composure

what is a “relationship” but experiencing, maintaining such repetitive yet dynamic composure; a monotonic -unrhymed hymn which forces you to keep up over and over again, in order to understand yourself, rather than your partner, better. it’s never a smooth sail as foretold by any fairy tale. but here we are.. doing our best to commiserate, to console one another. in short: being ready to encounter every possible outcome.




i never understand romance and never will. but am pretty sure how it’s supposed to look like. to fall asleep and wake up next to you every morning. to let you stay dozing soundly whilst quietly getting ready to roll the day on. to kiss the naked shoulder of yours, savouring that wonderful pheromone. to pour the usual cereal myself without complaining the absence of your wondrous coffee. to let you freely expressing yourself around the house -paint the curtain, moan out loud, bake some silly cupcakes, feed the pup (yes we will have ourself a cutie Samoyet. i dare not to argue with you on this).







what’s the worst that could possibly happen to us? to deal and adapt with one person’s daily doze. to share our reading list and silently mumbling why the hell she does not dig fantasy as much as i do. then i remember that we often stuck in a different section every time we pay a visit to the local bookstore. the same thing goes with the movies. and that’s a good thing. so yeah, what’s the worst that could possibly happen since it seems always going to be a honeymoon phase for us?





it’s past midnight now and the urge to down a shot of Stoli is rather unbearable. i keep telling myself to save it for later. so i put my fingers on the keyboards but they don’t seem in the mood to lull me something to sleep. so i start to think nothing and -unsurprisingly- everything pops up. just like that. and for a split second i think i begin to understand romance but i don’t. another false epiphany and still i can’t grasp the fact that it’s impossible to comprehend.



in the end, i still don’t understand myself. but i am glad you’re still here.
.
.
.
.
.
.
.

thanks...


*image taken from the movie Paterson (2017)

Mengenal Animasi-animasi Satoshi Kon

Dalam buku Frames of Anime: culture and image building (2010), Tze-Yue G. Hu memaparkan dimensi berlapis (multifaceted) yang terkandung dalam proses pengerjaan film-film animasi di Jepang. Film animasi dua dimensi, menurutnya, bukan sekadar kumpulan gambar buatan tangan yang kemudian dikomputerisasi, disusun, dan dipadu dengan mesin proyektor untuk menghasilkan efek gerak. Lebih esensial dari itu, film animasi merupakan moda bertutur akan aspek-aspek sosio-kultural lewat penggarapan estetika visual. Ada unsur human interest dalam tiap gambar animasi yang sama bernilai dengan unsur sosio-kultural yang melingkupi para animatornya.

Saya menemukan sejumlah auteur yang tidak asing, seperti Hayao Miyazaki dan Isao Takahata (Studio Ghibli), ada pula Katsuhiro Otomo dan Makoto Shinkai yang populer akan kualitas estetika visual mereka, juga Satoshi Kon dengan narasi-narasi lintas realis-surealis-nya. Masing-masing nama memiliki sentuhan khas dalam menggarap film animasi.

Beberapa waktu lalu, saat saya sedang menunggu commuter line jurusan Jatinegara-Depok, saya iseng buka kanal YouTube di hape dan menonton cuplikan daftar film animasi terbaik versi WatchMojo. Ada satu judul yang terlihat menarik, Perfect Blue (1997) karya Satoshi Kon. Film bergenre psychological-thriller ini mengisahkan penyanyi idol group yang banting setir menjadi aktris layar kaca. Keputusan ini lantas membuat salah seorang fans kecewa dan memutuskan untuk meneror sang idola. Film ini memperkenalkan saya pada sosok Satoshi Kon. Komikus cum animator asal Hokkaido yang gemar bermain-main dengan ilusi alam sadar dengan bawah-sadar manusia.

Sepanjang karirnya di bidang animasi, Kon sudah menelurkan satu animasi pendek, satu serial animasi, dan empat setengah feature-length animasi. Mengapa empat setengah? Sebab karya terakhirnya, Yume miru-kikai (Dream Machine) baru rampung setengah jalan ketika kanker pankreas memaksanya tutup usia di umur 46 tahun. Walau demikian, saya kira Kon berhasil mewariskan karya-karya animasi yang tak lekang oleh zaman.

Tulisan ini boleh dianggap sebagai pengantar pendek (baca: spoiler) terhadap karya-karya animasi feature-length Kon. Silakan tutup laman seandainya iman anda tidak sanggup menerima spoiler. Selain itu, tidak afdol rasanya untuk tidak memberi kredit atas sumbangan Kon bagi cakrawala animasi Jepang. Berikutnya, silakan cari film-film ini dan saksikan sendiri bagaimana seorang maestro bekerja. Ada empat judul yang mau saya coba bahas secara kronologis sesuai tahun peluncuran tayang. 


