi.

"Oh, nggak usah. Gue kesana sama pacar gue, ‘Dji."



Lalu segalanya berhenti. Tidak hanya lalu lintas. Seluruh pergerakan di sekitar saya berhenti. Pedagang minuman di sebelah mobil saya nampak kaku dengan tangan masih terangkat menjajakan sebotol air mineral dingin, orang-orang yang sedang menyeberang terlihat membeku di zebra cross dengan posisi kaki melangkah, sedangkan lampu lalu lintas seolah terdiam saat menyajikan warna merah. Tidak hanya itu, Ella Fitzgerald - yang saya pilih untuk menemani saya bernyanyi menggantikan Coco D’or - juga ikut berhenti mendendangkan ‘Misty’.

Di tengah keterhentian universal yang terjadi, saya kembali menatap screen handphone saya, dan mencoba memilih reply, dengan harapan segala sesuatu akan bergerak lagi.

"Oh… Gue nggak tau. Maaf, tadi main ngajak-ngajak bareng aja."

Semuanya masih mematung. Belum ada tanda-tanda pergerakkan sedikitpun.

"Iya nggak apa-apa. Gue pikir lo tau. Udah seminggu juga kok."
"Gue nggak tahu apa-apa. Beneran. Ok kalo gitu. See you there."
"Ok. See you. Good luck manggungnya nanti :)"

Saya mengunci layar handphone, memasukkannya ke dalam tas di bangku sebelah saya.

Ella sudah kembali bernyanyi, lampu lalu lintas sudah bergerak menuju warna hijau, orang-orang di zebra cross mempercepat laju langkahnya untuk menyeberang, pedagang minuman di sebelah mobil saya sudah kembali ke pinggir jalan.


Sekarang giliran saya yang tidak kuasa bergerak dalam kesendirian...


malam itu saya merasa tersisih selayaknya pecundang

#pinggir2

Seingat saya malam itu cukup dingin, karena hujan baru saja berhenti menjelang sore.

Pukul 22.30, ditemani motor bebek yang setia, dan jaket kulit pemberian opa, serta helm dua buah, saya meluncur.

Dan sampailah saya di kafe itu, tempat dirinya bekerja paruh waktu, malam ini gilirannya mengunci pintu.

Agaknya dia terkejut melihat saya.

“Ngapain di sini?” dahinya berkerut.

“Jemput.”

Tidak ada janji sebelumnya. Mungkin itulah sebab dirinya bertanya.

Percakapan kami kemarin malam memang bukan sebuah perjanjian. Namun saat dirinya kelepasan mengeluhkan kebingungannya pulang naik apa, sementara jam kerja usai terlampau larut, saya berpikir untuk (diam-diam) menjemput.

“Oh, sebentar.” dia berpaling, merogoh telepon genggam, lantas menelpon seseorang.

Saya menyaksikannya menjauh, dan secara tidak sengaja melihat di penghujung parkiran, seorang pria (yang sedari tadi berdiri di samping mobilnya) mengangkat telepon genggamnya.

Percakapan wanita itu tidak lama, rokok yang saya bakar belum habis saat pria di penghujung parkiran itu menjauhkan telepon genggam dari telinganya, lantas memasukkannya kembali ke dalam saku celana, diikuti wanita di depan saya (dengan gerakan yang persis sama).

“Yuk.” wanita itu berkata sambil menghampiri saya.

Saya memberikannya helm, menyuruhnya memakai jaket, sambil menyumpahi malam yang terlalu dingin, dia tersenyum, meskipun senyumnya letih luar biasa.

Mobil di penghujung parkiran itu menyalakan lampu, bergerak perlahan, lalu melintasi kami berdua untuk keluar menapaki jalan raya.

Kacanya terlalu gelap. Akan tetapi saya merasa tidak perlu melihat untuk tahu siapa pria itu.

“Sudah siap?”

Saya melihat wanita itu mengangguk dari kaca spion, kemudian saya menyalakan mesin.


Seingat saya malam itu cukup dingin, karena hujan baru saja berhenti menjelang sore.

Pukul 23.30, ditemani motor bebek yang setia, dan jaket kulit pemberian opa, serta helm dua buah, saya meluncur…

…menghantarnya pulang.


malam itu saya merasa keluar sebagai pemenang

#pinggir

Malam itu, saya melihatnya duduk di bawah lampu bohlam meja makan.

Tidak ada yang berubah, seperti tata rambutnya yang selalu seadanya, senantiasa.