Memories (1995) – short omnibus

Kanojo no Omoide (Magnetic Rose)




Film animasi pendek besutan Kon kala ia bekerjasama dengan Katsuhiro Otomo. Ada tiga film yang tergabung dalam omnibus Memories, yaitu Magnetic Rose, Stink Bomb, dan Cannon Fodder. Kon berperan sebagai penulis naskah, penyusun layout, sekaligus sutradara dalam Magnetic Rose. Mengambil setting di ruang angkasa, Magnetic Rose mengisahkan empat awak kapal antariksa Corona dalam misi mencari barang-barang berharga yang tersebar di hamparan puing-puing galaksi. Kapal ini menangkap sinyal S.O.S. dari suatu tempat, lalu memutuskan untuk melakukan inspeksi. Baru setelahnya mereka ketahui bahwa sinyal tersebut berasal dari kapal antariksa yang karam milik seorang penyanyi opera dari Eropa, bernama Eva Friedahl.

Dua kru Corona yang diutus, Heintz dan Miguel, ternyata harus menghadapi kejadian-kejadian aneh saat menyisir interior kapal. Awalnya Heintz menganggap bahwa keanehan-keanehan yang muncul disebabkan oleh ilusi optik dari mesin hologram yang masih berfungsi. Namun ilusi optik yang bermunculan satu per satu semakin terasa nyata, bahkan mampu merasuk ke alam bawah sadarnya. Sementara itu, dua kru lain yang tinggal di kapal juga mendeteksi fenomena tidak lazim. Ada medan magnetik yang entah dari mana datangnya, seketika muncul dan menarik kapal mereka menuju ke arah kapal karam Eva. Magnetic Rose adalah metafor akan pasir hisap, atau black hole di latar ruang angkasa, yang memangsa siapapun tanpa menyisakan apa-apa.




Seperti yang sempat disinggung di atas, saya mengenal mendiang Kon lewat film ini. Perfect Blue, yang diangkat dari novel karangan Yoshikazu Takeuchi dengan judul yang sama, adalah cerita tentang Mima Kirigoe yang memutuskan hengkang sebagai personil idol group Cham untuk kemudian beralih menjadi aktris layar kaca. Usai mengumumkan pengunduran dirinya, Mima menerima fax tanpa identitas pengirim bertuliskan “pengkhianat”. Teror tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya, satu per satu orang terdekat Mima mulai kena imbas. Salah satu agennya menerima paket berisi bom, penulis naskah drama yang tengah dibintanginya dibunuh, juru potret yang sempat mengambil gambar-gambar sensual Mima juga tewas ditusuk. Semuanya dilakukan secara misterius sehingga lambat laun membuat publik berspekulasi bahwa Mima juga ikut terlibat dalam kasus-kasus tersebut.

Seiring dengan itu, Mima mulai dilanda gejala paranoid. Ia tidak lagi sanggup mengidentifikasi mana yang nyata dan ilusi. Kondisinya juga diperparah dengan kemunculan sesosok figur khayal, yang tidak lain adalah replika dirinya sendiri dalam kostum idol group. Perfect Blue dengan cerdiknya mengemas pertautan biner alam sadar dan bawah sadar, menggunakan shot berulang-ulang dengan scoring polyphonic bernuansa seram, yang pada akhirnya juga mengecoh penonton dalam memilah mana yang nyata dan ilusi.





Berhenti di puncak karir bukanlah keputusan mudah. Chiyoko Fujiwara, aktris top beberapa dekade silam yang aktif membintangi sejumlah film-film layar lebar, tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari peredaran. Adalah Genya Tachibana, seorang sutradara yang berniat membuat film dokumenter tentang Fujiwara. Setelah bertahun-tahun mencari keberadaan Fujiwara, Tachibana berhasil menemukan dan mengunjungi kediamannya untuk melakukan wawancara. Millenium Actress bertutur lewat metode play-to-play, di mana alur cerita dirancang nonlinear, tumpang tindih antara wawancara Fujiwara dengan memori masa lalunya di dunia akting.

Kon merancang lompatan waktu antara masa kini dan masa lalu dengan begitu rapih, seolah keduanya tidak memiliki sekat pemisah dan bisa dengan bebasnya diakses dan ditelusuri kembali. Fujiwara tidak sekadar menceritakan ulang perjalanan karirnya dari waktu ke waktu, ia mentransformasikan ulang momentum-momentum tersebut dengan membawa serta Tachibana dan kameramennya ke dalam tiap-tiap semesta cerita layar lebarnya. Penggambaran ini menyiratkan bahwa Fujiwara adalah seorang pencerita yang tidak hanya mendikte para pendengarnya, melainkan turut mengajak pendengarnya masuk ke dalam kisah yang ia reka. Sama halnya seperti Kon yang mengajak para penonton untuk terlibat dan berperan langsung, alih-alih duduk diam menyimak sebagai spectator pasif semata.




Tuna wisma kerap dipandang sebelah mata. kehadirannya membuat risih, merusak pemandangan, mengotori lingkungan, belum lagi prasangka buruk yang acapkali membuat derajat mereka tidak lebih baik daripada seorang kriminal. Mereka inilah yang menjadi protagonis dalam Tokyo Godfathers. Sebab siapa bilang atribusi godfather hanya layak disematkan di dada seorang mafia? Ada tiga tokoh, Miyuki, gadis belia yang menggelandang setelah kabur dari rumah; Gin, pemabuk paruh baya yang punya kisah traumatik dengan keluarganya; dan Hana, transgender ekspresif yang bersumbu pendek setiap kali orang menganggapnya laki-laki tua. Lewat Tokyo Godfathers, Kon menepis segala stereotip negatif terhadap kaum marjinal, sekaligus menampilkan Tokyo yang jauh dari gemerlap cahaya, yang intimidatif, serta rawan kekerasan baik verbal maupun fisik.

Saat ketiganya tengah mengais-ngais sampah, berusaha mencari makanan di malam tahun baru yang beku, Hana menemukan bayi yang ditinggal orang tuanya di antara tumpukan kantung plastik. Naluri femininnya terketuk, alih-alih menyerahkan bayi tersebut ke pihak berwajib, Hana memutuskan untuk merawat si bayi sekalipun ditentang oleh kedua koleganya. Tokyo Godfathers adalah ode pilu akan imajinasi keluarga bahagia yang kian langka. Ia secara sublim meramu pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang relasi antarmanusia lewat komedi slapstick dan satir. Sambil mencibir penghakiman normatif terhadap kaum-kaum yang senantiasa terpinggirkan. Saya membayangkan Kon tersenyum-senyum sendiri melihat reaksi penonton. Bahwasanya sebuah kisah, setragis apapun, tetap berhasil memancing gelak tawa.






Selamat datang di dunia maya, di mana segala sesuatunya terlihat dan terasa lebih nyata. Paprika diadaptasi dari novel karangan Yasutaka Tsutsui yang rilis tahun 1997 dengan judul yang sama. Premisnya cukup menarik: tentang ilmuwan yang berhasil menciptakan sebuah perangkat untuk masuk ke mimpi orang lain. Alat ini, yang diberi nama DC-Mini, diniatkan sebagai instrumen untuk membantu proses terapi seorang psikolog terhadap pasien-pasiennya. Namun, seiring dengan tahap penyempurnaan kerja alat tersebut, ada yang malah menggunakannya untuk menanamkan ingatan artifisial dan mengacau-balaukan batas sadar dan bawah-sadar semua orang. Dalam situasi terburuk, seseorang bisa saja mengacaukan kesadaran orang lain dengan memodifikasi alam mimpinya sedemikian rupa, sehingga nalarnya porak poranda.

Merasa bertanggung jawab atas segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi, Dr. Atsuko Chiba memutuskan untuk menginvestigasi bersama Dr. Kosaku Tokita. Chiba kemudian masuk ke alam mimpi dengan alter-ego bernama Paprika. Usahanya mencari dalang kekacauan ternyata tidak mudah. Sebaliknya, Chiba/Paprika mulai kehilangan kesadaran secara perlahan. Ia tidak hanya tersesat di mimpi orang lain, namun juga di mimpinya sendiri. Menarik melihat cara Kon mengemas adegan demi adegan di dalam Paprika. Dari perpindahan adegan yang mengejutkan namun halus (lihat bagaimana Paprika masuk ke dalam kaus orang asing atau Chiba keluar dari moncong lensa kamera video), penokohan yang matang pada tiap-tiap karakter, sampai detil-detil yang hampir luput dari pandangan, seluruhnya didesain untuk ikut mengacaukan persepsi penonton. Membuat kita seru menebak-nebak: ini mimpi siapa? Oh, perlu diingat, meskipun struktur cerita Paprika sedikit banyak mirip dengan Inception (2010) karya Christopher Nolan, film animasi ini sudah rilis empat tahun sebelumnya.




Entah kebetulan atau disengaja, empat film animasi feature-length di atas selalu ditutup dengan adegan yang mengambil latar rumah sakit. Perfect Blue diakhiri dengan adegan Rumi sebagai pasien rumah sakit jiwa, Millenium Actress diakhiri dengan meninggalnya Fujiwara di ranjang rumah sakit, Tokyo Godfathers diakhiri dengan trio tuna wisma yang cedera setelah menyelamatkan bayi Kiyoko, lalu Paprika diakhiri dengan Tokita yang harus mendapat perawatan intensif setelah kesadarannya diacak-acak. Lagi-lagi saya membayangkan mendiang Satoshi Kon, yang sampai akhir hayatnya tetap giat membuat film-film animasi, sekalipun ia terkapar di sebuah bangsal rumah sakit.