Kalau menunya nasi goreng, dia akan meraup kerupuk cukup banyak sebelum makan.

Kawat giginya selalu membentuk senyum simpul yang unik, saya yakin, hanya dirinyalah pemilik sah, pemilik satu satunya bentuk senyum seperti itu, tidak ada lagi yang lain.

Wanita di depan saya tidaklah cantik, dia bukan wanita paling menarik, tidak ada keistimewaan tertentu yang cukup untuk membuat kaum pria rela antri dan berjibaku dengan alasan untuk memperebutkan hatinya.

Untuk soal itu, biarlah selamanya menjadi misteri, saya sendiri masih belum bisa membedakan perihal cinta dan obsesi, saya lebih suka merenung ditemani segelas kopi.

Karena wanita, untuk saya hanya ada satu, dan selalu satu, meskipun dirinya tidak lagi tahu, dan tidak akan pernah selamanya tahu.

Itu saja cukup, terima kasih.

menu

Sudah jam 5 sore. Akhirnya aku bisa pulang ke rumah. Rutinitas kantor membuat kepalaku berdenyut–denyut. Tentu semua itu akan lenyap saat aku menemui buah hatiku yang baru genap berusia 8 bulan.

Aku meminta ibuku untuk mengurusnya selagi aku bekerja. Memang tidak tega rasanya lantaran usia ibu sudah teramat lanjut. Ibu sudah pikun dan lamban. Tetapi aku juga tidak ingin menyewa tenaga pengasuh.

"Dari mana saja kamu keluyuran sampai larut begini?"
"Kantor, bu. Aku kan sudah kerja."
"Oh begitu? Ya sudah makan dulu sini. Ibu membuatkanmu menu istimewa."
"Rangga mana, bu?"
"Siapa?"
"Rangga, cucu ibu sendiri masa lupa?"
"Cucu? Sejak kapan aku punya cucu?"

Aku menghela nafas. Lelah menjawab kepikunan ibu. Namun seketika helaan nafasku terhenti. Aku baru saja memperhatikan isi kuali di hadapanku. Ada sejumlah jari–jari manusia berukuran kecil yang sedang ibu beri bumbu.

terima kasih

Orang – orang berdatangan ke rumahku. Kebanyakan kukenal. Tapi banyak juga yang tidak. Mereka berpakaian hitam. Mungkin mereka pikir hitam adalah warna yang mencerminkan duka.

Satu per satu dari mereka masuk. Menyalami ibu yang sudah tidak mampu lagi menangis. Air mata ibu sudah kering sejak kepergian kakakku setahun yang lalu. Dan sejak saat itu, hanya ada tatapan kosong yang membingkai mata ibu.

Satu per satu dari mereka menghampiri peti jenazah. Tubuh itu telah membiru karena kematian yang penuh derita. Satu per satu dari mereka menangis. Beberapa diantaranya sesenggukan. Aku maklum. Kematiannya memang mengenaskan. Gagal ginjal.

Sudah sekitar seratus orang yang datang. Ibuku akhirnya berdiri untuk mengucapkan kata sambutan. Dilanjutkan dengan ajakan doa bersama.

“Terima kasih sudah datang. Andre adalah anak saya yang kedua, yang bungsu. Menyusul kepergian kakaknya yang tahun lalu mengidap penyakit serupa. Terima kasih banyak. Andre pasti tenang di alam sana.”

Aku tidak tahan melihat tangis ibuku semakin menjadi – jadi seperti itu. Aku menghantarnya ke belakang, mencoba menenangkannya dengan memeluknya.

Ibu benar. Aku memang sudah tenang. Kemudian aku pamit sebentar kepada ibu. Aku juga ingin berterima kasih kepada teman – teman yang sudah datang menengok jenazahku.

di sini

Di sini, mataharinya masih membakar kulit, tentu sama dengan matahari yang ada di tempatmu.

Di sini, bulan sabitnya masih menggendong ratusan bintang yang berkeliaran, tentu sama dengan langit malam di tempatmu.

Di sini, puncakan gunung - gunung tinggi masih berlomba menggapai cakrawala sunyi, tentu sama dengan alam di tempatmu.

Di sini, ombak dan badai masih menderu penuh rasa haru, tentu sama dengan laut di tempatmu.

Ah, betapa inginnya aku menulis surat untukmu meski sekedar barisan kata singkat.

Bahwa dunia tempatmu bernafas hingga kini, tidak jauh berbeda dengan dunia akhirat.

K-9

"Belum pernah aku ketemu makhluk seegois itu!"
"Kenapa lagi si Carlo?"
"Aku bilang iya, dia nggak. Bilang A, dia lakukan B. Nggak pernah nurut."
"Cowok emang suka begitu."
"Lengah sebentar, dia pasti hilang."
"Karena selama ini kau terus yang mengejarnya. Makanya dia belagu."
"Bahkan dia melakukan hal itu setiap hari."
"Apa?"
"Dia suka memasukkan kepalanya ke dalam rokku dan menjilatinya."
"Bohong?!"
"Serius! Kemudian dia akan mengencingiku!"
"Carlo? Tidak kusangka."
"Kalau sedang bergairah, dia suka menggosok–gosokkan kemaluannya padaku. Tidak tahu tempat."
"Sudahlah, cari pria la…"
"Aku ingin usir saja anjing Labrador jahanam itu!"
""
""
"Anjing?"

belum

"Mau menyelam lagi?"
"Iya."
"Sudah hampir setahun. Kamu masih belum bisa melupakannya?"
"..."
"Memangnya setiap kali menyelam, kamu selalu bertemu dengannya?"
"Ya."
"Dari segerombolan itu, kamu bisa tau dia yang mana?"
"Ya."
"Bagaimana mung...?"
"Aku memang tau, Pa."


 --- 

Apa kabar sayang? Hari ini aku datang lagi membawakanmu makan siang.
Sudah hampir setahun kamu di laut, begitu menyenangkankah di sini? Sampai kamu tidak mampu ke darat lagi?
Sudah hampir setahun, sepertinya sudah saatnya untukku berhenti menemuimu seperti ini...
Sampai jumpa sayang...
Kali ini adalah pertemuan terakhir kita. Jaga dirimu baik - baik...

Seorang penyelam kembali ke permukaan. Meninggalkan hiu yang baru saja diberinya makan. Seekor hiu yang hampir setahun lalu akan berhasil melahap dirinya. Kalau saja istrinya tidak melompat ke air untuk melindunginya.

siam

                Sudah setengah jam Krisna menunggu ditemani gerbang abu – abu. Lidya belum keluar juga. Kali ini adalah kencan pertamanya seumur hidup. Setelah resmi berpacaran selama satu minggu dan belum terlalu mengenal Lidya luar dalam, ujian pertama Krisna malam ini adalah ‘bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanitanya dengan gentle’. Dan setelah hembusan nafas gugup berulang kali, sejumlah gosokan sapu tangan di dahi, Lidya masih belum juga keluar.

                “Hai Kris! Sudah lama? Maaf tadi aku baru selesai mandi.”
                “Oh, akhirnya… Tidak apa – apa. Ayo. Mau ke mana kita malam ini?” Gugup berlipat ganda. Efek samping kencan pertama!
                “Terserah. Aku ikut saja.”
                “Oh, baiklah. Yuk…” Krisna membuka pintu mobil. Mempersilakan Lidya duduk di sebelahnya.

                Mobil Jazz hitam itu meluncur perlahan. Mengucapkan selamat tinggal pada gerbang abu – abu di belakangnya.

***

Di dalam rumah yang berpagar abu – abu…

                “Loh, kamu belum berangkat sama Krisna, Lid?” Ibunya bengong.
                “Hah? Memangnya ibu kira aku mau ke mana? Aku baru saja bangun.”
Ibunya masih bengong melihat anak perempuannya yang masih berpakaian tidur itu. Jangan – jangan…
                “Oh iya. Ladya ke mana bu?"

l a ra




Perkenalkan, namaku Lara.
Aku bukan kehidupan, aku tidak memiliki bentuk bahkan bayangan , aku hanyalah sebongkah perasaan.
Akan tetapi, kamu masih dapat melihatku, bukan?
Sebagian besar dari kaummu biasanya terkecoh saat mendefinisikan diriku.
Ayahku adalah penderitaan, dengan ibu bernama kelambu muram.
Dan aku lahir persis saat malam temaram.
Aku mengenal kamu, begitu juga sebaliknya.
Sebab apa yang kita alami tidak jauh berbeda dan aku paham betul apa rasanya mengemban luka.
Aku tahu persis kapan sosokku dibutuhkan.
Setiap airmata yang menumpuk di pelupuk matamu bagaikan lonceng yang memanggil.
Setiap tubuhmu mulai menggigil pada nuansa yang dirasa ganjil.
Ketahuilah, aku datang tanpa membawa solusi karena akupun pribadi yang labil.
Aku ini penurut, seperti bambu yang meliuk dalam kemelut.
Aku hanyalah teman yang membantu jikalau dirimu kalut.
Aku akan berusaha menjadikan semua hal itu surut sebelum emosi mengambil alih logika yang luput.
Oh maaf, apakah kamu bingung dengan salam perkenalanku?
Sebenarnya aku ingin bercerita lebih banyak, yang tadi itu belum seberapa.
Atau sebaiknya kamu rasakan saja?
Karena untuk benar benar menjadi sahabat, kamu harus terbiasa ‘mengalami’ku, serta berpisah dengan Maya.
Namun tidak harus ber bapak derita, juga ber ibu nestapa.
Cukup dengan air mata saja.