Selamat menonton!

Doraemon: Stand By Me - Berbekal Handuk Tidaklah Cukup

Tepat seminggu sejak saya menonton Doraemon: Stand By Me (selanjutnya STB) di bioskop. Beberapa kali saya mengumpulkan niat untuk menulis catatan kecil soal reaksi saya terhadap film ini. Yah... sekadar berbagi. Maksud hati ingin menulis sesuatu yang objektif, yang bersifat umum dan tidak terlampau personal, apa daya senantiasa gagal. Harus diakui: saya sudah sedemikian terikat oleh cerita dan karakter-karakter dalam film ini. Masih jelas dalam ingatan saya --ketika film berakhir, ruang bioskop kembali terang benderang, saya coba cek kiri-kanan, kemudian heran...

kenapa cuma muka saya yang sembab...?

STB sukses membuat air mata saya pasang surut. Duo sutradara Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi tampaknya tahu persis bagaimana cara membuat penonton menangis. Dari mulai poster, trailer, soundtrack, scoring, sampai ke cuilan-cuilan cerita serial dan layar lebar yang dipilih, semua dirancang, dikemas demi satu misi: Nangis lo! Nangis! Nah sip!

Maka dari itu, untuk reaksi tentang STB yang sekiranya lebih objektif, saya sarankan kalian membaca tulisan Nona Fallissa Putri di tautan ini.


Poster (ngajak nangis) Doraemon: Stand By Me
Padahal kalau dipikir-pikir, selain transisi format dari 2D menuju 3D, STB tidak menawarkan cerita baru. Seperti yang tadi saya tulis, struktur ceritanya hanya diambil dari cuilan-cuilan cerita serial (peralatan ajaib) dan layar lebar (Doraemon Returned - 1998 dan Doraemon: The Night Before Wedding - 1999). Bagi penonton yang memang rutin membaca maupun menyaksikan cerita-cerita Doraemon, tentu akan mudah mengidentifikasi adegan mana saja yang dicuil. Sementara STB cukup mentransformasikannya ke dalam bentuk 3D. Atau, meminjam istilah Bung Viriya Paramita, "migrasi tata visual dari 2D ke 3D." 
Oh, sebelum lupa, silahkan kalian simak juga artikel retrospektif tentang Doraemon dari Bung Viriya di tautan ini. Saya jamin menarik.

Adapun STB berbeda dengan film-film layar lebar Doraemon dalam format 2D yang kerap menyuguhkan unsur kebaruan (newness) bercerita. Salah satu yang paling saya ingat misalnya, Doraemon: The Legend of Sun King (2000) atau yang diterjemahkan menjadi Doraemon: Nobita dan Legenda Raja Matahari --saya ingat betul karena film ini adalah satu-satunya film layar lebar Doraemon yang berhasil masuk ke jaringan bioskop komersil Indonesia. Mereka menawarkan cerita baru, menghadirkan petualangan baru dengan tokoh-tokoh yang juga baru, dan terutama menyisakan pertanyaan baru bagi penonton: seperti apa ya petualangan selanjutnya?

Saya pikir unsur kebaruan dalam sebuah cerita menjadi penting. Menghilangkan unsur kebaruan sama halnya dengan menyudahi probabilitas keberlanjutan cerita itu sendiri --satu hal yang menjadi muasal ketakutan sekaligus kekecewaan terbesar saya, lantaran unsur ini absen sepanjang film STB.


Doraemon: The Night Before Wedding (1999)

Doraemon Returned (1998)
Hmm... kalau toh saya sedemikian kecewa, mengapa pasca menonton STB masih mewek juga? Terus terang, terlepas dari absennya unsur kebaruan dalam bercerita, penggarapan film ini sungguh luar biasa juara. Tearjerker jawara saya dedikasikan terutama bagi para komposer Jepang yang bertanggung jawab penuh menggubah scoring dan soundtrack STB. Saya tidak habis pikir. Makan apa sih mereka? Kok ya bisa mengobrak-abrik emosi penonton sedemikian rupa? Ingat adegan ketika Nobita belingsatan naik baling-baling bambu di atas sungai karena ia tahu pasti akan menikah dengan Shizuka, sementara Doraemon dikasih reminder kalau tugasnya membuat Nobita bahagia sudah paripurna? Scoring dan soundtrack di adegan itu ngehek keterlaluan. Saya sampai harus pelan-pelan mengucek mata dengan handuk kecil. Contoh lain, ingat adegan ketika Nobita baku hantam dengan Giant? Sama ngeheknya. Saya tengok kiri-kanan. Ah sudahlah. Persetan dengan handuk kecil.

Di samping scoring dan soundtrack pun, cuilan-cuilan yang dimuat dalam STB memang pada dasarnya juga tearjerker. Dua contoh film layar lebar yang sempat disinggung di atas menjadi saksi bisu misteri habisnya tissue di ruang makan rumah saya. Serius. Ini bukti bahwa cerita-cerita Doraemon tidak memerlukan transformasi format untuk menguras air mata. Baik 2D maupun 3D sama saja efeknya. Saya bahkan membayangkan mendiang Pram bersabda: Tearjerker sejak dalam pikiran, apalagi penyajian. Dan cerita-cerita Doraemon sahih adanya.

Namun kembali lagi, STB tetap menyisakan rasa kecewa. Bukan bagaimana... saya hanya khawatir, tanpa kebaruan sama sekali, film ini bisa-bisa jadi last resort Doraemon. Karena trik mengkompilasi cuilan serial dan layar lebar seperti ini tidak akan semenarik, dan nafasnya juga tidak akan sepanjang seri petualangannya. Andai ide transformasi format ini diiringi oleh cerita baru, barangkali hasilnya bisa jauh berbeda. Barangkali saya tidak perlu merasa kecewa. Saya hanya berharap, semoga masih ada karya-karya selanjutnya.

Film Animasi || 95 menit || Jepang || 2014

Supernova: KPBJ - Keberhasilan Kedua Sutradara Rizal Mantovani

Bagi pembaca novel Supernova: Ksatria, Puteri, & Bintang Jatuh (selanjutnya KPBJ) yang juga menonton filmnya, keluar dari gedung bioskop sambil bersumpah serapah adalah sebuah niscaya. Saya malah sempat berpikir untuk membeli pillox di toko material terdekat, gemas menimpa kata "super" dengan kata "blunder" di posternya. Tapi seketika saya sadar itu vandal. Saya urungkan niat mulia tersebut sambil mengamini kalau saya masih anak baik-baik.

Reuben (Arifin Putra) & Dimas (Hamish Daud)


Tapi mari sedikit objektif dengan menilai film ini hanya sebagai film semata. Ada baiknya kita (yang membaca novelnya) simpan dulu kenyataan bahwa film ini diadaptasi dari novel avant-garde keluaran 2001 dengan judul yang sama. Tayangan ini adalah fiksi belaka, segala kemiripan yang muncul antara film ini dengan novel KPBJ adalah kecelakaan yang (tidak) disengaja, dan maka dari itu, haram membanding-bandingkannya.

Dua jam penuh dijejali shot demi shot bombastis, saya sampai harus meyakinkan diri berulang kali bahwa apa yang saya lihat ini adalah film, bukan sirkus kedahsyatan visual atau trailer pongah dengan durasi terlama sepanjang sejarah. Film KPBJ adalah bukti kesuksesan kedua sutradara Rizal Mantovani mentransliterasikan bahasa teks-novel ke dalam wujud bahasa audiovisual, setelah keberhasilannya pada 2012 silam memperlihatkan gadis sintal mampu mendaki puncak Mahameru tanpa kehilangan nafas, lengkap dengan rambut licin berkilau dan jaket putih masih melekat rapih dalam film 5 cm. Seandainya ada rumah sakit khusus naskah-adaptasi sinema Indonesia, saya yakin dua karya ini masuk daftar prioritas Instalasi Gawat Darurat.

KPBJ hadir sebagai lelucon tanpa tautan logika. Tidak cuma obesitas oleh gambar-gambar cantik dan shot-shot manis, film ini juga sesak dengan kalimat dialog bergaya monolog, adegan-adegan repetitif dengan penekanan simbolik tidak penting, musik latar yang lebih meruntuhkan ketimbang membangun nuansa sinematik, serta scoring bawel tak berkesudahan dari Nidji.

Pertama-tama, kita dipaksa menyimak dialog Reuben (Arifin Putra) - Dimas (Hamish Daud) yang terlampau canggung untuk sepasang kekasih, dan dialog Ferre (Herjunot Ali) - Rana (Raline Shah) yang terlampau absurd untuk sepasang affair. Penata skrip barangkali perlu lebih berhati-hati memilah penggunaan kata dan bahasa. Sekalipun maksud hati ingin bersetia pada kalimat-kalimat orisinil yang dirujuk dari novel, namun dengan konsekuensi dapat mengebiri keluwesan berdialog para pemainnya, mungkin ada baiknya memilih untuk berkhianat saja. Sebab kalimat-kalimat puitis dua arah yang tidak jelas juntrungannya hanya akan membuat dahi penonton mengernyit, membisikkan "dih???" sunyi dalam hati. Sayangnya, dari keseluruhan cast, boleh jadi hanya Arwin (Fedi Nuril) yang masih bisa terselamatkan.


Sejajar dengan hal tersebut, absurditas struktur dialog dalam film ini kemudian diperparah dengan serangan gerilya kalimat teks, yang dengan briliannya kembali dilisankan oleh para pemain. Seriously, apa anda pernah membahasakan kalimat sendiri ketika sedang khusyuk chatting? Lame.