***

                ... mimpi kah? Di depanku ada seorang wanita pucat berpakaian serba kelabu, tanpa alas kaki, rambut terurai sebahu, dengan senyum yang manis. Aku pikir dia itu kuntilanak atau semacamnya. Aku cubit pipi kananku perlahan. Sakit. Mimpi kah? Nyata kah?

                Siapa kamu?
                Lara, salam kenal.
                Apa ini mimpi?
                Bukan hakku untuk menjawab itu. Nyata atau maya, semuanya ada dalam kuasa imajimu.
                Oh, baiklah. Anggap saja ini mimpi. Ada perlu apa Ra? Eh, boleh aku memanggilmu begitu?
                Boleh. Aku hanya ingin tahu jawabmu. Apakah kamu bersedia?
                Bersedia? Bersedia untuk apa?
                ‘Mengalamiku’?

Aku mencubit ulang pipiku. Kali ini dua – duanya. Masih sakit. Mimpi yang sakit. Ajaib sekali!

                Tidak. Tidak mau. Kita baru saja kenal. Aku tidak mau diajak – ajak segampang ini oleh orang yang baru saja aku kenal.
                Oh, sesungguhnya kamu kenal betul siapa aku. Hanya saja belakangan ini kita jarang bertemu. Anggap saja ini sebagai pelepas rinduku.
                Tetap saja aku tidak mau. Sudah! Tinggalkan aku!

                … dan aku terbangun. Benar – benar mimpi yang aneh.

***

                Aku baru saja selesai mandi, ketika aku melihat kabar di salah satu stasiun televisi…

                Kebakaran di gedung Chase Plaza hingga saat ini masih belum dapat dipadamkan. Sejauh ini pasukan pemadam telah mengirim enam unit mobil pemadam beserta puluhan anggotanya. Sumber api diduga berasal dari generator pendingin ruangan yang mengalami gangguan arus listrik. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 30 orang. Dari Sudirman, Roy Simatupang, melaporkan.

                Chase Plaza. Kantor ayahku bekerja. Kebakaran yang terlihat di layar kaca begitu hebat. Aku sangsi akan keselamatan ayah. Belum lagi ruangannya terletak di salah satu lantai teratas gedung tersebut.

                Tapi aku tidak panik. Aku tidak khawatir. Aku tidak cemas akan ayah meskipun sudah banyak sekali jenazah yang diperkirakan. Aku diam saja. Aku mengganti saluran televisi. Mencari acara selain berita. Ah, pagelaran musik. Ini saja!

                Namun belum sampai aku duduk, acara tadi telah berganti. Headline News. Brengsek.

                Selamat siang pemirsa. Sebuah kecelakaan baru saja terjadi di Jakarta Outer Ring Road pukul 11.23 siang ini. Kecelakaan yang terjadi antara mobil pribadi dengan bus malam tersebut menewaskan sedikitnya delapan korban, termasuk pengemudi dari masing – masing kendaraan. Berikut ini penayangan hasil reportase dari tim wartawan.

                Musibah lagi? Baru saja lebaran selesai. Aku mengunyah roti coklat sambil menggerutu agar sekilas berita ini cepat berakhir. Kecelakaan ini tidak kalah menarik dengan berita kebarakan sebelumnya. Mobil kijang innova B 2429 BB itu ringsek seperti diinjak Hulk. Begitu juga dengan Bus Putraluragung jurusan Jakarta – Kuningan di hadapannya.

                Sebentar… B 2429 BB?! Kijang innova 
itu berwarna coklat. Tol JORR?! Ibu dan adikku sedang dalam perjalanan menuju Bogor pagi ini.