Namun harus saya akui, hal ini cukup membantu saya memahami beberapa adegan. Tadinya saya pikir kuping saya bermasalah, sebab tanpa adanya subteks/subtitle, mustahil saya bisa mengerti apa yang diucapkan Diva (Paula Verhoeven). Nah, khusus untuk kasus Diva seorang, kehadiran kalimat teks dan subteks/subtitle setiap kali Ia berbicara sama bernasnya dengan kehadiran sesosok juru selamat. Makanya saya bisa paham sepaham pahamnya ekspresi Ferre yang penuh tanda tanya menjelang akhir film, saat Ia menggerebek Diva di balik kursi admin Supernova. Jangankan penonton, Ferre saja mangap mendengar Diva.


Diva 1 : Kuping penonton 0

Lalu, seperti halnya ekspresi tertekuk Ferre, beberapa kali wajah saya mengkerut mendapati pengulangan adegan. "Bentar bentar… Ini kayaknya udah ada deh tadi." batin saya. "Adegan Ferre-Rana dansa dansi di samping piano sepertinya sudah pernah saya lihat." De Ja Vu? Saya nyaris tengok kanan kiri berharap ini bukan kekeliruan fungsi program virtual layaknya semesta The Matrix. Belum puas sampai di situ, film menambah dosis keblingerannya lewat kemunculan-kemunculan simbol yang berakhir menggantung tanpa penjelasan apa-apa. Bukannya saya manja lantas meminta pembuat film melugaskan pesannya seharfiah mungkin tanpa membawa-bawa simbol. Memunculkan simbol dalam film tentu sah adanya. Tapi memunculkan simbol sebagai simbol per se tanpa disertai korelasi yang jelas dengan bangunan cerita, resikonya adalah mengecoh pemahaman penonton. Di titik ini saya harus menahan ngakak ketika mengingat adegan limbo Ferre yang lebih mirip basi'an bad trip. Gagak? Baphomet/Minotaur? Cermin melayang? Are you on mushroom or something?

Oh, maaf. Saya keliru perihal mushroom barusan. Mendengar scoring dan soundtrack KPBJ agaknya lebih mirip dengan efek samping LSD. Pasalnya, simfoni orkestra yang bingar dan riuh tidak pernah absen mengiringi shot-shot cantik di sela transisi adegan. Meskipun sebagai komposisi musik yang berdiri sendiri, scoring KPBJ amat megah nan dahsyat, akan tetapi sebagai komposisi yang melatari sebuah film, lain lagi ceritanya. Ada disharmoni antara gambar dan suara yang mengakibatkan saya hilang fokus. Gambar, suara, dan adegan, masing-masing seperti berusaha mencuri spotlight. Walhasil saya bingung mana yang harus dijadikan pusat perhatian. Gambar-gambar indah, musik megah, atau justru cerita filmnya sendiri? Makin runyam keadaannya ketika soundtrack Nidji ikut ambil bagian dalam olimpiade spotlight ini. Muatan cerita KPBJ sesungguhnya sudah tumpang tindih dengan subplot, Ia sudah bercerita banyak secara visual. Bila ditambah tembang-tembang Nidji, praktis KPBJ berisik. Film ini terlalu bawel, padahal poin yang hendak ditekankan oleh visual dan audionya ujug-ujug podo wae.

Hemat saya, KPBJ lebih layak dianggap sebagai pengejawantahan abstrak dalam bahasa audiovisual atas novel Dewi Lestari ketimbang sebuah film yang utuh. Film ini menyulap Supernova menjadi sekadar figur bijak misterius yang gemar playing god, tanpa penjelasan tambahan apa-apa. Sungguh saya tidak berani membayangkan seandainya Soraya Intercine Films berniat mengadaptasi novel-novel Supernova selanjutnya. Diva sudah hancur berkeping-keping. Bodhi? Elektra? Zarah? Alfa? Entah seperti apa nasib mereka nanti.


ps:

YES!
NOP!

Tolong setolong tolongnya cover buku Supernova KPBJ nggak diganti dengan poster filmnya. tolong. kezaliman visual itu namanya. 


Film Cerita || 136 Menit || Indonesia || 2014

The Strange Little Cat: Komposisi Sumbang Keluarga Harmonis

Das Merkwürdige Kätzchen (image taken from moviepilot.de)
Das Merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat, 2013) dibuka dengan shot remaja laki-laki (Luk Pfaff) yang tertidur pulas dalam posisi telungkup. Semburat tipis matahari yang menembus tirai jendela menandakan pagi. Di luar kamar, seekor kucing gemuk tengah menggaruk-garuk pintu, seolah minta untuk dibukakan. Tak lama, terdengar suara melengking yang ganjil dari kejauhan, shot berpindah ke dapur, memperlihatkan sesosok wanita yang nantinya akan kita ketahui sebagai nyonya rumah (Jenny Schily). Sementara itu, suara lengkingan yang sempat diduga berasal dari mesin pencuci otomatis, ternyata berasal dari si bungsu perempuan bernama Clara (Mia Kasalo) yang tengah duduk di meja makan.

Seiring durasi bergulir, satu per satu anggota keluarga lain bergantian masuk ke dalam frame. Dan dalam satu take yang sedikit panjang itu, sudut pandang kamera tidak mengalami perubahan, sehingga selain Clara, anggota keluarga lain yang hilir mudik di sekitar dapur tidak disorot secara layak (kurang mendapat head room, bahkan ada kalanya setengah kepala terpotong frame). Sudut pandang ganjil ini menjadi unik, lantaran secara konsisten digunakan sepanjang film diputar. Pembuat film rasanya ingin membatasi ruang gerak kamera dengan menempatkannya berulang kali di posisi-posisi yang kaku dan asing; seperti pihak anomali yang tidak akrab dengan objek-objeknya.

Alasannya? Tentu sebagai metafor akan kerikuhan relasi interpersonal anggota keluarga. Beberapa dialog yang melingkupi mereka diawali dan diakhiri tanpa alasan yang jelas. Semisal ketika si ibu menceritakan pengalamannya nonton di bioskop bersama nenek dan orang asing yang membuatnya kikuk; atau ketika anak perempuan tertua (Anjorka Stretchel) menceritakan soal serpihan kulit jeruk yang ia buang sembari berjalan kaki melintasi taman. Boleh dikatakan, hampir tidak ada percakapan yang terbangun secara utuh. Jika tidak terpotong oleh kehadiran anggota keluarga lain yang tiba-tiba masuk ke dalam frame, pembicaraan akan selesai begitu saja seumpama monolog yang menggantung.

Hal berikutnya yang menarik, semakin banyak anggota keluarga lain yang datang, semakin banal pula harmoni kekeluargaan yang nampak. Teguran dan sapaan lebih terlihat sebagai prosedur penyambutan tamu biasa ketimbang faktor afeksi antar anggota keluarga yang jarang bertemu, sedangkan acara makan malam bersama keluarga besar menjadi sekedar rutinitas berkala yang wajib dilakukan ketimbang stimulus untuk bertemu dan melepas rindu.

Secara sublim pula, sekuens banalitas tersebut tampil di layar bersamaan dengan masuknya scoring. Penempatan scoring dalam film ini sedikitnya memiliki dua preteks: pertama, sebagai penanda pergantian segmen adegan; kedua, sebagai eksposisi banalitas yang berkelindan antar anggota keluarga beserta sekumpulan objek di sekitar mereka. Sekuens scoring pertama memperlihatkan objek-objek di semesta dapur: gelas teh celup, botol yang berputar-putar di dalam kuali, serpihan kulit jeruk, segelas susu, ngengat, dan seorang anak kecil yang sedang bermain bola kain persis di bawah jendela dapur. Sementara pada sekuens scoring berikutnya, sudut pandang kamera yang ditempatkan di sebuah ruangan dalam posisi diagonal memperlihatkan kesemua anggota keluarga yang acuh dan sibuk dengan keperluannya masing-masing.


Dekonstruksi dalam Institusi Keluarga

Menonton The Strange Little Cat sedikit banyak mengingatkan saya akan A Very Slow Breakfast (2002) milik Edwin. Keduanya bermain dalam tempo yang relatif sama lambat. Namun jika A Very Slow Breakfast dikemas dalam format pendek berdurasi enam menit, The Strange Little Cat hadir dalam format yang lebih panjang (72 menit). Sekilas, timbul dugaan bahwa film ini merupakan pengembangan kerangka narasi yang terpapar di A Very Slow Breakfast, oleh karena keduanya sama-sama menempatkan institusi keluarga sebagai fokus cerita. Totum Pro Parte, keluarga yang sekalipun nampak harmonis, tak pelak terdiri dari disharmoni individual masing-masing anggotanya.

Kita melihat dalam A Very Slow Breakfast, bagaimana fungsi institusi keluarga sebagai salah satu agen pranata sosial ideal direduksi menjadi sekadar platform transaksional. Seluruh gerak-gerik pemain bermuara pada motif ekonomis yang dikendalikan oleh peran ayah (Yadi Timo) lewat cara membagi-bagikan uang kepada istri dan kedua anaknya. Sebaliknya, menjadi lebih menantang untuk mengartikulasikan The Strange Little Cat, sebab film ini tidak hanya menampilkan simbol-simbol material yang notabene mewujud secara fisik (kulit jeruk, perkakas dapur, peralatan makan, kotak tembakau), namun juga simbol-simbol immaterial yang terselip di sekujur dialog dan mimik para pemain; dari raut kosong si ibu dan anak perempuan tertua ketika selesai menceritakan pengalaman kilas baliknya yang ajaib, sampai kebisuan Clara setelah ditampar karena merusak pakaian sepupunya.