                Itu mobilku.
                                Ibu dan adikku ada di dalam situ.

                Tapi aku tidak terkejut. Aku tidak histeris. Aku tidak berpikir akan ibu dan adikku meskipun keadaan mobilku sudah sedemikian parah. Mustahil mereka selamat. Aku diam saja. Aku mematikan televisi. Mencari acara selain menonton. Ah, piano. Main saja!

                Namun belum sampai aku memencet tuts, telepon genggamku bergetar. Pesan masuk dari Indira.Read text message.

                Lo dimana nyet? Kesini cepetan! Joshi, Roy, Luthfi, Reka, Putra, Mindy, tewas semua! Lo inget kan mereka lagi liburan di Pulau Pramuka minggu lalu? Kemarin tuh harusnya udah pulang. Nah, mereka dirampok! Perampokan bersenjata katanya! Gue baru dapet kabar dari supirnya Jo. Itu juga karena harusnya supirnya jemput anak – anak kemarin. Gue sekarang di Cipto. Kasih kabar ke yang lain!

                Lagi? Kali ini menimpa sahabat – sahabatku. Aku masih diam. Badan ini belum juga bergetar. Tulang ini belum juga menggigil. Rupanya berita yang bertubi – tubi sepanjang itu belum cukup untuk menarik emosiku keluar. Aku masih diam. Kenapa aku masih bisa diam?

                Aku lempar telepon genggamku sampai memecahkan layar televisi (berikut telepon genggamnya sendiri). Aku raih bantal di sebelah sofa. Aku banting kepalaku seraya menghembuskan nafas keras – keras. Kenyataan tidak lebih baik daripada mimpi. Realita tidak lebih nyata dari sekedar fiksi. Lalu aku mencoba tidur. Dengan kepala yang masih segar merekam peristiwa – peristiwa yang baru saja merenggut nyawa seluruh orang – orang terdekatku (bahkan keluargaku sendiri), aku mencoba tidur.

kenapa aku bisa setenang ini?

***

                Lara?
                Benar. Beruntung sekali bisa bertemu lagi dengamu.
                Aku juga heran. Belum pernah aku mengalami mimpi yang bersambung seperti ini.

Dia tersenyum. Kali ini bentuknya sudah tidak lucu lagi. Kali ini hanya bibirnya saja yang naik. Matanya senantiasa sayu. Raut muka seperti itu mengisyaratkan bahwa dia ingin menanyakan sesuatu. Dan benar saja…

                Ada yang ingin kamu katakan? Sepertinya kamu panik.
                Panik? Aku merasa cukup statis setelah mendengar tiga peristiwa yang membuatku resmi  menjadi pria sebatang kara. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sesantai itu menghadapi semuanya?
                Kamu mencari jawaban? Kamu menemuiku untuk mendapatkan jawaban atas semua itu?
                Aku tidak mencarimu. Bukankah kebetulan kita bertemu lagi? Dan siapa kamu sebenarnya?!

Kali ini dia tertawa. Membahana. Menggetarkan seisi ruang yang senyap oleh pekatnya gulita.

                Ingatlah. Aku adalah proyeksi dari imaji alam bawah sadarmu. Aku adalah senyawa yang tidak kamu ajak ikut serta  mengecap realita. Kamu hanya meninggalkanku sendiri dan tidak terbawa..
                Apa? Apa maksudmu? Jadi kamu marah karena aku menolak … apa katamu? ‘mengalami’mu?
                Jangan berpikir begitu. Aku tidak marah. Mau atau tidak, bukankah sudah kubilang, itu sepenuhnya hakmu?

Aku menyerah kali ini. Oleh kata – katanya yang menggantung. Kalau memang itu maunya. Kalau memang sepenting itu eksistensinya dalam realita…

                Baiklah...


***

                Aku terlonjak dari tempat tidur. Berlari membuka pintu kamar. Aku melihat ayah sedang memakai sepatu, bergegas pergi ke kantor. Ibu dan adik sedang menyiapkan makanan, untuk dibawa ke Bogor, Indira mengabari aku melalui pesan singkat : “Lo di mana nyet? Ke sini lah! Anak – anak mau ngumpul hari ini. Kita hunting yuk! Hahaha :D”.

                Aku mencubit pipi. Menampar muka. Sakit. Sakit sekali. Mimpi yang aneh. Kedua orang tuaku dan adikku mengucapkan selamat pagi silih berganti. Kemudian aku menangis.

                Cukup dengan air mata saja bukan?

- Bogor -