Satu kemiripan yang juga dapat ditemui pada A Very Slow Breakfast dan The Strange Little Cat ialah cara sutradara Ramon Zürcher memperlakukan elemen suara sebagai salah satu eksponen primer cerita. Suara-suara latar (ambience) diberi porsi yang sedikit berlebih, sehingga hampir-hampir memberi kesan hiperbolis. Bila suara-suara seperti ketombe jatuh, gepokan uang yang dihitung, acara senam di televisi diberi porsi volume yang jauh di atas normal dalam A Very Slow Breakfast, maka The Strange Little Cat memperlakukan suara mesin cuci otomatis di dapur, suara perkakas di kamar mandi, suara pintu dibuka dan ditutup, suara lampu pecah, dan lain sebagainya, dengan cara yang kurang lebih serupa.

Tujuannya cukup jelas: pembuat film ingin agar suara-suara remeh tersebut mendominasi komposisi audio, sekaligus mengukuhkan premis awal bahwa (dalam volume tertentu) banalitas dapat merusak harmoni yang sejatinya hadir di tengah interaksi keluarga. Alegorikan ini sebagai pagelaran orkestra yang terdiri dari sejumlah instrumen (biola, cello, piano, brass, dan sesi perkusi). Harmoni akan dicapai apabila tiap instrumen dimainkan sesuai dengan peran dan bagiannya masing-masing. Sebaliknya, kejanggalan sekecil apapun yang diakibatkan oleh satu instrumen, walau ada kalanya luput terdeteksi, akan menyebabkan disharmoni secara keseluruhan.

Betapapun, sebagai film panjang perdana, sutradara Zürcher cukup berhasil bermain-main dan bereksperimen dengan metode dekonstruksi, terutama dalam menyoroti rutinitas sebuah keluarga. Konteks keluarga besar secara konsisten diurai ke dalam subkonteks-subkonteks dengan fokus yang bervariasi sesuai dengan isu pribadi masing-masing anggotanya. Dan sebagai konklusi, Zürcher dengan apik menghadirkan medium shot ekspresi si ibu yang letih dan kosong. Sebersit retorika perihal kebanalan, bahwa rutinitas mampu mengubah apa yang sempat luar biasa menjadi sebuah kewajiban yang tidak meninggalkan kesan apa-apa.

Lewat film ini, saya melihat paradoks keluarga sebagai konstelasi antar individu yang terikat secara silsilah dan darah, namun renggang dan penuh kecanggungan secara intimasi pun interaksi antar pribadi.


Film Cerita || 72 Menit || Jerman || 2013

there are times when the kindest person you know can be the scariest asshole

...because we are a self-destructible bipedal primate with limited amount of patience. and we have that detonation switch inside us. a switch that will eventually be pushed by certain people who are given permission to. the question is: do we know who's worth enough to hold the switch? and as scary as it be, are we worth enough to hold anyone's?

i remember an old wisdom saying that "it's not the people who change, it's the mask that falls off." and suppose a mask suites that idiom perfectly,
do you still want to look what's inside the mask?
do you still care to see?





Demons

demons run when a good man goes to war
night will fall and drown in sun
when a good man goes to war
friendship dies and true love lies
night will fall and the dark will rise
when a good man goes to war
demons run but count the cost
the battles won but the child is lost


- Steven Moffat -



how do you elaborate a completely hypothetical kind of relationship --knowing someone merely on a regular basis without any opportunity to have further conversation, without any condition to feel attracted one another, without a slightest thought on any potential intimacy whatsoever... 
even so, you couldn't help yourself wondering: why do i have these expectations? where do those expectations come from?

unaware of it, the two of you speak within signs. signs that are actually dying to be deciphered. signs that are impossible to be understood unless the both of you keep a certain distance. at first you are intrigued by the signs, as they gave you some purpose to keep wondering. later they became a familiar face, the curiosity began to vanish as well. afterwards, you have nothing left but to keep changing signs and live with those signs for the rest of your relationship. strangely... you both seem to love it that way. you love your expectations, now and then...

as for the result: you know almost nothing about that person. and vice versa.

ps:
i always knew that Shiina Ringo is equally known for her unusual choice of lyrics. not many japanese musicians would've combined both kanji and latin words in one song, and she's one amongst the few. a rare one.

somewhere 2665 meter(s) above sea level

q:
do you have anything to do this weekend? any important things? appointments?

p:
not sure. well... nothing in particular i guess. why?

q:
i wanna take you somewhere.

p:
where?

q:
*smirk* these lips are sealed.

p:
surprise me then.


  























q:
i'm taking you home...
perhaps, the most hurtful curse is living as a writer among illiterate people